Tharesh terlalu senang saat mendengar Nara akan pulang.
ahh..
tak mungkin kuberitahukan kabar ini dalam waktu dekat.
biar Nara sendiri yang bicara.
" Tian. jadi siapa yang akan menjemputku? kalau memang tidak ada yang bisa, aku bisa naik naik tak..."
" Tharesh yang akan menjemputmu." jawabku sambil melonggarkan ikatan dasi yang mulai mencekik ini.
" si.." sambung Nara lemah.
perubahan air mukanya terlalu kentara.
" Dengar, aku tahu kamu belum siap untuk bertemu Tharesh. tapi kamu harus, Nara. cepat atau lambat Tharesh akan tahu. dan lebih cepat dia tahu itu akan lebih baik."
" Tahu apa? aku bahkan belum menyetujui apa-apa."
" Diammu saat itu adalah bentuk persetujuan yang sulit terbantahkan."
" Argh! tidak sekarang, Tian. tidak saat aku baru turun dari pesawat dan masih mengalami jet lag. kenapa tidak kita tunggu saja waktu yang tepat?"
" Tepat? kapan? bagaimana kalau waktu yang tepat adalah lusa?"
Nara terdiam.
" Bagaimana kamu tahu waktu yang tepat jika tak mencoba. secepatnya beritahu dia, Nara. kumohon.. atau semuanya akan terlambat. ini tentangmu. dan adalah kewajibanmu untuk memberitahunya sendiri. adikku punya hak untuk tahu."
" tapi tidak harus lusa kan?"
" Aku tak pernah memintamu memberitahunya lusa. yang aku minta adalah untuk memberitahu Tharesh secepatnya."
Nara kembali diam.
" Diammu berarti iya untukku. aku mau ganti baju dulu sebelum mengantarmu ke bandara. kita makan dibandara saja, gapapa?"
" Okee.."
aku masuk ke kamar, dan menghempaskan diri di tempat tidur kesayanganku.
walaupun memang tidak seenak tempat tidur yang ada di kamarku di Bandung, tapi tempat tidur ini selalu berhasil membuatku tenang.
aku tahu Nara dan Tharesh sedang berdiri di atas jam pasir.
yang memang menunggu butiran terakhir untuk jatuh.
tapi bukan jatuh seperti ini yang kumaksudkan.
tidak secepat ini yang kuperhitungkan.
aku segera mengganti bajuku saat teringat janji untuk mengantar Nara kembali ke bandara.
" Take care." kataku pelan saat sudah terdengar pengumuman bahwa penumpang dimohon untuk segera naik ke pesawat.
" Iya." Nara mengangguk. kami pun tertawa.
" Tharesh selalu bilang kita seperti sepasang gay saat sedang melakukan hal-hal seperti ini." aku mengingat ekspresi jijik Tharesh setiap kamimelakukan hal-hal ini.
" Iya.. dan baru kusadari sekarang, nampaknya Tharesh benar."
tak berapa lama kami terdiam.
nama itu muncul lagi.
" Jaga Tharesh, Nar. aku percayain dia sama kamu."
" Iya, pasti, Tian. aku pergi, oke? maaf sudah menghabiskan G and T milikmu." Nara melempar senyum jail sebelum berlari kecil menuju lorong yang akan mengantar ke tempat pesawatnya berada.
sial!
padahal itu persediaan terakhirku.
merknya sudah menjadi langka sekarang.
aku harus menelepon temanku untuk memesannya kembali.
ciri khas Nara, selalu membuatku kesal dan tak bisa berkata apa-apa di akhir hari.
hahaaa..
tapi nampaknya aku harus terbiasa dengan kelakuannya.
bukannya tak mungkin ia akan menjadi bagian dari Hanggaatmadja.
haahhh..
Tharesh..
pikirku sambil berjalan lambat menuju mobil.
aku dan Nara memiliki satu kesamaan yang tak akan terbantahkan.
satu prioritas yang utama.
Tharesh.
walaupun kami melihatnya dengan perspektif yang sedikit berbeda.
aku membuka pintu mobilku, masuk dan menyalakan mesin.
mesinnya mulai berdengung lembut saat kuingat perkataan Gio, " Tian. berhenti mengontrol orang-orang di sekitarmu. berhenti menjadi sutradara. sekali ini saja. "
ahh..
tampaknya Gio benar.
sekali ini aku harus percaya pada Nara.
sekali ini waktunya aku duduk dan menonton.
kuinjak gas dan membiarkan mobilku melaju perlahan sebelum akhirnya kupacu dengan kencang.