kubantingkan tubuhku ke kasur.
Argh!
aku masih tak mengerti jalan pikiran sahabatku.
tiga ketukan di pintu dan tanpa perlu diberi respon, Nara masuk.
" Aradea tadi menghubungiku. kamu sama sekali tak bisa dihubungi katanya."
" Mmmhhh..." hanya itu balasanku dari bawah bantal.
" Tian. ada apa?" Nara bertanya.
bukan, bukan bertanya. nadanya meminta kejelasan.
aku perlahan menunjukkan mukaku dari bawah bantal.
" Entahlah. aku bingung."
" Tentang?"
" Kamu dan dia. juga Tharesh."
Nara tersentak.
" Tak perlu kau jawab," aku cepat-cepat melanjutkan, " aku hanya terlalu banyak berpikir."
" Mengapa tak santai sejenak."
" Tak akan bisa."
" Kamu. kemarin membereskan ..."
" Si tikus? Ya.. kumohon Nara, jangan sebut namanya di depanku lagi."
" Oh ya. benar, benar."
" Aku tidak membereskan. aku malah ingin memberikan kecupan kalau diperbolehkan."
"Maka itu akan menjadi kecupan paling hangat yang pernah ia rasakan. Ahahahahahahaha.." Nara tergelak.
mau tak mau aku pun tertawa.
telepon selular Nara bergetar. menandakan adanya sebuah panggilan.
" Halo.." Nara menjawab tanpa melihat layar. kesalahan untuk saat ini.
" Ya? Mmhh.. tidak ada. sebenarnya... mmhhh.. oke, baiklah." Nara memandangku, memutus hubungan telepon, lalu merubah ekspresi mukanya.
aku langsung duduk tegak.
" Dia menelepon. mengajakku malam besar bersama keluarganya."
" Di?"
ahh..seharusnya aku tak bertanya. melihat ekspresi Nara aku sudah tahu dimana ia akan makan malam.
restaurant kesukaanku dan keluargaku juga, termasuk Tharesh.
tapi satu yang fatal.
makan malam di tempat itu berarti makan malam resmi.
dan biasanya penuh dengan pembicaraan yang tak kau harapkan.
entahlah..
tapi memang begitu adatnya.
kau mengajaknya ke tempat indah.
dan berharap kabar yang akan kau berikan sebaik dan seindah tempatnya -yang mana seringnya tidak-.
Orang tuaku mengajakku dan Tharesh kesana saat mereka memberitahukan akan membuka cabang kantor di Rusia -yang menjadi tempat tinggal mereka-.
" Baiklah. jadi sekarang kamu harus beriap. aku punya satu jas yang rasanya cukup untuk ukuran tubuhmu. sebentar..."
aku turun dari kasur.
membuka lemari.
mengambil salah satu jas hitamku dan akan memberikannya pada Nara untuk dicoba saat kudapati mata Nara menerawang.
" Nara.."
" Mereka juga mengajakmu."
" Mengajakku?" nadaku sedikit menjerit. maaf, Nara.
" Kenapaaa..."
" itu dia yang membuatku heran."
" Mmmhh.. baiklah. kalau begitu, kita harus bersiap sekarang."
pukul 07.00 malam di sebuah restaurant.
kami sudah berbincang cukup lama dan pramusaji sudah selesai menyajikan appetizer serta main menu.
saatnya desert.
dan ini yang biasanya paling ditunggu.
dessert datang.
tiramissu.
dan saat aku mulai menyantapnya, seorang wanita paruh baya yang duduk di hadapan Nara mulai mengangkat topik yang aku yakin sebenarnya adalah topik utama.
" Nara. aku ingin kalian bertunangan."
Nara menggigit lidahnya.
aku hafal gerakan saat rahang Nara mengeras.
aku sendiri hampir tersedak.
" Tapi tante.." uara Nara sangat lemah.
saatnya mengambil alih dan bersikap sedikit diplomatis.
" Tante.. maaf sebelumnya saya ikut campur. tapi tante.."
" Ah ya, Tian. untuk itulah aku memintamu datang. aku ingin kamu membantuku menyiapkan segala sesuatunya."
mulutku seketika terkatup.
sial! aku salah langkah.
dan ini adalah kesalahan fatal.
malam itu ditutup dengan penggambaran penuh akan rencana-rencana tentang pesta pertunangan Nara.
ternyata orang tua sang wanita sudah membaritahukan rencana ini kepada orang tua Nara.
dan sialnya -lagi- mereka setuju.
Nara terdiam.
tersirat luka.
yang tak akan pernah dimengerti oleh wanita di sebelahnya.
Diandra.