Sunday, 7 February 2010

when the break down show its gum

harusnya aku tak usah tahu.
harusnya aku tak usah melihat.
harusnya aku diam.

setidaknya itu akan membuatku merasa lebih baik saat ini.

-------------------------------------

" Jadi, siapa?" tanyaku penasaran.

yang ditanya malah tertawa.

" Aku serius. siapa?"

tawa yang terdengar malah makin keras.

" Penasaran banget sih, anak kecil." dia menjawab sambil mengacak-acak rambutku.

bagus. harus ada yang kulakukan atau wajahku akan berubah merah.

aku segera mengambil cangkir kopi di hadapanku dan menyesapnya.

" Mm.. baiklah, baiklah." pria tadi tersenyum saat melihat wajahku yang memasang pose baiklah-aku-siap-mendengar.

" Namanya Diandra. Teman kecil Tian kalau aku tak salah."

aku mengernyitkan kening.

" keluarga Prawirasastra kalau tak salah."

" Oh.." responku.

Oh yang buat sebagian orang -dan mungkin untuknya- adalah oh yang menggambarkan bahwa aku baru ingat siapa orangnya.
tapi tidak bagi Tian -kalau dia ada disini sekarang-.
jika dia ada disini, maka dia akan mengerti oh yang kuucapkan tadi.

oh..
lagi-lagi Diandra.
menyerah aku saat mengetahui Diandra yang ada di antara kami sekarang.
mundur teratur.
atau jatuh terhempas.
hanya itu pilihanku sekarang.

dan Oh..
aku sudah memiliki pasangan.
yang seharusnya ada di depanku dan menemaniku untuk mengurangi sedikit bengkak di mataku.
bukannya pria ini.
bukan Nara yang seharusnya ada disini.

" Sudah ingat sekarang?"
aku mengangguk lemah.

" sudah... jangan menangis lagi. yaa?"
lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk.

" nanti rex malah akan sedih kalau terus-terusan melihatmu begini."

Rex. mendengar namanya lagi, air mataku kembali menuruni pipi tanpa terhalang.

" eh.. aduh, Re. maaf, maaf.." Nara merengkuhku dalam rangkulannya dan membiarkanku menangis.

ini yang kusuka dari Nara.
selalu diam tanpa menginterupsi.
selalu bisa menjadi pendengar yang baik.
selalu mau mencoba mengerti.

Rex itu anjingku.
siberian husky berwarna abu-putih dengan warna mata yang berbeda.
biru-keabuan di sebelah kanan dan abu-abu tua di sebelah kiri.
kemarin dia mati.
walaupun memang sudah sakit parah selama seminggu ini -umurnya sudah 18 tahun-, tapi tetap saja terasa menyedihkan saat dia mati.

makanya aku ada disini.
tapi rencanaku sebelumnya adalah bersama pasanganku.
bukan Nara.
tapi apa yang dikatakannya saat aku menelponnya untuk mengajak bertemu?

" manja banget sih. gitu doang. cuma binatang peliharaan kamu ini. aku besok mau latihan band."

bagussss....
tepuk tangan untuk orang yang selalu bilang sayang padaku.

dan Nara ada disini sekarang.
langsung mengajakku bertemu saat melihat status di jaringan sosial internet.


aku duduk tegak dan mengambil tissue.
mengelap mata dan hidungku.
pasti wajahku berantakan sekali sekarang.
dapat kulihat dari ekspresi khawatir Nara.

" Mhh.. lalu, bagaimana?"

" Bagaimana apa?" Nara mengernyitkan keningnya, terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba dariku.

" lanjutkan ceritamuuuu..."

" oh..ahahaha. bikin kaget aja kamu, " Nara tersenyum salah tingkah sebelum melanjutkan ceritanya, " kami bertemu saat aku dan Tian sedang di restaurant. dia menyapa Tian duluan. lalu kami berkenalan. dan..."

" dan?" tanyaku semakin penasaran.

" dan tampaknya semenjak itu aku selalu tersenyum setiap mengingatnya."
satu ekspresi Nara yang tak pernah kulihat sebelumnya tiba-tiba muncul.

Nara jatuh cinta?

--------

harusnya aku tak bertanya.
tak seharusnya aku mendengar.
semestinya aku menutup telingaku.

agar kali ini air mataku berhenti turun saat fajar mulai terlihat.