Wednesday, 4 August 2010

caramel chilly sky collapse

" aku mau pulang, Tian."

" pulang?"

aku mengangguk sekali.

" Re.. ini rumahmu."

" bukan. rumahku di Indonesia. bukan disini. pengap."

" Re.."

" ayolah Nara. makin sesak rasanya berada satu atap dengan orang-orang yang tanpa henti menganalisa perasaanmu. tanpa pernah benar-benar peduli."

" Hey hey..," Tian meninggalkan kursinya dan duduk di sebelahku, " jangan berpikiran seperti itu."

" berpikiran?" beraninya Tian bicara seperti itu.

Natra yang sepertinya mulai membaca kemana arah pembicaraan ini akan berlanjut, cukup tahu diri dan mengambil inisiatif untuk pergi sejenak dari hadapan kami.

" Aku jalan ke toko sebelah dulu ya.."

aku dan Tian mengangguk bersamaan.
kami berdua terdiam menatap Natra yang akhirnya menghilang di balik pintu kedai.

" Re.." Tian membalikkan badannya menghadapku.

" aku hanya ingin pulang."

" aku disini. kamu mau kemana lagi? aku khawatir kalo kamu ga ada di depan aku."

" I wanna go home. not going to my house. I need my home, not just some motel." aku memberinya penekanan dalam kata need.

Tian terdiam mendengarnya, membuatku meneruskan kalimatku.

" mungkin itulah alasan sebenarnya aku memilih diam di Indonesia. berkeras melanjutkan studi S1-ku disana. mungkin bukan karena memang aku ingin benar-benar cinta Indonesia. tapi karena disana aku merasa memiliki rumahku sendiri. tempat tanpa tudingan. tempatku merasa utuh. dan mengingat hakku sepenuhnya."

Tian menyenderkan tubuhnya lalu mengusap kepalaku.

" ke apartemen yuk.. aku akan diam dan membiarkanmu menangis disana."

aku mengangguk perlahan lalu mengikuti Tian keluar dari kedai setelah membayar semua pesanan.

" Tunggu disini ya.." Tian berlari kecil menuju ke toko sebelah. terlihat berbincang sedikit dengan Natra sebelum akhirnya keluar dan menarik tanganku.

" ayo.."