can't get enough for these dream
Sunday, 13 February 2011
Tuesday, 8 February 2011
jika memang boleh bicara
baru saja menonton tv.
jengah lama-lama mendengarnya.
semua orang hanya bisa saling menghina, mengomentari satu sama lain. bahkan tanpa mereka mengerti apa yang mereka bicarakan.
untukku -entah untuk yang lain-, bukankah inti hidup itu untuk saling membantu?
mengerti di bidang masing-masing, mengerjakannya dengan baik dan biarkan semesta mengerjakan sisanya.
mengapa sekarang malah kita sibuk menukar komponen hidup?
mencaci satu sama lain. bukannya membuat sistem bekerja semakin baik, semua malah sibuk bicara bahwa komponennya tidak bisa berjalan benar karena ada yang terkait dengannya dan bagian itu sudah 'usang', perlu diganti. bukannya bekerja untuk memperbaiki, yang ada malah semakin membuat daya kerja sistem menurun.
merusak dari dalam. tidak bisa dikatakan perlahan. hanya yang pasti, itu bertahap.
mulai bicara saling lempar. menyalahi bidang lain. lupa akan bidangnya sendiri, terlalu sibuk mengomentari.
hey. bicaramu cukup.
sebuah kata memang bisa menjadi awal sebuah pergerakan, jika saja yang bicara mau bergerak.
jika hanya bisa mengeluarkan kata, kata itu tidak akan ada artinya selain sampah.
menguap lalu menghilang dan hanya terkenang sebagai memori.
bagi sebagian yang membenci, hanya senjata lain untuk menyakiti.
bagi yang sedang butuh alasan, dikenang sebagai dasar suatu pergerakan.
jihad mereka bilang.
omong kosong.
tanggung jawab.
pernahkah melakukannya sejenak, bapak-bapak petinggi.
bahwa kami, rakyat jelata yang dahulu memandang bapak sebagai orangg hebat selalu mengira bahwa segala yang bapak katakan adalah kebenaran.
bahwa keadilan sudah perlahan menghilang.
bahwa semua sedang dalam proses -selalu dalam proses-.
tapi kalau boleh aku sekedar bertanya, proses apa?
proses bicara?
kesibukan untuk menghadiri undangan minum atau stasiun televisi lainnya?
keadilan, pak.
konsep saya mengenai keadilan memang abstrak.
tapi yang pasti keadilan memang hilang saat ribuan rakyat mengais untuk makanan dan tempat tinggal, sedangkan para petinggi -ya, bapak-bapak sekalian- malah sibuk saling adu mulut di stasiun televisi.
keadilan bukan saat rakyat mengais untuk pengobatan dan bantuan bagi bencana sedangkan Anda malah sibuk keluar masuk toko menimbang baju mana yang pantas untuk diberikan pada wanita di sekeliling Anda.
apapun itu statusnya. sekali lagi, kami, rakyat memang tidak perlu tahu kan?
keadilan akan pergi saat Anda, wakil rakyat berubah menjadi pakar debat yang hanya bisa sibuk menghadiri undangan.
bukan keadilan yang salah, pak.
bukan juga sistem.
mungkin memang kita yang harus merombakkan diri.
jengah lama-lama mendengarnya.
semua orang hanya bisa saling menghina, mengomentari satu sama lain. bahkan tanpa mereka mengerti apa yang mereka bicarakan.
untukku -entah untuk yang lain-, bukankah inti hidup itu untuk saling membantu?
mengerti di bidang masing-masing, mengerjakannya dengan baik dan biarkan semesta mengerjakan sisanya.
mengapa sekarang malah kita sibuk menukar komponen hidup?
mencaci satu sama lain. bukannya membuat sistem bekerja semakin baik, semua malah sibuk bicara bahwa komponennya tidak bisa berjalan benar karena ada yang terkait dengannya dan bagian itu sudah 'usang', perlu diganti. bukannya bekerja untuk memperbaiki, yang ada malah semakin membuat daya kerja sistem menurun.
merusak dari dalam. tidak bisa dikatakan perlahan. hanya yang pasti, itu bertahap.
mulai bicara saling lempar. menyalahi bidang lain. lupa akan bidangnya sendiri, terlalu sibuk mengomentari.
hey. bicaramu cukup.
sebuah kata memang bisa menjadi awal sebuah pergerakan, jika saja yang bicara mau bergerak.
jika hanya bisa mengeluarkan kata, kata itu tidak akan ada artinya selain sampah.
menguap lalu menghilang dan hanya terkenang sebagai memori.
bagi sebagian yang membenci, hanya senjata lain untuk menyakiti.
bagi yang sedang butuh alasan, dikenang sebagai dasar suatu pergerakan.
jihad mereka bilang.
omong kosong.
tanggung jawab.
pernahkah melakukannya sejenak, bapak-bapak petinggi.
bahwa kami, rakyat jelata yang dahulu memandang bapak sebagai orangg hebat selalu mengira bahwa segala yang bapak katakan adalah kebenaran.
bahwa keadilan sudah perlahan menghilang.
bahwa semua sedang dalam proses -selalu dalam proses-.
tapi kalau boleh aku sekedar bertanya, proses apa?
proses bicara?
kesibukan untuk menghadiri undangan minum atau stasiun televisi lainnya?
keadilan, pak.
konsep saya mengenai keadilan memang abstrak.
tapi yang pasti keadilan memang hilang saat ribuan rakyat mengais untuk makanan dan tempat tinggal, sedangkan para petinggi -ya, bapak-bapak sekalian- malah sibuk saling adu mulut di stasiun televisi.
keadilan bukan saat rakyat mengais untuk pengobatan dan bantuan bagi bencana sedangkan Anda malah sibuk keluar masuk toko menimbang baju mana yang pantas untuk diberikan pada wanita di sekeliling Anda.
apapun itu statusnya. sekali lagi, kami, rakyat memang tidak perlu tahu kan?
keadilan akan pergi saat Anda, wakil rakyat berubah menjadi pakar debat yang hanya bisa sibuk menghadiri undangan.
bukan keadilan yang salah, pak.
bukan juga sistem.
mungkin memang kita yang harus merombakkan diri.

