lamunanku buyar saat terdengar suara pintu kedai terbuka.
mmhh.. lagi-lagi.
"Sudah lama?" sapa pria yang baru masuk tadi. Nara.
"belum."
"Oh, ayolah.. selama apa waktu yang dibutuhkan untuk mendapati sebuah cheesecake mencair dan kopi yang masih penuh tapi sama sekali tidak mengeluarkan asap?"
"mm.." baru kusadari kebodohanku.
Nara adalah seorang yang sangat memperhatikan detail.
"Jadi?"
"Jadi..." ulangku akan pertanyaannya.
"Jadi sudah berapa lama?"
"Well..cukup lama untuk membuat semuanya kadaluarsa."
sebuah senyum terukir di wajahmu.
Tuhan.. mengapa rasa sedih harus seindah ini?
"Sudah ada perkembangan?" tanyanya sambil menghempaskan diri ke sofa hitam yang nyaman.
tak perlu ada pertanyaan basa-basi lagi dariku. aku tau apa maksudnya.
yang ingin aku tanyakan adalah sepenting itukah bagimu untuk tahu perkembanganku.
" Perkembangan darinya? mungkin ada. tapi aku tak tahu."
"Aku tak peduli dia, princenssa. yang aku tanya kau."
"Aku?? masih hidup. dan masih berharap untuk mendapatkan berkah hilang ingatan pada beberapa kejadian."
"Jangan. kalau kamu selalu mendapatkan anugrah itu saat ada kejadian yang membuatmu kecewa, bagaimana caramu untuk belajar?"
aku terdiam. mangambil kopi, menyeruputnya untuk yang pertama kali setelah sekitar 1 jam dipesan.
"Belajar bahwa hidup itu memang butuh kecewa. untuk menyadari bahwa Tuhan itu ada. butuh tangisan. agar kamu menghargai setiap tawa yang kau lantunkan. butuh luka. agar kamu bersyukur saat semuanya sehat."
"dan aku masih butuh sebuah cahaya untuk menerangi langit yang mulai malam. gelap. dingin."
"Cahaya itu selalu ada. mungkin kamu hanya kurang sigap untuk menyadarinya."
semua pun seketika terlihat masuk akal.
mungkin hanya aku yang selama ini merasa begitu terluka hingga menepis semua kebesaran-Nya.
dan memang hanya butuh kamu, Nara. untuk membuat semua terlihat lebih mudah.
"Mau mengutarakan alasannya?" tanyaku mendadak. dapat kulihat Nara terkejut mendengar pertanyaanku.
"Alasan untuk?"
"Untuk selalu ada di sini setiap hari. minum kopi disaat aku tau kamu adalah pecinta teh. dan selalu kemari dengan puluhan kata bijak."
"Haha.." tawa renyahmu mengalun.
Ah.. aku terhanyut kembali. haruskah?
" Untuk satu alasan."
"Dan apa alasan itu?"
" Karena aku sekarang suka kopi."
"ahahahahah.." tawaku kontan membahana, "Kamu, Nara.. pecinta kesehatan yang kadang berlebih ini suka kopi?? mana mungkin... hahaaa."
setelah letih tertawa, aku mengulang pertanyaan yang belum terjawab -dengan serius-.
"Alasan apa, Nara."
"Mmhh... " sebuah tarikan nafas sebelum kamu melanjutkan jawabanmu, "untuk melihatmu tersenyum."
sebuah kata lugas dengan nada tegas.
dan nadaku menghilang seketika.
membiarkan hujan yang tiba-tiba turun untuk menyamarkan degup jantungku.
mensyukuri padamnya lampu yang menyembunyikan mukaku yang memerah.
dan tersenyum pada sore yang menjelang malam untuk sebuah waktu yang diberikan.