" malam, biarkan saya menyerah sekali ini."
Monday, 30 November 2009
caramel afternoon
"hot caramel machiato."
Sebuah tangan terulur seiring dengan suara bass yang mengalun.
kututup bukuku, mendongakkan kepala dan mendapati sebuah tangan serta harum parfum yang kukenal.
terlalu kukenal.
menyadari tak ada respon, kamu meletakkan mug yang berisikan kopi tersebut lalu duduk di hadapanku.
oh tidak.
jangan lagi.
jangan buatku kembali sibuk mengatur detak jantungku agar tidak terdengar olehmu.
jangan buatku kembali menahan napas agar mukaku tak kembali memerah.
jangan buatku kembali menggigit lidah agar aku tak tiba-tiba tersenyum dan membuatmu bingung.
kamu seperti kopi.
kelakuanmu seperti hujan.
membuatku addict.
dan kamu selalu muncul saat senja.
"sudah makan, princessa?"
baiklah. aku pingsan sebentar lagi.
cukup. cukup. diam saja, okei?
atau aku akan mulai meracau.
"mm.. belum. kenapa? tadinya aku mau pesen, tapi penuh banget counternya," baiklah, stop sekarang, stop sekarang juga, racauanku mulai kacau, "aku mau pesen lasagna, tapi nampaknya sudah habis. jadi aku bingung mau pesan apa. lalu.."
mendadak aku terdiam saat melihat kau tertawa.
baiklah. bunuh aku sekarang. oh tidak, tampaknya aku sudah ada di surga. hahaa..
aku tahu aku berlebihan.
"ada masalah apa?"
"masalah?"
"ya, princessa." kumohon berhenti panggil aku dengan sebutan itu.
"sebentar, tau darimana aku ada di sini?"
"hujan. senja. dan kamu tak ada di sekolah."
"bukan berarti aku ada disini."
"tapi kamu memang ada disini."
"lalu?"
"lalu... kamu kenapa?"
"tidak apa-apa."
"mmhh... susah yang ngomong sama kamu."
jeda sejenak. terdengar tarikan napas. napasku. dan aku pun mencium harum parfummu.
"dia pulang."
"dia? pulang? kembali kemari, maksudmu?"
hanya sebuah anggukan yang kuberikan sebagai tanda jawaban.
"lalu? apa dia menghubungimu?"
sebuah gelengan dariku menandakan respon untuk pertanyaanmu.
tak mampu berkata. aku tahu satu kata saja, maka air mataku tumpah.
dan aku benci menjadi lemah karena dia. apalagi harus menunjukkannya di depanmu.
kamu terdiam.
aku tahu mengapa.
karena kamu pun membencinya.
untuk sebuah tindakan yang dia lakukan.
untuk sebuah janji yang dilanggar.
mata cerahmu mendadak berubah kelam.
diam menatapku.
tapi itulah nada yang kubutuhkan.
dalam diammu aku bicara.
dalam hening kita saling mengerti.
dan itu yang kamu lakukan.
tersenyum sekilas.
mengambil jaket.
meletakkan di sandaran sofaku.
lalu kau pergi.
dan sebuah alunan perih mengalir.
Sebuah tangan terulur seiring dengan suara bass yang mengalun.
kututup bukuku, mendongakkan kepala dan mendapati sebuah tangan serta harum parfum yang kukenal.
terlalu kukenal.
menyadari tak ada respon, kamu meletakkan mug yang berisikan kopi tersebut lalu duduk di hadapanku.
oh tidak.
jangan lagi.
jangan buatku kembali sibuk mengatur detak jantungku agar tidak terdengar olehmu.
jangan buatku kembali menahan napas agar mukaku tak kembali memerah.
jangan buatku kembali menggigit lidah agar aku tak tiba-tiba tersenyum dan membuatmu bingung.
kamu seperti kopi.
kelakuanmu seperti hujan.
membuatku addict.
dan kamu selalu muncul saat senja.
"sudah makan, princessa?"
baiklah. aku pingsan sebentar lagi.
cukup. cukup. diam saja, okei?
atau aku akan mulai meracau.
"mm.. belum. kenapa? tadinya aku mau pesen, tapi penuh banget counternya," baiklah, stop sekarang, stop sekarang juga, racauanku mulai kacau, "aku mau pesen lasagna, tapi nampaknya sudah habis. jadi aku bingung mau pesan apa. lalu.."
mendadak aku terdiam saat melihat kau tertawa.
baiklah. bunuh aku sekarang. oh tidak, tampaknya aku sudah ada di surga. hahaa..
aku tahu aku berlebihan.
"ada masalah apa?"
"masalah?"
"ya, princessa." kumohon berhenti panggil aku dengan sebutan itu.
"sebentar, tau darimana aku ada di sini?"
"hujan. senja. dan kamu tak ada di sekolah."
"bukan berarti aku ada disini."
"tapi kamu memang ada disini."
"lalu?"
"lalu... kamu kenapa?"
"tidak apa-apa."
"mmhh... susah yang ngomong sama kamu."
jeda sejenak. terdengar tarikan napas. napasku. dan aku pun mencium harum parfummu.
"dia pulang."
"dia? pulang? kembali kemari, maksudmu?"
hanya sebuah anggukan yang kuberikan sebagai tanda jawaban.
"lalu? apa dia menghubungimu?"
sebuah gelengan dariku menandakan respon untuk pertanyaanmu.
tak mampu berkata. aku tahu satu kata saja, maka air mataku tumpah.
dan aku benci menjadi lemah karena dia. apalagi harus menunjukkannya di depanmu.
kamu terdiam.
aku tahu mengapa.
karena kamu pun membencinya.
untuk sebuah tindakan yang dia lakukan.
untuk sebuah janji yang dilanggar.
mata cerahmu mendadak berubah kelam.
diam menatapku.
tapi itulah nada yang kubutuhkan.
dalam diammu aku bicara.
dalam hening kita saling mengerti.
dan itu yang kamu lakukan.
tersenyum sekilas.
mengambil jaket.
meletakkan di sandaran sofaku.
lalu kau pergi.
dan sebuah alunan perih mengalir.
Saturday, 28 November 2009
mon soir
butuh yang mengerti
bukan dengan interupsi
hanya ingin dipahami
bukan dihakimi
dan malamku mengerti
malamku menciptakan hening dalam diam
menyodorkan secangkir caffeine untuk menenangkan
dan hening tercipta lagi
hanya desahan pelan
diiringi dentingan rintik hujan
tapi aku suka.
bukan dengan interupsi
hanya ingin dipahami
bukan dihakimi
dan malamku mengerti
malamku menciptakan hening dalam diam
menyodorkan secangkir caffeine untuk menenangkan
dan hening tercipta lagi
hanya desahan pelan
diiringi dentingan rintik hujan
tapi aku suka.
Friday, 27 November 2009
harusnya tak begini
kamu tak mengerti, sayang
maka simpan katamu
dan dengarkan aku
bukan hanya kamu yang menjadi korban
mereka pun jatuh
bukan hanya kamu yang putih
aku pun bukan hitam
bukan hanya baik atau benar
tapi memegang sebuah janji
perkataanmu saja tak ada yang pasti
lantas mengapa kau memandangku seperti itu?
terpidana mati atas dakwaan yang pernah dilakukan padamu
oleh orang lain
bagaimana dengan terpidana yang seharusnya kau vonis?
malah kau telan dan tersenyum padanya
palsu, sayang
dan aku tak suka.
jangan minta aku untuk percaya
aku benci pengkhianat
jangan minta aku untuk mengerti
aku memberi tapi kau malah iri
teman katamu?
yang kurasa hanyalah angin yang dingin
menusuk
lalu pergi dengan tenang
maka simpan katamu
dan dengarkan aku
bukan hanya kamu yang menjadi korban
mereka pun jatuh
bukan hanya kamu yang putih
aku pun bukan hitam
bukan hanya baik atau benar
tapi memegang sebuah janji
perkataanmu saja tak ada yang pasti
lantas mengapa kau memandangku seperti itu?
terpidana mati atas dakwaan yang pernah dilakukan padamu
oleh orang lain
bagaimana dengan terpidana yang seharusnya kau vonis?
malah kau telan dan tersenyum padanya
palsu, sayang
dan aku tak suka.
jangan minta aku untuk percaya
aku benci pengkhianat
jangan minta aku untuk mengerti
aku memberi tapi kau malah iri
teman katamu?
yang kurasa hanyalah angin yang dingin
menusuk
lalu pergi dengan tenang
well..mendung
berkata itu sulit
karena ada tanggung jawab di setiap desah yang bunyikan
tak mungkin kau ingkari begitu saja jika aku ingat semuanya
tanyakan pada air
alirannya pun memiliki tanggung jawab
cobalah sedikit mengerti
angin pun sedang berbisik
diamlah.
aku sudah tak ingin dengar.
biarkan aku menyatu dengan apa yang kumau.
dan akan kubiarkan janjimu pergi.
karena ada tanggung jawab di setiap desah yang bunyikan
tak mungkin kau ingkari begitu saja jika aku ingat semuanya
tanyakan pada air
alirannya pun memiliki tanggung jawab
cobalah sedikit mengerti
angin pun sedang berbisik
diamlah.
aku sudah tak ingin dengar.
biarkan aku menyatu dengan apa yang kumau.
dan akan kubiarkan janjimu pergi.
Tuesday, 24 November 2009
melankolis di sebuah rintik
hujan lagi
membawa kelemahan
menegaskan kekuatan
lalu hilang mengalir
romantis
apatis
dan juga miris
romantis karena hujan selalu memiliki misterinya tersendiri
apatis untuk sebuah hirauan dari mereka yang membenci
dan miris
untuk aku yang selalu menangis bersama hujan
membawa kelemahan
menegaskan kekuatan
lalu hilang mengalir
romantis
apatis
dan juga miris
romantis karena hujan selalu memiliki misterinya tersendiri
apatis untuk sebuah hirauan dari mereka yang membenci
dan miris
untuk aku yang selalu menangis bersama hujan
Monday, 23 November 2009
Sunday, 22 November 2009
satu pena tentang hujan
hujan mengawali hari
memberi isyarat akan dimulainya kehidupan
membangunkan indung pagi
menyapa dedaunan
bersenandung membalas nyanyian
menyaut harapan dan asa
akan hari yang lebih baik
dia mengerti tanpa perlu bertanya
dia mendengar tanpa ada selaan
dia melihat tanpa perlu mengeja
untuk itulah aku suka hujan
selalu menjadi teman tanpa perlu diminta
menjadi asa tanpa perlu diputus
memberi ruang tanpa perlu digeser
memberi isyarat akan dimulainya kehidupan
membangunkan indung pagi
menyapa dedaunan
bersenandung membalas nyanyian
menyaut harapan dan asa
akan hari yang lebih baik
dia mengerti tanpa perlu bertanya
dia mendengar tanpa ada selaan
dia melihat tanpa perlu mengeja
untuk itulah aku suka hujan
selalu menjadi teman tanpa perlu diminta
menjadi asa tanpa perlu diputus
memberi ruang tanpa perlu digeser
Thursday, 19 November 2009
Lagi-lagi tentang sebuah cerita lama
Tadi malam seorang teman lama menelepon saya.
Teman?
Lebih tepat disebut sahabat.
Dari pertama dia bicara,saya sudah tau itu dia.
Setelah hampir 5 taun,mungkin tak ada kontak.
Tapi tak sedikit pun ada perubahan.
Kami berbincang cukup lama.
Untuk mengetahui bahwa banyak sekali yang sudah berubah di hidupnya.
Hidup saya juga.
Terlalu banyak perubahan.
Dengan satu kesamaan.
Persahabatan kami.
Bukankah itu sahabat?
Saat kamu merasa terlalu mudah untuk menjadi dirimu sendiri di waktu kamu bersamanya.
Teman?
Lebih tepat disebut sahabat.
Dari pertama dia bicara,saya sudah tau itu dia.
Setelah hampir 5 taun,mungkin tak ada kontak.
Tapi tak sedikit pun ada perubahan.
Kami berbincang cukup lama.
Untuk mengetahui bahwa banyak sekali yang sudah berubah di hidupnya.
Hidup saya juga.
Terlalu banyak perubahan.
Dengan satu kesamaan.
Persahabatan kami.
Bukankah itu sahabat?
Saat kamu merasa terlalu mudah untuk menjadi dirimu sendiri di waktu kamu bersamanya.
Wednesday, 18 November 2009
rabu kelam tapi indah
siang hari hujan.
berlanjut bersama detik, menit dan jam.
mereka bilang ini menyebalkan.
tapi tidak saat kamu menyeberang jalan bersama sahabatmu.
tidak saat kamu tertawa bersama disertai secangkir minuman.
lagi-lagi, notes ini ditulis saat hujan di senja, penghujung akhir.
bersama kedua sahabat saya dan tambahan lain.
kekasih hati?
hmm..
terlalu picisan kata itu.
aku pribadi lebih suka menyebutnya...
pasangan.
jangan pikir aku hanya punya dua sahabat.
duniaku tidak sesempit itu.
sahabatku banyak.
tapi untuk hari rabu dalam dua pekan ini, aku bersama mereka.
untuk pertama kalinya semenjak blog pertama ditulis,
saya menulis di tengah kekelaman dengan sebuah senyum.
sebuah senyum tulus yang menyatakan bahwa saya siap berperang dengan dunia selama saya masih punya mereka.
orang penting dalam hidup saya.
yang membuat hidup saya layak untuk dinikmati.
termasuk kamu, gembul :)
berlanjut bersama detik, menit dan jam.
mereka bilang ini menyebalkan.
tapi tidak saat kamu menyeberang jalan bersama sahabatmu.
tidak saat kamu tertawa bersama disertai secangkir minuman.
lagi-lagi, notes ini ditulis saat hujan di senja, penghujung akhir.
bersama kedua sahabat saya dan tambahan lain.
kekasih hati?
hmm..
terlalu picisan kata itu.
aku pribadi lebih suka menyebutnya...
pasangan.
jangan pikir aku hanya punya dua sahabat.
duniaku tidak sesempit itu.
sahabatku banyak.
tapi untuk hari rabu dalam dua pekan ini, aku bersama mereka.
untuk pertama kalinya semenjak blog pertama ditulis,
saya menulis di tengah kekelaman dengan sebuah senyum.
sebuah senyum tulus yang menyatakan bahwa saya siap berperang dengan dunia selama saya masih punya mereka.
orang penting dalam hidup saya.
yang membuat hidup saya layak untuk dinikmati.
termasuk kamu, gembul :)
Tuesday, 17 November 2009
Sebuah kenangan di secarik ruang hati
Bosan meragu.
Melangkah dalam diam.
Dan tak membuat sebuah perubahan.
Kamu.
Yaa,kamu.
Mengapa akhirnya jadi begini?
Atau ini masih permulaan?
Mengapa jadi jarak yang terasa?
Ataukah kita yang menjaga?
Mengapa jadi jauh yang terjadi?
Atau kita yang pergi?
Meninggalkan cerita lalu yang berhembuskan tawa.
Berpaling dari masa jaya dan keangkuhan kita.
Mmhh..
Jangan datang lagi.
Aku tak sanggup.
Melihatmu pergi pun sudah menjadi luka.
Apalagi harus menerimamu kembali.
Tapi jauh di tempat terdalamku.
Aku tahu walaupun tak mau mengaku.
Aku jatuh cinta.
Padamu.
Melangkah dalam diam.
Dan tak membuat sebuah perubahan.
Kamu.
Yaa,kamu.
Mengapa akhirnya jadi begini?
Atau ini masih permulaan?
Mengapa jadi jarak yang terasa?
Ataukah kita yang menjaga?
Mengapa jadi jauh yang terjadi?
Atau kita yang pergi?
Meninggalkan cerita lalu yang berhembuskan tawa.
Berpaling dari masa jaya dan keangkuhan kita.
Mmhh..
Jangan datang lagi.
Aku tak sanggup.
Melihatmu pergi pun sudah menjadi luka.
Apalagi harus menerimamu kembali.
Tapi jauh di tempat terdalamku.
Aku tahu walaupun tak mau mengaku.
Aku jatuh cinta.
Padamu.
Sunday, 15 November 2009
Selamat malam,terang!
Selamat malam,malam!
Maukah kamu mendengar ceritaku?
Aku sedang bicara pada tuanku.
Maukah kamu mendengarnya?
"Simpan katamu.
Biarkan aku tersenyum.
Diam saja,tak usah mengaku kalah.
Aku tahu aku sudah menang.
Akan kusimpan bendera putihku.
Untuk dikeluarkan lain waktu.
Ataukah harusnya kubakar saja?
Agar aku tak punya alasan untuk menyerah lagi?
Tak akan ada bendera setengah tiang lagi untuk dikibarkan.
Akhirnya aku melihat sebuah terang di suatu kemuraman.
Aku hidup untukku bukan?
Untuk membuat hidupku menjadi lebih hidup.
Seperti yang sudah kubilang,tuan..
Diamku untuk menang."
Maukah kamu mendengar ceritaku?
Aku sedang bicara pada tuanku.
Maukah kamu mendengarnya?
"Simpan katamu.
Biarkan aku tersenyum.
Diam saja,tak usah mengaku kalah.
Aku tahu aku sudah menang.
Akan kusimpan bendera putihku.
Untuk dikeluarkan lain waktu.
Ataukah harusnya kubakar saja?
Agar aku tak punya alasan untuk menyerah lagi?
Tak akan ada bendera setengah tiang lagi untuk dikibarkan.
Akhirnya aku melihat sebuah terang di suatu kemuraman.
Aku hidup untukku bukan?
Untuk membuat hidupku menjadi lebih hidup.
Seperti yang sudah kubilang,tuan..
Diamku untuk menang."
Thursday, 12 November 2009
Elegi malam yang datang menjerit
Mencoba bertahan.
Dan nurani menjerit.
Mencoba tersenyum.
Dan air mata tertahan.
Lagi..
Ingin teriak.
Apa daya,mulut terbungkam.
Ingin bersuara.
Apa daya,nada menghilang.
Hanya ingin bersandar untuk sementara.
Mengibarkan bendera atas nama harapan dan asa.
Apa daya tak ada angin.
Yang ada hanya sebuah tongkat yang berdiri dengan -mencoba- tegar di tengah gelak tawa.
Sendirian.
Impian pun berpulang.
Dan nurani menjerit.
Mencoba tersenyum.
Dan air mata tertahan.
Lagi..
Ingin teriak.
Apa daya,mulut terbungkam.
Ingin bersuara.
Apa daya,nada menghilang.
Hanya ingin bersandar untuk sementara.
Mengibarkan bendera atas nama harapan dan asa.
Apa daya tak ada angin.
Yang ada hanya sebuah tongkat yang berdiri dengan -mencoba- tegar di tengah gelak tawa.
Sendirian.
Impian pun berpulang.
Sebuah pikiran di pagi hari
Mereka mengajarkan saya bicara.
Tapi tidak menyediakan telinga untuk mendengar.
Mereka beri saya pola pikir.
Tapi tidak menyediakan perasaan untuk memahami.
Saya yang mendayu.
Atau memang mereka yang meragu?
Memberi kritisan.
Tapi tidak menyediakan hati untuk menyadari.
Memberi celaan.
Tanpa ada cermin untuk melihat.
Mata pun kuragukan untuk dipakai melihat.
Individu baru sedang berkembang,nyonya.
Berikan sedikit kebebasan untuk bernapas.
Berikan sedikit ruang untuk memilih.
Ini hidupnya.
Bukan hidupmu.
Dia seorang yang baru.
Bukan bonekamu.
Tapi tidak menyediakan telinga untuk mendengar.
Mereka beri saya pola pikir.
Tapi tidak menyediakan perasaan untuk memahami.
Saya yang mendayu.
Atau memang mereka yang meragu?
Memberi kritisan.
Tapi tidak menyediakan hati untuk menyadari.
Memberi celaan.
Tanpa ada cermin untuk melihat.
Mata pun kuragukan untuk dipakai melihat.
Individu baru sedang berkembang,nyonya.
Berikan sedikit kebebasan untuk bernapas.
Berikan sedikit ruang untuk memilih.
Ini hidupnya.
Bukan hidupmu.
Dia seorang yang baru.
Bukan bonekamu.
Wednesday, 11 November 2009
dan saat semua menjadi gamang
sebuah pertanyaan :
apa yang akan Anda lakukan saat sebuah penyangga tiba-tiba menghilang?
sebuah jawaban -yang diharapkan-:
tetap bertahan dan kuat
sebuah realita :
saya gamang.
sebuah pondasi yang membangun dan menopang saya selama hampir 5 tahun mendadak hilang hanya dalam satu hari,sebuah kejadian, dan bahkan kurang dari 12 jam!
untukmu, tuanku.
saya letih mengalah. tenaga saya sudah habis untuk melawan.
mengapa tak ada kata damai atau ya darimu
apa yang akan Anda lakukan saat sebuah penyangga tiba-tiba menghilang?
sebuah jawaban -yang diharapkan-:
tetap bertahan dan kuat
sebuah realita :
saya gamang.
sebuah pondasi yang membangun dan menopang saya selama hampir 5 tahun mendadak hilang hanya dalam satu hari,sebuah kejadian, dan bahkan kurang dari 12 jam!
untukmu, tuanku.
saya letih mengalah. tenaga saya sudah habis untuk melawan.
mengapa tak ada kata damai atau ya darimu