untuk siapapun kamu yang tak perlu berakting hanya demi sebuah tepukan.
untuk siapapun itu yang tak perlu menyumpah untuk sebuah luka.
mari kita merenung dan berpikir.
berhenti bicara.
biarkan aku mengaku.
bahwa aku letih berpura.
bahwa aku merasa sudah waktunya untuk membuka.
sebuah luka ini memang nyata,
sebuah kiasan ini memang sakit,
dan kenyataan yang menghimpit pun terasa mencekik.
tapi aku bisa apa?
aku letih marah seakan membencimu.
tidak.
aku tak bisa membencimu.
aku letih mencoba menganggap bahwa waktu yang lalu hanyalah fatamorgana.
tidak.
itu adalah waktu yang hebat.
sebuah waktu penuh tawa dan sedih.
sebuah satuan pembelajaran.
tak akan ada dua tanpa satu.
jadi mengapa harus berlari?
sudah cukupkan saja sampai disini.
terima kasih untuk waktumu, cinta.
maaf untuk semua luka yang pernah tergores.
atau bahkan mendalam."
waw..
hebat juga ternyata aku saat sedang terluka.
mendadak puitis.
" Sudah minum obat, princessa?"
spontan aku berbalik dan mendapati Nara sudah berdiri di sampingku.
kenapa aku tak menyadarinya masuk?
" Belum." jawabku ringan yang langsung dibalas dengan cubitan keras di pipi.
" aww!" aku menjerit.
" Bandel! aku ambil obatnya, langsung kamu minum ya.."
aku hanya diam. mengangguk kecil tepat sebelum Nara pergi ke lemari tempat penyimpanan obat.
" Sedang apa?" tanyanya saat sudah kembali ke kamarku sambil membawa obat dan segelas air mineral.
" membuka-buka kembali file lama." jawabku sebelum menenggak obat.
" file lama?" Nara terlihat khawatir.
sekali ini aku bisa membaca ekspresinya.
" tak apa, Nara. aku hanya sedang membacanya. sedikit terkejut juga ternyata aku bisa puitis."
Nara tersenyum lalu mengacak-acak rambutku.
ahh.. masih ada muka merah yang harus disembunyikan olehku.
" kalau kamu tak apa, ya sudah.. jangan kembali ke waktu itu, oke?"
" Oke. lagipula aku sudah tak apa."
" Yakin?"
" Ya."
seharusnya ya, bukan?
seharusnya aku sudah kuat untuk memcampakkannya jika ada kesempatan.
ya..seharusnya aku bisa.
" baiklah kalau begitu. siap pergi?"
" pergi? kemana?" aku terkejut mendengarnya mengajakku pergi.
" nanti juga kamu tahu. cepat ganti baju, aku tunggu kamu di depan." Nara keluar dan menutup pintu.
aku termenung sebentar.
mematikan laptop.
lalu bergegas mengganti pakaian.
" kemana kita?" tanyaku saat aku sadar bahwa aku sama sekali tak pernah melewati jalan ini sebelumnya.
" ke suatu tempat yang aku suka. aku harap kamu juga suka." Nara tetap memandang lurus ke depan sembari memacu sedan hitamnya melewati belokan-belokan tajam dan semakin menanjak.
" ambil jaketmu. kita sudah sampai." Nara membangunkanku lembut.
ahh.. aku tertidur.
kugosok mataku perlahan.
mengambil jaket yang ternyata sudah disodorkan Nara.
Nara mengacak-acak rambutku.
tertawa.
lalu keluar mobil.
aku menguap.
mengikutinya keluar.
dan tersentak.
" ini..."
" ini tempat yang kutemukan tiga bulan lalu. tapi belum berani mengajakmu kesini karena masih ada hal yang harus ditambahkan disini."
" Nara. ini..." kurasakan suaraku bergetar.
" Iya.. ini.."
aku memegang tangga yang terbuat dari kayu mahoni yang menempel di batang pohon besar itu.
menaikinya dan diam di sana.
di rumah pohon.
gambaran semasa kecil saat bermain bersama Tian menyeruak.
aku memanjat pohon.
Tian mengejarku.
kami terengah-engah di atas sini.
lalu Tian akan mengambil gitar dan mulai menyanyi....
" I will try..to fix you."
tersentak untuk kedua kalinya malam ini, aku mendapati Nara sudah duduk di hadapanku dan memetik gitar kesayangannya.
memainkan lagu kesukaanku.
aku terdiam.
begitu pula malam.
bahkan tak terdengar suara jangkrik dimanapun.
malam ini..
hanya Nara dan gitarnya yang bersuara.
mendendangkan lirih.
sebuah lagu selesai.
Nara melihat ke arahku.
meletakkan gitarnya.
lalu bergerak mendekatiku.
dengan gerakan cepat ia memelukku.
secara refleks aku menyandar padanya.
dan menangis.
entah untuk apa.
untuk apa aku menangis bila aku sudah baik-baik saja?
ahh..
aku benci dia.
benci untuk semua kebenaran dari tulisan yang baru aku baca.
" menangislah. sepuasmu. aku disini malam ini. tapi setelah itu lepaskan. aku mohon.." kudapati suara Nara juga bergetar.
malam itu aku menangis.
menangisi orang tak tahu malu.
di hadapan orang yang membuatkanku rumah pohon agar dia bisa menenangkanku.
------
bunyi air mendidih di ketel membangunkanku dari lamunan.
kuusap air mataku.
Nara, kumohon..
jangan pergi....