Thursday, 15 January 2015

halo.

halo, kamu.
bisa sudahi saja semua penderitaanku dan ajak aku minum kopi?

rasanya otakku sudah kehabisan kata untuk bercerita tentangmu. dan alasannya sederhana. karena aku memang tidak sebegitunya mengenalmu. dan sayangnya, ketidaktahuanku akan dirimu tidak membuat semuanya menjadi lebih sederhana, seperti... pergi dan meninggalkanmu dengan kehidupanmu. oh, tidak. ada rasa yang terus menggelitik di ujung relung. antara meminta untuk kau pergi dari pikiran, namun setengah berharap kau menolak.

lalu.. kopi?
iya, kopi. biarkan saja sekali itu ada pembicaraan yang hanya dapat dikatalis oleh kopi. setidaknya untukku. sekali ini, aku mohon buang bungkus kebanggaanmu itu, dan ajak aku ke sebuah kedai kopi bagus. bukan yang terlalu terkenal tapi sudah tidak lagi menyajikan kopi beneran, ya, catet. itu jauh berbeda untukku.

berbincang?
ah ya, sejujurnya bahkan aku tidak tahu apakah kita akan memiliki perbincangan seperti yang biasa aku dapatkan dari semua teman minum kopiku. tapi anggap saja untuk membunuh kecanggungan yang tercipta di antara diam menanti pesanan datang, akan ada sedikit perbincangan yang terjadi. atau mungkin bisa kita mulai dari saat akan menentukan pesanan, meski untukku pesanan tidak akan terlalu jauh dari classic cappuccino, hot caramel machiato, flat white, atau sesuatu yang berbau mint seperti mint chocolate.
ah, bicara apa aku. sejak kapan pula kita merasa canggung? bukankah selama ini kita berbincang dalam diam.

dan bukankah biasanya kamu terdiam melihat apa yang aku lakukan?
tapi bahkan aku sedang tidak ingin menulis. bohong. untung kamu bukan orang yang memang mengenalku dari dulu. karena kalau iya, kamu pasti akan langsung tertawa tepat di hadapanku dan membuka laptop lalu diam. tunggu saja dalam waktu 3 menit paling aku sudah menuliskan beberapa kata pertamaku disana.

ah, Tuhan... maukah sekali ini kamu mengatur semesta agar kami bisa terjebak di sebuah kedai kopi bagus? dengan hujan akan jauh lebih menyenangkan.

terima kasih sebelumnya, Tuhan.
untuk selalu mau menampung doaku yang sering tidak keruan ini.