Sunday, 24 January 2010

back to me, Tian -and let me be the audience for this time

kuputuskan sambungan telepon.
Tharesh terlalu senang saat mendengar Nara akan pulang.

ahh..
tak mungkin kuberitahukan kabar ini dalam waktu dekat.
biar Nara sendiri yang bicara.

" Tian. jadi siapa yang akan menjemputku? kalau memang tidak ada yang bisa, aku bisa naik naik tak..."

" Tharesh yang akan menjemputmu." jawabku sambil melonggarkan ikatan dasi yang mulai mencekik ini.

" si.." sambung Nara lemah.
perubahan air mukanya terlalu kentara.

" Dengar, aku tahu kamu belum siap untuk bertemu Tharesh. tapi kamu harus, Nara. cepat atau lambat Tharesh akan tahu. dan lebih cepat dia tahu itu akan lebih baik."

" Tahu apa? aku bahkan belum menyetujui apa-apa."

" Diammu saat itu adalah bentuk persetujuan yang sulit terbantahkan."

" Argh! tidak sekarang, Tian. tidak saat aku baru turun dari pesawat dan masih mengalami jet lag. kenapa tidak kita tunggu saja waktu yang tepat?"

" Tepat? kapan? bagaimana kalau waktu yang tepat adalah lusa?"

Nara terdiam.

" Bagaimana kamu tahu waktu yang tepat jika tak mencoba. secepatnya beritahu dia, Nara. kumohon.. atau semuanya akan terlambat. ini tentangmu. dan adalah kewajibanmu untuk memberitahunya sendiri. adikku punya hak untuk tahu."

" tapi tidak harus lusa kan?"

" Aku tak pernah memintamu memberitahunya lusa. yang aku minta adalah untuk memberitahu Tharesh secepatnya."

Nara kembali diam.

" Diammu berarti iya untukku. aku mau ganti baju dulu sebelum mengantarmu ke bandara. kita makan dibandara saja, gapapa?"

" Okee.."

aku masuk ke kamar, dan menghempaskan diri di tempat tidur kesayanganku.
walaupun memang tidak seenak tempat tidur yang ada di kamarku di Bandung, tapi tempat tidur ini selalu berhasil membuatku tenang.

aku tahu Nara dan Tharesh sedang berdiri di atas jam pasir.
yang memang menunggu butiran terakhir untuk jatuh.
tapi bukan jatuh seperti ini yang kumaksudkan.
tidak secepat ini yang kuperhitungkan.

aku segera mengganti bajuku saat teringat janji untuk mengantar Nara kembali ke bandara.

" Take care." kataku pelan saat sudah terdengar pengumuman bahwa penumpang dimohon untuk segera naik ke pesawat.

" Iya." Nara mengangguk. kami pun tertawa.

" Tharesh selalu bilang kita seperti sepasang gay saat sedang melakukan hal-hal seperti ini." aku mengingat ekspresi jijik Tharesh setiap kamimelakukan hal-hal ini.

" Iya.. dan baru kusadari sekarang, nampaknya Tharesh benar."

tak berapa lama kami terdiam.
nama itu muncul lagi.

" Jaga Tharesh, Nar. aku percayain dia sama kamu."

" Iya, pasti, Tian. aku pergi, oke? maaf sudah menghabiskan G and T milikmu." Nara melempar senyum jail sebelum berlari kecil menuju lorong yang akan mengantar ke tempat pesawatnya berada.

sial!
padahal itu persediaan terakhirku.
merknya sudah menjadi langka sekarang.
aku harus menelepon temanku untuk memesannya kembali.
ciri khas Nara, selalu membuatku kesal dan tak bisa berkata apa-apa di akhir hari.
hahaaa..

tapi nampaknya aku harus terbiasa dengan kelakuannya.
bukannya tak mungkin ia akan menjadi bagian dari Hanggaatmadja.

haahhh..
Tharesh..
pikirku sambil berjalan lambat menuju mobil.

aku dan Nara memiliki satu kesamaan yang tak akan terbantahkan.
satu prioritas yang utama.
Tharesh.
walaupun kami melihatnya dengan perspektif yang sedikit berbeda.

aku membuka pintu mobilku, masuk dan menyalakan mesin.
mesinnya mulai berdengung lembut saat kuingat perkataan Gio, " Tian. berhenti mengontrol orang-orang di sekitarmu. berhenti menjadi sutradara. sekali ini saja. "

ahh..
tampaknya Gio benar.
sekali ini aku harus percaya pada Nara.
sekali ini waktunya aku duduk dan menonton.
kuinjak gas dan membiarkan mobilku melaju perlahan sebelum akhirnya kupacu dengan kencang.

a one surprising lolli'pop' day

dan apa yang dilakukan olehku saat ini?
terdiam memandang foto-foto di sebuah album yang terdapat pada salah satu jejaring sosial di internet.
terdiam tapi menahan sedikit kedutan di jantung.

aku sedang memandang foto Nara dan Diandra.
bilang aku bodoh.
karena mungkin begitu.
panggil aku penguntit.
karena memang itu kenyataannya.

hahhhhhh...
Naraaaaa...
berhenti ada di pikiranku.
berhenti bermain dengan perasaanku.

aku yang bodoh.
dan aku sendiri yang sakit.
sial!
kurang bodoh apalagi aku?
bukannya melakukan kegiatan lain.
malah melihat foto mereka.

aku masih menelusuri foto untuk mencari -siapa tahu ada- upload terbaru dari Inggris.
nihil.
tidak ada.
mmhh..
jadi sebenarnya apa yang mereka lakukan?

Argh!
Tharesh, you have to stop this thing.
being a stalker?
for God's sake.
what's on your mind?

tapi tetap saja aku menelusuri foto-foto itu.
dasar remaja labil!
rutukku dalam hati.

drrrttt...drrrttt...
telepon selularku bergetar.

" Ya?" jawabku enggan.
" Hai, little.."
" Hai, biggy.."
" Lagi dimana kamu?"
" Rumah."
" Loh..bukannya kamu mau main sama yang lain?"
" Ga jadi.. Rena ga bisa. Hanny sama Kirey juga cuma bisa sampe jam makan siang. ada janji dengan pacar masing-masing." aku menggerutu.

memang sedikit kesal saat tidak bisa bertemu dengan teman-temanku yang sudah sangat kurindukan itu.
sudah 3 bulan lebih kami tak bertemu.
mmh..
sebenarnya dulu kami selalu kemana-mana berlima.
sampai...
ahhh..
sudahlah yah..lupakan saja bagian itu.
aku memaksa diriku kembali ke masa ini tepat saat Tian berujar, " Nara dua hari lagi akan sampai Bandung. kamu bisa jemput dia di bandara?"

" HA??" oh tidak..nadaku terlalu antusias.
dan sialnya, mengingat Tian adalah orang yang sangat pintar membaca orang, kupastikan dia tahu aku terlalu senang -melebihi kapasitas yang seharusnya-.

" Ahaha.." terdengar tawa renyahnya, " Iya.. memang mendadak. ada pekerjaan yang harus dia selesaikan di Bandung. makanya aku minta kamu jemput dia. supir kantor sedang tidak bisa."

" Jam berapa? aku ada kuliah siang."

" Pagi si sebenarnya..sekitar jam sembilan, bisa?"

" Bisa."

" Baiklah.. take care, mi little"

" Okee.. kamu juga yah.. cepet pulang!"

" Mhh.. adikku mulai merajuk. susah juga yah.. haha. aku pulang bulan depan, ya?"

" hmm.. iyaa.." mau tak mau aku harus menerima kenyataannya. Tian sibuk. masih untung bulan depan ia akan pulang.

Tian memutus hubungan telepon.
aku terdiam sesaat sebelum sebuah senyum yang lebar mengembang.
kuhadapkan wajahku ke laptop, menutup window foto-foto, lalu mulai memutar lagu.
mood-ku sudah kembali.
siapa peduli apa yang mereka lakukan disana?
Nara akan pulang sebentar lagi.
aku akan bertemu Nara dua hari lagi.

membayangkannya saja sudah membuat senyumku menjadi terlalu lebar.

Monday, 18 January 2010

in a spicy night

jadi apa yang kulakukan?
duduk terdiam mendengar Nara bercerita tentangnya.

sedikit cubitan di sebuah rasa.
tapi kamu tahu apa yang kulakukan?
tersenyum kecil dan malah menyimak setiap kata yang Nara ucapkan dengan baik dan benar.

" Jadi salah aku apa, Re?" tanyanya sambil menghirup aroma teh dari cangkir yang sedang dipegangnya.

aku butuh espresso.
" Mmh... wanita itu butuh kejelasan, Nara. berhenti bermain dengan perasaannya. berhenti menguji, ujiannya sudah selesai dari beberapa waktu yang lalu dan kamu tahu itu."

bodoh.
kenapa aku malah menasihatinya?
disaat aku juga butuh nasihat untuk diriku sendiri.

" Tapi aku masih bingung."

" Pilihannya hanya ada dua.." belum pernah kulihat Nara seberantakan ini.

" dia terlalu sempurna untuk bisa mengerti aku, Re." deg. Nara memotong kata-kataku dengan sebuah pujian. untuknya.

" Tapi dia mau belajar. mengapa tak kau hargai usahanya?"

bagus.
bagus sekali, Tharesha.
sekalian saja suruh dia menikah.

" Tapi aku takut. takut melukainya. aku kan tidak sempurna, Re."

" Sama seperti dia. dia juga tidak sempurna. pikiranmu yang membuat dia sempurna."

" Kalau dia memang sesempurna itu?"

" Maka kamu harus belajar untuk menerima kesempurnaannya dengan ketidaksempurnaanmu."

" Haaaahhhh...." Nara menghela napas.

Mmmhhh...
aku menggigit lidahku.
mencoba mempertahankan ekspresi dingin yang sedang tercetak disana.

" Tharesh..akuu.."

" Mengaku saja." tanyaku -secara refleks dan sedikit kusesali- sinis.

" Re?" tanyanya dengan wajah heran.

" Ya?" aku melipat lenganku dan bersandar pada sofa merah tua yang nyaman ini.

sebuah sikap yang hanya bisa ditunjukkan klan Hanggaatmadja kata orang-orang.
ningrat-ku sedang dominan, ejek Nara.

Nara terdiam.
setidaknya itu lebih baik untuk saat ini.
bisa runtuh pertahananku jika terus-menerus mendengar Nara bercerita tentangnya.
bisa turun air mataku jika terus melihatnya berantakan seperti ini.
dan aku tak mau menunjukkan hal itu di depan Nara sekarang.
tidak hari ini.
tidak disaat Nara percaya untuk menunjukkan sisi lemahnya padaku.

senja itu dihabiskan dengan helaan napas dan usaha untuk menyembunyikan sebuah rasa.
sebuah?
oh tidak..
selalu ada banyak rasa yang bercampur saat terhidang kopi dan teh di depan aku dan Nara.
rasa yang memang bukan untuk didefinisikan.
tapi untuk di'rasa'kan kemutlakannya.

Tian datang saat malam menjelang dan berhasil mencairkan suasana.
malam itu berubah menjadi tawa.
sebuah pikiran terlupa.
sebuah rasa tertutupi.

sampai hari ini.
saat aku merebahkan badanku di tempat tidur, menyembunyikan wajahku di bawah bantal dan menelan teriakanku sendiri.

Nara sedang bertemu dengan orang yang diceritakannya.
walaupun cerita itu terjadi hampir setahun yang lalu.
tapi sekarang Nara sedang membuat jarak antara aku dan dia semakin nyata.
semakin jauh.
secara harafiah maupun bukan.

Nara sedang bersama orang yang pernah diceritakannya.
Nara sedang bersama Diandra.

sebuah kenyataan yang membangunkanku dari mimpi selama ini.

bahwa mereka yang nyata.
dan aku yang semu.

Thursday, 14 January 2010

" I'm not a winner yet, but he's a loser already."


-Nurulita Rakhmaning Tyas-

Friday, 8 January 2010

I'm Yours

You touch these tired eyes of mine
And map my face out line by line
And somehow growing old feels fine
I listen close for I'm not smart
You wrap you thoughts in works of art
And they're hanging on the walls of my heart

I may not have the softest touch
I may not say the words as such
And though I may not look like much
I'm yours
And though my edges may be rough
And never feel I'm quite enough
It may not seem like very much
But I'm yours

You heeled these scars over time
Embraced my soul
You loved my mind
You're the only angel in my life
The day news came my best friend died
My knees went week and you saw me cry
Say I'm still the soldier in your eyes

I may not have the softest touch
I may not say the words as such
And though I may not look like much
I'm yours
And though my edges may be rough
And never feel I'm quite enough
It may not seem like very much
But I'm yours

I may not have the softest touch
I may not say the words as such
I know I don't fit in that much
But I'm yours

- The Script -

zzzzzzzzz

suatu saat di kamar kosan hanifa.

mendengarkan lagu I'm Yours - The Script yang membuat 'oh sangatlah galau'.
*liriknya mau di post yahh bentar.

sambil berdendang pelan, percakapan mulai terjadi.

saya : "ah.. denger lagu ini jadi ngerasa butuh kopi."
*fyi, saya adalah pecinta kopi

hanifa : (dengan gaya galau paling mutakhir) "Lu butuh LES VOKAL!!"

*zzzzzz*

rum raisin in one night - fyi, i hate raisins-

di waktu yang sama, bertempat di sebuah keheningan malam yang mulai menginjak shubuh.
sebuah ketikan terdengar di kamar yang ukurannya cukup besar untuk dihuni oleh seorang gadis sendirian.

ahhh...
kenapa akhirnya aku harus menulis namanya?
kenapa nama itu yang keluar malam ini?


"Diandra.
Diandra Adisti Prawirasastra.

wanita yang seumur dengan Tian.
berkulit kuning langsat.
rambut hitam legam.
sangat Indonesia.
dan juga memiliki kelembutan serta pesona gadis Indonesia.
sedikit pria yang bisa menolaknya."

dan Nara...
ahh..
entahlah dia ada di kelompok mana.

"dewasa.
berpikiran terbuka.
lemah lembut."

kurang sempurna apa, dia?

"aktif di berbagai kegiatan.
kuliah dengan beasiswa penuh di Oxford.
walaupun dia adalah anak tunggal dari Prawirasastra."

baiklah.
semakin banyak yang kutulis, semakin banyak hal yang terlihat darinya.
dan memberi pukulan telak bagiku bahwa ia adalah sosok yang sempurna.

"berdomisili di Inggris.
kudengar sudah mulai dilirik beberapa perusahaan yang memiliki pengaruh cukup kuat di Inggris Raya.
termasuk perusahaan Hanggaatmadja.
padahal ia masih menyelasaikan gelar masternya -lagi-lagi dengan beasiswa penuh-."

dan Nara sedang ada di Inggris untuk menemuinya.

file. save as. pomeriggio.

well..going to be a 'grateful' night

kubantingkan tubuhku ke kasur.

Argh!
aku masih tak mengerti jalan pikiran sahabatku.

tiga ketukan di pintu dan tanpa perlu diberi respon, Nara masuk.

" Aradea tadi menghubungiku. kamu sama sekali tak bisa dihubungi katanya."

" Mmmhhh..." hanya itu balasanku dari bawah bantal.

" Tian. ada apa?" Nara bertanya.
bukan, bukan bertanya. nadanya meminta kejelasan.

aku perlahan menunjukkan mukaku dari bawah bantal.

" Entahlah. aku bingung."

" Tentang?"

" Kamu dan dia. juga Tharesh."

Nara tersentak.

" Tak perlu kau jawab," aku cepat-cepat melanjutkan, " aku hanya terlalu banyak berpikir."

" Mengapa tak santai sejenak."

" Tak akan bisa."

" Kamu. kemarin membereskan ..."

" Si tikus? Ya.. kumohon Nara, jangan sebut namanya di depanku lagi."

" Oh ya. benar, benar."

" Aku tidak membereskan. aku malah ingin memberikan kecupan kalau diperbolehkan."

"Maka itu akan menjadi kecupan paling hangat yang pernah ia rasakan. Ahahahahahahaha.." Nara tergelak.

mau tak mau aku pun tertawa.

telepon selular Nara bergetar. menandakan adanya sebuah panggilan.

" Halo.." Nara menjawab tanpa melihat layar. kesalahan untuk saat ini.

" Ya? Mmhh.. tidak ada. sebenarnya... mmhhh.. oke, baiklah." Nara memandangku, memutus hubungan telepon, lalu merubah ekspresi mukanya.

aku langsung duduk tegak.

" Dia menelepon. mengajakku malam besar bersama keluarganya."

" Di?"

ahh..seharusnya aku tak bertanya. melihat ekspresi Nara aku sudah tahu dimana ia akan makan malam.
restaurant kesukaanku dan keluargaku juga, termasuk Tharesh.
tapi satu yang fatal.
makan malam di tempat itu berarti makan malam resmi.
dan biasanya penuh dengan pembicaraan yang tak kau harapkan.
entahlah..
tapi memang begitu adatnya.
kau mengajaknya ke tempat indah.
dan berharap kabar yang akan kau berikan sebaik dan seindah tempatnya -yang mana seringnya tidak-.
Orang tuaku mengajakku dan Tharesh kesana saat mereka memberitahukan akan membuka cabang kantor di Rusia -yang menjadi tempat tinggal mereka-.

" Baiklah. jadi sekarang kamu harus beriap. aku punya satu jas yang rasanya cukup untuk ukuran tubuhmu. sebentar..."

aku turun dari kasur.
membuka lemari.
mengambil salah satu jas hitamku dan akan memberikannya pada Nara untuk dicoba saat kudapati mata Nara menerawang.

" Nara.."

" Mereka juga mengajakmu."

" Mengajakku?" nadaku sedikit menjerit. maaf, Nara.

" Kenapaaa..."

" itu dia yang membuatku heran."

" Mmmhh.. baiklah. kalau begitu, kita harus bersiap sekarang."

pukul 07.00 malam di sebuah restaurant.

kami sudah berbincang cukup lama dan pramusaji sudah selesai menyajikan appetizer serta main menu.
saatnya desert.
dan ini yang biasanya paling ditunggu.

dessert datang.
tiramissu.
dan saat aku mulai menyantapnya, seorang wanita paruh baya yang duduk di hadapan Nara mulai mengangkat topik yang aku yakin sebenarnya adalah topik utama.

" Nara. aku ingin kalian bertunangan."

Nara menggigit lidahnya.
aku hafal gerakan saat rahang Nara mengeras.
aku sendiri hampir tersedak.

" Tapi tante.." uara Nara sangat lemah.
saatnya mengambil alih dan bersikap sedikit diplomatis.

" Tante.. maaf sebelumnya saya ikut campur. tapi tante.."

" Ah ya, Tian. untuk itulah aku memintamu datang. aku ingin kamu membantuku menyiapkan segala sesuatunya."

mulutku seketika terkatup.
sial! aku salah langkah.
dan ini adalah kesalahan fatal.

malam itu ditutup dengan penggambaran penuh akan rencana-rencana tentang pesta pertunangan Nara.
ternyata orang tua sang wanita sudah membaritahukan rencana ini kepada orang tua Nara.
dan sialnya -lagi- mereka setuju.

Nara terdiam.
tersirat luka.
yang tak akan pernah dimengerti oleh wanita di sebelahnya.
Diandra.

Monday, 4 January 2010

sweets in the end of the night

" cukup, Tharesh."

" Aku letih, Nara."

" Cukup."

" aku letih menjadi lemah. aku letih merasa tak berguna. aku letih merasa terbuang."

" Aku butuh kamu untuk kuat." Nara menatapku sendu.

" Itu dia masalahnya! aku letih berpura-pura menjadi kuat! aku..aku.."

" Ssssttt.. berhenti menangis, Re. aku benar-benar memohon kali ini." Nara mendekapku perlahan. namun hangat.

untuk beberapa saat tak ada yang bisa kudengar selain isak tangisku sendiri.

" Re.. sudah yah?" Nara membujukku dengan nada seorang kakak yang membujuk adiknya untuk berhenti menangis.

aku mengangguk pelan, mengambil tissue yang disodorkannya dan mengelap mataku.

" Sudah, oke??"

aku mengangguk lagi.

" Jadi..mau pesen apa, sekarang?"

aku menggeleng.
dan langsung menjerit saat mendapati sebuah cubitan keras di tanganku.

" Makan!"

baiklah.
untuk pertama kalinya Nara membentakku.

" Apa saja." jawabku asal, masih mencoba menyembunyikan getaran suaraku.

" Baiklah. tunggu disini sebentar."

Nara beranjak dari kursi dan pergi mendekati pramusaji untuk memesan sesuatu.

" Aku sudah pesan."

aku mengangguk dan sebuah jeda tercipta lagi.
tak berapa lama pesanan kami datang.
Lasagna dan sepotong sandwich sayuran.
ahh..
aku lupa.
Nara mulai sekarang akan mengurangi daging.
berarti lasagna itu untukku.
tapi aku sedang tak berselera.
kumakan lasagna sedikit demi sedikit.

" Re.."

" Hmm.." jawabku perlahan tanpa berani mendongakkan wajahku.
aku sedang menahan tangis dan sekarang penglihatanku mulai kabur.
oleh air mata.

tiba-tiba tangan Nara mengambil garpu di tanganku.
berjalan perlahan, lalu duduk di sebelahku.
merengkuh kepalaku perlahan lalu berbisik, " Thareshaaaa... cukup. cukup. jangan menyiksa dirimu sendiri lagi."

aku menangis terisak.
" Aku.. aku melanggar janji. maaf.." bicara pun aku terpatah-patah.

" Ssssttt.. tidak ada yang dilanggar. aku waktu itu hanya bilang untuk melepaskannya. bukan berarti kamu harus membunuh semuanya seketika."

" Nara..."

" Iya.. aku tak bisa bilang aku mengerti. aku tak pernah mengalaminya sendiri. tapi percayalah, dia pergi di saat yang tepat saat ini."

aku terdiam. bahuku terguncang dan Nara memelukku semakin erat.

" Ajari aku untuk mengerti. mengerti sakitmu. aku mau mengerti. Tharesh, kamu tak pernah sendirian."

aku diam. tangisku mulai mereda.
tapi dadaku masih sesak.
jadi yang bisa kulakukan hanya menangis lagi.

sekali ini aku tak peduli waktu.
kali ini aku tak mau mengerti pandangan orang.
sekali ini saja, aku hanya ingin menikmati perihku.

sore itu aku bergelung di pelukan Nara.

----------

lamunanku terusik dengan dering telepon selularku.
kuhapus air mataku seketika.
menarik napas.
mengatur suaraku sejenak.
lalu kuambil teleponku.
Tian.

" Halo..."

dan malam itu Tian membantuku melepas tawa.
atau mungkin senyum kecil.
karena menyadari aku memang tak sendirian.
bahwa semuanya baik-baik saja.

the bitter night -and it's getting bitter-

I taste a glass of wine.
sweets.
but full of sin.
so what i have to do right now?
to make all the things right.
let the wine gone?

I kiss margarita.
feel it on my lips.
but again.
I was a sinner.

I drink some whiskey.
great.
and now.
it's confirmed me as a slut.

so what i have to do?
what i have to say?
to erase all the taste.
to make it gone.
as fast as the air.

now I'm down on my knee.
feeling restless.
and the pain just won't go away.

would you help me, there?
somebody out there?

file. save as. pomeriggio.

oh, yes! I'm Tian and a part of Hanggaatmadja

" Argh! dasar tikus!" aku memukul bangku. mengumpat. pasti Tharesh akan memarahiku jika melihatku begini.

" Tian." seseorang mencoba menenangkanku, namun langsung kutepis tangannya.

Aku langsung mengambil telepon selularku, me-redial sebuah nomer, dan langsung berbicara saat sambungan terjawab di seberang, " Cari dia. lakukan apa saja yang mungkin kau lakukan. ambil Tharesh."

kumatikan sambungan teleponku.
mengecap dry gin and tonic lalu menghadap lelaki yang tadi menenangkanku.
Gio.
kakak sepupu aku dan Tharesh.

" Tian. calm down. Tharesh sudah besar. ia bisa melakukan semuanya sendirian."

" Tidak. tidak dengan adanya jarak antara Nara dan dirinya."

" Lalu mengapa kau malah membawa Nara kemari?"

satu pertanyaan.
telak.
dan itu membuatku tambah kesal.
aku benci dipojokkan.

" Argh!!!!!"

" Tian." sebuah nada dari Gio. nada perintah. dan akupun terdiam lalu duduk serta menenangkan diri.

" Percaya padaku, oke? Tharesh tahu apa yang dia lakukan. Tharesh hanya butuh sedikit waktu untuk membuatnya terjatuh. tunggulah waktu itu. jangan banyak melakukan tindakan. diam. sekarang waktunya untuk membereskan Nara."

" Nara?" tanyaku dengan nada meninggi.

"Aku tahu kau yang membawanya kemari. sebuah kamuflase yang kau buat saat bilang padaku bahwa itu perintah dari orang tuanya."

" Kamu..datang jauh-jauh kemari hanya untuk bertanya itu?"

" Karena kita peduli pada orang yang sama. Tharesha."

ahh..
aku terdiam.
lupa bahwa menjadi anak bungsu dari orang tua yang bungsu menjadikannya seorang yang spesial.
seluruh anggota keluarga menjaganya.

" Nara yang mau datang kesini."

" Yeah.. let me know why."

kenapa?
entahlah.
aku pun sampai sekarang tak tahu alasan Nara mau kuajak kemari.


" Inggris? bertemu dengannya lagi?" Nara mengernyitkan keningnya.

aku mengangguk.

" Baiklah. kapan?"

aku terkejut. tapi segera kutata ekspresiku.

" Saat aku kembali kesana."

" Oke." dan ia pun berlalu, membawa kopi milik Tharesh.

tinggal aku yang termangu.
menatap punggung Nara -hell, aku terdengar seperti seorang gay- dan bertanya mengapa Nara menyetujuinya tanpa sedikitpun perlawanan.


" Tian. I ask you.." Gio kembali menanyakan hal itu.

" I don't know." jawabku sambil menghela napas. tanda menyerah. tak sedikitpun dapat kutemukan clue disana.

" Bagaimana kalau Nara masih belum tahu apa yang akan dia lakukan?"

" Akan dia lakukan? dia harus melakukannya, Gio."

" Tian. berhenti mengontrol orang-orang di sekitarmu. berhenti menjadi sutradara. sekali ini saja. "

aku mulai terdiam.
hanya Gio yang berani memarahiku.

" Ini tentang Tharesh. berhenti untuk menguji mereka. berhenti selalu berpikir bahwa Tharesh adalah anak kecil."

" Tapi.."

" dia bagian dari Hanggaatmadja. masih ada yang harus kuperjelas?" diam. Gio mengambil dompet, dan membayar tagihan.

pembicaraan usai.
aku hanya bisa mengambil napas, mengambil jaket, lalu mengeluarkan kunci mobil dari saku kemeja.

sesampainya di apartemen.

kudapati Nara masih berkutat di depan laptop.

" Sedang apa?" tanyaku.

" Ha?" mata Nara merah. mabuk? atau mengantuk?

" Belum tidur?"

" belum." Nara mengucek matanya.

" Aku sedang mengirim e-mail untuk Tharesh."

" Tharesh." sial! ada nada heran yang tersirat jelas di suaraku.

" Iya.. dia sedang tak baik nampaknya. aku baru saja berbincang dengannya saat mendadak ia off dan tak ada kabar sampai sekarang."

aku menutup pintu kamar.
membuka kancing kemeja, menghempaskan badan, dan menghembuskan napas keras-keras.
kuambil telepon selularku, men-dial nomor yang sudah kuhafal baik.
terdengar nada sambung.
tapi tak ada yang menjawab.

pada percobaan keempat kali, terdengar sebuah suara menjawab.
parau.

" Kamu darimana? Tharesh! demi Tuhan aku khawatir."

" Tian. aku baik-baik saja. hanya sedikit lelah."

" kamu darimana, Tharesh? mengapa suaramu begitu?" aku benci keadaan ini. saat Tharesh kembali tertutup padaku. dan saat aku tak ada disana untuk meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja.

" baru selesai bertemu dengan Pradit."

" But.."

" I'm fine. tadi emang sempet cekcok. tapi semuanya sudah terkendali."

mau tak mau aku tersenyum kecil.
semuanya sudah terkendali..
Gio benar.
Tharesha memang bagian dari Hanggaatmadja.

" Baiklah. tidur sana."

" Kamu. belum tidur jam segini. darimana?"

" ada urusan sedikit. aku mau tidur koo.."

" salam untuk Nara dan yang lainnya, oke? kudengar Gio sudah tiba disana."

" Iya.. tidur ya, bocah. night, my little.."

" Night, Biggy."

pembicaraan selesai.
setidaknya hari ini aku bisa bernapas lega.
Tharesh baik-baik saja.
satu urusan selesai.

tapi tidak untukmu, tikus gelandangan!
cihh..
kita lihat sampai sejauh mana kau kuat bertahan.


Saturday, 2 January 2010

one kissed from apricot morning

"yah untuk siapapun itu diluar sana yang mau mencoba peduli tanpa perlu sebuah penghakiman.

untuk siapapun kamu yang tak perlu berakting hanya demi sebuah tepukan.

untuk siapapun itu yang tak perlu menyumpah untuk sebuah luka.

mari kita merenung dan berpikir.
berhenti bicara.
biarkan aku mengaku.

bahwa aku letih berpura.
bahwa aku merasa sudah waktunya untuk membuka.

sebuah luka ini memang nyata,
sebuah kiasan ini memang sakit,
dan kenyataan yang menghimpit pun terasa mencekik.

tapi aku bisa apa?

aku letih marah seakan membencimu.
tidak.
aku tak bisa membencimu.

aku letih mencoba menganggap bahwa waktu yang lalu hanyalah fatamorgana.
tidak.
itu adalah waktu yang hebat.
sebuah waktu penuh tawa dan sedih.
sebuah satuan pembelajaran.

tak akan ada dua tanpa satu.

jadi mengapa harus berlari?
sudah cukupkan saja sampai disini.

terima kasih untuk waktumu, cinta.

maaf untuk semua luka yang pernah tergores.
atau bahkan mendalam."

waw..
hebat juga ternyata aku saat sedang terluka.
mendadak puitis.

" Sudah minum obat, princessa?"

spontan aku berbalik dan mendapati Nara sudah berdiri di sampingku.

kenapa aku tak menyadarinya masuk?

" Belum." jawabku ringan yang langsung dibalas dengan cubitan keras di pipi.

" aww!" aku menjerit.

" Bandel! aku ambil obatnya, langsung kamu minum ya.."

aku hanya diam. mengangguk kecil tepat sebelum Nara pergi ke lemari tempat penyimpanan obat.

" Sedang apa?" tanyanya saat sudah kembali ke kamarku sambil membawa obat dan segelas air mineral.

" membuka-buka kembali file lama." jawabku sebelum menenggak obat.

" file lama?" Nara terlihat khawatir.

sekali ini aku bisa membaca ekspresinya.

" tak apa, Nara. aku hanya sedang membacanya. sedikit terkejut juga ternyata aku bisa puitis."

Nara tersenyum lalu mengacak-acak rambutku.

ahh.. masih ada muka merah yang harus disembunyikan olehku.

" kalau kamu tak apa, ya sudah.. jangan kembali ke waktu itu, oke?"

" Oke. lagipula aku sudah tak apa."

" Yakin?"

" Ya."

seharusnya ya, bukan?
seharusnya aku sudah kuat untuk memcampakkannya jika ada kesempatan.
ya..seharusnya aku bisa.

" baiklah kalau begitu. siap pergi?"

" pergi? kemana?" aku terkejut mendengarnya mengajakku pergi.

" nanti juga kamu tahu. cepat ganti baju, aku tunggu kamu di depan." Nara keluar dan menutup pintu.

aku termenung sebentar.
mematikan laptop.
lalu bergegas mengganti pakaian.


" kemana kita?" tanyaku saat aku sadar bahwa aku sama sekali tak pernah melewati jalan ini sebelumnya.

" ke suatu tempat yang aku suka. aku harap kamu juga suka." Nara tetap memandang lurus ke depan sembari memacu sedan hitamnya melewati belokan-belokan tajam dan semakin menanjak.

" ambil jaketmu. kita sudah sampai." Nara membangunkanku lembut.

ahh.. aku tertidur.
kugosok mataku perlahan.
mengambil jaket yang ternyata sudah disodorkan Nara.
Nara mengacak-acak rambutku.
tertawa.
lalu keluar mobil.

aku menguap.
mengikutinya keluar.
dan tersentak.

" ini..."
" ini tempat yang kutemukan tiga bulan lalu. tapi belum berani mengajakmu kesini karena masih ada hal yang harus ditambahkan disini."
" Nara. ini..." kurasakan suaraku bergetar.
" Iya.. ini.."

aku memegang tangga yang terbuat dari kayu mahoni yang menempel di batang pohon besar itu.
menaikinya dan diam di sana.
di rumah pohon.
gambaran semasa kecil saat bermain bersama Tian menyeruak.

aku memanjat pohon.
Tian mengejarku.
kami terengah-engah di atas sini.
lalu Tian akan mengambil gitar dan mulai menyanyi....

" I will try..to fix you."

tersentak untuk kedua kalinya malam ini, aku mendapati Nara sudah duduk di hadapanku dan memetik gitar kesayangannya.
memainkan lagu kesukaanku.

aku terdiam.
begitu pula malam.
bahkan tak terdengar suara jangkrik dimanapun.
malam ini..
hanya Nara dan gitarnya yang bersuara.
mendendangkan lirih.

sebuah lagu selesai.
Nara melihat ke arahku.
meletakkan gitarnya.
lalu bergerak mendekatiku.

dengan gerakan cepat ia memelukku.
secara refleks aku menyandar padanya.
dan menangis.
entah untuk apa.

untuk apa aku menangis bila aku sudah baik-baik saja?
ahh..
aku benci dia.
benci untuk semua kebenaran dari tulisan yang baru aku baca.

" menangislah. sepuasmu. aku disini malam ini. tapi setelah itu lepaskan. aku mohon.." kudapati suara Nara juga bergetar.

malam itu aku menangis.
menangisi orang tak tahu malu.
di hadapan orang yang membuatkanku rumah pohon agar dia bisa menenangkanku.

------

bunyi air mendidih di ketel membangunkanku dari lamunan.
kuusap air mataku.
Nara, kumohon..
jangan pergi....

Friday, 1 January 2010

" saya sakit. saya jatoh. saya susah bangun. tapi bukan berarti ga bisa bangun, kan?? mantan...mantan.."