Sunday, 28 February 2010

vanilla rainy night

tetesan hujannya berhenti.

" Hujan. sakit nanti kamu." suaranya mengalun pelan dan tenang.
tapi penuh unsur perintah.

bahuku dirangkulnya, lalu diajak ke tempat yang tidak kena hujan.
aku masih menunduk selama proses itu.

" Kamu ngapain disini?"

" Kamu ngapain kesini?" ujarku sedikit terganggu.
bahkan Tian pun tak akan mengganggu momen-momen seperti tadi.

" Khawatir." jawabnya singkat.
tapi cukup untuk membuatku menengadahkan kepala dan menatapnya yang sudah lebih dulu menatapku.

jangan menatapku seperti itu.
kurasakan pipiku memerah, langsung kualihkan pandanganku ke jendela.

" Aku gapapa ko, Nar."

" Bukan itu yang aku lihat." dingin sekali orang ini.

" Tian menitipkanku padamu bukan merupakan sebuah tugas wajib yang harus selalu kau penuhi." Entah mengapa hari ini -saat ini lebih tepatnya- aku ketus kepada Nara.

mungkin karena dia mengusik saat aku sedang bersama hujan.
padahal aku sedang bercerita tentangnya pada hujan.
mungkin karena aku malu, takut ketahuan aku sedang bercerita tentangnya pada hujan.

" Iya. Tapi bagiku kamu bukan tugas."

" Lalu apa? Amanat?"

Nara menggeleng sambil tersenyum, " Bukan. Kamu Tharesha. Orang yang paling ingin kujaga saat ini."
Nara mengacak-acak rambutku saat mengatakannya.
sedikit menunduk untuk membuat matanya sejajar dengan mataku.

kurasakan pipiku memerah seketika.
panas.
aku langsung membuang muka dan membalikkan badan.
" Aku ganti baju dulu. Kalau mau minum, pesen aja ke Bibi ya, Nar."

sudah tak kuhiraukan reaksi Nara.
aku langsung meninggalkannya ke dalam kamar.
lalu menguncinya rapat.

mengatur napasku yang mulai berantakan.
menenangkan detak jantungku yang mulai berlari kemana-mana.
memukul pipiku sendiri untuk memanggil kembali kesadaran yang dengan jumawanya menghilang.

aduh..
kenapa aku?
ayolah, Tharesh.
tidak pada tempatnya kamu merasa hal seperti ini padanya.
tidakpada sahabat kakakmu sendiri.
tidak saat..
ahh...

tak kuhiraukan lagi semua pikiran itu saat kurasakan pijatan air hangat mengalir di bahuku.

:::::::::::

" sudah merasa baikan, Re?" Nara duduk di ruang keluarga dengan dua mug yang mengeluarkan asap di meja hadapannya.

aku mengangguk pelan lalu mengambil tempat di sofa sebelah Nara.
melirik isi mug dengan perlahan agar tidak terlalu terlihat Nara.

" Itu teh.. tidak baik terus-terusan minum kopi."

" Aku ingin espresso."

" Tidak sekarang. besok aku jemput kamu jam tiga, kita ke pomeriggio. Oke?"

kalau sudah begini aku hanya bisa terdiam dan mengangguk.
Nara selalu berhasil memaksaku dengan caranya sendiri.
dan aku, si anak bungsu keras kepala ini herannya selalu menurut saat Nara yang bicara.

" tadi kamu cerita apa sama hujan?"

" Hah?" aku sedikit terkejut dan hampir tersedak mendengar pertanyaan Nara.

" Tian pernah bilang, kalo kamu lagi diem di bawah hujan, membiarkan tiap senti darimu teraliri air hujan, kamu sedang cerita padanya. Jadi, tadi kamu cerita apa?"

masih membeku dalam posisi memegang mug yang berisikan teh, aku memutar otakku cepat -mencoba berpikir-.

ayolah..
kemukakan satu alasan..
satu cerita yang pernah kamu alami..
yang konyol juga tidak apa-apa..
apa pun asal jangan bilang bahwa kamu bercerita tentangnya..

" tentang.. ahh..entahlah.."

" atau kamu yang sedang mendengar hujan bercerita?"

aku mengangguk dengan sangat perlahan -yang dimaksud disini adalah dengan sangaaaaaaaatttt perlahan- sambil masih memegang mug.

" Cerita apa dia? Bilang kalau aku akan datang?" tanyanya serius.

" Haa?" aku terkejut mendengarnya berkata begitu.

kupikir Nara akan tertawa. ternyata tidak.
ia benar-benar serius.
satu hal yang baru kusadari, Nara tidak pernah menganggap remeh aku.
bahkan kebiasaan anehku ini tidak ia gunakan untuk menggodaku.

" Kenapa kamu bisa bertanya begitu?"

" Karena setiap kita bertemu, selalu ada hujan yang menemani."

aku terdiam kembali.
termenung mendengar kata-katanya.

memang benar apa yang dikatakannya.
kami bertemu saat hujan.
perbincangan kami bermula saat hujan menjadi penyebabnya.
selalu hujan.
dan kebanyakan saat senja.

" Tharesh. Aku tahu aku bukan seorang Prasetian. Aku memang bukan kakakmu. Tapi setidaknya biarkan aku membantumu saat Tian sedang tidak di dekat sini. Mau cerita ada apa?"

aku menunduk pasrah.
tahu kemana arah pembicaraan ini akan berlanjut.

sebuah pesan singkat tadi sore :
" manja! masa gitu aja ga bisa! ahh..aku cape denger semua cerita kamu!"

sesuatu yang selalu mengikuti atau bahkan membuka topik ini terjadi.
air mataku mulai menggenang.

Nara mengelapnya tepat sebelum jatuh.
melenyapkan lukaku sebelum terjadi.

malam itu adalah malam pertama Nara melihatku runtuh.
biasanya aku tidak pernah membiarkannya terjad.
harga diriku terlalu besar untuk dipertaruhkan atas perihal semacam itu.
tapi di depan Nara, aku tak keberatan
atau tak peduli?

---------------------------------

selamat malam, Tharesh.
bagaimana bandung?
aku sedang transit.
besok sampai.
kita ketemu di pomeriggio yaa..
jam 4an, oke?

09.48 p.m.

sender : Narandra Aleansya

Saturday, 27 February 2010

mungkin..

karena saya masih ingin ada disana untuk tertawa saat melihatmu jatuh
karena untukku masalah ini masih belum selesai
tidak sampai kamu berlutut
bahkan mungkin saat kamu berlutut pun,
itu adalah sebuah awal.

aku dipecundangi habis-habisan.
banci!

maka kali ini,
biarkan aku datang dan memberimu selamat,
" selamat atas perbuatan yang kau lakukan."

aku tunggu kamu kembali.
selalu kutunggu.

oh tidak, bukan untuk mengusap kembali air matamu.
aku menantimu kembali untuk mengembalikan medali milikku.

ayolah, akui saja.
permainannya sudah selesai, pecundang.

Friday, 26 February 2010

two cups of caramel machiato in harmony with rainy afternoon

saya terdiam kemarin.
menatap layar ponsel yang menyampaikan pesan singkat balasan dari saya untuk seorang disana.
apa yang saya dapat?

pertanyaan singkat dari dia yang memastikan apakah saya baik-baik saja atau tidak.
bukannya langsung menjawab, saya malah menatap layar dengan pandangan menerawang.

masih tak mengerti kalau boleh jujur.
selama ini kamu memang bisa membacanya.
bahkan saat hujan berhasil kukecoh, kamu tetap berdiri di sampingku dan menundukkan tubuhmu -menyamakan matamu agar sejajar denganku-.
" sure you're okay?"


tapi tidak disaat aku terdiam, bersembunyi di balik selimut tebalku, meringkuk seperti anak kecil dan mencoba bermain peran.
tetap saja hanya kamu yang tidak bisa kukelabui.

topengku habis untukmu -atau memang aku yang memilih untuk tidak pernah memakainya di depanmu?-

terima kasih.....atau haruskah masih ada pertanyaan yang kuajukan?

tidak, tidak.
terima kasih sudah cukup nampaknya untuk saat ini.

jadi..
terima kasih.

25 Februari 010

vakum

biar jalan yang menunjukkan.
tak perlu selalu terarah, akan ada waktu yang selalu memapah.

berikan saja kata ini spasi.
mengertilah bahwa mereka sedang mencoba merangkai sesuatu yang berarti.

aku masih terdiam memperhatikanmu berjalan.
memunggungiku dan mulai menjauh.
mencoba bersuara tapi nadaku menghilang seketika.
alhasil aku hanya bisa memandangimu dengan luka.
yang tak akan pernah kau lihat karena kau berjalan tanpa melihatku.

menyadari aku ada disana tampaknya tidak pernah terjadi padamu.
aku yang bodoh, atau hati ini yang beku?
memilih untuk tak mencair selama bukan kamu cahayanya.

terjebak di ruang hampa yang dengan senang hati kuciptakan sendiri.
untuk memerangkap setiap hal kecil yang pernah terjadi antara kita.
kuhilangkan gravitasi di ruangan kecil ini.
agar kamu tidak bisa membuatku jatuh bebas tertarik ke bumi.

tidak.
aku tak mau dibangunkan dari ruangan ini.
hanya disini aku bisa bersamamu.

karena sekarang,
kamu sedang memunggungiku dan pergi menjauh.

Thursday, 25 February 2010

one single shot

aku membiarkanmu diam di sudut.
aku meninggalkanmu menangis disana.

mendendangkan kembali semua cacian yang pernah terlagu.
menghitung ulang semua jari yang pernah kau tuding.
menghimpun semua air mata yang sudah kering.
menyayat sebuah luka baru.

untukmu.
bukan untukku.

Wednesday, 24 February 2010

mutlak, tapi bukan untuk diterima

sekarang saya malah terdiam
kehabisan kata untuk dirangkai
atau otak yang memang mulai membeku?

tidak, tidak.
kamu tak akan mengerti.
kamu tidak boleh mengerti.
karena aku pun sampai sekarang masih tak mampu melapangkan hatiku untuk mengerti.

bahwa tak akan ada bahwa yang lain untukku.
untukmu.
hanya ada -nya sekarang.
bukan dia yang berdiri di antara kita
mungkin selama ini kita yang memilih berada di sisinya

aku dengan peranan antagonis
dan kamu,
Sang Malaikat tanpa noda

atau dia yang sebenarnya Sang Pemaaf?

Thursday, 18 February 2010

Think of love - risin black hole

Sometimes i wanna give u all the love that i have,coz when u smile, it seems all problems are vanished to the sky.oh i was thinking.why i need u more-why i need more.

Sometimes i wanna give u all the time that i have, coz when u die my world come tumbling down in front of me.oh i was thinking why i need u more each day.

When i think of love. I just think of u.
I said i want u..i want u to be my wife.

Sometimes i wanna give u all the love that i have, coz u ain't say nothing, when i wanna share my life with u,oh i was thinking. Would u marry me?

When i think of love. I just think of u.
I said i want u..i want u to be my wife

* i love this one soooooo muchaaassssss

Monday, 15 February 2010

falling at first caramel afternoon

ahhh...
sial!
hujan rintik yang tadi kunikmati di jalan malah berubah menjadi hujan es beserta angin.
badai kata orang-orang.
dan yang lebih sialnya lagi, semua toko, kedai mau pun restaurant penuh dengan orang yang ingin berteduh.
tidak ada tempat untukku.
kurapatkan jaket hitam kesayanganku dan memegangi tudungnya yang terus-menerus terbuka terkena hembusan angin.

aku berbelok di ujung jalan, mendapati sebuah kedai kecil bertuliskan Pomeriggio Cafe yang terlihat nyaman dan hangat dengan aksen kayu.
bagian yang terpenting, kedai itu lengang.
segera kupercepat langkah dan baru akan menyentuh kenop pintu saat aku bertabrakan dengan seseorang.
aku langsung menengadahkan kepalaku karena menyadari dia lebih tinggi dariku.

apa yang kudapatkan?
pria basah kuyup -sama sepertiku- dengan kacamata berbingkai kotak dan cengiran khas yang hanya dimiliki oleh teman-teman Tian.
siapa ya namanya?
mm..

" Hai.." si pria di depanku malah menyapa duluan.
" Hai.." balasku kikuk.
" masuk?" tanyanya sambil membuka pintu kedai.
aku suka ekspresi bertanyanya. alisnya naik sebelah dan aku suka melihat wajahnya.
lumayan tampan.

aku mengangguk sebagai jawaban.
dan ia mempersilakanku masuk terlebih dahulu.
what a gentleman.

pelayan kedai menyambut kami dengan ramah dan mempersilakan kami duduk di satu meja.

" Mm.. Mba, ada meja lain?" tanyaku sopan.

" Maaf, mba. tapi semua meja sudah penuh. hanya tinggal meja ini."

" terima kasih, mba." Nara -eh, benar kan orang ini namanya Nara- tersenyum dan segera menduduki sofa hitam di sampingku.
aku melihatnya, tersenyum lalu mengambil tempat di hadapannya.

" Ada teh?" tanyanya pada pelayan.

" ada."

" saya pesan twinnings mint tea kalau begitu."

" baik," si pelayan mencatat menu yang baru dipesannya lalu menoleh padaku, " dan untuk Anda?"

" Hot caramel machiatto." kataku sambil tersenyum.

" Masih ingat aku, Tharesha?"

entah mengapa tapi aku merasa wajahku memerah.

" masih. mm.. Nara kan?"

" benar sekali." ia tersenyum. terlihat lesung pipit di kedua pipinya.
manis sekali.

" darimana kamu, Tharesha?" tanyanya lembut.

" panggil aku Tharesh saja. atau Rere."

" Oh.. baiklah, nona. jadi, darimana, Re?"

aku tersipu.
sial!
ada apa denganku?

" Dari sebuah janji yang tidak terlaksana."

" Ouch. nampaknya ada yang sedang kecewa." Nara menggodaku. tapi wajahnya lucu saat mengatakan kata-kata itu. jadi bukannya kesal, aku malah tertawa.

" Iya. ah.. sudahlah yah."

" Dia benar-benar tidak datang?" tanyanya seperti orang yang sudah kenal lama denganku.

" Siapa?"

" Orang yang janjian denganmu."

" tidak. sama sekali tidak. dan sama sekali tidak memberi kabar." aku merengut. kembali kesal dengan kenyataan bahwa sekali lagi dia seenaknya mempermainkanku. dan lebih kesal dengan realita aku yang masih tidak bisa melepasnya.

" Aduh. sabar yah.." Nara pun tertawa melihat ekspresi merengutku yang semakin dihayati.

tak lama pesanan kami datang, Nara menambah pesanan dengan satu sandwich tuna.

" Yakin kamu ga mau?" tanyanya sambil memegang cangkir teh.

" Tidak. aku masih belum ingin makan."

aku mengambil mug putih milikku.
menghirupnya sejenak sebelum menyesap isinya.
enak.
bahkan belum pernah ada yang seenak ini di Bandung.

" masih merajuk, ya? persis seperti yang Tian bilang."

" Ha? memangnya Tian bilang apa aja sama kamu?"

" Apa yaaaa?" lagi-lagi pria ini menggodaku.

" apa ih! aku penasaran ni.. Tian kan kadang suka berlebihan kalo cerita."

baru saja Nara akan membuka mulut untuk menjawab saat pesanannya datang.
jadi, bukannya melanjutkan menjawab, yang dia lakukan malah makan sandwich dengan lahap.

aku mengulurkan tissue tepat setelah dia memasukkan potongan terakhir sandwich tuna tersebut ke mulutnya.

" makannya kaya ayam." aku pun tertawa saat melihat wajahnya berubah merah.

-------

dan itulah awal dari segalanya.
itulah mengapa aku senang akan hujan.
alasan mengapa aku selalu menanti senja.
dan selalu menyukai atmosfer kedai kopi.

Tuhan, sekali ini. berikan atmosfer itu. sekali lagi saja.

Sunday, 14 February 2010

ready for some appetizer night

drrtt..drrtt...

aku membuka mataku dengan paksa dan langsung menjawab telepon yang masuk ke telepon selularku.

sebuah kesalahan.

" Re..bisa kita bertemu?'

Pradit.
entah anak ini sudah putus urat malunya atau memang tidak pernah punya.

" Aku sibuk."

" Kalau begitu aku datang ke rumah kamu, ya.."

argh!
masih berani dia memaksa.
aku duduk dan mengacak-acak rambutku sendiri.

" Jam berapa, dimana?"

" Aku jemput saja.."

" Aku yang akan menemuimu. Jam berapa, dimana?" aku mengulang pertanyaanku dengan penekanan di setiap kata dan berharap kali ini dia mengerti maksudku.

" Oh, baiklah. Jam tujuh di tempat biasa."

tempat biasa?
lelucon macam apa ini?
dia masih menyebut tempat itu 'tempat biasa' seakan aku dan dia masih....
ahhhh...

" Baik. Sampai bertemu di sana kalau begitu." aku langsung memutuskan sambungan setelah menunggu beberapa saat dan masih belum mendapat respon.

Pradit pasti sedikit terkejut dengan nada resmi yang kuperdengarkan tadi.

aku berjalan menuju kamar mandi dan segera menyalakan shower untuk mendapatkan air hangat.

mau apa lagi dia?
tidak cukupkah semua waktu yang dulu pernah kuberikan dulu?
bahkan saat ini dia masih berani juga menyita waktu yang jelas-jelas sudah bukan miliknya.

aku berdiri dan terdiam di bawah pancuran air.
membiarkan pijatan air membuatku sedikit lebih tenang.

masih belum terlalu siap untuk bertemu kembali sebenarnya.
tapi bukan itu kesan yang ingin aku tampilkan padanya.
lalu aku harus bagaimana?
ahhh..
sial!
kenapa dia harus menghubungiku disaat Nara maupun Tian tidak ada?

Nara lagi...
kenyataan bahwa Nara masih menjadi orang pertama yang aku sebut dalam hal-hal krusial membuat aku semakin ingin jatuh.
segera kumatikan shower, mengambil handuk dan keluar kamar mandi.

kubuka lemari pakaianku.
terdiam melihat isinya.

banyak.
tapi untuk saat ini aku ga tau harus pake baju apa untuk menimbulkan kesan kuat dan sedikit angkuh.

-----
" kamu mah udah angkuh da kesannya ga usah diapa-apain juga."
komentar Nara saat mendengar aku bercerita kekagumanku pada saat melihat film dimana seorang wanita angkuh menjadi peran utamanya.
-----

drrttt...drrttt...

Praditya Anggada.

" Kamu yakin ga mau dijemput, Re?"

" Ga." jawabku ketus. lama-lama orang ini mengganggu juga. ayolah, jangan bersikap sok manis setelah semua cacian yang pernah terlontar padaku.

" mm.. baiklah. aku sedang di jalan. aku tunggu kamu yah.."

kulihat jam, jarum pendek menunjukkan tempat di antara angka 5 dan 6 sedangkan jarum panjang ada di angka 5.

aku mengernyitkan dahi.
dalam rangka apa jam segini dia sudah dalam perjalanan?
bukankah dulu telat merupakan hal yang selalu dilakukannya?
setidaknya dulu jika mendapati aku belum datang dia marah-marah.

" oke. jam tujuh aku usahakan sudah disana."

terdengar sambungan diputus. lagi-lagi olehku.

dua ketukan terdengar di pintu.
segera kubuka dan kudapati Bik Inah sedang memegang telepon nirkabel.

" De, ada telepon dari Mas Tian."

" Oh iya, makasih, Bi.." aku mengambil telepon itu dan segera menutup pintu saat Bik Inah sudah membalikkan badan dan berjalan kembali menuju dapur.

" Ya?"

" Aku hubungi handphone-mu tapi tadi sibuk."

" Iya, tadi aku lagi nerima telepon."

" Kamu besok ga usah jemput Nara ya, Re."

" Ga usah? kenapa?" ahh.. Tian kan sangat peka dengan perubahan nada bicara. dan sialnya tadi aku malah memekik.

" Supir kantor yang baru bisa jemput dia ternyata. kalau pun emang kalian mau ketemu, janjian pas dia udah nyampe aja ya.." aku menekan telepon ke telingaku karena suara Tian terdengar pelan, tertelan dengan keributan di belakangnya.

" Kamu lagi dimana si?"

" Di jalan. baru pulang dari rumah Ara. tadi habis nganter Nara ke bandara, aku mampir dulu ke sana. kenapa?"

" Ga. ribut banget habis. eh.. tutup teleponnya. hubungi aku lagi saat kamu sudah tiba di apartemen." aku memang sensitif dengan orang menelpon atau menerima telepon saat sedang menyetir.

" Ahaha.. iya iya, kecil. maaf yaa.. aku hubungi lagi, oke? itupun kalau aku tidak terlalu cape."

" Oke. careful there, biggy."

" kamu juga, kecil."

sambungan terputus.
telepon jarak jauh dari kakak semata wayangku yang membuat mood-ku jungkir-balik.
padahal aku sudah menyiapkan baju yang akan kukenakan saat menjemput Nara.

hahhhhh...
aku hanya bisa menarik napas.

kulirik jam tangan kulit yang sedang kukenakan.
17.56.

aku segera mengganti bajuku.
mengambil jaket hitam kesayanganku lalu mematut diri di cermin.

celana pipa hitam, kemeja abu-abu dengan aksen merah dan jaket hitam.
tak lupa oxford shoes abu-abu kesayanganku.

baiklah.
aku siap.

tersenyum pada bayangan diriku snediri di cermin, aku mengambil tas, kunci mobil, dan membuka pintu.

bersiap menyelesaikan apa pun itu yang baru akan dimulai.

Tuesday, 9 February 2010

" Hanya butuh satu nama untuk membuat keadaan terbalik. Entah menjadi benar, atau malah hancur berantakan.
Dan bagaimana jika saat kau bertanya siapa, yang kusebut malah namamu? "

- Nurulita rakhmaning tyas -

Sunday, 7 February 2010

when the break down show its gum

harusnya aku tak usah tahu.
harusnya aku tak usah melihat.
harusnya aku diam.

setidaknya itu akan membuatku merasa lebih baik saat ini.

-------------------------------------

" Jadi, siapa?" tanyaku penasaran.

yang ditanya malah tertawa.

" Aku serius. siapa?"

tawa yang terdengar malah makin keras.

" Penasaran banget sih, anak kecil." dia menjawab sambil mengacak-acak rambutku.

bagus. harus ada yang kulakukan atau wajahku akan berubah merah.

aku segera mengambil cangkir kopi di hadapanku dan menyesapnya.

" Mm.. baiklah, baiklah." pria tadi tersenyum saat melihat wajahku yang memasang pose baiklah-aku-siap-mendengar.

" Namanya Diandra. Teman kecil Tian kalau aku tak salah."

aku mengernyitkan kening.

" keluarga Prawirasastra kalau tak salah."

" Oh.." responku.

Oh yang buat sebagian orang -dan mungkin untuknya- adalah oh yang menggambarkan bahwa aku baru ingat siapa orangnya.
tapi tidak bagi Tian -kalau dia ada disini sekarang-.
jika dia ada disini, maka dia akan mengerti oh yang kuucapkan tadi.

oh..
lagi-lagi Diandra.
menyerah aku saat mengetahui Diandra yang ada di antara kami sekarang.
mundur teratur.
atau jatuh terhempas.
hanya itu pilihanku sekarang.

dan Oh..
aku sudah memiliki pasangan.
yang seharusnya ada di depanku dan menemaniku untuk mengurangi sedikit bengkak di mataku.
bukannya pria ini.
bukan Nara yang seharusnya ada disini.

" Sudah ingat sekarang?"
aku mengangguk lemah.

" sudah... jangan menangis lagi. yaa?"
lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk.

" nanti rex malah akan sedih kalau terus-terusan melihatmu begini."

Rex. mendengar namanya lagi, air mataku kembali menuruni pipi tanpa terhalang.

" eh.. aduh, Re. maaf, maaf.." Nara merengkuhku dalam rangkulannya dan membiarkanku menangis.

ini yang kusuka dari Nara.
selalu diam tanpa menginterupsi.
selalu bisa menjadi pendengar yang baik.
selalu mau mencoba mengerti.

Rex itu anjingku.
siberian husky berwarna abu-putih dengan warna mata yang berbeda.
biru-keabuan di sebelah kanan dan abu-abu tua di sebelah kiri.
kemarin dia mati.
walaupun memang sudah sakit parah selama seminggu ini -umurnya sudah 18 tahun-, tapi tetap saja terasa menyedihkan saat dia mati.

makanya aku ada disini.
tapi rencanaku sebelumnya adalah bersama pasanganku.
bukan Nara.
tapi apa yang dikatakannya saat aku menelponnya untuk mengajak bertemu?

" manja banget sih. gitu doang. cuma binatang peliharaan kamu ini. aku besok mau latihan band."

bagussss....
tepuk tangan untuk orang yang selalu bilang sayang padaku.

dan Nara ada disini sekarang.
langsung mengajakku bertemu saat melihat status di jaringan sosial internet.


aku duduk tegak dan mengambil tissue.
mengelap mata dan hidungku.
pasti wajahku berantakan sekali sekarang.
dapat kulihat dari ekspresi khawatir Nara.

" Mhh.. lalu, bagaimana?"

" Bagaimana apa?" Nara mengernyitkan keningnya, terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba dariku.

" lanjutkan ceritamuuuu..."

" oh..ahahaha. bikin kaget aja kamu, " Nara tersenyum salah tingkah sebelum melanjutkan ceritanya, " kami bertemu saat aku dan Tian sedang di restaurant. dia menyapa Tian duluan. lalu kami berkenalan. dan..."

" dan?" tanyaku semakin penasaran.

" dan tampaknya semenjak itu aku selalu tersenyum setiap mengingatnya."
satu ekspresi Nara yang tak pernah kulihat sebelumnya tiba-tiba muncul.

Nara jatuh cinta?

--------

harusnya aku tak bertanya.
tak seharusnya aku mendengar.
semestinya aku menutup telingaku.

agar kali ini air mataku berhenti turun saat fajar mulai terlihat.