Monday, 31 January 2011

mau sampai kapan?
bertahan di kedua belah ujung tanpa mencoba sedikit berjalan ke tengah.
aku sedang enggan. mungkin lebih baik begini untuk sementara waktu.
ekspetasiku berlebihan. memang aku yang salah.
untuk menjadi seorang pemimpi. hanya mampu berharap. sebatas itu. tanpa keberanian untuk merealisasikan.

sudahi sajalah. emosiku terlalu menyesakkan belakangan ini.
memang aku yang berlebihan.
selalu menuntut dalam diam.

dan aku mulai lelah.
kenyataannya begini.
mungkin memang aku yang belum siap.

Friday, 21 January 2011

hal terindah dari sebuah tulisan adalah aliran emosi yang selalu tersalur deras seiring tiap kata yang tercipta.
terekam menitik memori yang suatu saat mungkin hanya menjadi senyum kecil di sebuah ruang.
sama seperti hujan, malam dan kopi.
sebuah ke-adiktif-an.
menagih. karena dengan satu atau lainnya memberi ketenangan di nadi.
menyepikan relung. mematikan rasa.
berjalan beriringan dengan senyum yang semakin terlatih.
untuk menjadi palsu.
untuk meyakinkan bahwa semuanya baik.
ya, semuanya baik.
karena hidup pada saatnya adalah sesuatu yang memang harus dilakukan, bukan sesuatu yang diinginkan.

so, ya. i think i can handle this one.
i have to.
" karena pada akhirnya, selalu ada kepingan yang tetap tersimpan rapat di relung. bernama sakit. berpeluh rintih."

-nurulita adm 

Tuesday, 11 January 2011

membuka hati hanya membiarkan orang baru menyakiti.
membuka sakit yang terpendam hanya membiarkan diri ditertawakan.

biarkan memang sepasang mata terdiam di genangan kelam.
hampa mengiris. namun tertutup.
walaupun mata tak bisa berbohong, setidaknya ia tak pernah minta didengar.
semua duka tersimpan rapat di cekungan hitam.
rapat dan rapi.tersusun menitikkan lembaran, selapis demi selapis.

aku benci keramaian. jengah dengan simpati atau pun empati yang terasa berlebihan. mengoyak asa yang perlahan hidup. lalu sobek dan akhirnya mati.
kalau memang perlu aku hidup, diamkan aku sendiri di tepi untuk mati.
setidaknya aku tidak perlu tersakiti lebih jauh.
" Setiap anak berhak untuk hidup. "

- hina mishima,   komik penguin brothers
dengan kata-kata ini saya masih mampu bertahan.
ironis. 
sanguinis memang.
tapi saya juga tidak senyaman itu untuk terus berjalan di bawah spotlight terus menerus.
apalagi saat yang menyoroti adalah orang-orang terdekat.

tragis sungguh.
tapi ini tetap saya, hey.
bukan menjadi seorang diktator atau apapun seperti yang biasanya terjadi.

bosan sangat.
jengah saat teralu banyak sapaan berlebihan.
lebay kata mereka.
muak untuk saya.

ini memang sesuatu yang harus disyukuri.
maka saya ucapkan alhamdulillah.
tapi bukankah Allah membenci sesuatu yang berlebihan?

Sunday, 9 January 2011

kebahagiaanku adalah saat menitikkan air mata untuknya.
pengabdianku adalah saat sedikit kesalahan kecil dan dia marah untuk menunjukkan perhatiannya.


picisan.
murah, sayaang.
entahlah. mungkin memang itu arti mencinta untukmu.
mungkin sepenggal kalimat hingga ribuan tamparan memang tak berarti untukmu.
hanya angin lalu.
teman yang tidak baik.
sedikit aneh untuk akhirnya mengakui.
aku memang rindu.
rindu mengambil tawaran pertemanan yang dulu pernah terjanji begitu..hemmm manis?
tapi sudah terlalu sering aku terbuang.
terlalu lama aku terdiam.
dan sudah terlalu banyak kesabaran yang habis.

selamat jalan.
idealisme-ku dan kamu memang terlalu berbenturan.
lagipula kepedulianku hanya sesuatu yang salah untukmu.
jika memang kebahagianmu adalah sebuah bentuk rasa kecewa karenanya, baiklah.
hanya saja, jangan mencoba pungut kembali yang memang sudah dibuang.

sudah cukup banyak harga diri yang menjadi serpihan di hadapanku.
sekarang ambil, dan bawa pergi.
karena aku sudah tak segan untuk menginjaknya.

*bahkan pasti masih belum sadar kan yah. hem

Tuesday, 4 January 2011

coffee is our date. and my muse

kalau tanpa status, masih ga kita kaya gini?


hem..
apakah memang sepenting itu untuk sebuah status yang bahkan mash terasa semu setelah sebuah penegasan.
ya, baru kemarin. benar-benar satu hari yang lalu saya bertanya pada seorang sahabat yang sekarang berstatus sebagai pacar.
kamu diam. hanya memandang ke arah luar dari ketinggian yang selalu kusukai ini.
"mungkin. hem.. aneh aja rasanya kalo aku belum nembak kamu padahal udah sedeket ini."


kalau emang kita yang sama-sama ga pengen berstatus dulu. entah gimana ceritanya, kamu masih mau sebaik ini sama aku?
masih dalam diam. kamu mengambil sebatang rokok lalu menyulutnya menggunakan lilin dan membiarkan nikotin yang bercampur dengan tan meresapi pembuluh darah.
menatap dengan pandangan, hem-emang-kenapa-ya?
aku meneruskan, " ga, aneh aja kadang buat aku. status pacar lebih sering dipake buat ngelarang dan bersikap semena-mena sama pacarnya. ngelupain privasi dan jadi harus tau segala sesuatu. aku ga nyaman. dulu pernah dan ga enak."

kamu tertawa lalu berkata, "aku ga suka kaya gitu. kalo emang pacaran dipake buat ngelarang dan segala macem, mending sekalian ngelamar jadi orang tua."
aku tertawa. membenarkan.

jadi, masih ga kita kaya gini?
kamu kembali membuang pandangan ke arah luar. selalu tidak menatap mataku saat berbicara sedikit serius.
aku pun tidak ingin memaksa. membuang pandanganku lurus ke arah rumpun bambu yang ada di depan.
menakutkan? memang.
" masih. walaupun mungkin aku ga ikhlas kalo sampe kamu deket sama yang lain. somehow, ga lama habis aku putus, i just feel like you're mine."
deg! kalau memang saat ini aku sedang duduk bersebelahan dengan orang lain, mungkin aku akan diam dan sembunyi sembari tersenyum dalam cahaya lilin.
tapi ini bukan orang lain.
" sialnya, kamu benar." aku bicara sambil tertawa. memalingkan wajahku untuk melihatmu, tapi matamu tak disana. aku hanya bisa menebak apa yang kamu pikirkan.

kayanya emang cewe sama cowo ga bisa jadi sahabat baik ya.
menghisap rokok. kembali membiarkan tar dan nikotin menenangkanmu, kamu mulai menatap lurus ke depan. bukan padaku memang. tapi buatku mungkin lebih baik begini saat itu.
" kamu bukan orang yang sengaja aku deketin buat dijadiin pacar. bukan. tapi emang aku ga ikhlas kalo sampe kamu deket sama yang lain. pun sampe ada yang ngedeketin aku, aku ga akan milih dia. buat apa aku nge-iyahin orang lain selama aku punya kamu."
lugas. dan tegas. kebohongan tidak pernah terdengar setegas ini bagiku.
jadi yah.. mungkin aku memang 'sedekat' itu sama kamu.

satu yang hilang. aku ga pernah inget masa dimana aku ngeceng kamu. orang lain yang nyadarin aku kalo emang setiap cerita kamu ada yang beda dari cara aku cerita. tentang kamu.
kamu diam. mengambil gelas tinggi berisi kopi yang sudah tersisa sedikit. menghisapnya, lalu akhirnya menatapku.
" kamu. orang yang emang bikin aku nyaman buat cerita. dan aku udah ga bisa boong pura-pura seneng kalo sampe ada yang usaha ke kamu dan kamu tanggepin."


sayaaang, kalaupun emang ada yang usaha apa pun. cukup kamu yang emang aku mau ada di samping aku.
salah ga sih kalau emang aku berakhir dengan selalu pulang ke kamu?

aku gatau ke depannya gimana. aku juga ga bisa jamin kita ga akan pernah berantem atau clash atau bahkan crash atau apapun.
tapi yang aku pengen, kita tetep gini :)

makasih azharan :)

Monday, 3 January 2011

afternoon is unifier. between God

hari ini. kedai kopi -lagi-. senja -lagi-. mendung.

bunyi gantungan yang terbuat dari alumunium menandakan pintu kedai terbuka.
semerbak rempah tercium seiring pelayan meletakkan pesanan di meja.

" cinnamon?"
aku mengangguk. membiarkan orang yang bertanya diam.
" weird. kamu biasanya selalu pesan caramel."
dengan agak kaku ia menarik kursi, lalu duduk secara perlahan.
entah menunggu perintah untuk diusir ataupun tanggapan lain dariku.
dan mau tak mau ia harus kecewa. aku diam. bahkan bernapas pun seakan enggan.

kalau saja ia sedikit tahu bahwa cinnamon adalah parfum miliknya yang paling aku suka. dan pesanan ini hanyalah sebuah bentuk kerinduan pada seorang...nya.

keadaan yang tidak berubah selama kurang lebih seperempat jam ini nampaknya mulai membuatnya jengah.

" Re.."
" Hmmm..." aku menanggapi sekenanya.
" Semuanya sudah beres."
tak ada tanggapan berarti dariku.
" Diandra dan keluarganya mengerti, dengan segala alasan dan pembelaan bahkan dari Diandra sendiri. peranku sudah tidak ada disana."
" Nara, ini bukan hanya tentang kita.."
" Aku tahu, Re.. aku tahu. tapi biarkan semua mengalir apa adanya."
" Ini. Bukan. Apa. Adanya."
" Yaa, aku tahu, aku mengerti. tapi kumohon, biarkan yang sudah terjadi sekarang, lebih leluasa untuk mengalir."

Damn. Mataku mulai tergenang air.

" Re. Kamu pikir untuk apa aku selalu mencoba ada di setiap kamu bilang kamu ingin bertemu? Untuk apa aku berusaha sebisa mungkin menyelesaikan semua hal secepat mungkin agar aku punya banyak waktu kosong untuk menemanimu."
" Nar.."
" Sssstt.. aku belum selesai. Tharesha, bahkan saat kamu terjatuh untuk Pradit, orang yang memang aku tidak pernah sukai. Tidak sedikitpun aku senang. Tahu kenapa? Karena melihat kamu menangis lebih menyedihkan daripada melihatmu tertawa bersama orang lain. Bahwa nyata adanya selama ini aku merasa entah bagaimanapun itu, bahwa kamu milikku. Untuk seorang sahabat yang memang tidak pernah ingin aku dekati, tapi aku bisa apa?"
" Nara.."
" Denganmu, bukan sesuatu yang kurencanakan dari awal. Bukan seperti Diandra yang memang sangat baik padaku dan banyak membantu akademis maupun kerjaanku. Bukan seperti beberapa orang lain yang memang sengaja aku dekati untuk sebuah status. Kamu, orang yang bikin aku nyaman. terlalu nyaman hingga takut semua hilang. terlalu dekat hingga takut spasi yang tercipta semakin jauh."
aku mulai membuang pandangan ke arah jendela. rintik hujan mulai memenuhi bagian kaca.
" Kamu, orang yang memang selalu ada. kapanpun. Kamu, satu-satunya orang yang...."
aku mengalihkan pandangan kembali padanya.
" yang aku sayang."

jeda disana. panjang.
sibuk dengan pikiranku dan secara bersamaan memaksa syaraf motorikku untuk tidak menangis.
dan mungkin Nara dengan pikirannya sendiri.

" Re.. aku tunggu kamu sampai lulus, mapan dan baru saat itu aku akan menagih jawaban untuk sebuah pertanyaan."
" Apa lagi?" tanyaku lemah. tak berdaya.
" Be my future, please.. would you?"
aku terhenyak. bagaimana kalauuu...
" Bahkan saat kamu sudah bersama yang lain, aku masih akan menagih jawabannya. walaupun memang pasti kata tidak yang akan terucap."
yaa. sekali lagi. tepat menjawab sebuah pertanyaan yang belum terdengar.

" Kamu tau kan syaratnya?" 
Nara mengangguk, " dua kalimat syahadat."

new perspective

today i just see you in another way.
weird.
but i know i'd fall for this one too.

mungkin benar jika banyak orang berkata bahwa suatu kotak akan memiliki suatu bentuk tersendiri jika kita ingin sedikit saja mengubah sudut pandang kita, atau kata lainnya, perspektif.
saat sesuatu yang terasa terlalu nyaman untuk dijalani mulai bergeser, haruskah kita tetap berdiam di sudut ini?
hari ini, saat sebuah zona paling nyaman yang mulai jengah dengan sudut siku yang semakin membelok tajam bergeser satu mili terkecil. masihkah harus aku berdiam dan menghapus geseran terkecil itu?
aku mulai suka.
karena sekali lagi 'tamparan' ini membuatku belajar.
yang abadi hanyalah perubahan.
dan untuk menerimanya, mungkin suatu sudut harus berubah.
sedikit saja, dan kita akan mulai mengerti.
bahwa statis hanyalah suatu gerakan di ruang hampa. mati. diam. tak bernyawa.
sedikit saja, sejenak mengoptimalkan kedua telinga dan mata untuk lebih banyak diam daripada bicara.
untuk lebih banyak melihat, bukan hanya mendengar.
dan untuk lebih banyak mendengar, bukan menghakimi.

it's a new version, and i know i'd fall for it.