Monday, 15 February 2010

falling at first caramel afternoon

ahhh...
sial!
hujan rintik yang tadi kunikmati di jalan malah berubah menjadi hujan es beserta angin.
badai kata orang-orang.
dan yang lebih sialnya lagi, semua toko, kedai mau pun restaurant penuh dengan orang yang ingin berteduh.
tidak ada tempat untukku.
kurapatkan jaket hitam kesayanganku dan memegangi tudungnya yang terus-menerus terbuka terkena hembusan angin.

aku berbelok di ujung jalan, mendapati sebuah kedai kecil bertuliskan Pomeriggio Cafe yang terlihat nyaman dan hangat dengan aksen kayu.
bagian yang terpenting, kedai itu lengang.
segera kupercepat langkah dan baru akan menyentuh kenop pintu saat aku bertabrakan dengan seseorang.
aku langsung menengadahkan kepalaku karena menyadari dia lebih tinggi dariku.

apa yang kudapatkan?
pria basah kuyup -sama sepertiku- dengan kacamata berbingkai kotak dan cengiran khas yang hanya dimiliki oleh teman-teman Tian.
siapa ya namanya?
mm..

" Hai.." si pria di depanku malah menyapa duluan.
" Hai.." balasku kikuk.
" masuk?" tanyanya sambil membuka pintu kedai.
aku suka ekspresi bertanyanya. alisnya naik sebelah dan aku suka melihat wajahnya.
lumayan tampan.

aku mengangguk sebagai jawaban.
dan ia mempersilakanku masuk terlebih dahulu.
what a gentleman.

pelayan kedai menyambut kami dengan ramah dan mempersilakan kami duduk di satu meja.

" Mm.. Mba, ada meja lain?" tanyaku sopan.

" Maaf, mba. tapi semua meja sudah penuh. hanya tinggal meja ini."

" terima kasih, mba." Nara -eh, benar kan orang ini namanya Nara- tersenyum dan segera menduduki sofa hitam di sampingku.
aku melihatnya, tersenyum lalu mengambil tempat di hadapannya.

" Ada teh?" tanyanya pada pelayan.

" ada."

" saya pesan twinnings mint tea kalau begitu."

" baik," si pelayan mencatat menu yang baru dipesannya lalu menoleh padaku, " dan untuk Anda?"

" Hot caramel machiatto." kataku sambil tersenyum.

" Masih ingat aku, Tharesha?"

entah mengapa tapi aku merasa wajahku memerah.

" masih. mm.. Nara kan?"

" benar sekali." ia tersenyum. terlihat lesung pipit di kedua pipinya.
manis sekali.

" darimana kamu, Tharesha?" tanyanya lembut.

" panggil aku Tharesh saja. atau Rere."

" Oh.. baiklah, nona. jadi, darimana, Re?"

aku tersipu.
sial!
ada apa denganku?

" Dari sebuah janji yang tidak terlaksana."

" Ouch. nampaknya ada yang sedang kecewa." Nara menggodaku. tapi wajahnya lucu saat mengatakan kata-kata itu. jadi bukannya kesal, aku malah tertawa.

" Iya. ah.. sudahlah yah."

" Dia benar-benar tidak datang?" tanyanya seperti orang yang sudah kenal lama denganku.

" Siapa?"

" Orang yang janjian denganmu."

" tidak. sama sekali tidak. dan sama sekali tidak memberi kabar." aku merengut. kembali kesal dengan kenyataan bahwa sekali lagi dia seenaknya mempermainkanku. dan lebih kesal dengan realita aku yang masih tidak bisa melepasnya.

" Aduh. sabar yah.." Nara pun tertawa melihat ekspresi merengutku yang semakin dihayati.

tak lama pesanan kami datang, Nara menambah pesanan dengan satu sandwich tuna.

" Yakin kamu ga mau?" tanyanya sambil memegang cangkir teh.

" Tidak. aku masih belum ingin makan."

aku mengambil mug putih milikku.
menghirupnya sejenak sebelum menyesap isinya.
enak.
bahkan belum pernah ada yang seenak ini di Bandung.

" masih merajuk, ya? persis seperti yang Tian bilang."

" Ha? memangnya Tian bilang apa aja sama kamu?"

" Apa yaaaa?" lagi-lagi pria ini menggodaku.

" apa ih! aku penasaran ni.. Tian kan kadang suka berlebihan kalo cerita."

baru saja Nara akan membuka mulut untuk menjawab saat pesanannya datang.
jadi, bukannya melanjutkan menjawab, yang dia lakukan malah makan sandwich dengan lahap.

aku mengulurkan tissue tepat setelah dia memasukkan potongan terakhir sandwich tuna tersebut ke mulutnya.

" makannya kaya ayam." aku pun tertawa saat melihat wajahnya berubah merah.

-------

dan itulah awal dari segalanya.
itulah mengapa aku senang akan hujan.
alasan mengapa aku selalu menanti senja.
dan selalu menyukai atmosfer kedai kopi.

Tuhan, sekali ini. berikan atmosfer itu. sekali lagi saja.