Wednesday, 30 June 2010

sajak malam

aku masih tidak mengerti
bahkan mungkin pelajaran seumur hidup tidak akan membuatku memahami seutuhnya
membaca seumur hidup, belum tentu dapat kulakuan dengan baik
belajar pun kadang membosankan

maka dari itu aku hanya ingin mencoba apa yang aku bisa
mencintaimu
hahhh..bahkan nampaknya kata itu masih terlalu jauh dari angan
terbawa derai angin dan mulai tercerai-berai

aku belum bisa mencintai
karena terkadang masih banyak tuntutan yang aku beri
jangan pulang malam, jangan lihat yang lain, jangan jangan dan jangan
aku memang peduli, tapi jauh di atas itu, aku masih takut kehilangan kamu

aku pernah dan jauh di atas segala rasa,
aku tidak kuat

tapi semua bilang cinta itu berarti siap melepaskan
lalu ini apa?

aku belum siap melepasmu kalau memang harus
bahkan sisi egoisku masih ingin memiliki walau kau berontak ingin lepas

aku hanya ingin mencintai dengan benar
sebenar melepas merpati yang akan selalu kembali pulang ke tuannya,
tak peduli sejauh apapun ia terbang

tapi kembali lagi, itu berarti aku ingin memiliki

lalu harus bagaimana?
aku belum siap menjadi matahari yang mencintai bumi dan selalu tersenyum walaupun ia berada jauh
aku belum ingin menjadi seorang ibu yang melepas anaknya merantau jika memang kamu harus pergi

aku hanya ingin duduk diam bersamamu
tertawa mendengar ceritamu
meminjamkan pundakku jika kamu ingin menyandar
memegang tangan dingin hanya untuk membantu agar tidak menjadi lebih beku
dan aku ingin kamu tersenyum

ah yaa.. di atas segalanya, aku ingin kamu tersenyum
bahkan jika aku harus menjadi matahari dan kamu bumi

baiklah..
aku rasa aku mulai bisa mencintaimu :)

Monday, 28 June 2010

amiiin

A : aaargh random wish on july : taking you to the beach !
N : what a very kind of you, darl
N : and my random wishes will be : seeing you with the sunset as the background
A : that's all?is there anything else?
N : nooooooooo
A : you sure?
N : oh one more :D
A : what?tell me
N : seeing youuu happy fuuuulllllll month :D

summer's sunset

jadi, namanya adalah Rizki Danis Pradana.
asli Indonesia, tidak sepertiku yang memiliki ibu Itali.
pure Itali.
anak sulung dari dua bersaudara, adiknya perempuan.
senang travelling dan fotografi.
dan yang hebat adalah, dia travelling dengan uang sendiri.
hebat?
oh iya, hebat.
dia berasal dari keluarga yang berlebih menurutku -menyekolahkan anak di sekolah berasrama ternama di kota besar dan masih bisa membiayai kuliah mereka di luar negeri tidak datang dari keluarga pas-pasan-, tapi dia membiayai seluruh perjalanan hunting fotonya melalui uang yang dia dapat dari kerja sambilan.
dan yang lebih hebatnya lagi -menurutku, selain hidungnya- adalah dia mau bekerja apa saja dengan keadaan ekonomi yang sangat mendukung. dia pernah jadi sales promotion boy sebuah merk rokok ternama, menjadi chaperone dalam sebuah event dan masih banyak lagi.
banyaknya pekerjaan yang mungkin kalau aku yang diajak untuk ikut malah akan langsung membuangnya dari listku sendiri. dan semuanya dia lakoni dengan sangat telaten.

makin bertambah saja rasa kagumku padanya.
dan semua karya yang dia perlihatkan padaku, ahhh..
tidak pernah sebelumnya aku melihat karya yang begitu hidup.
maksudku, itu hanya selembar foto.
bagaimana caranya kita dapat merasakan sesuatu dari situ?
tapi saat melihat beberapa gambar yang telah dia ambil dan disimpan di kameranya, aku tahu kalau ternyata seni itu memang memiliki nyawa.

sangat berbeda denganku, aku adalah seorang gadis manja yang lahir dengan semua fasilitas nomer satu.
Anandra Raya Utami.
gadis kelahiran Jakarta, hasil peranakan Palembang - Itali.
berkulit cokelat -eksotis kata orang lain-, dengan tinggi 173cm dan hidung mancung serta mata abu membuatku terlihat bukan asli Indonesia.
rambut hitam gelombang membingkai pipi chubby-ku dengan sempurna kata ayah.
dan hal yang sama dikatakan oleh Danis.
keduanya membuatku tersipu -dalam konteks yang berbeda-.

" Ray."

" Ya?" aku menghentikan rangkuman pemikiranku akan Danis.

" ikut aku yu, sebentar." Danis bangkit dari kursinya.

" kemana?"

belum sempat aku mempersiapkan diri, Danis sudah menarik tanganku dan membawaku lari bersamanya.

belum ada sehari dan dia sudah dua kali membuatku berlari tergopoh-gopoh seperti ini, tanpa ada pemberitahuan.
tampaknya harus ada pembiasaan untuk hal-hal seperti ini.


" kita mau kemana, Dan..."

jeduk! 
aduh!


aku menabrak Danis yang berhenti tiba-tiba.
baru saja aku mau marah saat aku melihat objek yang sedang dibidik oleh kamera Danis.

Ya Tuhan, sunset yang sangat indah.
kulihat sekelilingku. asing. aku belum pernah kemari selama 3 minggu aku disini.

" Danis, ini diman.." dan Danis sudah hilang dari hadapanku.

Ya ampun, anak ini.
cepat sekali menghilangnya.


" mau duduk disini?"

kulihat Danis duduk tak jauh di depanku, menepuk pasir di sebelahnya.

aku pun menempati tempat yang tadi ditunjukkannya.
terdiam berdua memandang sunset yang sangat indah.

duduk berdua di pasir menikmati sunset.
ini... selalu jadi permintaanku yang paling dalam.
tapi mengapa sekarang bersama Danis? pria yang bahkan belum sehari aku kenal.


awal dari sesuatu.


dan firasatku jarang sekali meleset.

Sunday, 27 June 2010

wishes list for 9 nine years later? #4

and my bathroom!!
mine mine mine :D










wishes list for 9 nine years later? #3

solusi bagi orang-orang yang malas mandi *seperti saya*, bangun tidur tinggal nyemplung
syarat utama : harus bisa berenang *bukan saya banget*





please meet the summer chick

tubuh tegap yang mulai terbakar matahari entah mengapa terlihat sempurna dengan polo putih dan celana selutut yang sudah belel.
hahhh..
semuanya tampak sempurna di mataku.
hidung mancung yang selalu terlihat 'kejeduk' dengan kamera profesional miliknya terlihat menggelikan terkadang.

oh, hell..
sebenarnya aku tidak terlalu mengerti dengan fotografi dan kelengkapannya, tapi dari cara dia mengambil gambar serta kamera yang digunakan, bisa kutebak dia adalah seorang fotografer handal.

aku berjalan perlahan lalu tersenyum kecil saat mata kami bertabrakan.
selalu seperti itu sebelum dia kembali asik dengan kameranya dan mulai berjalan ke arah darimana aku datang.
namun nampaknya hari ini sedang tidak seperti biasanya.

kurasakan ada seseorang yang sedang mengikutiku.
mengerlingkan mataku sedikit ke arah kiri dan kudapati sebuah bayangan berjalan tak jauh dari milikku.
aku mendadak berhenti dan mendapati bayangan itupun berhenti.

panik. serangan yang paling sering kurasakan itu seketika menyergapku.
dan bukannya lari atau melakukan sesuatu, aku justru hanya bisa memaku dan diam.
kurasakan keteduhan mulai menyelimuti punggungku, perlahan merambat ke arah tengkuk, dan mulai menuju ke arah muka sebelah kanan.

kuberanikan diri untuk memalingkan wajah ke arah sumber keteduhan dan seketka aku melonjak ke belakang.
keseimbangan yang buruk membuatku sukses mendarat dengan posisi duduk di pasir.

" Eh..maaf maaf.. tadinya aku mau mengenalkan diri dan mengajakmu berkenalan. maaf.." dia mengulurkan tangannya saat bicara. suaranya berat, namun terkesan bersahabat. sedikit manja lebih tepatnya.

masih diam, kumicingkan mataku, belum sempurna mencerna perkataan yang terlontar.

" hei.. kamu gak papa?" dia mulai berjongkok dan memberi pandangan kuatir padaku.

Oh Tuhan, dia jauh lebih tampan dilihat dari jarak seperti ini.

" oh.. nggak papa koo.. maaf aduh aku linglung." aku tersenyum kecil dan mengutuk diri sendiri karena terlalu malas untuk pergi ke kamar mandi dan meyikat gigi sebelumnya.

" ahahaha.." tawa renyah keluar dari bibirnya yang mulai pecah terbakar matahari.

aku merengut. benci ditertawakan, apalagi dengan orang tidak dikenal. apalagi dengan orang setampan ini yang harusnya kubuat terkesan.

bukannya membantuku berdiri, si tampan ini malah mengambil tempat di sebelahku. duduk sila sambil memegang kamera dengan kedua tangannya lalu mulai membidik hal-hal yang menurutnya menarik -satu hal yang harus disyukuri, aku terjatuh dibawah pohon besar yang sangat rindang-.
tetap dengan posisi seperti itu selama kurang lebih sepuluh menit, si tampan menurunkan kameranya lalu tersenyum menatapku.

" masih sakit?" tanyanya.

" ha? sakit?" kesalahan. aku malah terlihat semakin bego.

sebuah tawa lepas terdengar, " oh aku pikir kamu tetep duduk disini selama aku mengambil beberapa gara-gara kamu sakit pas tadi jatuh."

" oh..'' aku ikut tertawa.

bodoh, bodoh, bodoh. semakn terlihat idiot aku di hadapannya.

" aku lapar. sudah pernah mencoba kerang bambu bakar?"

" dimana?" huft..untunglah aku sudah mulai bisa mengontrol emosiku.

" aku bukan orang yang bisa menjelaskan jalan." pria tampan di sebelahku ini dengan sigap berdiri lalu menarik tanganku seenaknya.

"eh.. aduh.." aku tergopoh-gopoh mengikutinya.


" enak?"

aku mengangguk kecil.
sarapan kali itu aku lewati dengan sangat nikmat.
kerang bambu bakar, nasi panas, cumi goreng tepung dan ditutup dengan es jeruk nipis.
hahh..
sebenarnya terlalu berat untuk sebuah menu sarapan di jam..
hemm..
sembilan??!!

" aku bayar dulu yaa.."

" eh eh, sebentar." aku baru saja akan menarik tangan dan mencegahnya membayar saat kusadari aku tidak membawa dompet -kesalahan kedua hari ini-.

aku berjalan perlahan keluar, menanti si tampan dengan kulit terbakarnya di depan pintu rumah makan.

" mampir ke penginapanku sebentar ya, aku mau bayar makananku tadi."

" haa? untuk apa? aku tidak minta ganti ko."

" ini bukan permintaan." kataku, lalu mengambil langkah terlebih dahulu -memaksanya mengikutiku-.

diam. atmosfer canggung akan orang baru mulai menyelimutiku.
menyadarkan bahwa aku sedang bersama orang sangat asing -bahkan namanya saja aku tidak tahu- yang belum satu jam yang lalu menabrakku lalu seketika mengajakku makan dan malah kuajak mampir ke penginapanku.

" baiklah, kita sudah sampai. tunggu sebentar." kurogoh saku untuk mengambil kunci lalu segera memasukkannya ke lubang di pintu.

" aku tunggu disini ya.." aku mengangguk.

aku tidak sebodoh itu untuk menyuruhmu masuk, orang asing.

dompet, dompet..
dimana, kamu?
hahh kuperhatikan sekitar dengan seksama.
kamar 4x4 dengan nuansa putih ini terlihat sangat berantakan.
setelah sekitar 5 menit mencari, aku akhirnya menemukan apa yang kucari.
benda hitam mungil itu diam di bawah penutup kasur yang kuletakkan di lantai.

" tadi berapa, " kalimatku terpotong.

mas, akang, abang?

"....mas?"

yang kutanya malah tersenyum lalu bangkit dari kursi teras dan berdiri di hadapanku, " mas? ah yaaa.. tidak sopan sekali aku, belum sempat mengenalkan nama."

aku diam menatap tangannya yang terjulur mengajak bersalaman.

" Danis."

Danis. hemm.. yayaya..

" Raya." aku menjabat uluran tangan itu.

kami saling tersenyum. kurasakan pipiku sedikit merona. jabatan tangannya erat dan sangat bersahabat.
dan ah.. lesung pipit itu..

aku perlahan melepas pegangan tangannya -tepat sebelum aku kehabisan napas karena pengontrolan emosi yang sangat menguras tenaga ini-, " eh, jadi tadi berapa?"

" ah tidak usah."

baru aku mau mendebat saat ia meneruskan kalimatnya, " itu permintaan maaf dariku, nona Raya."

" lalu kenapa kamu mau kuajak kemari?"

" oh, mungkin karena tadi ada seorang wanita yang terburu-buru berjalan mendahuluiku setelah selesai berbicara, lalu terdiam sepanjang jalan, yang mana membuatku bingung harus memulai percakapan darimana, dan mungkin.." Danis terdiam sebentar, " karena aku ingin mengenal nona Raya lebih dekat."

aku tersipu.
sial. aku hanya bisa berharap ia bukan pembaca gestur tubuh yang baik karena refleksku yang malah menggigit lidah dan tidak bergerak akan terlihat sangat konyol sebenarnya.


" berhenti panggil aku nona, Danis." sial! suaraku terdengar seperti orang sedang tercekik. sedikit memekik dan tertahan.

" ahahaha" tawa renyah Danis terdengar sangat enak di telinga.

ah yaaa.. ini adalah awal perkenalan yang sangat baik.

TERIMA KASIIIH :)

terima kasih untuk pemenuhan random wishes-nyaaa..
dan memang benar-benar diceklis pake spidol merah :))
terima kasih untuk mengizinkan menjadi bocah seharian
terima kasih untuk mau mendengarkan impian seorang bocah yang terlihat tidak ada habisnya -terlihat? HEM memang.-

terima kasih untuk sebuah kata " kita ketemu 2 minggu lagi yaa" yang diucapkan dengan sangat indah.

terima kasih untuk sebuah perjalan panjang menghabiskan hari yang indah.

terima kasih, terima kasih :)

Friday, 25 June 2010

introduction

aku senang dengan rutinitas pagiku selama berada di sini.
dibangunkan angin laut yang membuka pintu dan membiarkan sinar matahari menyeruak masuk ke dalam kamar kecil nyaman yang kusewa ini.
selanjutnya aku membuka selimut, mengambil air putih yang selalu kuletakkan di samping mejaku dan mengikat rambut yang mulai berubah menjadi merah ini.
mengambil sarung Bali yang kubeli setahun lalu, lalu membiarkannya berkibar saat aku berjalan menyusuri pantai.

Laut.
satu obsesi yang selalu kusimpan rapat di dalam hati.
aku mencintai lantunan ombak yang terdengar.
bernapas bersama aroma asin lembab yang dibawa angin adalah hal yang sangat kusukai.
terlebih lagi pantai sepi terpencil yang memang sangat jarang dikunjungi membuatku bisa merasakan atmosfer yang paling aku butuhkan, sunyi, privat dan yang terpenting, sendiri.

sendiri sampai...
hemm..
biar kulihat dulu..
baiklah..
30 detik lagi harusnya..

daaannn..

langsung kutahan napasku..

inilah yang paling kunantikan dalam rutinitas pagiku.

dia.

*love it :)

Thursday, 24 June 2010

frozen letter

kamu tahu?
sesaat aku disini dan berjuta kenangan membuncah
keluar tak terkendali dari sebuah relung tak dikenal
tentang kamu
tentang tawa yang sangat lepas
tentang tangis yang tak terbendung
tentang tundukan malu-malu
............................................................................
dan kembali tentang kamu
yang kembali mengingatkanku tentang asa
jadi, bolehkah kuhidupkan kembali asaku yang sempat mati suri untukmu?

*the note about you, found in my first diary book for you

file. save as. pomeriggio.

wishes list for 9 nine years later? #2

kamaaaarrr :):)

* will be perfectly perfect with some table for my laptop next to the side of mine and a TV in front of the bed



*it's just some lovely grey touch



*and it's just some of a perfecto picture



*a lovely room with a great view




*an outdoor one..wow




*oh..just simply love it


wishes list for 9 nine years later? #1

pengen bikin rumah terus bikin dapur yang luas dan lengkap biar enak pas masak :)











dan oh my, ada outdoor kitchen



Wednesday, 23 June 2010

anyone but you lah

hemm..mungkin cuma terlalu banyak ekspetasi di sekitar.
toh pada dasarnya benar atau tidak itu selera.
tidak ada hal mutlak pembatas mana yang benar dan mana yang tidak.
dan yah..tolong berhenti saja.
banyak hal yang mungkin sudah tidak ada gunanya diluruskan.
persepsinya memang berbeda.
dan kenapa kenapa harus kembali pada kamu?
yaa ampunn..
apa karena kita terlalu dekat?
terlalu sering bersama.
tapi masih terlalu banyak perasaan yang terpendam.
memang bukan jalan kita untuk bicara nampaknya.
yah, batasi saja.
buat segaris tegas disana.

Tuesday, 22 June 2010

update :D

update for random wishes on June :

*pengen ngabisin satu liter es krim berdua -- checked :D walaupun ga pas seliter


*pengen nerusin novel *yaudah sii tinggal nulis -- checked walaupun baru 2 judul


*pengen main sama temen2 yang udah lama ga ketemuu -- checked **ditambah kadooo :D

Monday, 21 June 2010

Tian, the elder and the house

haaahhh..

kugerakkan badanku disertai bunyi-bunyian dari punggungku.

hemm.. harus lebih sering meluangkan waktu untuk berolahraga tampaknya mulai sekarang.
atau aku akan meninggal dalam usia sangat dini, tepat seperti yang Tharesh katakan.


Tharesh..
tiba-tiba aku teringat.
ada dimana dia sekarang?
tadi tiba-tiba saja dia membatalkan janji untuk bermain tenis bersamaku dan Natra lalu pergi tergesa-gesa.

" Sial!"
aku terkejut mendengar umpatan Natra yang begitu keras.

" Ada apa? kau mengejutkanku."

Natra masih diam sambil terus memandangi telepon selularnya.

" Tharesh dimana?"

" Kenapa?"

" Diandra baru mengirimkan pesan padaku. Ia bilang baru saja pulang dari menemui Tharesh."

aku diam.
Diandra menemui Tharesh?
tepat sehari setelah pertunangannya dan Nara.
hemm.. bukan pertanda baik.

" ....dan mengembalikannya."

" apa, Nat? maaf aku tidak mendengar semuanya."

" Lupakan. bukan itu yang penting sekarang. Tharesh dimana, Tian? Aku takut sesuatu terjadi padanya."

" Tenang. Tharesh selalu punya rumah untuk kembali."

" Tapi.., " belum selesai Natra bicara, ia sudah merubah arah pembicaraan dan memanggil seseorang, " THARESHA!"

kontan aku membalikkan wajahku.
tersenyum pada wajah yang sebenarnya sangat kukhawatirkan.

lalu mengusap kepalanya lembut saat mendapatinya mendarat di pelukanku dan menangis keras.

the truth never taste as sweet as honey bee

“ Mungkin sebenarnya ini masalah utamanya. Aku tidakpernah benar-benar mencintainya.”

Aku terdiam. Menyimak sebuah pengakuan mengejutkan dari segaris bibir tipis merah yang dimiliki gadis di hadapanku.

“ Aku bisa apa sekarang, Re?” tanyanya pelan sambil mengedikkan bahu.

" Hem.. entahlah. mungkin ini hanya sebuah ketegangan sebelum menginjak jenjang yang lebih serius."

" Mungkin. Jika kesadaran ini tidak segera datang, mungkin itu yang akan kujadikan alasan untuk hal yang kurasakan ini."

Baru saja aku akan berkata saat wajah cantik di hadapanku mulai berbicara, " Harusnya aku bahagia. Harusnya aku senang pria yang sangat kukagumi akhirnya memang menjadi milikku. harusnya.. tapi ternyata tidak." kata terakhirnya mengalun pelan, nyaris tak terdengar ditambah dengan gestur membuang pandangan ke luar jendela.

cuaca sedang bersinar sangat cerah walaupun sedikit berangin.
hari yang indah sebenarnya.
dan sangat tidak dianjurkan untuk menghabiskannya sambil duduk berdua di sebuah kedai teh, menghadapi sebuah pengakuan suram.

air mata mulai menggenangi mata coklat cerah indah miliknya.

ah.. bohong belaka saat kamu bicara tentang cinta untuknya.

" Mungkin selama ini aku hanya senang dengan semua kebaikan yang sudah dia lakukan kepadaku. Aku hanya tidak ingin kehilangan semua pengorbanan yang pernah dia buat. Hahhh.. memang pada dasarnya aku ingin dikagumi, ingin dianggap berharga, haus akan pengakuan. Dan semuanya bisa dia berikan dengan tulus padaku. Mungkin saat itu aku pikir aku jatuh cinta.. Mungkin.."

" Mungkin ada baiknya kamu menyudahi semua kebohongan ini, Diandra."

wanita di hadapanku langsung mengalihkan pandangannya lurus ke arah mataku.

" Kamu tidak tahu, Tharesha."

" Aku memang tidak tahu tentang apa yang sebenarnya kau rasakan. Tapi itu, " aku menunjuk matanya yang sedang menatapku gusar, " tidak bisa berbohong."

kami saling tatap untuk waktu yang cukup lama -setidaknya itu yang kurasakan-.
cukup lama untuk membuat genangan air mata semakin tertumpuk.
dan tepat sebelum tumpah, Diandra mengalihkan pandangannya kembali.

" Diandra, aku benci saat harus menggunakan otakku untuk menganalisis perasaan orang, tapi aku lebih benci melihatmu seperti ini."

" Nara tidak mencintaiku."

Aku tersentak mendengarnya.
Diandra kembali memandangku.

" hanya ada satu yang dia cintai. hanya ada satu yang ada di hatinya. yang membuatnya rela tidak tidur semalaman hanya untuk memastikan orang yang dicintainya baik-baik saja. hanya ada satu orang yang selalu membuat Nara berkorban. dan dia bukan saya, Tharesh."

" Di.." aku memanggilnya perlahan.

" selama ini aku mengira Nara begitu baik padaku karena dia mencintaiku. Selama ini aku pikir itu cinta. Tapi bukan. Nara hanya begitu baik pada temannya."

" Di.." suaraku melemah, ikut bergetar seiring pertahanan akan air mata yang semakin kuperkuat.

" Tapi tidak. Natra yang membuatku menyadarinya. Natra yang membuatku bercerita dari awal tentang aku dan Nara. dan kemarin malam, semua menjadi jelas. terlalu jelas di mataku yang baru bisa melihat sekarang." Diandra menggigit bibirnya yang bergetar kencang, mencoba kuat untuk meneruskan kata-katanya.

" Di.."

" Nara hanya mencintai satu orang."

aku menunduk perlahan.

" dan itu kamu, Re."

aku menggigit bibirku kencang hingga kurasakan sesuatu yang basah mengalir.
bukan, bukan air mata.
melainkan darah dari bibirku.

" Re.." Diandra memanggilku lembut sambil menaikkan daguku agar bisa lurus menatap matanya, " maafkan aku yang sudah membuat kalian jauh. aku berjanji akan memperbaiki semuanya."

sebuah senyum manis diberikan Diandra padaku tepat sebelum mengambil tas lalu pergi ke kasir dan keluar dari kedai.

matahari masih menatapku cerah.
yaa.. seharusnya hari ini terlalu sayang untuk dilewatkan dengan duduk di sebuah kedai teh.
sendirian ditemani hati yang tak tentu arah.

Thursday, 17 June 2010

random wishes on june

*pengen ujan-ujanan lagi terus masuk ke coffeeshop terus minum hot caramel machiato
*pengen ngabisin satu liter es krim berdua
*pengen makan sushi sepuasnya sampe bener2 ga mau nyentuh sushi lagi buat seminggu setelahnya
*pengen main basket
*pengen nerusin novel *yaudah sii tinggal nulis
*pengen bikin dress
*pengen jalan kaki yang jauuuuhh terus mampir di warung pinggir jalan makan es campur
*pengen main sama temen2 yang udah lama ga ketemuu
*pengen jalan2 keliling mall, masuk ke toko2 sampe kaki pegeeeeelll banget
*pengen liat nama temen2 di koran pas pengumuman SNM-PTN di fakultas yang emang mereka pengen
*pengen semua yang dipengenin kejadian bulan ini

Wednesday, 16 June 2010

finally i find my own neverland in you :)







thank you for brought that 'land' for me

* the 200th blog and it's for you

kidung putih

dunia hitam kelabu miris yang dulu terasa akrab mulai berubah abu dan sedang dalam proses menuju putih
dunia biru yang sering jatuh bersama air mata mulai memudar dan menjelma menjadi biru langit
mencoba mengukir pelangi dengan tinta embun dan rangkaian kidung pagi yang mulai terasa menggugah

sebuah bintang mulai berani nampak dan sedikit menghias langit kelam
baru satu, yang lain masih sibuk membuka tabir
debu angkasa hitam yang menutup rapat permukaan

sang mentari mulai melirik dan sedikit tersenyum melihat malam
malam sudah bisa berdamai dengan dirinya sendiri, bisiknya pelan
tepat sebelum ia pergi mengendap meninggalkan malam
kali ini, dengan tenang

bukan hanya kamu yang susah

semuanya mulai tergaris jelas
kamu, saya, mereka
kami
semuanya mulai berbatas dalam bahasa yang tak terpetakan

dan runtuh perlahan

tak perlu sebuah senyum kan, sayang
hanya untuk memberitahumu aku sedang sakit
tak perlu sebuah tangis kan, sayang
untuk memberitahumu semuanya mulai membaik

aku tak pernah meminta banyak
lalu salahku kalau yang kudapat sebanyak ini?

bersyukur, sayang
untuk semua yang kamu punya

dan maaf kalau ceritamu belum seindah milikku

my own happily fairy tale

so it's started with the great morning greetings
and continued with the conversation we had
and the running in the rain pouring with me some happiness you've never known

oh and yes for the 'lost shoes', thank you for helping me find it in exactly shape

so what else?
it's more than enough to be my own fairy tale :)

Tuesday, 15 June 2010

" isn't it hurt to talk about the past we had. and how it suddenly come as a 'strike in a row' thingy?"

- nurulita adm- 

 to keep is to lose. but not to keep it lose.
-nurulita adm-
not even a close.
and still i don’t have time to think about it.
too many things to figure, too many words to be spoken, but there’s too little time to have.
*dan dengan sangat hormat, saya menangis
 how much time do i have?”
” if you hurry, none.
Artemis Fowl and capt. Holly Short (Artemis Fowl- The Lost Colony)

Should i say more?

all i’ve got is some empty paper, waiting to be filled with words.
all i’ve had some full filled heart, waiting to be smiled with.
and all i do was nothing.
ruined all my fairy tale with some stupid thoughts. of you.

pagiiii, malam *HEM

selamat pagi, malam
entah mengapa aku malah menyapamu di waktu kamu baru pergi
mungkin karena baru kusadari kamu ada?
oh bukan..
sebenarnya karena aku masih malu bertemu denganmu
tapi tidak sekarang..
malam, cepatlah datang
banyak yang ingin aku katakan 
mulai dari permintaan maaf hingga terima kasih
yang pasti, terima kasih selalu menungguku pulang
terima kasih sudah mau berdiri diam di depan pintu dan menatapku yang sibuk berjalan mondar mandir di depan pagar
terima kasih sudah mau tersenyum sabar dan menggandeng tanganku
terima kasih sudah mau mengerti
jadi malam, cepat datang
aku ingin memberimu senyuman 

Monday, 14 June 2010

Thursday, 10 June 2010

bitty chilly night

" Re.." aku memalingkan wajahku.
" Re, please.."
" Natra..I'm fine. Just, need a little of time for a while."
" I'm off, okay? take your time. text me when it's all done."
aku mengangguk, membuang muka pada pemandangan indah di depanku.


maaf, Natra..
bukan sekarang waktu yang tepat untuk menghadapkan wajahku padamu, emosiku terlalu terbaca.
dan aku malu.


pintu geser berbunyi klik pelan saat Natra menutupnya perlahan.
kuhitung sampai lima sebelum aku berlutut sambil berpegangan pada teralis balkon.
mau menangis tapi tidak bisa.
mau tertawa tapi pasti akan terasa miris.
tapi sejujurnya emosi ini terlalu menekan.

pintu perlahan terbuka menyerbakkan wangi hangat yang selalu kukenal.
aku tidak berpaling, masih malu menghadapi lawan bicara.

dia mengambil posisi duduk persis di sebelahku.
duduk bersila dan diam.
aku juga masih diam sambil masih memegang teralis balkon.
sosok hangat itu membuka jas hitamnya, melemparnya ke arah kursi kayu yang ada di belakang kami, lalu kembali diam.
membuat kami terlihat seperti dua anak idiot berpakaian hitam di balkon sebuah gedung apartemen.

cukup lama kami terdiam.
pikiranku kosong.
membiarkan semua hal kabur dan flashback dan segala macam apapun itu berseliweran disana.
tak ada yang berarti.
seperti kekosongan pikiran yang mendadak mengalir tak henti.

tangan itu perlahan merayap merangkul dalam gelap.
meraih sehalus mungkin mengarahkan ke arah bahu bidangnya yang juga terbungkus kemeja sepekat malam.

" Nangis aja ya.. Jangan bunuh diri dengan diam."

aku masih diam. masih kuat menahan tangis. hem..masih belum bisa menangis sebenarnya.
kekosongan pikiran mulai merambat ke arah rasa.
yah, rasanya kosong disana.

" Diammu yang membunuhku."

dan saat itu semua kembali.
membawa perih yang selama ini terpojok diam di sudut hati.
mengalirkan air mata pelahan di ujung kelopak yang mulai terasa berat.

" Tian.."

" Ssssttt.. hanya aku dan kamu. Jadi tenang saja malam ini."

malam itu pun habis dengan menangis sampai aku tidak kuat dan sejenak kehilangan kesadaran.

*mendadak udah nyampe sini, yang lainnya nanti diposting yaaa

Tuesday, 8 June 2010

and i am the lucky birthday girl :)

N: i really really fall in love with you
N: hahhh
N: thank you will never be enough
A: then fall to me
A: and i'll catch you
A: and i'll carry you until i couldn't walk anymore
N: hahhhh i'm really really going to ccry now
N: just
N: hahhhhhhh
N: i love youuu
N: you won't find out how much, but i hope you know
A: muuu don't cry deaaar
A: i'll carry you and run
A: if  i can't run anymore
A: i'll walk
A: if i can't walk
A: i'll crawl for you
A: until i can't move,
A: i'll talk to you until i can't speak anymore
A: if i can't speak anymore
A: i'll use my eyes to tell you how much i love you
A: and if i can't see anymore..
A: you can use my body to lay on me
A: everything for you
A: happy birthday

*and here's the moment you knew you're putting up your heart in a right person
thank you
i know it will never be enough
and if "nothing lasts forever", may i be your nothing?

Sunday, 6 June 2010

sedang ingin tertawa
yaa ampuunn..
konyol sekalii..
ahahaha

terima kasih :)

Tuesday, 1 June 2010

120 + 1 = thank you :)

selamaaaaaat :D

after all it feels soo great.
thank you :)
for all the kindness you've given
and all the laugh you've made
for bringing back :) when i gave you :(
with all the silly things you did
for waiting me home
and stayed almost 24 hours a day

for giving me a -always- wonderful late-night-talk
staring at my eyes and say that i'm strong enough
for being the person who puts the trust in me
and never mind to lay down beside me when my life gets so bored








just thank you
for you and all the things you've done

silly..thank you for being silly with your love :D