mau sampai kapan mengekang nadi yang terus tersayat
menghias luka perlahan dengan guratan kecil penuh makna
merah indah menggantung di tengah putih
perih
sakit
sial
marah
mau sampai kapan?
sampai asa jatuh lemah terkulai dan menutup sayap
detik itu satu lubang kecil tertutup
membuka kesempatan lubang lebih besar untuk menganga
Tuesday, 31 August 2010
Saturday, 28 August 2010
Wednesday, 25 August 2010
Friday, 20 August 2010
when summer's taking my breath away
okay, mungkin cerita-cerita tadi memang terlalu panjang untuk sebuah prolog.
prolog?
hemm pengenalan diri mungkin lebih tepatnya.
atau pengenalanku akan sesosok Danis?
ah entahlah..
mungkin hanya sedikit pengharapan perjalananku kali ini membawaku kembali padanya.
cih..
terlalu melankolis.
sudah tiga tahun aku tidak menginjakkan kaki di tanah air.
terlalu sibuk menyelesaikan studiku disana.
dan sekarang aku kemari sebagai mahasiswi S2 di salah satu universitas kebanggaan tanah air.
Buk!
" Eh, maaf neng.." salah satu wanita berseragam pekarya membuyarkan lamunanku.
" Raya.. are you alright?"
aku mengangguk pada mentorku dan cepat-cepat berjalan menyusul karena beliau sudah berada sangat jauh di depanku.
baru 5 menit berjalan dan sudah tidak kuhiraukan lagi penjelasan-penjelasan yang keluar dari mulut mentorku.
terlalu sibuk mengagumi pemandangan di sekelilingku.
" Raya."
" Ya, pak?" dengan sedikit gelagapan takut ke-gap tidak memperhatikan penjelasan darinya aku menjawab panggilan mentorku.
" bisa lihat-lihat sendiri sebentar? saya temui kamu pukul dua belas tiga puluh di ruangan saya ya.."
aku melirik jam tangan putih di pergelangan tanganku, 12.15.
masih ada 15 menit untuk berjalan-jalan.
aku mengangguk lalu mentorku pun pergi meninggalkanku sendiri.
15 menit.
baiklah.. jadi kemana aku harus pergi terlebih dahulu?
baru aku akan mengambil langkah di tengah kerumunan orang yang baru keluar kelas, saat mataku menangkap sesosok yang terasa familier.
dan detik terasa berhenti mengalir saat sosok itu melirik ke arahku -entah apa yang dilihatnya-.
Danis.
prolog?
hemm pengenalan diri mungkin lebih tepatnya.
atau pengenalanku akan sesosok Danis?
ah entahlah..
mungkin hanya sedikit pengharapan perjalananku kali ini membawaku kembali padanya.
cih..
terlalu melankolis.
sudah tiga tahun aku tidak menginjakkan kaki di tanah air.
terlalu sibuk menyelesaikan studiku disana.
dan sekarang aku kemari sebagai mahasiswi S2 di salah satu universitas kebanggaan tanah air.
Buk!
" Eh, maaf neng.." salah satu wanita berseragam pekarya membuyarkan lamunanku.
" Raya.. are you alright?"
aku mengangguk pada mentorku dan cepat-cepat berjalan menyusul karena beliau sudah berada sangat jauh di depanku.
baru 5 menit berjalan dan sudah tidak kuhiraukan lagi penjelasan-penjelasan yang keluar dari mulut mentorku.
terlalu sibuk mengagumi pemandangan di sekelilingku.
" Raya."
" Ya, pak?" dengan sedikit gelagapan takut ke-gap tidak memperhatikan penjelasan darinya aku menjawab panggilan mentorku.
" bisa lihat-lihat sendiri sebentar? saya temui kamu pukul dua belas tiga puluh di ruangan saya ya.."
aku melirik jam tangan putih di pergelangan tanganku, 12.15.
masih ada 15 menit untuk berjalan-jalan.
aku mengangguk lalu mentorku pun pergi meninggalkanku sendiri.
15 menit.
baiklah.. jadi kemana aku harus pergi terlebih dahulu?
baru aku akan mengambil langkah di tengah kerumunan orang yang baru keluar kelas, saat mataku menangkap sesosok yang terasa familier.
dan detik terasa berhenti mengalir saat sosok itu melirik ke arahku -entah apa yang dilihatnya-.
Danis.
Monday, 9 August 2010
gonna missing us.
masih terselip sedikit lembar tawa di antara tangis yang pernah menitik
juga secarik tangis haru di tumpukan bahana tawa
pernah ada air yang menitik karena tawa tiada akhir
seringkali ada kaki yang terinjak saat langkah kita sedang begitu dekat
bahkan terasa lucu saat orang-orang menatap jengah ke arah kita
terasa terganggu dengan sebuahkeributan kebersamaan yang kita bawa ke atmosfer
duniaku baru
berwarna persis seperti lagu "balonku ada lima"
duniaku angkuh
berisi jutaan kesombongan masa muda akan sebuah pengharapan masa depan
duniaku ricuh
berisi tawa tanpa henti serta tendangan bertubi
berarti
tak seberharga impian mungkin
tapi nyata
juga secarik tangis haru di tumpukan bahana tawa
pernah ada air yang menitik karena tawa tiada akhir
seringkali ada kaki yang terinjak saat langkah kita sedang begitu dekat
bahkan terasa lucu saat orang-orang menatap jengah ke arah kita
terasa terganggu dengan sebuah
duniaku baru
berwarna persis seperti lagu "balonku ada lima"
duniaku angkuh
berisi jutaan kesombongan masa muda akan sebuah pengharapan masa depan
duniaku ricuh
berisi tawa tanpa henti serta tendangan bertubi
berarti
tak seberharga impian mungkin
tapi nyata
" aulia fatwa farizqa - FTSL ITB "
" hanifa adani - FK YARSI "
" Tara zhafira - FK UNPAD "
" reaca raksa teruni - PAJAK STAN "
dan sekarang, dunia saya utuh :)
Friday, 6 August 2010
selembar putih di hadapanku kosong
berteriak minta diisi
tapi otakku malah kram
tidak bisa memikirkan kata yang tepat untuk mulai diukir
otaknya sedang penuh tentang kamu
dan semua hal yang pernah kamu lakukan
ayolah..
otakku kram karena masih belum bisa menemukan suatu hal yang membuatmu melakukannya
aku tidak pernah merasa dihargai seperti itu
lalu kenapa kamu?
oh bukan, bukan
nampaknya pertanyaanya harus diganti
kenapa aku?
Wednesday, 4 August 2010
caramel chilly sky collapse
" aku mau pulang, Tian."
" pulang?"
aku mengangguk sekali.
" Re.. ini rumahmu."
" bukan. rumahku di Indonesia. bukan disini. pengap."
" Re.."
" ayolah Nara. makin sesak rasanya berada satu atap dengan orang-orang yang tanpa henti menganalisa perasaanmu. tanpa pernah benar-benar peduli."
" Hey hey..," Tian meninggalkan kursinya dan duduk di sebelahku, " jangan berpikiran seperti itu."
" berpikiran?" beraninya Tian bicara seperti itu.
Natra yang sepertinya mulai membaca kemana arah pembicaraan ini akan berlanjut, cukup tahu diri dan mengambil inisiatif untuk pergi sejenak dari hadapan kami.
" Aku jalan ke toko sebelah dulu ya.."
aku dan Tian mengangguk bersamaan.
kami berdua terdiam menatap Natra yang akhirnya menghilang di balik pintu kedai.
" Re.." Tian membalikkan badannya menghadapku.
" aku hanya ingin pulang."
" aku disini. kamu mau kemana lagi? aku khawatir kalo kamu ga ada di depan aku."
" I wanna go home. not going to my house. I need my home, not just some motel." aku memberinya penekanan dalam kata need.
Tian terdiam mendengarnya, membuatku meneruskan kalimatku.
" mungkin itulah alasan sebenarnya aku memilih diam di Indonesia. berkeras melanjutkan studi S1-ku disana. mungkin bukan karena memang aku ingin benar-benar cinta Indonesia. tapi karena disana aku merasa memiliki rumahku sendiri. tempat tanpa tudingan. tempatku merasa utuh. dan mengingat hakku sepenuhnya."
Tian menyenderkan tubuhnya lalu mengusap kepalaku.
" ke apartemen yuk.. aku akan diam dan membiarkanmu menangis disana."
aku mengangguk perlahan lalu mengikuti Tian keluar dari kedai setelah membayar semua pesanan.
" Tunggu disini ya.." Tian berlari kecil menuju ke toko sebelah. terlihat berbincang sedikit dengan Natra sebelum akhirnya keluar dan menarik tanganku.
" ayo.."
" pulang?"
aku mengangguk sekali.
" Re.. ini rumahmu."
" bukan. rumahku di Indonesia. bukan disini. pengap."
" Re.."
" ayolah Nara. makin sesak rasanya berada satu atap dengan orang-orang yang tanpa henti menganalisa perasaanmu. tanpa pernah benar-benar peduli."
" Hey hey..," Tian meninggalkan kursinya dan duduk di sebelahku, " jangan berpikiran seperti itu."
" berpikiran?" beraninya Tian bicara seperti itu.
Natra yang sepertinya mulai membaca kemana arah pembicaraan ini akan berlanjut, cukup tahu diri dan mengambil inisiatif untuk pergi sejenak dari hadapan kami.
" Aku jalan ke toko sebelah dulu ya.."
aku dan Tian mengangguk bersamaan.
kami berdua terdiam menatap Natra yang akhirnya menghilang di balik pintu kedai.
" Re.." Tian membalikkan badannya menghadapku.
" aku hanya ingin pulang."
" aku disini. kamu mau kemana lagi? aku khawatir kalo kamu ga ada di depan aku."
" I wanna go home. not going to my house. I need my home, not just some motel." aku memberinya penekanan dalam kata need.
Tian terdiam mendengarnya, membuatku meneruskan kalimatku.
" mungkin itulah alasan sebenarnya aku memilih diam di Indonesia. berkeras melanjutkan studi S1-ku disana. mungkin bukan karena memang aku ingin benar-benar cinta Indonesia. tapi karena disana aku merasa memiliki rumahku sendiri. tempat tanpa tudingan. tempatku merasa utuh. dan mengingat hakku sepenuhnya."
Tian menyenderkan tubuhnya lalu mengusap kepalaku.
" ke apartemen yuk.. aku akan diam dan membiarkanmu menangis disana."
aku mengangguk perlahan lalu mengikuti Tian keluar dari kedai setelah membayar semua pesanan.
" Tunggu disini ya.." Tian berlari kecil menuju ke toko sebelah. terlihat berbincang sedikit dengan Natra sebelum akhirnya keluar dan menarik tanganku.
" ayo.."
Tuesday, 3 August 2010
one republic's song
Stop and stare
I think I'm moving but I go nowhere
Yeah I know that everyone gets scared
But I've become what I can't be, oh
Stop and stare
You start to wonder why you're here not there
And you'd give anything to get what's fair
But fair ain't what you really need
Oh, you don't need
Sunday, 1 August 2010
once in a summer down
sudah pukul 3.
bukannya menguap, mataku malah terbuka semakin lebar.
tidak masalah kalau sekarang bukan pukul tiga dini hari dan besok aku harus bersiap ke bandara pukul 10.
bandara.
hahhhh..
benci saat tau liburanku sudah berakhir.
tiga minggu sudah aku diam disini.
menghabiskan setiap hari bersama....
tok tok
dua ketukan di pintu dan refleks aku duduk di kasur.
siapa yang mengetuk pintu?
terdengar tiga ketukan lagi di pintu.
oke, mulai mengerikan.
dua ketukan kemudian menyusul.
freak.
siapa yang ngetok pintu orang jam segini?
" Ray.." suaranya..
aku langsung berlari ke depan pintu dan membuka gerendelnya perlahan.
" Selamat dini hari, nona."
Danis. dan rapi sekali dia hari ini.
converse hitam belel dengan sedikit sobekan, celana jeans panjang biru dongker dan polo shirt putih.
tampan.
dan berkharisma seperti biasanya.
" kalau aku lagi tidur gimana?"
" tapi kan kamu nggak lagi tidur sekarang." cengiran khas Danis membuatku akhirnya ikut tersenyum.
" Well.. selamat dini hari, tuan Danis."
" Boleh duduk disini?"
aku mengangguk saat Danis menunjuk kursi yang ada di teras penginapan.
kami terdiam cukup lama.
hanya suara gemerisik daun tertiup angin yang sesekali menemani, seakan ingin memecah keheningan yang sedang terasa sangat memekik.
" Kamu.. besok pulang?"
" hari ini." aku mencoba menjawab dengan nada biasa. berhasil kulakukan, walaupun keringat dingin sedikit muncul.
" ke... Jakarta?" tanyanya perlahan.
tarikan napasnya terdengar senang saat aku mengangguk.
" Kamis aku kembali ke Itali."
Danis terlihat menegakkan tubuhnya tiba-tiba.
lalu dengan sengaja berpura menarik napas santai.
" hemm.. 2 hari lagi ya berarti."
aku mengangguk kecil.
perlahan.
hemm.. maksudku, sangat perlahan.
"berangkat jam berapa, Ray?"
" Kapan?"
" hari ini."
" hem.. jam 10 check out."
terdengar tarikan napas kuat darinya. dan dariku.
tiba-tiba Danis menarik dirinya duduk tepat di sebelahku.
menarik kepalaku ke arah bahunya, lalu membiarkannya diam disana.
baiklah. aku menurut, jadi sekarang aku bersandar di bahunya.
dan aku siap mati bila Danis tetap diam.
" ah.. aku jadi deg-degan." Danis berkata pelan.
ah malam, biarkan sejenak aku seperti ini.
biarkan kata yang belum terucap tetap tersesat di ruang hampa jika memang sekarang adalah dunia tanpa waktu.
bukannya menguap, mataku malah terbuka semakin lebar.
tidak masalah kalau sekarang bukan pukul tiga dini hari dan besok aku harus bersiap ke bandara pukul 10.
bandara.
hahhhh..
benci saat tau liburanku sudah berakhir.
tiga minggu sudah aku diam disini.
menghabiskan setiap hari bersama....
tok tok
dua ketukan di pintu dan refleks aku duduk di kasur.
siapa yang mengetuk pintu?
terdengar tiga ketukan lagi di pintu.
oke, mulai mengerikan.
dua ketukan kemudian menyusul.
freak.
siapa yang ngetok pintu orang jam segini?
" Ray.." suaranya..
aku langsung berlari ke depan pintu dan membuka gerendelnya perlahan.
" Selamat dini hari, nona."
Danis. dan rapi sekali dia hari ini.
converse hitam belel dengan sedikit sobekan, celana jeans panjang biru dongker dan polo shirt putih.
tampan.
dan berkharisma seperti biasanya.
" kalau aku lagi tidur gimana?"
" tapi kan kamu nggak lagi tidur sekarang." cengiran khas Danis membuatku akhirnya ikut tersenyum.
" Well.. selamat dini hari, tuan Danis."
" Boleh duduk disini?"
aku mengangguk saat Danis menunjuk kursi yang ada di teras penginapan.
kami terdiam cukup lama.
hanya suara gemerisik daun tertiup angin yang sesekali menemani, seakan ingin memecah keheningan yang sedang terasa sangat memekik.
" Kamu.. besok pulang?"
" hari ini." aku mencoba menjawab dengan nada biasa. berhasil kulakukan, walaupun keringat dingin sedikit muncul.
" ke... Jakarta?" tanyanya perlahan.
tarikan napasnya terdengar senang saat aku mengangguk.
" Kamis aku kembali ke Itali."
Danis terlihat menegakkan tubuhnya tiba-tiba.
lalu dengan sengaja berpura menarik napas santai.
" hemm.. 2 hari lagi ya berarti."
aku mengangguk kecil.
perlahan.
hemm.. maksudku, sangat perlahan.
"berangkat jam berapa, Ray?"
" Kapan?"
" hari ini."
" hem.. jam 10 check out."
terdengar tarikan napas kuat darinya. dan dariku.
tiba-tiba Danis menarik dirinya duduk tepat di sebelahku.
menarik kepalaku ke arah bahunya, lalu membiarkannya diam disana.
baiklah. aku menurut, jadi sekarang aku bersandar di bahunya.
dan aku siap mati bila Danis tetap diam.
" ah.. aku jadi deg-degan." Danis berkata pelan.
ah malam, biarkan sejenak aku seperti ini.
biarkan kata yang belum terucap tetap tersesat di ruang hampa jika memang sekarang adalah dunia tanpa waktu.




