" aku mau pulang, Tian."
" pulang?"
aku mengangguk sekali.
" Re.. ini rumahmu."
" bukan. rumahku di Indonesia. bukan disini. pengap."
" Re.."
" ayolah Nara. makin sesak rasanya berada satu atap dengan orang-orang yang tanpa henti menganalisa perasaanmu. tanpa pernah benar-benar peduli."
" Hey hey..," Tian meninggalkan kursinya dan duduk di sebelahku, " jangan berpikiran seperti itu."
" berpikiran?" beraninya Tian bicara seperti itu.
Natra yang sepertinya mulai membaca kemana arah pembicaraan ini akan berlanjut, cukup tahu diri dan mengambil inisiatif untuk pergi sejenak dari hadapan kami.
" Aku jalan ke toko sebelah dulu ya.."
aku dan Tian mengangguk bersamaan.
kami berdua terdiam menatap Natra yang akhirnya menghilang di balik pintu kedai.
" Re.." Tian membalikkan badannya menghadapku.
" aku hanya ingin pulang."
" aku disini. kamu mau kemana lagi? aku khawatir kalo kamu ga ada di depan aku."
" I wanna go home. not going to my house. I need my home, not just some motel." aku memberinya penekanan dalam kata need.
Tian terdiam mendengarnya, membuatku meneruskan kalimatku.
" mungkin itulah alasan sebenarnya aku memilih diam di Indonesia. berkeras melanjutkan studi S1-ku disana. mungkin bukan karena memang aku ingin benar-benar cinta Indonesia. tapi karena disana aku merasa memiliki rumahku sendiri. tempat tanpa tudingan. tempatku merasa utuh. dan mengingat hakku sepenuhnya."
Tian menyenderkan tubuhnya lalu mengusap kepalaku.
" ke apartemen yuk.. aku akan diam dan membiarkanmu menangis disana."
aku mengangguk perlahan lalu mengikuti Tian keluar dari kedai setelah membayar semua pesanan.
" Tunggu disini ya.." Tian berlari kecil menuju ke toko sebelah. terlihat berbincang sedikit dengan Natra sebelum akhirnya keluar dan menarik tanganku.
" ayo.."