Monday, 4 January 2010

sweets in the end of the night

" cukup, Tharesh."

" Aku letih, Nara."

" Cukup."

" aku letih menjadi lemah. aku letih merasa tak berguna. aku letih merasa terbuang."

" Aku butuh kamu untuk kuat." Nara menatapku sendu.

" Itu dia masalahnya! aku letih berpura-pura menjadi kuat! aku..aku.."

" Ssssttt.. berhenti menangis, Re. aku benar-benar memohon kali ini." Nara mendekapku perlahan. namun hangat.

untuk beberapa saat tak ada yang bisa kudengar selain isak tangisku sendiri.

" Re.. sudah yah?" Nara membujukku dengan nada seorang kakak yang membujuk adiknya untuk berhenti menangis.

aku mengangguk pelan, mengambil tissue yang disodorkannya dan mengelap mataku.

" Sudah, oke??"

aku mengangguk lagi.

" Jadi..mau pesen apa, sekarang?"

aku menggeleng.
dan langsung menjerit saat mendapati sebuah cubitan keras di tanganku.

" Makan!"

baiklah.
untuk pertama kalinya Nara membentakku.

" Apa saja." jawabku asal, masih mencoba menyembunyikan getaran suaraku.

" Baiklah. tunggu disini sebentar."

Nara beranjak dari kursi dan pergi mendekati pramusaji untuk memesan sesuatu.

" Aku sudah pesan."

aku mengangguk dan sebuah jeda tercipta lagi.
tak berapa lama pesanan kami datang.
Lasagna dan sepotong sandwich sayuran.
ahh..
aku lupa.
Nara mulai sekarang akan mengurangi daging.
berarti lasagna itu untukku.
tapi aku sedang tak berselera.
kumakan lasagna sedikit demi sedikit.

" Re.."

" Hmm.." jawabku perlahan tanpa berani mendongakkan wajahku.
aku sedang menahan tangis dan sekarang penglihatanku mulai kabur.
oleh air mata.

tiba-tiba tangan Nara mengambil garpu di tanganku.
berjalan perlahan, lalu duduk di sebelahku.
merengkuh kepalaku perlahan lalu berbisik, " Thareshaaaa... cukup. cukup. jangan menyiksa dirimu sendiri lagi."

aku menangis terisak.
" Aku.. aku melanggar janji. maaf.." bicara pun aku terpatah-patah.

" Ssssttt.. tidak ada yang dilanggar. aku waktu itu hanya bilang untuk melepaskannya. bukan berarti kamu harus membunuh semuanya seketika."

" Nara..."

" Iya.. aku tak bisa bilang aku mengerti. aku tak pernah mengalaminya sendiri. tapi percayalah, dia pergi di saat yang tepat saat ini."

aku terdiam. bahuku terguncang dan Nara memelukku semakin erat.

" Ajari aku untuk mengerti. mengerti sakitmu. aku mau mengerti. Tharesh, kamu tak pernah sendirian."

aku diam. tangisku mulai mereda.
tapi dadaku masih sesak.
jadi yang bisa kulakukan hanya menangis lagi.

sekali ini aku tak peduli waktu.
kali ini aku tak mau mengerti pandangan orang.
sekali ini saja, aku hanya ingin menikmati perihku.

sore itu aku bergelung di pelukan Nara.

----------

lamunanku terusik dengan dering telepon selularku.
kuhapus air mataku seketika.
menarik napas.
mengatur suaraku sejenak.
lalu kuambil teleponku.
Tian.

" Halo..."

dan malam itu Tian membantuku melepas tawa.
atau mungkin senyum kecil.
karena menyadari aku memang tak sendirian.
bahwa semuanya baik-baik saja.