Thursday, 29 July 2010

random wishes on august

* bikin bola2 coklat tapi pake oreo hemm.. yummy~
* pengen punya boneka naga atau pinguin
* mau masak apa ajaaaaa deh yang penting masak sambil bisa keketawaan
* pengen jalan jauh sambil ngobrol
* pengen mood nulis baliiiiikkkk :(( :((

Wednesday, 14 July 2010

ah entahlah
bahkan otakku beku
sinkronisasi dengan jemari semakin minim
nyaris menghilang

rasanya sama seperti melayang
tenang
mengambang
hilang
tersesat

tenang?
ah yaa..
mungkin rasaku yang sedang mati

lalu mengapa wajahku tetap basah?
apa? kata sayang?
hemm..
percuma tanpa telinga yang mau mendengarkan
tanpa pundak yang bisa dijadikan sandaran
tanpa senyum yang bisa menenangkan
tanpa mata yang senang memperhatikan
tanpa tangan yang bisa dijadikan pegangan
tanpa hati yang mau merasa
dan akan sangat percuma dengan jutaan penghakiman yang diberikan

Tuesday, 13 July 2010

Nurulita Tyas: aku ga lari..aku cuma pulang ke rumah
Nurulita Tyas: :((
Armand Putra: ahahaha
Armand Putra: dan kamu lari ke arah yg bner ko sayaaang
Armand Putra: :*
Nurulita Tyas: aku ga lariiiii
Nurulita Tyas: aku pulaaaang
Nurulita Tyas: :((
Armand Putra: muu cup cup cup cup
Armand Putra: iyaiyaiya sayaang
Armand Putra: kmu pulang ke rumah yg bner
Armand Putra: yang dari dulu udah nungguin kamu buat masuk ke situ
Nurulita Tyas: muuuuuuuuuuuuu
Armand Putra: yg dari dulu pgn kmu di dalemnya, supaya ga diganggu siapa2
Armand Putra: cuman.....
Armand Putra: dia ga bsa bicara
Armand Putra: dia hanya bsa ngebukain pintunya buat kmu
Armand Putra: sampai akhirnya
Armand Putra: si rumah itu bsa bilang ke kamu
Armand Putra: biar cuman pake gambar
Nurulita Tyas: muuuuuuuuuuuuu
Armand Putra: tp kmu bsa ngerti
Armand Putra: dan skarang,
Armand Putra: rumah itu gamau kamu pergi
Armand Putra: dan slalu pgn ikut kamu kmana2
Armand Putra: :*
Armand Putra: kamu punya rumah yg gede ko sayang,
Armand Putra: kmu bsa tulis smua hal yg ganggu kamu di dindingnya
Armand Putra: dan si rumah ajaib ini bakal ngehapus buat kamu
Armand Putra: :*
Armand Putra: so,
Armand Putra: don't go away from this home
Nurulita Tyas: aku gatau mau nulis apaaaa
Armand Putra: because this is your home, not house
Armand Putra: :*
Armand Putra: okaay?
Armand Putra: rumah ini dindingnya lebih tebel dari rumah manapun
Armand Putra: apapun yg kmu tulis
Armand Putra: pake apapun kamu gedor
Armand Putra: siapapun yg mau dobrak
Armand Putra: ga akan roboh
Armand Putra: :*
Armand Putra sedang mengetik...
Armand Putra: designed just for you
Armand Putra: dan apapun yg kamu tulis
Armand Putra: si rumah ini ga pernah ngeluh kok
Armand Putra: dia ga bsa bicara
Armand Putra: bukan brarti dia mati
Armand Putra: apapun yg kamu tulis
Armand Putra: pasti dibantuin sama si rumah ini
Armand Putra: :*
Armand Putra: yah
Armand Putra: soalnyaa
Armand Putra: si rumah ini gamau punya penghuni lain
Armand Putra: jadi
Armand Putra: dia harus melayani kamu, yg ada di dalemnya skarang
Armand Putra: jadii..ga usah takut lg ya sayang, apapun yg kmu crtain , smuanya aku dengerin dan baca
Armand Putra: aku janji

- azharan, saya pulang dan ga niat kemana-mana

Monday, 12 July 2010

" sudah sukses mencoba berdamai dengan sebuah kepingan cerita di suatu waktu. setidaknya saya sukses karena sudah mencoba."

-nurulita adm- 

Saturday, 10 July 2010

"The HARDEST things to say are the things that really matter the MOST."

-the love stories
"Love doesn't require you to be perfect, but it does require you to forgive."

-Boy Meets World
" seperti caffeine yang menenangkan namun berakhir tragis sebagai pemati rasa "

-nurulita adm-

Friday, 9 July 2010

hot lemon tea daylight

" hei, kecil. nih.." Natra menyodorkan sebotol air mineral lalu mengambil tempat di sebelahku.

aku mengusap mata yang masih nanar sebelum mengambil botol berembun dari tangannya.

" Tian mana?"

" sedang menelepon disana."

aku diam. menunduk menatapi botol yang belum juga dibuka, lalu mulai merobek segel penutupnya perlahan.

" Haaaahhhh.."

" Ada apa?" tanyaku perlahan.

" Tidak. hanya saja.. ahh entahlah.."

" Diandra?" pertanyaan retoris dariku. dan diam adalah jawaban paling tegas dari Natra.

" masih ingat, Re? aku seperti sedang me-recall semuanya."

ingat?
jangan bercanda, Nat. aku hampir seperti ini beberapa tahun yang lalu.


-------------------------------------

" Thareshaaaaa!!"

baru saja aku berbalik untuk menghadapi orang yang memanggilku dengan suara sangat keras saat sebuah pelukan keras dilayangkan padaku.

Natra.


sejujurnya aku ingin melonjak kegirangan walaupun mendengar sayup-sayup alarm dari otak.
yah..
tapi aku terlalu senang dan dengan bodohnya malah tidak kuhiraukan alarm itu.
sampai..

" ada apa, Natra? Aduh sakit, susah napas ini."
sesak napas di waktu yang sangat tidak tepat.

" Eh, maaf maaf." Natra segera melepas pelukannya.
sigh.


" ada apa?" aku mengulang pertanyaan yang tadi.

" siap mendengar kabar baik?"

" Ya." err.. tidak sebenarnya. yah hatiku bicara tidak.


" aku..." pipinya merona. Natra tampaknya sangat senang.

padahal aku sedang sangat datar.
bukan pertanda baik.


" aku resmi sebagai pacar Diandra!" Natra melompat.

sama seperti harapanku.
melompat keluar secepat kilat dari hidup.
senyumku pun melompat pergi sesaat sebelum menyadari aku tak boleh terlihat sedih.
aku tersenyum kembali.
bukan tipikal senyum tulus.

---------------------------

ah ya.. aku masih ingat, Natra. dengan sangat jelas.

kami terdiam di lapangan tenis dengan terik matahari yang menyengat kulit sampai Tian datang.

" Makan?"

aku berdiri perlahan dengan sedikit limbung.
Natra?
matanya yang nanar sekarang.

coffee :D

coffee time with you.
coffee with you.
coffee.
you.
coffee.
you.
coffee.
you
you
you

...called Raya

namanya Anandra Raya Utami.
biasa dipanggil Raya.
anak tunggal dari ayah Padang dan ibu Itali.
cantik.
hahhh..
aku bukan pria pandai yang mendeskripsikan seseorang.

yah.. pokoknya dia cantik.
dan baik.
dan senyumnya manis.
dan ketawanya sangat enak didengar.
dan bahasa tubuhnya indah.
dan muka cengonya sangat lucu.
dan tingkah kikuknya menggemaskan.
dan aku mulai meracau.
lagi-lagi mulai meracau tentang dia.

dan sekarang aku sedang berada di hadapan laptop, membuat soft copy dari foto-foto yang selama ini tersimpan di kamera hitamku.
102 foto.
102 foto dari 203 fotoku adalah Raya.

wow!


aku tidak sadar sudah sebanyak itu foto yang aku ambil tanpa sepengetahuannya.

ah yaa..
what a nice one to be a stalker sometimes.

sudah beberapa hari ini aku dan dia bertemu setiap hari.
entah dihabiskan dengan tawa lepasnya atau diam.
kami bisa diam beberapa jam sambil melihat ombak dan menikmati bingkai langit indahnya.

yah..
aku memang tidak pernah bisa melepas laut.
apalagi sekarang.
saat laut membingkai cerita aku dan Raya.

membingkai cerita? 
baiklah. hentikan, hentikan.
atau hal selanjutnya yang akan aku lakukan adalah membuat puisi manis yang dimasukkan botol lalu dihanyutkan ke laut.


danis!
hentikan. sekarang. juga.


yah..
intinya laut dan Raya adalah sebuah rangkaian yang sebenarnya perlu untuk selalu diingat.
sangat perlu.

wishes list on JULY *extension

* nanti tanggal 17 juli, liat nama temen2 deket saya di koran terpampang tepat di sebelah fakultas yang mereka mau.. AMIN AMIN

Wednesday, 7 July 2010

lucky - jason mraz ft. colbie caillat

Do you hear me,
I'm talking to you
Across the water across the deep blue ocean
Under the open sky, oh my, baby I'm trying

Boy I hear you in my dreams
I feel your whisper across the sea
I keep you with me in my heart
You make it easier when life gets hard

I'm lucky I'm in love with my best friend
Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again
Ooohh ooooh oooh oooh ooh ooh ooh ooh

They don't know how long it takes
Waiting for a love like this
Every time we say goodbye
I wish we had one more kiss
I'll wait for you I promise you, I will

I'm lucky I'm in love with my best friend
Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again
Lucky we're in love every way
Lucky to have stayed where we have stayed
Lucky to be coming home someday

And so I'm sailing through the sea
To an island where we'll meet
You'll hear the music fill the air
I'll put a flower in your hair

Though the breezes through trees
Move so pretty you're all I see
As the world keeps spinning round
You hold me right here right now

I'm lucky I'm in love with my best friend
Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again
I'm lucky we're in love every way
Lucky to have stayed where we have stayed
Lucky to be coming home someday

Ooohh ooooh oooh oooh ooh ooh ooh ooh
Ooooh ooooh oooh oooh ooh ooh ooh ooh


and i feel lucky to have you :)

a morning lady called...errrr...

sudah beberapa hari ini kameraku penuh dengan gambarnya.
kuperhatikan satu-satu dan sampai saat ini belum kutemukan kecacatan berarti pada fotoku.
gerakannya sangat alami -yah, mungkin juga karena dia memang tidak sadar sedang difoto-.
rambutnya yang diikat asal sering berkibar menemani kain balinya yang sudah lebih dulu terombang-ambing angin.

cantik.
dan itu merupakan kecantikan alami yang sekarang sulit ditemui.
apalagi setiap ia memberi senyum saat ia lewat di depanku.
hahh..
untung saja ada kamera kesayanganku yang dapat dengan segera meredam wajah merahku.

yah.. itu kerjaanku beberapa hari ini.
sampai suatu ketika, aku memutuskan untuk mengajaknya berkenalan.
tidak enak hati jika aku terus-menerus menjadi stalker-nya.

-----------------------------------------------

jadi sepagian ini aku bingung memilih pakaian yang akan kukenakan.

kaos belel?
hemm tentu saja tidak.


celana panjang?
terlihat terlalu resmi.


sudah hampir setengah jam aku seperti orang aneh yang terus-menerus mengganti pakaian.
sampai kulihat jam tangan abu-abuku.

ah sial! sebentar lagi ia akan melewati tempat biasa.


aku segera mengenakan pakaian yang bisa kuraih secepatnya lalu mengambil peralatan foto dan keluar dari motel.
sedikit berlari lalu mulai memelankan kecepatan saat sudah dekat dengan lokasi, mengatur napas sejenak.
akan tampak sangat aneh saat kamu memotret pemandangan alam dengan keadaan terengah-engah, apalagi di saat akan mengajak seorang wanita yang selalu menjadi objek fotomu -tanpa ia ketahui- berkenalan.

mematut diriku sendiri sambil mengeluarkan kamera dari tas selempang kecil, ternyata tidak terlihat terlalu buruk.
polo shirt putih dan celana belel.
oh hell.. padahal masih ada celana yang lebih pantas dari ini.


aku masih akan merutuk panjang jika tidak kulihat wanita itu sedang berjalan di kejauhan.
ah ya..
waktunya untuk mengambil beberapa foto kamuflase.

aku terus mengambil foto sambil menyadari sebenarnya mataku tidak tertuju pada fokus kamera, melainkan terus menerus juling ke samping kanan, memerhatikannya.
baiklah, hentikan atau kamu akan terlihat sangat konyol saat ia mendapatimu sedang melihatnya sambil terus memotret. 
bukan first impression yang baik.

jadi aku memutuskan menurunkan kameraku, tepat saat ia ada di hadapanku.
tersenyum lalu dan terus berjalan.
aku membalas senyumnya lalu terpaku.
diam.

tanya siapa namanya, bodoh!


tapi tubuhku masih saja diam disaat otak sudah berontak untuk berlari dan mengajaknya berkenalan.
beberapa detik yang terasa sangat lama itu akhirnya berhenti.
kusadari wanita tadi sudah berjalan cukup jauh.
tak ayal lagi langsung kuambil beberapa langkah besar yang mulai berubah menjadi langkah cepat.
mengikutinya dari belakang sambil terus mengumpulkan keberanian.

doakan saja aku berhasil.

Monday, 5 July 2010

tweet ke 900

nurulitatyas "pelisss..berhenti nganalisis perasaan orang seenak jidat! you have no idea, you have NO(t) at all"

Sunday, 4 July 2010

see through the sea

jadi aku kembali disini.
di pantai sepi nyaris tanpa turis yang selalu jadi incaranku.
pasir putih bersihnya menyilaukan lensa kamera hitam kesayanganku.
tapi yah, inilah laut.
cinta terdalamku akan alam.
dan hampir semuanya kudedikasikan untuk hal yang ada di hadapanku.
laut.

setiap pagi, aku selalu menyempatkan diri kemari dan mengambil beberapa gambar.
setiap hari,matahari selalu memberi pemandangan berbeda untukku.
biasan air yang mewarnai langit, yang menaungi wajah penuh harapan anak kecil yang sedang berlarian di pantai.

tapi sebenarnya, tidak ada yang terlalu bagus untuk menjadi obyek foto disini.
tidak terlalu menarik untuk membuatku tiap pagi datang kemari dan bergelut bersama kameraku.

tidak ada.
sampai tak sengaja aku mengambil gambarnya.

yah..
dia.

Saturday, 3 July 2010

maaf :(

ah ya..
jadi hari ini mood saya sedang sangat naik-turun kaya jet coaster yang masih ditambah kocokan tornado.
entah kenapa, tapi yang pasti dari pagi udah ga enak.
banget.
ditambah pertanyaan tiada henti tentang armand, yang mana juga saya belum tau dan kalaupun tau pasti saya cerita, puh-lease yaa bu, pak.

bangun tidur siang yang sangat tidak enak.
masak dan sibuk sama perintah-perintah yang puh-lease -saya-denger-tapi-bisa-sabar-sebentar-?.
which is berpuncak pada nada saya yang terdengar sangat jutek saat armand telepon dikarenakan tidak boleh beranjak dari meja makan saat makan dengan kegendokan tingkat apalah ini -___-

atulah, padahal anak itu teh baru nyampe habis naik bus in the middle of nowhere di timor sana, hari pertama dia nyampe sana, dan hebatnya malah saya jutekin.

maaafff :(

*hahhh..ayo dewasaaaaa...atur mood, jangan mau diatur2 sama mood... udah gedeeeeeeee

**dan yah, ini tulisan gamblang pertama saya sejak blog ini pertama kali turun

Friday, 2 July 2010

sudut siku

angin terbangun
lalu berjalan dan mulai berkelana
menggetarkan aku yang memang sedang berdiri di tepian
satu langkah lagi,
aku jatuh

satu geseran lagi,
aku limbung
dan berakhir di tempat yang sama
kedalaman kelam

kamu tahu, ketakutan itu datang lagi sekarang

untuk semua yang aku jaga
dan berakhir dengan kehilangan
untuk hal-hal yang aku temui
dan berakhir dengan pisah
untuk senyum yang pernah kau tawarkan
dan berakhir dengan tangisan

aku takut
jadi yah..
mungkin lebih baik aku mulai berlari lalu diam di sudut
setidaknya sudutku sudah hitam

sea in another way

terdengar sebuah ketukan di pintu.
aku menarik selimutku lebih dekat ke kepala.
dingin.
dan masih mengantuk karena tadi malam tidak bisa tidur sampai adzan shubuh berkumandang.

tedengar sebuah ketukan lagi.
oh oh bukan. tiga ketukan.
aku membalik posisiku menghadap pintu, dengan selimut masih di batas leher.

dalam hitungan detik, ketukan manis itu berubah menjadi gedoran.

panik, aku langsung lompat dari kasur dan membuka pintu.

" selamat pagi." cengiran Danis menyambutku di depan pintu.

aku nyengir tepat sebelum menyadari bagaimana penampilanku.
kaos oblong yang kebesaran -dalam konteks sangat-sangat kebesaran-, celana pendek hitam yang saking belelnya sudah mulai berubah abu, dan rambut yang super duper acak-acakan.
oh, jangan tanya.
mukaku sangat kacau saat aku bangun tidur.
mata sipit, bibir manyun dan muka yang terlihat berminyak.

dengan penampilan itu, aku menyambut Danis di depan pintu.
hell!


" ayo cuci muka lalu sikat gigi. aku tunggu disini."

" mau kemana?" tanyaku parau, masih berusaha mengumpulkan nyawa.

" snorkeling?"

" haaa?"

" sudah cepat sana." Danis memutar badanku menghadap kamar.
aku berjalan pelan, masih mencerna apa yang dikatakan olehnya.

" oh!" tiba-tiba ia berseru, membuatku memalingkan wajah menghadapnya, " hemm.. pakai sun block yaaa.."

aku mengangguk kecil lalu kembali berjalan menuju kamar mandi.

" sudah?"

aku tersenyum kecil sambil mengangguk.

kami pun berjalan perlahan menyusuri jalan kecil ke arah luar penginapan, bukan ke arah pantai yang biasa.

" ahahaha.." tiba-tiba Danis tertawa. kontan aku menoleh.

" tidak, tidak. kamuu.. lucu yaa.. kalo bangun tidur ga bisa langsung ngomong ya, Ray?"

aku nyengir.

" tuh kan, malah nyengir." Danis memelankan jalannya hingga sejajar denganku, lalu mengack-acak rambutku.

deg!


hahh..
sudah sebulan aku disini.
dan hebatnya, Danis juga tetap disini untuk waktu yang lama.
jumlahnya, sudah lebih kurang 2 minggu kami bertemu setiap hari.
dan setiap harinya, tetap saja aku salah tingkah dibuatnya.

" sudah sampai."

" ha? apa?" lamunanku langsung buyar dan itu membuatku sangat terkejut saat menyadari kami ada di pinggir kapal nelayan.

" mau ngapain?

" snorkeling, Raya.. snorkeling."

ohhh.. ternyata tadi dia mengajakku snorkeling. aku hanya mendengar kelingnya saja saat dia bicara di penginapan.


" kamu bisa berenang, kan?" tanyanya menggoda.

" bisa!" tidak terima aku dilecehkan begitu saja.

" baiklah.. hemm sebentar."

Danis pergi beberapa langkah ke samping kanan dan berbincang sebentar dengan beberapa nelayan disana sementara aku diam berdiri memangdang hamparan laut di hadapanku.
indah sekali.
ah entahlah, tampaknya seumur hidup waktu yang kuhabiskan untuk mengelilingi pantai-pantai di Indonesia tidak akan pernah cukup untuk membuatku berhenti terpukau.

" yuk, Ray."

aku mengangguk. ah Raya, kenapa kamu sangat nurut dengan orang satu ini?
kharismanya.
jawabku sendiri akan pertanyaan yang sebenarnya kuajukan sendiri.

ya, satu hal yang akan langsung ditangkap orang dari Danis adalah kharisma.
kharismanya begitu kuat.
terasa sangat nyata.

sesiang itu aku dan Danis habiskan mengambang di atas air.
baru sekali ini aku snorkeling, alhasil Danis kelimpungan menjagaku.

" Raya!" suatu kali Danis berteriak sambil menarik tanganku.

refleks aku teriak, membuat selang udara kemasukan air dan berujung padaku yang hilang keseimbangan.
untung saja Danis dengan sigap menyelam dan menahanku dari bawah, tepat sebelum kakiku menginjak dasar.
sebenarnya bagian laut yang kami lihat ini hanya sekitar 1,5 meter dalamnya, jadi dalam sekejap saat Danis menggiringku ke arah belakang dari tempat tadi, aku bisa langsung berdiri.

" ada apa?" tanyaku masih kaget.

" tadi ada bulu babi, Raya. Aduh kamu, sudah kuberitahu berapa kali. nampaknya bulu babi memiliki magnet yang sangat reaktif terhadapmu ya?" nada suaranya tinggi. dia khawatir?


" Ah ya.. maaf maaf.. aku terlalu senang melihat pemandangan di bawahku." aku nyengir, mencoba mencairkan suasana.

" mulai sekarang, ikuti aku saja ya.. atau kamu berenang di sebelahku."

aku mengangguk kecil.

Danis membalikkan badannya, bersiap untuk memakai perlengkapannya lagi.

" aku kan khawatir." katanya lirih -dan lagi-lagi tidak menatapku-.

" maaf?" kataku perlahan.

bukannya menjawab, ia malah mulai berenang meninggalkan aku.
hahh dasar.. rutukku sebelum akhirnya mengambil posisi untuk menyusulnya.

Danis, Danis.
si kharismatik khawatiran yang berlagak cuek.

saya. kamu. kami. mereka. kita.

denyut nadi waktu mulai terdengar melantun indah
bisakah aku membuatnya berdenyut sedikit lemah?
hanya untuk merekam tiap detak dengan lebih baik
lebih seksama
dan lebih memakna

biarkan detaknya terhenti sejenak
sama dengan jantungku yang membeku
menyesak saat tahu mungkin memang ini lebih baik menjadi kenangan
mungkin biar saja terhenti sekarang
sehingga apa yang baik, tetap terkenang baik

tapi aku masih ingin sedikiiittt saja lebih lama bertahan disini
duduk terdiam mendengar napas berat mereka
memaki bersama lalu tertawa
berpeluh dengan tepukan tangan akan suatu
kebersamaan





















*2010 in the lovest memories*
selalu ada satu kertas kosong untuk diisi
dan masih akan ada window putih terbuka untuk dikotori oleh tulisan

oh..
satu lagi kanvas putih polos di pojok sana menunggu untuk ditimpa warna

tapi warnaku hitam-putih
tidak menarik
yang bisa kuciptakan paling hanya abu

dan itu sama sekali tidak menarik untuk dibagi
bukan pelangi monokromatik yang akan kulukis
karena sejujurnya, aku tak bisa melukis
hitam-putih ini saja kutemukan dari arang yang kuserut tajam untuk menulis

tapi semua kehitamputihanku
bahkan abu kelam di tengah cerita
semuanya untuk kamu

ya. karena semua bermuara pada satu.
kamu

Thursday, 1 July 2010

bittersweet for some real-life

iyaaa...
jadi saya Gio.
sepupunya Tharesh sama Tian.
dan lagi-lagi entah bagaimana ceritanya, saya kembali terjebak dengan drama melankolis romantis namun sedikit miris dan anehnya saya masih mencoba untuk apatis.

oh..
ada satu yang beda.
kali ini pemain utamanya adalah Diandra.

" ada apa, Di?"

" ada apa?"

"ha?" Nara terlihat sangat bingung.

" ada apa, Nara?"

" Di.. kamu yang.."

" ada apa dengan kamu dan Tharesh?" Diandra memotong kalimat Nara.

Nara terlihat sangat terkesiap disaat aku mencoba dengan susah payah untuk tidak tersedak dengan americano-ku.

" aku? Tharesh?" Oh, hell.. sekarang Nara malah berpura-pura bego.

ah ya.. aku lupa.. Nara emang kadang bego beneran.

" kamu. dan. Tharesha. ada. apa. di. antara. kalian?" satu penekanan di setiap kata. padahal tanpa perlu begitu, Nara sudah cukup tertekan.

Diandra benar-benar marah. atau sedih?
aku tidak pernah lihai membaca perasaan wanita.

" ada Tharesha yang lemah. dibalik semua senyumnya, dia terkadang tertidur dengan tangisan. dan tidak semua orang yang tahu. atau mungkin memang tidak semua orang tahu."

" lanjutkan, Nara. aku ingin dengar semuanya." Diandra mulai menurunkan intonasi nadanya. suaranya terdengar tercekat, diiringi kesulitan menelan air liur.

" Di, aku rasa tidak ada gunanya kalau kamu meneruskan ini." aku akhirnya angkat bicara.

" Tidak, Gio. aku ingin kamu ada disini, menjadi saksi atas pengakuan Nara."

aku terkesiap. baiklah. jadi aku harus menjadi saksi dari sebuah awal peperangan atau perdamaian.
oh, Nara.. aku harap kamu bijak kali ini.
untuk kasus ini, bahkan menjual nama Hanggaatmadja sekalipun tidak akan berguna.

Diandra membuang napasnya perlahan, lalu kembali menghadapkan wajahnya pada Nara.

" please?"

Nara mengambil napas panjang dan berat, lalu perlahan melanjutkan.

" ada Tharesha yang sebenarnya sangat kesepian. selalu bisa berakting baik untuk menutupi semuanya. tidak semua orang peduli."

" tapi kamu peduli." Diandra berkata lirih sambil berusaha keras tetap memandang wajah Nara.

wanita kuat, pikirku.

" iya.. aku peduli."

" kamu sayang Tharesh?"

" maaf?"

" Nara. kamu mendengarnya. aku tidak perlu mengulang dua kali agar bisa mendengar jawabanmu."

" Tharesh adalah orang yang selama ini dititipkan Tian agar dijaga olehku. aku bertanggung jawab atas dirinya."

" itu bukan beban yang harus kamu pikul, Nara. itu keinginanmu." Diandra mengeluarkan sebuah pernyataan. ya. pernyataan. bukan pertanyaan.

" pada akhirnya itu menjadi keinginanku."

" jadi kamu sayang Tharesh?"

" untuk apapun ekspetasimu tentang kata sayang itu. jawabanku adalah ya."

kulihat bibir bawah Diandra bergetar. dia berusaha keras menahan tangis yang benar-benar sudah ada di ujung mata.

" kenapa?"

Nara terdiam memandang Diandra.

" kenapa baru sekarang kamu bilang?"

" karena kamu tidak pernah memberi waktu untuk aku bicara. kamu selalu sibuk dengan segala kejutanmu."

Diandra mengambil tas lalu menyangdangkannya di bahu, memegang pegangan sofa, mencari pegangan untuk membantunya berdiri, lalu beranjak pergi setelah mengatakan beberapa kata.

" aku akan bicara pada mama. ada pertunangan yang harus dibatalkan disini."

Nara terdiam, namun kusadari rahangnya mengeras.
dan tangannya bergetar saat memegang cangkir kopi.

" hey.." Nara memanggil Diandra dengan nada datar. dingin.

aneh.. anak ini masih bisa bersikap sedingin ini sekarang.

sepatu Diandra berhenti menimbulkan bunyi. ia terdiam tanpa membalikkan badannya.

" kamu. ada apa dengan Natra?"

late morning

bangun, buka selimur, ambil air putih, iket rambut, ambil kain bali, keluar rumah, berjalan agak cepat, lalu berhenti sejenak.
mengatur napas, lalu mulai berjalan perlahan.

20 detik lagi seharusnya...
mulai menarik napas panjang.

15 detik..
memperpanjang tarikan napas


10 detik..
perlahan-lahan memejamkan mata dan mengatur detak jantung yang mulai berdetak diluar batas normal
pelan-pelan? yaaa, biar terlihat agak natural.


3 detik..
diam mematung di tempat, menghitung mundur


2.....,1...


tidak ada.


hemm..
mari hitung mundur lagi..


3,2.........................
masih belum ada.


saaatuuuuu?


benar-benar tidak ada.


aku mematung selama beberapa menit.
dan baru sekali ini terasa sangat berat untuk sekedar berdiri.
akhirya aku menyerah.
duduk di tempat dia biasa berdiri.
diam memandang langit yang beralaskan laut dengan ditemani lantunan ombak.


entah sudah berapa lama aku diam disini saat kusadari ada bunyi-bunyian dari pasir.
oh bukan, bunyi itu disebabkan oleh orang yang sedang berlari di pasir.


dug.


seseorang baru saja membanting tubuhnya tepat di sebelahku.
Danis.
aku memandangnya heran saat melihatnya dengan santai, tanpa terlihat merasa kesakitan, mengeluarkan kamera dan mulai memotret.
napasnya mengalun pelan, mengindikasikan ketenangan yang luar biasa setelah berlari dengan kecepatan penuh di atas pasir lalu berakhir dengan bantingan tubuh di sebelahku.


sekitar 10 menit kami terdiam.
hemmm..
sebenarnya aku yang terdiam menatap pria di sebelahku yang sedang sangat serius membidik pemandangan.


tak lama kemudian dia menoleh ke arahku, menelengkan sedikit kepalanya, lalu mengangkat pantat dan berdiri.
" makan?"


aku mengangguk.
berdiri lalu berjalan mengikuti Danis yangsudah terlebih dahulu jalan mendahuluiku.


" maaf aku terlambat."


ha?
Danis bicara padaku?


aku menoleh ke belakang.
tidak ada orang.
aku sedikit jinjit untuk melihat ke depan Danis.
kosong.


jadi..
dia bicara padaku.
tanpa menolehkan wajahnya.


dan sekarang dia diam.
tidak mengulang perkataannya sama sekali.
errrrr...


jawab jangan?
udah telat banget kayanya mau jawab juga.
tapi da pengen jawab.
ahhh..
sudahlah diam saja.


jadi..
yah..
seperjalanan menuju warung makan -yang selalu membuatku merasa berdosa karena aku sama sekali tidak bisa menahan hasrat makan- kami habiskan dalam diam.


" kenapa diam saja?" Danis bertanya sesaat setelah kami duduk dan memesan makanan.


" ha? oh... hemm.." bego. malah dead air.


" ahahahaha... bisa tidak sih tidak kikuk?"

kontan aku langsung menundukkan kepala saat Danis berkata begitu.
malu.