halo, kamu.
bisa sudahi saja semua penderitaanku dan ajak aku minum kopi?
rasanya otakku sudah kehabisan kata untuk bercerita tentangmu. dan alasannya sederhana. karena aku memang tidak sebegitunya mengenalmu. dan sayangnya, ketidaktahuanku akan dirimu tidak membuat semuanya menjadi lebih sederhana, seperti... pergi dan meninggalkanmu dengan kehidupanmu. oh, tidak. ada rasa yang terus menggelitik di ujung relung. antara meminta untuk kau pergi dari pikiran, namun setengah berharap kau menolak.
lalu.. kopi?
iya, kopi. biarkan saja sekali itu ada pembicaraan yang hanya dapat dikatalis oleh kopi. setidaknya untukku. sekali ini, aku mohon buang bungkus kebanggaanmu itu, dan ajak aku ke sebuah kedai kopi bagus. bukan yang terlalu terkenal tapi sudah tidak lagi menyajikan kopi beneran, ya, catet. itu jauh berbeda untukku.
berbincang?
ah ya, sejujurnya bahkan aku tidak tahu apakah kita akan memiliki perbincangan seperti yang biasa aku dapatkan dari semua teman minum kopiku. tapi anggap saja untuk membunuh kecanggungan yang tercipta di antara diam menanti pesanan datang, akan ada sedikit perbincangan yang terjadi. atau mungkin bisa kita mulai dari saat akan menentukan pesanan, meski untukku pesanan tidak akan terlalu jauh dari classic cappuccino, hot caramel machiato, flat white, atau sesuatu yang berbau mint seperti mint chocolate.
ah, bicara apa aku. sejak kapan pula kita merasa canggung? bukankah selama ini kita berbincang dalam diam.
dan bukankah biasanya kamu terdiam melihat apa yang aku lakukan?
tapi bahkan aku sedang tidak ingin menulis. bohong. untung kamu bukan orang yang memang mengenalku dari dulu. karena kalau iya, kamu pasti akan langsung tertawa tepat di hadapanku dan membuka laptop lalu diam. tunggu saja dalam waktu 3 menit paling aku sudah menuliskan beberapa kata pertamaku disana.
ah, Tuhan... maukah sekali ini kamu mengatur semesta agar kami bisa terjebak di sebuah kedai kopi bagus? dengan hujan akan jauh lebih menyenangkan.
terima kasih sebelumnya, Tuhan.
untuk selalu mau menampung doaku yang sering tidak keruan ini.
Thursday, 15 January 2015
dalam diam
aku mengagumimu dalam diam.
setelah sekian lama, mungkin akhirnya aku harus mengakui bahwa rasa nyaman yang selalu hadir di antara diamnya kita yang membuatku merasa seperti ini.
suara yang begitu tenang diiringi mata teduhmu selalu berhasil menjadi anestesi dalam setiap kepanikan yang juga selalu berhasil lebih dahulu menemukanku.
aku mengabadikanmu dalam senyum.
di setiap senyum balasan atas ucapan selamat pagimu, di setiap senyummu atas segala obrolan kita, dan di senyum mereka yang tak henti menggodamu.
acara semesta yang selalu berhasil menjebak kita dalam keadaan penuh ulasan tentang hidup tidak pernah gagal membuat senyumku semakin dalam saat mengingatnya.
aku tak pernah tahu bahwa akan selalu ada malaikat yang diminta untuk menjaga kita dalam suatu situasi tertentu. ah, maksudku, aku tak pernah tahu bahwa malaikat yang dikirim itu dapat berganti wujud sesuai dengan situasi dan kebutuhan. persis seperti brosur-brosur yang biasa dibagikan di jembatan penyebrangan, with terms and conditions apply.
aku bukan orang yang percaya akan kebetulan belaka, bagiku, bahkan di setiap pilihanku, hanya akan ada yakin bahwa semua sudah bergaris. dan garisnya kadang harus tercipta lewat yakinnya kita dalam setiap keputusan, bukan selalu melalui orang lain. tapi kembali, bahkan dalam proses mewujudkan yakin dalam setiap keputusan itu, Tuhan selalu mengutus malaikatnya untuk mendampingi kita. dan sekarang, aku percaya bahwa lingkaran bercahaya di atas kepala itu sedang dibawa olehmu. dengan namaku tertulis sebagai misinya.
aku bukan orang yang mudah menyerah untuk mengerti. bagiku, selama kamu belum menemukan jawabnya, maka carilah sampai ketemu. tapi sekali ini, aku menyerah dengan segala ketidaktahuanku akan kamu. apalagi mengenai rasa yang muncul dengan luar biasanya padaku. aku menyerah, sekali ini aku hanya ingin merasa saja. mungkin halo effect darimu sebegitunya mempengaruhiku.
the only thing I can get from this now is you are my kryptonite. for my brain.
dan di suatu pagi saat aku baru terbangun dari mimpi, realita kembali menyeruak.
di suatu titik nanti, kita akan kembali menjadi orang asing. kamu dan aku sekali lagi akan menjadi asing bagi masing-masing.
kurasa tugasmu sebentar lagi selesai, Tuan.
terima kasih banyak.
kini, biarkan aku berterima kasih padamu dalam doa.
setelah sekian lama, mungkin akhirnya aku harus mengakui bahwa rasa nyaman yang selalu hadir di antara diamnya kita yang membuatku merasa seperti ini.
suara yang begitu tenang diiringi mata teduhmu selalu berhasil menjadi anestesi dalam setiap kepanikan yang juga selalu berhasil lebih dahulu menemukanku.
aku mengabadikanmu dalam senyum.
di setiap senyum balasan atas ucapan selamat pagimu, di setiap senyummu atas segala obrolan kita, dan di senyum mereka yang tak henti menggodamu.
acara semesta yang selalu berhasil menjebak kita dalam keadaan penuh ulasan tentang hidup tidak pernah gagal membuat senyumku semakin dalam saat mengingatnya.
aku tak pernah tahu bahwa akan selalu ada malaikat yang diminta untuk menjaga kita dalam suatu situasi tertentu. ah, maksudku, aku tak pernah tahu bahwa malaikat yang dikirim itu dapat berganti wujud sesuai dengan situasi dan kebutuhan. persis seperti brosur-brosur yang biasa dibagikan di jembatan penyebrangan, with terms and conditions apply.
aku bukan orang yang percaya akan kebetulan belaka, bagiku, bahkan di setiap pilihanku, hanya akan ada yakin bahwa semua sudah bergaris. dan garisnya kadang harus tercipta lewat yakinnya kita dalam setiap keputusan, bukan selalu melalui orang lain. tapi kembali, bahkan dalam proses mewujudkan yakin dalam setiap keputusan itu, Tuhan selalu mengutus malaikatnya untuk mendampingi kita. dan sekarang, aku percaya bahwa lingkaran bercahaya di atas kepala itu sedang dibawa olehmu. dengan namaku tertulis sebagai misinya.
aku bukan orang yang mudah menyerah untuk mengerti. bagiku, selama kamu belum menemukan jawabnya, maka carilah sampai ketemu. tapi sekali ini, aku menyerah dengan segala ketidaktahuanku akan kamu. apalagi mengenai rasa yang muncul dengan luar biasanya padaku. aku menyerah, sekali ini aku hanya ingin merasa saja. mungkin halo effect darimu sebegitunya mempengaruhiku.
the only thing I can get from this now is you are my kryptonite. for my brain.
dan di suatu pagi saat aku baru terbangun dari mimpi, realita kembali menyeruak.
di suatu titik nanti, kita akan kembali menjadi orang asing. kamu dan aku sekali lagi akan menjadi asing bagi masing-masing.
kurasa tugasmu sebentar lagi selesai, Tuan.
terima kasih banyak.
kini, biarkan aku berterima kasih padamu dalam doa.