" Tidur. Sudah malam. jangan terlalu dipikirkan. semuanya akan baik-baik saja."
" Sampai kapan kamu mau begini?" suara tegas seorang wanita membuatku terkejut. aku tak suka nada ini. aku tak suka diselidiki.
" Apa?" tanyaku tak kalah dingin.
" Berpura-pura bahwa semuanya berjalan lancar. Bahwa Nara baik- baik saja, begitu pula Tharesh."
" Ra. Aku juga khawatir. tapi aku bisa apa?" tanyaku frustasi.
kelemahan yang hanya bisa kutunjukkan pada Aradea.
karena hanya dia yang mengerti.
dan dia yang jauh lebih kuat dariku.
untuk itu aku mau menunjukkan sisi ini padanya.
" Kamu bisa membantunya sibuk agar Nara dapat terhindar sejenak dari mereka."
" Nara tak akan bisa menghindar, sayang. Ini bukan di Indonesia. tak ada yang bisa membatasi mereka. jelas-jelas Nara kemari untuk bertemu mereka."
" Mereka yang ingin bertemu." Dea mengoreksiku.
" Yah.. apapun lah itu. tetap saja ini bukan keinginan Nara."
" Jangan bilang begitu. Tak ada yang tahu maksud Nara memenuhi undangan itu untuk apa. dia ada disini sekarang. kemungkinan itu masih ada, sayang.."
" Ahh.. terserah kamu. aku tidur duluan yaa... malem, Agata."
" Night, darl." kataku lemah.
" sudah.. jangan terlalu dipikirkan, okee? kamu butuh istirahat untuk rapat besok."
" Iyaa... malam.." aku pun memutuskan hubungan telepon.
hahhhh... lalu harus bagaimana?
Aku membanting punggungku ke kasur.
kenapa harus aku yang bingung?
karena aku berdiri di antara dua makhluk egois yang tak punya waktu hanya untuk mengerti dirinya sendiri.
terlalu sibuk.
sibuk untuk menutupi dirinya masing-masing.
dariku.
bodoh.. tidakkah mereka sadar bahwa aku sudah mengetahuinya jauh bahkan sebelum mereka menyadari hal itu.
tok tok tok..
Nara yang mengetuk pasti.
siapa lagi..
" Masuk.." kataku sambil merubah posisiku menjadi duduk di kasur.
Nara masuk perlahan.
mukanya kacau.
dia berjalan terhuyung lalu menghempaskan tubuhnya tepat di sampingku.
" hmmm..."
" kenapa?" tanyaku.
" entahlah. aku lelah."
" Untuk semua hal yang tak bisa kau putuskan sendiri." memang sinis. maaf, Nara. tapi aku sinis untuk semua tentang Tharesh.
" Untuk semua tentang ini." dia menunjuk kepalanya.
" pikiranmu?"
" Iyah.. untuk semua pertimbangan yang aku buat."
" Dan semua rasa takut yang enggan kau hadapi." aku sedikit berteriak.
" Tian.."
" aku tahu, aku tahu. tak ada yang bisa memaksamu. tapi setidaknya hentikan permainan ini. biarkan mereka lepas kalau memang begitu."
" Aku tak bisa." Nara terdengar frustasi, ditambah dengan gerakan mengacak-acak rambutnya -oh ya, dia memang frustasi-.
" Memang akan selalu ada hal yang tidak selesai antara kamu dengannya! lalu bagaimana?" aku pun menjerit frustasi.
" Aku tak tahu, Tian. Argh!" Nara berdiri, membalik badannya menghadapku, lalu berkata, " aku minta gin and tonic, oke?"
aku mengangguk.
membiarkannya keluar kamar.
lalu kembali merebahkan tubuhku saat pintu kamar sudah tertutup kembali.
telepon selulerku bergetar.
kulirik layarnya.
sebuah pesan.
" Nara! aku kembali sebentar lagi!" aku berteriak di pintu keluar.
kulihat Nara sedang termenung memperhatikan gelas bening gin and tonic.
ahh.. masih ada yang lebih penting.
kubuka pintu.
sedikit berlari sambil mengancingkan jas yang ikut melambai seiring dengan langkahku.
kulirik sekali lagi pesan yang tertera di layar.
she's gone.
last thing we've seen is the black toyota camry.
segera kumasukkan telepon selularku ke dalam saku.
dan menarik napas sambil menunggu lift terbuka.
16..masih lima lantai lagi.
haaahh.. dasar tikus!
benar-benar ada tindakan yang harus diambil.
Monday, 28 December 2009
Sunday, 27 December 2009
mean-ty nighty night
" Kami sudah sampai.
maaf baru mengabari sekarang.
Tian sudah pergi lagi.
ada beberapa urusan yang harus diselesaikan katanya."
baiklah.
jadi mereka sudah tiba disana.
segera kuketik e-mail balasan untuknya.
" Ok.
hati-hati disana.
cepat pulang.
aku benci ditinggal sendirian."
sebentar.
terdengar terlalu berharap.
lagipula..
ahh.. Nara kan ke Inggris bukan untuk bisnis.
cepat-cepat kuhapus beberapa kata.
kubaca ulang balasanku,
" Ok.
hati-hati disana."
send.
baiklah.
jadi Nara sudah ada disana.
sudah sampai.
dan kubayangkan Nara sudah bertemu dengannya.
tak usah dibayangkan.
hal itu sudah pasti terjadi.
memangnya untuk lagi apa Nara kesana.
ayolah..
aku tak apa.
harusnya aku tak apa.
lalu mengapa aku malah jadi aneh begini?
haaaahhhh..
kuhela napasku sendiri dan termangu di depan laptop putihku.
membayangkan apa jadinya bila Nara pulang.
ahhhhhhh...
makin gila saja aku.
terlalu banyak kemungkinan.
akan banyak tindakan yang harus diambil.
dan menimbulkan berbagai reaksi yang berbeda.
dan semakin kupikirkan, semakin sedikit kemungkinan baik akan terjadi.
terlalu kecil celahnya untukku.
dan akan menjadi sangat sulit untuk masuk melalui celah itu.
melihatnya pun sulit.
satu-satunya hal yang tak ingin kubayangkan.
lalu harus bagaimana?
selama ini aku bertahan karenanya.
atau untuknya?
yah..
pokoknya dengannya.
haruskah sebuah rasa dilepas lagi?
untuk sebuah nama yang sampai sekarang masih ingin kubiarkan hilang di antara ribuan ingatanku.
walaupun jika dilihat, nama itu tetap memiliki satu ruang besar disana.
walaupun tak sebesar di hati Nara.
baiklah..
Tharesh..
lupakan saja, okey?
susun kembali semuanya mulai dari sekarang.
sebelum semuanya terlambat.
biarkan dia berjuang disana.
serahkan semuanya pada waktu.
alirkan rasamu pada hujan.
biarkan dia membawanya sampai saatnya harus kembali padamu.
entah dengan Nara.
atau mungkin memang hujan kali ini hanya untukku sendiri.
kulangkahkan kakiku ke dapur.
mengambil biji kopi dan memasukkannya ke dalam mesin espresso.
suara mesin terdengar mendengung.
aku mengambil kursi kecil dan duduk sambil menikmati pemandangan jendela yang basah terkena cipratan hujan.
memang jendelanya yang buram, atau mataku yang mulai basah?
maaf baru mengabari sekarang.
Tian sudah pergi lagi.
ada beberapa urusan yang harus diselesaikan katanya."
baiklah.
jadi mereka sudah tiba disana.
segera kuketik e-mail balasan untuknya.
" Ok.
hati-hati disana.
cepat pulang.
aku benci ditinggal sendirian."
sebentar.
terdengar terlalu berharap.
lagipula..
ahh.. Nara kan ke Inggris bukan untuk bisnis.
cepat-cepat kuhapus beberapa kata.
kubaca ulang balasanku,
" Ok.
hati-hati disana."
send.
baiklah.
jadi Nara sudah ada disana.
sudah sampai.
dan kubayangkan Nara sudah bertemu dengannya.
tak usah dibayangkan.
hal itu sudah pasti terjadi.
memangnya untuk lagi apa Nara kesana.
ayolah..
aku tak apa.
harusnya aku tak apa.
lalu mengapa aku malah jadi aneh begini?
haaaahhhh..
kuhela napasku sendiri dan termangu di depan laptop putihku.
membayangkan apa jadinya bila Nara pulang.
ahhhhhhh...
makin gila saja aku.
terlalu banyak kemungkinan.
akan banyak tindakan yang harus diambil.
dan menimbulkan berbagai reaksi yang berbeda.
dan semakin kupikirkan, semakin sedikit kemungkinan baik akan terjadi.
terlalu kecil celahnya untukku.
dan akan menjadi sangat sulit untuk masuk melalui celah itu.
melihatnya pun sulit.
satu-satunya hal yang tak ingin kubayangkan.
lalu harus bagaimana?
selama ini aku bertahan karenanya.
atau untuknya?
yah..
pokoknya dengannya.
haruskah sebuah rasa dilepas lagi?
untuk sebuah nama yang sampai sekarang masih ingin kubiarkan hilang di antara ribuan ingatanku.
walaupun jika dilihat, nama itu tetap memiliki satu ruang besar disana.
walaupun tak sebesar di hati Nara.
baiklah..
Tharesh..
lupakan saja, okey?
susun kembali semuanya mulai dari sekarang.
sebelum semuanya terlambat.
biarkan dia berjuang disana.
serahkan semuanya pada waktu.
alirkan rasamu pada hujan.
biarkan dia membawanya sampai saatnya harus kembali padamu.
entah dengan Nara.
atau mungkin memang hujan kali ini hanya untukku sendiri.
kulangkahkan kakiku ke dapur.
mengambil biji kopi dan memasukkannya ke dalam mesin espresso.
suara mesin terdengar mendengung.
aku mengambil kursi kecil dan duduk sambil menikmati pemandangan jendela yang basah terkena cipratan hujan.
memang jendelanya yang buram, atau mataku yang mulai basah?
introduce me : Tian
pesawat.
setelah 10 jam terbang.
" Nar.." panggilku.
" hmm.." Nara menjawab seadanya.
" Lu..." aku mulai ragu untuk melanjutkan kata-kataku.
" Apa?" tanyanya tak sabar. aku tahu dia sebenernya mengantuk.
" Lu suka sama ade gue?"
" Hah?!!" Nara terperanjat. sebuah jawaban mutlak bagiku. namun kujaga ekspresiku tetap dingin.
"Iya.. gue tanya. Lu suka sama Tharesh?"
" Suka? ya iyalah..makanya gue juga mau ngejagain dia selama lu pergi."
" That's not what I see, boy."
" So.. tell me what you see, then."
" Untuk apa? aku akan tahu jawabannya sesampainya kita disana nanti."
Nara langsung membuang muka dan memandang ke luar jendela, pura-pura tertarik dengan pemandangan yang ada di luar sana.
padahal aku tahu pandangannya kosong.
tapi aku bisa apa?
itu hidupnya.
" Kalo emang suka gapapa ko.. aku rela kalo Tharesh akhirnya sama kamu. daripada sama si tikus itu. gelandangan!" lalu aku menarik selimut dan mencoba tidur -walaupun masih sore, tapi aku merasa letih-.
Nara diam. sempat kulirik dan terlihat mukanya bersemu.
haha.. dasar bocah.
aku pun pergi tidur.
pesawat.
20 menit sebelum landing.
" Baiklah. kita sampai sebentar lagi. ahh... banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan sesampainya disana."
" aku juga."
spontan aku menoleh pada Nara dan tersenyum kecut, " jadi untukmu ini adalah pekerjaan?"
" Bukan. tapi tetap saja harus diselesaikan."
" Aku masih tak mengerti."
Nara salah tingkah.
maaf, Nara. tapi tampaknya kali ini aku memang mengintimidasimu.
" Tak perlu kau mengerti. satu-satunya yang harus kau lakukan adalah duduk, diam, dan menonton." tawaku pecah mendengar jawaban Nara.
" sampai kapan?"
" sampai kapan? apanya?" wajah tololnya memandangiku.
ohh.. okee.. mungkin hanya aku yang tahu bahwa dibalik semua sikap dinginnya, Nara adalah orang yang tolol dan konyol.
" sampai kapan kaya gini? yang perlu dilakukan hanya memilih. begitu saja kau tak bisa."
" Justru karena harus memilih yang membuatku sulit memutuskan."
tedengar pengumuman untuk memakai sabuk pengaman.
" apa pun itu. jangan kecewakan dirimu sendiri, okee? Tharesh juga sedang berjuang di Indonesia." kataku sambil mengenakan sabuk pengaman.
" Apa maksud..."
belum selesai Nara bicara, aku sudah menjawab, " Aku tahu kemarin ia bertemu dengan si tikus gelandangan itu."
muka Nara bertanya, baru membuka mulut, dan kembali mengatupkan bibirnya saat mendengar aku melanjutkan bicara, " Jangan tanya bagaimana caranya Nara. selalu ada keuntungan yang walaupun aku benci untuk melakukannya, saat menjadi Hanggaatmadja."
" Aku tak melakukan apa-apa. Hanya menugaskan beberapa orang untuk mengawasi."
dapat kulihat ekspresi Nara berubah tenang saat mendengar kalimat terakhirku.
Bandara.
sesaat setelah mengambil koper.
" Tian!" seseorang berteriak memanggilku. kubalikkan tubuhnya, dan kulihat seorang gadis mendekat.
" Hai.. mana...." suaranya terhenti saat melihat satu sosok berjalan mendekat ke sebelahku.
" Hai.." sapa Nara pada gadis itu.
" Nara!" gadis itu sedikit berteriak dan langsung memeluk Nara yang dibalas dengan canggung oleh Nara.
" Mobilnya?" aku bertanya pada gadis itu.
" Oh.. iyah.. ayo ikuti aku." gadis itu lalu berjalan mendahului kami.
di tengah jalan, ia berhenti dan berbalik, " Tak apa kan jika kita mampir ke tempatku dulu? Ayah dan Ibu sudah tak sabar untuk bertemu denganmu."
sebuah anggukan dan senyum dariku.
hanya sebuah anggukan dari Nara.
sesampainya di tempat parkir, gadis itu menghampiri sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam dan membuka bagasinya.
" Akhirnyaaa.... sampai." gadis itu tersenyum pada Nara yang duduk di bangku penumpang, lalu membuka pintu. gerakan yang kemudian aku dan Nara ikuti.
sebelumya aku belum pernah ke tempat ini.
selama ini aku dan gadis itu selalu bertemu di cafe, restaurant, atau di apartemenku.
apartemen itu besar. bersih. dengan penataan ruang memakai gaya klasik.
" Nak Tian. apa kabar?" seorang wanita paruh baya yang masih terlihat segar berjalan ke arahku dan mencium kedua pipiku.
" Baik, tante. Tante sendiri gimana?"
" How do I look??"
" Hmm.. same as 25 years old?" kataku menggodanya. dan ia tertawa.
" Nara!!!"
oh baiklah.. kenapa orang-orang harus selalu histeris setiap melihat Nara?
tidak. aku tak iri.
hanya sajaaaaa....
well, mungkin aku sedikit iri.
" Tante.." sapa Nara sopan.
" Gimana kabar mama? papa? kamu ko kurusan?" dan berbondong pertanyaan menghinggapi Nara.
aku hanya mengedikkan bahu ke arahnya, berjalan ke mini bar.. dan meneguk secangkir teh yang sudah tersedia.
membiarkan Nara menjawab semua pertanyaannya sendiri.
tempatku.
5 jam kemudian.
Nara menghempaskan tubuhnya di kamar Tharesh.
kamar yang seharusnya ditempati Tharesh bila ia ada disini.
" Aku ke kamarku dulu. kalau kamu lapar, ada makanan di kulkas. ada beberapa hal yang harus kucek segera."
Nara duduk tegak mendengar kata terakhirku.
" aku pergi hanya sebentar. sebelum larut aku sudah akan kembali."
" baiklah.." akhirnya ia menjawab juga.
" kirim e-mail ke Tharesh. beritahu dia kita sudah sampai."
hanya anggukan yang menjadi bukti nyata bahwa Nara masih merespon.
setelah ganti baju, aku keluar kamar dan mendapati Nara sedang di depan laptop.
mengirim e-mail pada Tharesh mungkin.
" Aku pergi dulu."
" hati-hati." hanya itu jawabannya.
mukanya sangat serius menghadap layar laptop.
aku tak berani mengganggunya.
sekarang dia perlu waktu untuk berpikir.
satu kesalahan kecil adalah hal terakhir yang dibutuhkan saat ini.
kututup pintu apartemen.
merapatkan jaket dan berjalan menuju lift.
saatnya menyelesaikan beberapa hal.
setelah 10 jam terbang.
" Nar.." panggilku.
" hmm.." Nara menjawab seadanya.
" Lu..." aku mulai ragu untuk melanjutkan kata-kataku.
" Apa?" tanyanya tak sabar. aku tahu dia sebenernya mengantuk.
" Lu suka sama ade gue?"
" Hah?!!" Nara terperanjat. sebuah jawaban mutlak bagiku. namun kujaga ekspresiku tetap dingin.
"Iya.. gue tanya. Lu suka sama Tharesh?"
" Suka? ya iyalah..makanya gue juga mau ngejagain dia selama lu pergi."
" That's not what I see, boy."
" So.. tell me what you see, then."
" Untuk apa? aku akan tahu jawabannya sesampainya kita disana nanti."
Nara langsung membuang muka dan memandang ke luar jendela, pura-pura tertarik dengan pemandangan yang ada di luar sana.
padahal aku tahu pandangannya kosong.
tapi aku bisa apa?
itu hidupnya.
" Kalo emang suka gapapa ko.. aku rela kalo Tharesh akhirnya sama kamu. daripada sama si tikus itu. gelandangan!" lalu aku menarik selimut dan mencoba tidur -walaupun masih sore, tapi aku merasa letih-.
Nara diam. sempat kulirik dan terlihat mukanya bersemu.
haha.. dasar bocah.
aku pun pergi tidur.
pesawat.
20 menit sebelum landing.
" Baiklah. kita sampai sebentar lagi. ahh... banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan sesampainya disana."
" aku juga."
spontan aku menoleh pada Nara dan tersenyum kecut, " jadi untukmu ini adalah pekerjaan?"
" Bukan. tapi tetap saja harus diselesaikan."
" Aku masih tak mengerti."
Nara salah tingkah.
maaf, Nara. tapi tampaknya kali ini aku memang mengintimidasimu.
" Tak perlu kau mengerti. satu-satunya yang harus kau lakukan adalah duduk, diam, dan menonton." tawaku pecah mendengar jawaban Nara.
" sampai kapan?"
" sampai kapan? apanya?" wajah tololnya memandangiku.
ohh.. okee.. mungkin hanya aku yang tahu bahwa dibalik semua sikap dinginnya, Nara adalah orang yang tolol dan konyol.
" sampai kapan kaya gini? yang perlu dilakukan hanya memilih. begitu saja kau tak bisa."
" Justru karena harus memilih yang membuatku sulit memutuskan."
tedengar pengumuman untuk memakai sabuk pengaman.
" apa pun itu. jangan kecewakan dirimu sendiri, okee? Tharesh juga sedang berjuang di Indonesia." kataku sambil mengenakan sabuk pengaman.
" Apa maksud..."
belum selesai Nara bicara, aku sudah menjawab, " Aku tahu kemarin ia bertemu dengan si tikus gelandangan itu."
muka Nara bertanya, baru membuka mulut, dan kembali mengatupkan bibirnya saat mendengar aku melanjutkan bicara, " Jangan tanya bagaimana caranya Nara. selalu ada keuntungan yang walaupun aku benci untuk melakukannya, saat menjadi Hanggaatmadja."
" Aku tak melakukan apa-apa. Hanya menugaskan beberapa orang untuk mengawasi."
dapat kulihat ekspresi Nara berubah tenang saat mendengar kalimat terakhirku.
Bandara.
sesaat setelah mengambil koper.
" Tian!" seseorang berteriak memanggilku. kubalikkan tubuhnya, dan kulihat seorang gadis mendekat.
" Hai.. mana...." suaranya terhenti saat melihat satu sosok berjalan mendekat ke sebelahku.
" Hai.." sapa Nara pada gadis itu.
" Nara!" gadis itu sedikit berteriak dan langsung memeluk Nara yang dibalas dengan canggung oleh Nara.
" Mobilnya?" aku bertanya pada gadis itu.
" Oh.. iyah.. ayo ikuti aku." gadis itu lalu berjalan mendahului kami.
di tengah jalan, ia berhenti dan berbalik, " Tak apa kan jika kita mampir ke tempatku dulu? Ayah dan Ibu sudah tak sabar untuk bertemu denganmu."
sebuah anggukan dan senyum dariku.
hanya sebuah anggukan dari Nara.
sesampainya di tempat parkir, gadis itu menghampiri sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam dan membuka bagasinya.
" Akhirnyaaa.... sampai." gadis itu tersenyum pada Nara yang duduk di bangku penumpang, lalu membuka pintu. gerakan yang kemudian aku dan Nara ikuti.
sebelumya aku belum pernah ke tempat ini.
selama ini aku dan gadis itu selalu bertemu di cafe, restaurant, atau di apartemenku.
apartemen itu besar. bersih. dengan penataan ruang memakai gaya klasik.
" Nak Tian. apa kabar?" seorang wanita paruh baya yang masih terlihat segar berjalan ke arahku dan mencium kedua pipiku.
" Baik, tante. Tante sendiri gimana?"
" How do I look??"
" Hmm.. same as 25 years old?" kataku menggodanya. dan ia tertawa.
" Nara!!!"
oh baiklah.. kenapa orang-orang harus selalu histeris setiap melihat Nara?
tidak. aku tak iri.
hanya sajaaaaa....
well, mungkin aku sedikit iri.
" Tante.." sapa Nara sopan.
" Gimana kabar mama? papa? kamu ko kurusan?" dan berbondong pertanyaan menghinggapi Nara.
aku hanya mengedikkan bahu ke arahnya, berjalan ke mini bar.. dan meneguk secangkir teh yang sudah tersedia.
membiarkan Nara menjawab semua pertanyaannya sendiri.
tempatku.
5 jam kemudian.
Nara menghempaskan tubuhnya di kamar Tharesh.
kamar yang seharusnya ditempati Tharesh bila ia ada disini.
" Aku ke kamarku dulu. kalau kamu lapar, ada makanan di kulkas. ada beberapa hal yang harus kucek segera."
Nara duduk tegak mendengar kata terakhirku.
" aku pergi hanya sebentar. sebelum larut aku sudah akan kembali."
" baiklah.." akhirnya ia menjawab juga.
" kirim e-mail ke Tharesh. beritahu dia kita sudah sampai."
hanya anggukan yang menjadi bukti nyata bahwa Nara masih merespon.
setelah ganti baju, aku keluar kamar dan mendapati Nara sedang di depan laptop.
mengirim e-mail pada Tharesh mungkin.
" Aku pergi dulu."
" hati-hati." hanya itu jawabannya.
mukanya sangat serius menghadap layar laptop.
aku tak berani mengganggunya.
sekarang dia perlu waktu untuk berpikir.
satu kesalahan kecil adalah hal terakhir yang dibutuhkan saat ini.
kututup pintu apartemen.
merapatkan jaket dan berjalan menuju lift.
saatnya menyelesaikan beberapa hal.
our bittersweet in my breaking down
Bandara.
03. 45 a.m.
" Kita take off jam 5.15." Tian menghampiri kami di ruang tunggu. Jangan tanya bagaimana caranya aku bisa masuk sampai ke sini. pokoknya jangan.
" Okee.." Nara menjawab. aku hanya diam. kedinginan.
" Aku pergi membeli kopi dulu. caramel machiatto, Re?" tanya Tian lembut.
aku mengangguk.
" Frappucino." Nara menjawab pertanyaan yang belum sempat dilontarkan Tian.
" Baiklah. diam disini, oke? aku kembali sebentar lagi." Tian pun pergi setelah mengucapkan kata-kata itu.
jadi..hanya ada aku dan Nara sekarang.
duduk bersebelahan.
menatap langit yang mulai berubah warna.
Nara yang diam.
dan aku yang berlagak seakan tidak ada apa-apa, padahal buatku dunia sebentar lagi kiamat. hanya tinggal menunggu kepastiannya saja.
kapan?
saat Nara kembali dari Inggris.
itu pun kalau dia kembali.
kalau tidak, maka sudah dipastikan aku mati.
" Sekarang katakan padaku." Nara membuka pembicaraan.
aku mencuri pandang ke arahnya dan mendapatinya tetap memandang jendela.
" Tentang?"
Nara menggeser posisi tubuhnya, menghadap ke arahku.
menantiku untuk menghadap ke arahnya juga.
aku diam.
dan yahh... aku kalah..
aku pun menghadapkan wajahku padanya.
" Mengapa kau berbohong pada kakakmu?" Pandangannya tepat lurus ke dalam mataku.
sedikit gerakan, maka ia tahu aku berbohong.
menyerah. aku pun mengatakan yang sebenarnya.
" Aku masih tak ingin melihatnya dilukai oleh Tian."
" Ap.."
" Tian akan mencarinya jika aku beri tahu yang sebenarnya. dan kamu tahu apa yang selanjutnya akan terjadi." aku memotong kalimat Nara.
Nara diam, menatapku, dan suasana terasa sangat hening.
" Yah.. terakhir kali bertemu. bukan hal baik yang terjadi." Nara membuang muka, kembali menatap langit melalui jendela besar di hadapan kami.
" Seseorang hampir terbunuh saat itu..."
" Tapi dia pantas menerimanya." Nara melanjutkan kalimatku, " dia juga telah membunuh seseorang yang penting bagiku saat itu.."
baru aku mau bertanya, dia sudah meneruskan kalimatnya kembali.
" kamu."
aku diam. kaget. tapi tak ada yang bisa kulakukan.
tetap saja dia akan pergi sekarang. sebentar lagi.
" Aku kan masih hidup sekarang." kataku merajuk -mencoba menyembunyikan perasaanku-.
" Tapi tidak waktu itu." Nara berhenti berkata. sebuah jeda. dan aku tahu pembicaraan ini selesai.
" Yours," Tian tiba-tiba datang dan menyerahkan gelas kopi pada Nara, '' yours, little.." Tian menyerahkannya sambil tersenyum.
" Jadi... sehabis ini kamu akan pulang ke rumah Gio, dan pulang ke bandung siangnya. betul?" Tian mengecek kembali rencana sebelumnya.
selalu begitu. Tian. orang yang sangat terorganisir.
" Ya.." jawabku singkat.
" Gio...??"
" Anak dari kakak ayahku, Nara."
" Oh iyah..benar."
04.45 a.m
"hoaaammmm.. aku mengantuk." kataku pada Tian dan Nara.
" Jangan tidur. cuci muka. kamu akan menyetir habis ini." Tian memerintahku. atau memang nadanya yang selalu seperti itu?
" aku temani."
jadi disinilah kami. berdua. lagi.
setelah mencuci muka, kudapati Nara terlihat sedikit limbung di tempat dia berdiri menungguku mencuci muka.
" Nara." kupanggil namanya sedikit keras.
Nara tersentak. dan kutahu ada yang tidak beres disana.
aku berlari kecil menghampirinya.
berdiri di hadapannya dan memperhatikan wajahnya.
pucat.
" Nara. kau yakin tak apa?"
" Ya..aku baik baik saja." nadanya lemah. aku tahu terjadi sesuatu.
" Tidak. kau tidak baik-baik saja. Nara.." panggilku cepat dan sedikit keras saat kulihat matanya terpejam dan badannya limbung.
suara latar tentang sebuah pengumuman sudah tak terdengar saat aku sibuk menahan pinggang Nara yang terlihat semakin lemah dalam hal kesadaran.
" Nara. kita sudah dipanggil. sudah waktunya perrrr...." suara Tian menghilang saat menyadari posisi tubuhku yang menahan berat pinggang Nara.
Tian berlari kecil ke arah kami dan menggantikan posisiku menahan Nara.
Nara seakan tersadar lalu cepat-cepar berdiri tegak.
" Aku tak apa, Re. maaf, tapi sudah waktunya masuk pesawat."
air mataku menggenang. dan cepat-cepat kuhapus dengan gerakan mengucek mata sebelum mereka menyadarinya.
" Re..." Tian menghampiri dan memegang kepalaku.
" Oh sudahlah.. aku akan baik-baik saja, Tian.." benci aku dengan momen sentimentil yang terjadi setiap kali melepas Tian pergi.
Tian tersenyum dan mengacak-ngacak rambutku, " Hanya saja. cepat kembali kemari dan jenguk aku." kataku.
" Merajuk." Tian tertawa dan mengecup keningku.
aku tertawa kecil.
Nara berjalan mendekat. dengan gerakan cepat memelukku dan berkata lirih, " Aku pergi sebentar. baik-baik ya disini. jangan males makan."
" Ehm! Nara. just in case you forget, that's my little.." Tian kembali protektif.
aku dan Nara tertawa. Nara menghadapku, lalu mengacak-ngacak rambutku.
mereka berdua bergerak menjauh, berjalan mundur, dan melambaikan tangannya padaku -yang langsung kubalas tentu saja-.
05.20 a.m.
kulihat pesawat yang sudah mengudara dari dalam mobil.
mengambil selembar tissue. mengelap air mata yang belum sempat jatuh. lalu mulai menyalakan mesin mobil.
berharap Nara akan kembali.
tanpanya.
03. 45 a.m.
" Kita take off jam 5.15." Tian menghampiri kami di ruang tunggu. Jangan tanya bagaimana caranya aku bisa masuk sampai ke sini. pokoknya jangan.
" Okee.." Nara menjawab. aku hanya diam. kedinginan.
" Aku pergi membeli kopi dulu. caramel machiatto, Re?" tanya Tian lembut.
aku mengangguk.
" Frappucino." Nara menjawab pertanyaan yang belum sempat dilontarkan Tian.
" Baiklah. diam disini, oke? aku kembali sebentar lagi." Tian pun pergi setelah mengucapkan kata-kata itu.
jadi..hanya ada aku dan Nara sekarang.
duduk bersebelahan.
menatap langit yang mulai berubah warna.
Nara yang diam.
dan aku yang berlagak seakan tidak ada apa-apa, padahal buatku dunia sebentar lagi kiamat. hanya tinggal menunggu kepastiannya saja.
kapan?
saat Nara kembali dari Inggris.
itu pun kalau dia kembali.
kalau tidak, maka sudah dipastikan aku mati.
" Sekarang katakan padaku." Nara membuka pembicaraan.
aku mencuri pandang ke arahnya dan mendapatinya tetap memandang jendela.
" Tentang?"
Nara menggeser posisi tubuhnya, menghadap ke arahku.
menantiku untuk menghadap ke arahnya juga.
aku diam.
dan yahh... aku kalah..
aku pun menghadapkan wajahku padanya.
" Mengapa kau berbohong pada kakakmu?" Pandangannya tepat lurus ke dalam mataku.
sedikit gerakan, maka ia tahu aku berbohong.
menyerah. aku pun mengatakan yang sebenarnya.
" Aku masih tak ingin melihatnya dilukai oleh Tian."
" Ap.."
" Tian akan mencarinya jika aku beri tahu yang sebenarnya. dan kamu tahu apa yang selanjutnya akan terjadi." aku memotong kalimat Nara.
Nara diam, menatapku, dan suasana terasa sangat hening.
" Yah.. terakhir kali bertemu. bukan hal baik yang terjadi." Nara membuang muka, kembali menatap langit melalui jendela besar di hadapan kami.
" Seseorang hampir terbunuh saat itu..."
" Tapi dia pantas menerimanya." Nara melanjutkan kalimatku, " dia juga telah membunuh seseorang yang penting bagiku saat itu.."
baru aku mau bertanya, dia sudah meneruskan kalimatnya kembali.
" kamu."
aku diam. kaget. tapi tak ada yang bisa kulakukan.
tetap saja dia akan pergi sekarang. sebentar lagi.
" Aku kan masih hidup sekarang." kataku merajuk -mencoba menyembunyikan perasaanku-.
" Tapi tidak waktu itu." Nara berhenti berkata. sebuah jeda. dan aku tahu pembicaraan ini selesai.
" Yours," Tian tiba-tiba datang dan menyerahkan gelas kopi pada Nara, '' yours, little.." Tian menyerahkannya sambil tersenyum.
" Jadi... sehabis ini kamu akan pulang ke rumah Gio, dan pulang ke bandung siangnya. betul?" Tian mengecek kembali rencana sebelumnya.
selalu begitu. Tian. orang yang sangat terorganisir.
" Ya.." jawabku singkat.
" Gio...??"
" Anak dari kakak ayahku, Nara."
" Oh iyah..benar."
04.45 a.m
"hoaaammmm.. aku mengantuk." kataku pada Tian dan Nara.
" Jangan tidur. cuci muka. kamu akan menyetir habis ini." Tian memerintahku. atau memang nadanya yang selalu seperti itu?
" aku temani."
jadi disinilah kami. berdua. lagi.
setelah mencuci muka, kudapati Nara terlihat sedikit limbung di tempat dia berdiri menungguku mencuci muka.
" Nara." kupanggil namanya sedikit keras.
Nara tersentak. dan kutahu ada yang tidak beres disana.
aku berlari kecil menghampirinya.
berdiri di hadapannya dan memperhatikan wajahnya.
pucat.
" Nara. kau yakin tak apa?"
" Ya..aku baik baik saja." nadanya lemah. aku tahu terjadi sesuatu.
" Tidak. kau tidak baik-baik saja. Nara.." panggilku cepat dan sedikit keras saat kulihat matanya terpejam dan badannya limbung.
suara latar tentang sebuah pengumuman sudah tak terdengar saat aku sibuk menahan pinggang Nara yang terlihat semakin lemah dalam hal kesadaran.
" Nara. kita sudah dipanggil. sudah waktunya perrrr...." suara Tian menghilang saat menyadari posisi tubuhku yang menahan berat pinggang Nara.
Tian berlari kecil ke arah kami dan menggantikan posisiku menahan Nara.
Nara seakan tersadar lalu cepat-cepar berdiri tegak.
" Aku tak apa, Re. maaf, tapi sudah waktunya masuk pesawat."
air mataku menggenang. dan cepat-cepat kuhapus dengan gerakan mengucek mata sebelum mereka menyadarinya.
" Re..." Tian menghampiri dan memegang kepalaku.
" Oh sudahlah.. aku akan baik-baik saja, Tian.." benci aku dengan momen sentimentil yang terjadi setiap kali melepas Tian pergi.
Tian tersenyum dan mengacak-ngacak rambutku, " Hanya saja. cepat kembali kemari dan jenguk aku." kataku.
" Merajuk." Tian tertawa dan mengecup keningku.
aku tertawa kecil.
Nara berjalan mendekat. dengan gerakan cepat memelukku dan berkata lirih, " Aku pergi sebentar. baik-baik ya disini. jangan males makan."
" Ehm! Nara. just in case you forget, that's my little.." Tian kembali protektif.
aku dan Nara tertawa. Nara menghadapku, lalu mengacak-ngacak rambutku.
mereka berdua bergerak menjauh, berjalan mundur, dan melambaikan tangannya padaku -yang langsung kubalas tentu saja-.
05.20 a.m.
kulihat pesawat yang sudah mengudara dari dalam mobil.
mengambil selembar tissue. mengelap air mata yang belum sempat jatuh. lalu mulai menyalakan mesin mobil.
berharap Nara akan kembali.
tanpanya.
Saturday, 26 December 2009
in a bitterness twilight
" Brengsek." Tangan Nara bergetar saking marahnya saat dia memegang cangkir tehnya, " Harusnya aku tahu."
" Sudahlah, Nara."
" Harusnya aku sudah bisa membacanya."
" Nara..." aku memanggil untuk menenangkannya.
" Dasar tak tahu malu."
" Nara! sudah cukup, okey?" nada membentak pun akhirnya keluar dari mulutku -sedikit kaget sebenarnya, maksudku, apalagi yang harus dibela dari dia?-.
setidaknya Nara berhenti. akhirnya Nara terdiam. napasnya terengah. matanya masih menatap sekitar dengan liar.
" Tharesh, maaf.." Tharesh? Nara tak pernah memanggilku dengan sebutan itu.
" Setidaknya sekarang aku tahu, bukan hanya aku yang brengsek." kataku dingin -yang mana sangat mengherankan-.
" Tharesh.." panggilnya sopan, resmi lebih tepatnya.
" Yaa?" aku menyahut, " Mengapa kau meminta maaf?" tanyaku perlahan, takut Nara akan meledak lagi.
" Karena aku gagal menjagamu..." sebuah kilatan cahaya yang terpantul di matamu, cukup menjadi pertanda bahwa kamu menahan emosi yang sangat parah, " dari dia." Nara melanjutkan lirih.
" Nara.. aku tak apa."
" Tak apa, katamu? Setelah 3 cangkir espresso dan bercangkir-cangkir caramel machiato serta kopi klasik selama seminggu ini kamu masih berani bilang tak apa?" ada jeritan tertahan disana. dan aku miris mendengarnya.
untuk pertama kalinya Nara gagal menyembunyikan emosinya.
" Ayolah.. setidaknya mataku tak bengkak. dan aku tak ingin bunuh diri."
" dengan cara makanmu yang seperti ini dan kopi yang masuk ke tubuhmu, itu sudah merupakan bunuh diri tersendiri."
" Yah... aku tak akan minum kopi lagi ko sekarang. kau kan bisa lihat sekali ini aku memesan teh."
dan memang benar. sekali ini aku memesan mint tea.
" Tapi tetap saja itu..." Nara terlihat gelisah, " Argh! kenapa kamu baru memberitahuku sekarang?"
" Entahlah.." aku menjawab jujur. aku pun tak mengerti mengapa baru sekarang aku memberitahunya.
" Seminggu, Re. dan aku ingin tahu mengapa sekarang?"
" Yah.. masih untung aku tidak menunggu tiga minggu lalu untuk menggenapkannya menjadi sebulan."
" Re..." Nara memanggilku pelan.
" Baiklah, Nara. aku mengaku. aku benci. aku sakit hati. aku lelah. aku ingin menangis. aku ingin teriak. tapi tenagaku habis."
" Aku menunggu.." nada suara Nara mulai tenang.
" Aku ingin mengaku aku kalah. aku ingin menampar wajahnya. aku ingin menampar wajah gadis itu. tapi aku bisa apa?" tak terasa air mata yang tertahan selama seminggu mulai mengalir.
" Aku.. aku..." kata-kataku mulai tersendat.
Nara pindah, mengambil alih tempat duduk di sampingku -kami sedang ada di cafe dimana hanya ada dua bangku panjang berhadapan yang dihalangi satu meja-, lalu memelukku.
" Menangis saja. aku mendengarkan. aku akan diam. aku menemanimu. tapi jangan merasa kalah. aku ada disini." Nara berbisik di telingaku.
" Aku....aku terkejut karena jauh di sudut sana, aku sudah tahu hal ini akan terjadi." tangisku pecah.
" Ssssttt.. jangan bicara. tampar aku kalau kau mau. tapi sudah habis itu. lepaskan dia. biarkan dia sadar sendiri bahwa tak akan ada yang lebih baik darimu."
kata-kata terakhir dari Nara yang kudengar sebelum tangisku benar-benar pecah.
dan terdengar suara adzan di kejauhan.
* sebuah catatan kecil pengingat masa lalu hari itu.
File. Save. Pomeriggio.
" Sudahlah, Nara."
" Harusnya aku sudah bisa membacanya."
" Nara..." aku memanggil untuk menenangkannya.
" Dasar tak tahu malu."
" Nara! sudah cukup, okey?" nada membentak pun akhirnya keluar dari mulutku -sedikit kaget sebenarnya, maksudku, apalagi yang harus dibela dari dia?-.
setidaknya Nara berhenti. akhirnya Nara terdiam. napasnya terengah. matanya masih menatap sekitar dengan liar.
" Tharesh, maaf.." Tharesh? Nara tak pernah memanggilku dengan sebutan itu.
" Setidaknya sekarang aku tahu, bukan hanya aku yang brengsek." kataku dingin -yang mana sangat mengherankan-.
" Tharesh.." panggilnya sopan, resmi lebih tepatnya.
" Yaa?" aku menyahut, " Mengapa kau meminta maaf?" tanyaku perlahan, takut Nara akan meledak lagi.
" Karena aku gagal menjagamu..." sebuah kilatan cahaya yang terpantul di matamu, cukup menjadi pertanda bahwa kamu menahan emosi yang sangat parah, " dari dia." Nara melanjutkan lirih.
" Nara.. aku tak apa."
" Tak apa, katamu? Setelah 3 cangkir espresso dan bercangkir-cangkir caramel machiato serta kopi klasik selama seminggu ini kamu masih berani bilang tak apa?" ada jeritan tertahan disana. dan aku miris mendengarnya.
untuk pertama kalinya Nara gagal menyembunyikan emosinya.
" Ayolah.. setidaknya mataku tak bengkak. dan aku tak ingin bunuh diri."
" dengan cara makanmu yang seperti ini dan kopi yang masuk ke tubuhmu, itu sudah merupakan bunuh diri tersendiri."
" Yah... aku tak akan minum kopi lagi ko sekarang. kau kan bisa lihat sekali ini aku memesan teh."
dan memang benar. sekali ini aku memesan mint tea.
" Tapi tetap saja itu..." Nara terlihat gelisah, " Argh! kenapa kamu baru memberitahuku sekarang?"
" Entahlah.." aku menjawab jujur. aku pun tak mengerti mengapa baru sekarang aku memberitahunya.
" Seminggu, Re. dan aku ingin tahu mengapa sekarang?"
" Yah.. masih untung aku tidak menunggu tiga minggu lalu untuk menggenapkannya menjadi sebulan."
" Re..." Nara memanggilku pelan.
" Baiklah, Nara. aku mengaku. aku benci. aku sakit hati. aku lelah. aku ingin menangis. aku ingin teriak. tapi tenagaku habis."
" Aku menunggu.." nada suara Nara mulai tenang.
" Aku ingin mengaku aku kalah. aku ingin menampar wajahnya. aku ingin menampar wajah gadis itu. tapi aku bisa apa?" tak terasa air mata yang tertahan selama seminggu mulai mengalir.
" Aku.. aku..." kata-kataku mulai tersendat.
Nara pindah, mengambil alih tempat duduk di sampingku -kami sedang ada di cafe dimana hanya ada dua bangku panjang berhadapan yang dihalangi satu meja-, lalu memelukku.
" Menangis saja. aku mendengarkan. aku akan diam. aku menemanimu. tapi jangan merasa kalah. aku ada disini." Nara berbisik di telingaku.
" Aku....aku terkejut karena jauh di sudut sana, aku sudah tahu hal ini akan terjadi." tangisku pecah.
" Ssssttt.. jangan bicara. tampar aku kalau kau mau. tapi sudah habis itu. lepaskan dia. biarkan dia sadar sendiri bahwa tak akan ada yang lebih baik darimu."
kata-kata terakhir dari Nara yang kudengar sebelum tangisku benar-benar pecah.
dan terdengar suara adzan di kejauhan.
* sebuah catatan kecil pengingat masa lalu hari itu.
File. Save. Pomeriggio.
Friday, 25 December 2009
a one shot espresso night
" One single shot espresso."
dan kedua lelaki itu seketika terdiam.
sekali ini aku tak bisa membaca ekspresi Nara.
tapi aku sangat mengenal ekspresi Tian.
bertanya.
berlagak cuek dan tak peduli pun, aku menutup menu dan menyerahkannya pada pramusaji.
Nara tak akan berani memarahiku kali ini.
tidak jika ada yang lebih berwenang untuk itu.
tidak jika ada Tian.
" Jadi...lusa?" tanyaku pada mereka berdua.
" Lusa." ulang Tian. Nara hanya mengangguk.
diam.
" kamu.."
" Aku sudah besar, Nara. lagipula selama ini juga aku sendirian di rumah. tenang saja.."
" What's so matter,Nara?" Tian angkat bicara.
" Ha?" tanya Nara dingin. tapi aku bisa melihat rahangnya Nara mengeras.
" Ayolah.. kamu akan ke Inggris. bertemu dengannya." okey, Tian. cukup sampai disitu.
" mengapa kamu malah terlihat gelisah?" satu pertanyaan. dan Nara langsung membuang muka.
aku pun mengalihkan pandangan pada cangkir espresso yang sudah terhidang di meja.
masih terasa sulit ternyata untukku.
tapi mengapa?
ahh..
" Entahlah.. hanya berat saja harus meninggalkan adikmu sendiri di Indonesia. maksudku, selama ini, aku yang mendapat tugas menjaganya saat kau tak ada. sekarang, kita malah akan pergi meninggalkannya."
tugas. ya, tugas.
aku terus mengingatkan diriku bahwa ini hanya tugas Nara.
yang diberikan oleh kakakku, Tian.
" Nara, dia adikku." Tian mengubah nada bicara. tegas.
" Bagian dari Hanggaatmadja." lanjut Tian.
" Aku tahu. tapi tetap saja dia sendirian disini."
ahh... dua lelaki akan memulai perkelahian jika tak segera kuhentikan.
" Sudahlah. Hanya sebentar, kan? aku pun akan disibukkan oleh tugas-tugas akhir semester. tenang saja, okey?"
" Ya..benar juga." Nara mulai meregangkan rahangnya.
Tian pun duduk bersandar dan mengambil minumannya.
ahh.. untunglah..
" Jadi.. kenapa tiba-tiba adikku memesan espresso?" Tian langsung mengalihkan pembicaraan padaku.
" karenaaaa... dingin."
yah.. baiklah. jawaban terbodoh abad ini. Tharesha... tak bisakah kau membuat alasan yang sedikit lebih masuk akal. seperti........ "aku senang dengan cangkir kecilnya?" ya.. baiklah. itu lebih bodoh.
" Kamu. hanya. memesan. espresso. saat. ada. sesuatu. yang. sangat. tidak. beres." penekanan di semua kata. Perintah tegas untuk menjawab dengan jujur.
" dia kembali." aku terkejut. Tian terkesiap. Nara yang menjawab.
" Dia? How dare .."
" sudah, Tian. dia tidak menghubungiku. aku tahu dari..." potongku.
" siapa?" Tian membalas memotong kalimatku.
" Kirey."
" Oh.." Tian lalu diam.
" mau makan?" Nara bertanya, mencoba mencairkan suasana.
" Tidak." jawabanku spontanku langsung mendapat plototan dari dua lelaki tampan. Nara dan Tian.
Tian melambaikan tangan, memanggil pramusaji.
"Smoked chicken and cheese sandwich, " Tian memulai pesanan.
" Smoked beef sandwich." Nara mengucapkan pesanannya.
" dan lasagna." Tian menutup pesanan kami.
lasagna. pasti untukku.
" Cemberut aja." Tian mulai menggodaku.
" Aku kenyang." jawabku manja.
" Kalo kamu ga makan, aku ga pergi." Nara membalas dengan dingin.
" mengancam?" tantangku.
" Tidak. membuat keputusan secara sepihak."
" Dasar dingin." kata Tian, lalu tertawa lepas. Tak berapa lama Nara mengikutinya.
dan aku merengut sendiri. menyadari mereka menggodaku.
pesanan kami datang.
dan tahu apa yang terjadi?
tidak ada yang menyentuh makanan.
mereka berdua memandangiku yang sedang memandangi makanan pesanan Tian untukku.
" bahkan lasagna pun kamu tak mau." Tian mengangkat sebelah alisnya pertanda heran.
" baiklah. aku tak jadi pergi. maaf, Tian. tapi tampaknya kau akan duduk di pesawat sendiri."
" HA?" Tian mengalihkan pandangan dariku pada Nara.
" HA??" aku berteriak. ups..maaf para pengunjung yang lain, sudah membuat kalian kaget.
" Ada apa?" tanyanya. dingin. kurang ajar.
" Masih bertanya ada apa??" suara Tian meninggi.
aku langsung mengambil garpu dan mulai menyuap lasagna ke dalam mulutku.
Tian yang terkejut melihat pergerakanku mulai tersenyum ke arah Nara -yang membalas tatapan Tian dengan anggukan kecil, somehow, mereka tampak seperti pasangan sesama jenis-.
" akhirnya ada juga asupan untuk tubuhmu hari ini."
" Apa?" Nara terlihat terkejut.
wow untuk ekspresinya yang didominasi dengan tatapan dingin.
" Rere ga makan dari pagi, Nar. gatau kenapa."
" dan sekarang sudah malam." Nara memberikan pandangan intimidasi padaku.
aku hanya mengangguk kecil.
" Ahh..kamuu.." Nara mengacak-ngacak rambutku. hal yang paling kusuka walaupun itu berarti merusak rambut yang sudah kutata rapi setiap akan bertemu denganmu.
" yang penting aku uda makan, kan??"
" hahaa..dasar bocah." Nara tertawa. matanya hilang sesaat. sebuah gambaran wajah yang sempurna untukku.
malam itu pun kami berbincang sebelum aku melepas kepergian mereka lusa.
yang entah akan berlangsung selama tiga minggu.
atau mungkin selamanya pada salah satu pihak.
dan kedua lelaki itu seketika terdiam.
sekali ini aku tak bisa membaca ekspresi Nara.
tapi aku sangat mengenal ekspresi Tian.
bertanya.
berlagak cuek dan tak peduli pun, aku menutup menu dan menyerahkannya pada pramusaji.
Nara tak akan berani memarahiku kali ini.
tidak jika ada yang lebih berwenang untuk itu.
tidak jika ada Tian.
" Jadi...lusa?" tanyaku pada mereka berdua.
" Lusa." ulang Tian. Nara hanya mengangguk.
diam.
" kamu.."
" Aku sudah besar, Nara. lagipula selama ini juga aku sendirian di rumah. tenang saja.."
" What's so matter,Nara?" Tian angkat bicara.
" Ha?" tanya Nara dingin. tapi aku bisa melihat rahangnya Nara mengeras.
" Ayolah.. kamu akan ke Inggris. bertemu dengannya." okey, Tian. cukup sampai disitu.
" mengapa kamu malah terlihat gelisah?" satu pertanyaan. dan Nara langsung membuang muka.
aku pun mengalihkan pandangan pada cangkir espresso yang sudah terhidang di meja.
masih terasa sulit ternyata untukku.
tapi mengapa?
ahh..
" Entahlah.. hanya berat saja harus meninggalkan adikmu sendiri di Indonesia. maksudku, selama ini, aku yang mendapat tugas menjaganya saat kau tak ada. sekarang, kita malah akan pergi meninggalkannya."
tugas. ya, tugas.
aku terus mengingatkan diriku bahwa ini hanya tugas Nara.
yang diberikan oleh kakakku, Tian.
" Nara, dia adikku." Tian mengubah nada bicara. tegas.
" Bagian dari Hanggaatmadja." lanjut Tian.
" Aku tahu. tapi tetap saja dia sendirian disini."
ahh... dua lelaki akan memulai perkelahian jika tak segera kuhentikan.
" Sudahlah. Hanya sebentar, kan? aku pun akan disibukkan oleh tugas-tugas akhir semester. tenang saja, okey?"
" Ya..benar juga." Nara mulai meregangkan rahangnya.
Tian pun duduk bersandar dan mengambil minumannya.
ahh.. untunglah..
" Jadi.. kenapa tiba-tiba adikku memesan espresso?" Tian langsung mengalihkan pembicaraan padaku.
" karenaaaa... dingin."
yah.. baiklah. jawaban terbodoh abad ini. Tharesha... tak bisakah kau membuat alasan yang sedikit lebih masuk akal. seperti........ "aku senang dengan cangkir kecilnya?" ya.. baiklah. itu lebih bodoh.
" Kamu. hanya. memesan. espresso. saat. ada. sesuatu. yang. sangat. tidak. beres." penekanan di semua kata. Perintah tegas untuk menjawab dengan jujur.
" dia kembali." aku terkejut. Tian terkesiap. Nara yang menjawab.
" Dia? How dare .."
" sudah, Tian. dia tidak menghubungiku. aku tahu dari..." potongku.
" siapa?" Tian membalas memotong kalimatku.
" Kirey."
" Oh.." Tian lalu diam.
" mau makan?" Nara bertanya, mencoba mencairkan suasana.
" Tidak." jawabanku spontanku langsung mendapat plototan dari dua lelaki tampan. Nara dan Tian.
Tian melambaikan tangan, memanggil pramusaji.
"Smoked chicken and cheese sandwich, " Tian memulai pesanan.
" Smoked beef sandwich." Nara mengucapkan pesanannya.
" dan lasagna." Tian menutup pesanan kami.
lasagna. pasti untukku.
" Cemberut aja." Tian mulai menggodaku.
" Aku kenyang." jawabku manja.
" Kalo kamu ga makan, aku ga pergi." Nara membalas dengan dingin.
" mengancam?" tantangku.
" Tidak. membuat keputusan secara sepihak."
" Dasar dingin." kata Tian, lalu tertawa lepas. Tak berapa lama Nara mengikutinya.
dan aku merengut sendiri. menyadari mereka menggodaku.
pesanan kami datang.
dan tahu apa yang terjadi?
tidak ada yang menyentuh makanan.
mereka berdua memandangiku yang sedang memandangi makanan pesanan Tian untukku.
" bahkan lasagna pun kamu tak mau." Tian mengangkat sebelah alisnya pertanda heran.
" baiklah. aku tak jadi pergi. maaf, Tian. tapi tampaknya kau akan duduk di pesawat sendiri."
" HA?" Tian mengalihkan pandangan dariku pada Nara.
" HA??" aku berteriak. ups..maaf para pengunjung yang lain, sudah membuat kalian kaget.
" Ada apa?" tanyanya. dingin. kurang ajar.
" Masih bertanya ada apa??" suara Tian meninggi.
aku langsung mengambil garpu dan mulai menyuap lasagna ke dalam mulutku.
Tian yang terkejut melihat pergerakanku mulai tersenyum ke arah Nara -yang membalas tatapan Tian dengan anggukan kecil, somehow, mereka tampak seperti pasangan sesama jenis-.
" akhirnya ada juga asupan untuk tubuhmu hari ini."
" Apa?" Nara terlihat terkejut.
wow untuk ekspresinya yang didominasi dengan tatapan dingin.
" Rere ga makan dari pagi, Nar. gatau kenapa."
" dan sekarang sudah malam." Nara memberikan pandangan intimidasi padaku.
aku hanya mengangguk kecil.
" Ahh..kamuu.." Nara mengacak-ngacak rambutku. hal yang paling kusuka walaupun itu berarti merusak rambut yang sudah kutata rapi setiap akan bertemu denganmu.
" yang penting aku uda makan, kan??"
" hahaa..dasar bocah." Nara tertawa. matanya hilang sesaat. sebuah gambaran wajah yang sempurna untukku.
malam itu pun kami berbincang sebelum aku melepas kepergian mereka lusa.
yang entah akan berlangsung selama tiga minggu.
atau mungkin selamanya pada salah satu pihak.
it's mine, okee??
I've practiced this for hours, gone round and round
And now I think that I've got it all down
And as I say it louder I love how it sounds
Cause I'm not taking the easy way out
Not wrapping this in ribbons
Shouldn't have to give a reason why
It's no surprise I won't be here tomorrow
I can't believe that I stayed till today
Yeah you and I will be a tough act to follow
But I know in time we'll find this was no surprise
It came out like a river once I let it out
When I thought that I wouldn't know how
Held onto it forever just pushing it down
Felt so good to let go of it now
Not wrapping this in ribbons
Shouldn't have to give a reason why
It's no surprise I won't be here tomorrow
I can't believe that I stayed till today
There's nothing here in this heart left to borrow
There's nothing here in this soul left to say
Don't be surprised when we hate this tomorrow
God know we tried to find an easier way
Yeah you and I will be a tough act to follow
But I know in time we'll find this was no surprise
Our favorite place we used to go
The warm embrace that no one knows
The loving look that's left your eyes
That's why this comes as no, as no surprise
If I could see the future and how this plays out
I bet it's better than where we are now
But after going through this, it's easier to see the reason why
It's no surprise I won't be here tomorrow
I can't believe that I stayed till today
Yeah you and I will be a tough act to follow
But I know in time we'll find this was no surprise
The kiss goodnight, it comes with me
Both wrong and right, our memories
The whispering before we sleep, just one more thing that you can't keep
Our favorite place we used to go
The warm embrace that no one knows
The loving look that's left your eyes
But I know in time we'll find this was no surprise
And now I think that I've got it all down
And as I say it louder I love how it sounds
Cause I'm not taking the easy way out
Not wrapping this in ribbons
Shouldn't have to give a reason why
It's no surprise I won't be here tomorrow
I can't believe that I stayed till today
Yeah you and I will be a tough act to follow
But I know in time we'll find this was no surprise
It came out like a river once I let it out
When I thought that I wouldn't know how
Held onto it forever just pushing it down
Felt so good to let go of it now
Not wrapping this in ribbons
Shouldn't have to give a reason why
It's no surprise I won't be here tomorrow
I can't believe that I stayed till today
There's nothing here in this heart left to borrow
There's nothing here in this soul left to say
Don't be surprised when we hate this tomorrow
God know we tried to find an easier way
Yeah you and I will be a tough act to follow
But I know in time we'll find this was no surprise
Our favorite place we used to go
The warm embrace that no one knows
The loving look that's left your eyes
That's why this comes as no, as no surprise
If I could see the future and how this plays out
I bet it's better than where we are now
But after going through this, it's easier to see the reason why
It's no surprise I won't be here tomorrow
I can't believe that I stayed till today
Yeah you and I will be a tough act to follow
But I know in time we'll find this was no surprise
The kiss goodnight, it comes with me
Both wrong and right, our memories
The whispering before we sleep, just one more thing that you can't keep
Our favorite place we used to go
The warm embrace that no one knows
The loving look that's left your eyes
But I know in time we'll find this was no surprise
chris daughtry - no surprise
Thursday, 24 December 2009
once in a whippy rain
sambil terengah-engah dan basah kuyup, aku membuka pintu kedai.
mendapati Nara adalah satu-satunya pengunjung yang ada di kedai itu.
matanya langsung menuju ke arah pintu saat terdengar bell pintu kedai berbunyi.
bukannya menanti di meja, ia malah mendekatiku, dan menyodorkan sweaternya.
"Ganti bajumu dengan sweater ini. baru kau boleh duduk."
aku diam, mengatur napas, lalu mengambil sweater tersebut dan lari ke kamar mandi.
ahh.. terima kasih hujan. membantuku menyamarkan basahnya mata yang tak bisa menghentikan air mengalir dengan membanjur seluruh tubuhku. membantu dalam mendinginkan kepala pula.
mengganti baju dengan sweater hitam kesukaan Nara adalah hal yang sangat menyenangkan.
karena parfumnya selalu berhasil membuatku tenang.
seselesainya aku berganti baju dan membasuh muka, aku kembali ke dalam kedai dan duduk di seberang Nara. sudah tersedia hot caramel machiatto di meja. dan satu chamomile tea.
" Pakai ini. aku benci melihatmu menangis."
okeee... jadi dia tahu.
lagi-lagi dia tau.
dalam diam aku mengambil saputangan darinya dan mengelap mukaku.
" Kamu terlambat."
" Aku tahu. Maaf." kataku.
" Dan kamu datang sambil menangis."
aku menunduk.
" Dia menghubungimu lagi kan?"
aku mengambil cangkir dan menghirup aromanya. membuatku sedikit lebih tenang.
" Iya." jawabku setelah menyesap kopi.
" Kapan kau akan bertemu?"
" Bertemu? Dia hanya bertanya kabarku."
" Tidak mengajak bertemu?"
" Tidak."
lalu diam.
akhir-akhir ini terlalu banyak jeda diam yang tercipta.
walaupun aku menikmati, tapi tetap ada yang janggal.
" Sekarang giliranku bertanya."
Nara menyandarkan punggungnya lalu mengangguk perlahan.
yang mengagetkan bukan gaya klan-nya yang mendadak dia tunjukkan.
tetapi ekspresinya. tegang. dan ada ketakutan yang terlihat nyata dicoba disembunyikan oleh matanya.
" Ada apa, Nara?"
dan ekspresi itu semakin jelas terlihat.
Nara terdiam. mengambil cangkir tehnya dan -kulihat dengan sangat jelas- tangannya gemetar.
Nara ketakutan. dan letih.
aku diam dan menunggu Nara berkata.
"Hmm..." sebuah tarikan napas, kulihat setitik air mata di pelupuknya, " Aku harus pergi.."
" Apaa??" tanyaku tak mengerti. suaranya terlalu lirih.
" Aku mau pamit. Harus ada yang diselesaikan di Inggris. mungkin sekitar 3 minggu. aku tak tahu siapa yang akan menjagamu."
sekalilagi duniaku jungkir balik.
terlalu lama bersama Nara membuatku melupakan kehadiran orang yang sangat dipuja.
oleh Nara. bukan olehku.
" Kamu akan berangkat bersama Tian." sebuah pernyataan keluar dari mulutku.
dia mengangguk.
" lalu mengapa kamu terlihat sedih? ayolah...aku kangen Inggris. harusnya kamu senang pergi ke sana."
" Harusnya.. kalau saja kamu juga ikut."
terkejut. terdiam. dan hanya bisa menatapnya.
" Nara. Inggris. kamu ke Inggris untuk menemuinya. mengapa aku yang harus ikut?"
" Agar aku tahu kamu baik-baik saja." aku ingin tertawa untuk membuatnya tenang. tapi yang keluar malah tawa yang terdengar menggetirkan.
" Aku baik-baik saja. tenanglah. aku masih punya banyak teman."
Mata Nara sendu. entah untuk apa.
aku pun sakit. mengapa harus terasa?
mengapa harus Nara??
" sudah menyiapkan semuanya??"
" sudah disiapkan." Nara memberi penekanan pada kata di-.
dan sadarlah aku apa maksudnya.
Nara bangkit. meletakkan selembar uang merah di meja. menyodorkan tangannya ke arahku.
" Ayo, kuantar kamu pulang. Aku pikir tadi kamu diantar oleh Tian. dasar bocah anak itu."
" Haha.." sebuah tawa yang sebenarnya akhirnya terdengar dari bibirku, " Dia sibuk bertemu dengan klien. lagipula aku sudah besar."
" Tetap saja kamu kehujanan." Nara meraih tanganku, menarikku agar bangkit dari kursi.
menarik tudung sweater agar kepalaku tertutupi, kami berlari menembus hujan dengan tangan Nara yang menggenggam erat tanganku.
sekali lagi hujan menyembunyikan ekspresiku. setidaknya wajah yang memerah ini tidak terlihat olehnya sekarang.
terima kasih hujan.
mendapati Nara adalah satu-satunya pengunjung yang ada di kedai itu.
matanya langsung menuju ke arah pintu saat terdengar bell pintu kedai berbunyi.
bukannya menanti di meja, ia malah mendekatiku, dan menyodorkan sweaternya.
"Ganti bajumu dengan sweater ini. baru kau boleh duduk."
aku diam, mengatur napas, lalu mengambil sweater tersebut dan lari ke kamar mandi.
ahh.. terima kasih hujan. membantuku menyamarkan basahnya mata yang tak bisa menghentikan air mengalir dengan membanjur seluruh tubuhku. membantu dalam mendinginkan kepala pula.
mengganti baju dengan sweater hitam kesukaan Nara adalah hal yang sangat menyenangkan.
karena parfumnya selalu berhasil membuatku tenang.
seselesainya aku berganti baju dan membasuh muka, aku kembali ke dalam kedai dan duduk di seberang Nara. sudah tersedia hot caramel machiatto di meja. dan satu chamomile tea.
" Pakai ini. aku benci melihatmu menangis."
okeee... jadi dia tahu.
lagi-lagi dia tau.
dalam diam aku mengambil saputangan darinya dan mengelap mukaku.
" Kamu terlambat."
" Aku tahu. Maaf." kataku.
" Dan kamu datang sambil menangis."
aku menunduk.
" Dia menghubungimu lagi kan?"
aku mengambil cangkir dan menghirup aromanya. membuatku sedikit lebih tenang.
" Iya." jawabku setelah menyesap kopi.
" Kapan kau akan bertemu?"
" Bertemu? Dia hanya bertanya kabarku."
" Tidak mengajak bertemu?"
" Tidak."
lalu diam.
akhir-akhir ini terlalu banyak jeda diam yang tercipta.
walaupun aku menikmati, tapi tetap ada yang janggal.
" Sekarang giliranku bertanya."
Nara menyandarkan punggungnya lalu mengangguk perlahan.
yang mengagetkan bukan gaya klan-nya yang mendadak dia tunjukkan.
tetapi ekspresinya. tegang. dan ada ketakutan yang terlihat nyata dicoba disembunyikan oleh matanya.
" Ada apa, Nara?"
dan ekspresi itu semakin jelas terlihat.
Nara terdiam. mengambil cangkir tehnya dan -kulihat dengan sangat jelas- tangannya gemetar.
Nara ketakutan. dan letih.
aku diam dan menunggu Nara berkata.
"Hmm..." sebuah tarikan napas, kulihat setitik air mata di pelupuknya, " Aku harus pergi.."
" Apaa??" tanyaku tak mengerti. suaranya terlalu lirih.
" Aku mau pamit. Harus ada yang diselesaikan di Inggris. mungkin sekitar 3 minggu. aku tak tahu siapa yang akan menjagamu."
sekalilagi duniaku jungkir balik.
terlalu lama bersama Nara membuatku melupakan kehadiran orang yang sangat dipuja.
oleh Nara. bukan olehku.
" Kamu akan berangkat bersama Tian." sebuah pernyataan keluar dari mulutku.
dia mengangguk.
" lalu mengapa kamu terlihat sedih? ayolah...aku kangen Inggris. harusnya kamu senang pergi ke sana."
" Harusnya.. kalau saja kamu juga ikut."
terkejut. terdiam. dan hanya bisa menatapnya.
" Nara. Inggris. kamu ke Inggris untuk menemuinya. mengapa aku yang harus ikut?"
" Agar aku tahu kamu baik-baik saja." aku ingin tertawa untuk membuatnya tenang. tapi yang keluar malah tawa yang terdengar menggetirkan.
" Aku baik-baik saja. tenanglah. aku masih punya banyak teman."
Mata Nara sendu. entah untuk apa.
aku pun sakit. mengapa harus terasa?
mengapa harus Nara??
" sudah menyiapkan semuanya??"
" sudah disiapkan." Nara memberi penekanan pada kata di-.
dan sadarlah aku apa maksudnya.
Nara bangkit. meletakkan selembar uang merah di meja. menyodorkan tangannya ke arahku.
" Ayo, kuantar kamu pulang. Aku pikir tadi kamu diantar oleh Tian. dasar bocah anak itu."
" Haha.." sebuah tawa yang sebenarnya akhirnya terdengar dari bibirku, " Dia sibuk bertemu dengan klien. lagipula aku sudah besar."
" Tetap saja kamu kehujanan." Nara meraih tanganku, menarikku agar bangkit dari kursi.
menarik tudung sweater agar kepalaku tertutupi, kami berlari menembus hujan dengan tangan Nara yang menggenggam erat tanganku.
sekali lagi hujan menyembunyikan ekspresiku. setidaknya wajah yang memerah ini tidak terlihat olehnya sekarang.
terima kasih hujan.
Saturday, 19 December 2009
haruskah?
aku memang tak pandai berkata.
lantas mengapa?
bicara pun aku sulit.
rima yang selip.
dan nada yang fals.
lalu apa?
mimik mukaku selalu meleset.
uratku selalu tegang.
bagaimana aku bisa berekspresi?
lewat tulisan..
lewat untaian ini aku menari.
lewat bentuk-bentuk ini aku berkreasi.
melalui garis ini aku bercerita.
hanya mereka yang mau mendengar.
setia menemani walaupun penuh guratan.
diam tanpa menginterupsi walaupun penuh coretan.
tersenyum tanpa protes walaupun bersimbah tinta.
saksi bisu dari semua tumpahan hati.
lantas mengapa?
bicara pun aku sulit.
rima yang selip.
dan nada yang fals.
lalu apa?
mimik mukaku selalu meleset.
uratku selalu tegang.
bagaimana aku bisa berekspresi?
lewat tulisan..
lewat untaian ini aku menari.
lewat bentuk-bentuk ini aku berkreasi.
melalui garis ini aku bercerita.
hanya mereka yang mau mendengar.
setia menemani walaupun penuh guratan.
diam tanpa menginterupsi walaupun penuh coretan.
tersenyum tanpa protes walaupun bersimbah tinta.
saksi bisu dari semua tumpahan hati.
one cinnamon night
sebuah kedai es krim kuno itu kudapati lengang di malam ini.
mempermudahku untuk menemukan Nara. malam ini ia mengenakan polo shirt abu dan celana jins hitam, duduk menghadap pintu tempat aku masuk.
Rapi. darimana dia?
" Hai.." sapaku.
" Selamat malam." balasnya sambil tersenyum. gerakan tangannya mempersilakanku duduk, aku pun mengambil tempat di depannya -sedikit heran mengapa dia memilih tempat duduk untuk empat orang-.
" Sudah pesan?" tanyaku.
" Belum. Pesan sekarang?" anggukan kecil dariku -sebuah tanda persetujuan- dan ia melambaikan tangan tanda meminta daftar menu.
" Sudah tahu mau pesan apa?" tanyanya dengan nada -mengherankan mendengarnya menggunakan nada ini- sedikit resmi.
" Mm.." kubalik lembaran menu dua kali sebelum akhirnya memesan, " Mint cookies."
" Single atau double?" tanya Fany, pramusaji kedai -ia menggunakan badge nama-.
" Single." jawabku.
" Saya mau mint tea. Itu dulu untuk saat ini." Fany langsung mencatat pesanan kami, lalu pergi ke -mmm...mungkin- dapur.
Jeda yang tidak terlalu lama -mengingat suasana kedai yang sepi dan pesanan kami yang sedikit- tercipta sebelum pesanan kami datang, diisi dengan diam.
"Mint cookies single dan mint tea." Fany meletakkan pesanan kami di meja. setelah kami mengucapkan terimakasih, ia pun beranjak pergi.
" Jadi.... teh, heh?" aku membuka percakapan.
" Mm..?" Nara menaikkan sebelah alisnya, tanda bertanya.
Ahh.. aku suka ekspresinya -walaupun setelah kupikir-pikir kembali, dari semua ekspresi yang pernah Nara tunjukkan, tidak ada ekspresi yang tidak kusukai-.
" Kamu mengajakku kesini hanya untuk membeli secangkir teh? maksudku... ini kedai es krim, Naraaa..."
" Ya. tapi kamu suka kan?'' ekspresinya dingin. bukan Nara yang biasanya.
'' Iya. Tapi tetap saja aneh, Narandra..."
sebuah senyum kecil mulai terbentuk saat dia mengucapkan alasannya, " Karena bukan aku yang mau makan es krim."
" Lalu siap.." tawa Nara pecah dan seketika suaraku hilang saat mendengar sebuah sapaan yang sangat kukenal.
" Hai, darl!" tepat sebelum aku menoleh, sebuah sosok tegap sudah berdiri di sampingku, lalu memelukku.
aku terkesiap.
sosok itu melepaskan pelukannya lalu menyentuh hidungku sejenak sebelum duduk di antara aku dan Nara.
"Tian.." kataku lirih.
orang yang kupanggil Tian itu menoleh.
"CUPU! JELEK BANGET SI KESINI GA BILANG-BILANG!" aku pun teriak -meledak, lebih tepatnya-, sambil melemparkan kotak tissue ke arahnya.
" Eh eh.." katanya panik.
" YANG MEGANG KUNCI RUMAH SIAPA EMANGNYA? RESE!!!" aku diam sejenak untuk mengatur kembali napasku yang terengah-engah.
" Eh.. ampun-ampun. buset dah galak bener yang udah ga ditengokin lima bulan." tawanya. dan tawa Nara. baru kusadari ada Nara -ralat, korban selanjutnya-.
" INI LAGI IKUT-IKUTAN KETAWA. UDAH TADI PASANG MUKA SOK-SOK JUTEK!!!" kacamatanya tak luput dari lemparan sendok es krimku.
" Waduh, maaf maaf, Re." katanya panik sambil mengambil tissue dari kotaknya -yang masih ada di tangan Tian- untuk membersihkan kacamatanya.
tak akan ada kata princessa hari ini. Nara tak akan berani. atau belum? entahlah..
" Tharesha Agashi." sebut Tian sambil menggeleng-gelengkan kepala dan mengelap air mata tawa menggunakan penggung tangannya.
" Prasetian Agata Aji." balasku diiringi gerakan melipat tangan di depan dada.
" Hanggaatmadja." sambung Nara sambil masih tertawa kecil.
dan itulah awal pembicaraan hangat kami malam ini. percakapan yang aku rindukan. yang kunikmati setiap detiknya.
malam ini pun menaungi kami yang terhanyut.
mempermudahku untuk menemukan Nara. malam ini ia mengenakan polo shirt abu dan celana jins hitam, duduk menghadap pintu tempat aku masuk.
Rapi. darimana dia?
" Hai.." sapaku.
" Selamat malam." balasnya sambil tersenyum. gerakan tangannya mempersilakanku duduk, aku pun mengambil tempat di depannya -sedikit heran mengapa dia memilih tempat duduk untuk empat orang-.
" Sudah pesan?" tanyaku.
" Belum. Pesan sekarang?" anggukan kecil dariku -sebuah tanda persetujuan- dan ia melambaikan tangan tanda meminta daftar menu.
" Sudah tahu mau pesan apa?" tanyanya dengan nada -mengherankan mendengarnya menggunakan nada ini- sedikit resmi.
" Mm.." kubalik lembaran menu dua kali sebelum akhirnya memesan, " Mint cookies."
" Single atau double?" tanya Fany, pramusaji kedai -ia menggunakan badge nama-.
" Single." jawabku.
" Saya mau mint tea. Itu dulu untuk saat ini." Fany langsung mencatat pesanan kami, lalu pergi ke -mmm...mungkin- dapur.
Jeda yang tidak terlalu lama -mengingat suasana kedai yang sepi dan pesanan kami yang sedikit- tercipta sebelum pesanan kami datang, diisi dengan diam.
"Mint cookies single dan mint tea." Fany meletakkan pesanan kami di meja. setelah kami mengucapkan terimakasih, ia pun beranjak pergi.
" Jadi.... teh, heh?" aku membuka percakapan.
" Mm..?" Nara menaikkan sebelah alisnya, tanda bertanya.
Ahh.. aku suka ekspresinya -walaupun setelah kupikir-pikir kembali, dari semua ekspresi yang pernah Nara tunjukkan, tidak ada ekspresi yang tidak kusukai-.
" Kamu mengajakku kesini hanya untuk membeli secangkir teh? maksudku... ini kedai es krim, Naraaa..."
" Ya. tapi kamu suka kan?'' ekspresinya dingin. bukan Nara yang biasanya.
'' Iya. Tapi tetap saja aneh, Narandra..."
sebuah senyum kecil mulai terbentuk saat dia mengucapkan alasannya, " Karena bukan aku yang mau makan es krim."
" Lalu siap.." tawa Nara pecah dan seketika suaraku hilang saat mendengar sebuah sapaan yang sangat kukenal.
" Hai, darl!" tepat sebelum aku menoleh, sebuah sosok tegap sudah berdiri di sampingku, lalu memelukku.
aku terkesiap.
sosok itu melepaskan pelukannya lalu menyentuh hidungku sejenak sebelum duduk di antara aku dan Nara.
"Tian.." kataku lirih.
orang yang kupanggil Tian itu menoleh.
"CUPU! JELEK BANGET SI KESINI GA BILANG-BILANG!" aku pun teriak -meledak, lebih tepatnya-, sambil melemparkan kotak tissue ke arahnya.
" Eh eh.." katanya panik.
" YANG MEGANG KUNCI RUMAH SIAPA EMANGNYA? RESE!!!" aku diam sejenak untuk mengatur kembali napasku yang terengah-engah.
" Eh.. ampun-ampun. buset dah galak bener yang udah ga ditengokin lima bulan." tawanya. dan tawa Nara. baru kusadari ada Nara -ralat, korban selanjutnya-.
" INI LAGI IKUT-IKUTAN KETAWA. UDAH TADI PASANG MUKA SOK-SOK JUTEK!!!" kacamatanya tak luput dari lemparan sendok es krimku.
" Waduh, maaf maaf, Re." katanya panik sambil mengambil tissue dari kotaknya -yang masih ada di tangan Tian- untuk membersihkan kacamatanya.
tak akan ada kata princessa hari ini. Nara tak akan berani. atau belum? entahlah..
" Tharesha Agashi." sebut Tian sambil menggeleng-gelengkan kepala dan mengelap air mata tawa menggunakan penggung tangannya.
" Prasetian Agata Aji." balasku diiringi gerakan melipat tangan di depan dada.
" Hanggaatmadja." sambung Nara sambil masih tertawa kecil.
dan itulah awal pembicaraan hangat kami malam ini. percakapan yang aku rindukan. yang kunikmati setiap detiknya.
malam ini pun menaungi kami yang terhanyut.
Friday, 18 December 2009
a honey twilight
"Aku lelah, Nara."
Nara terdiam. menyesap tehnya.
"Lelah untuk selalu menjadi apa yang seharusnya. lelah untuk menutup diriku yang sesunggguhnya."
"tak ada yang menyuruhmu melakukannya."
"aku tahu. dan aku semakin lelah saat menyadarinya. habis tenagaku. bahkan hanya untuk menangis pun aku sudah tak ada tenaga."
"tak ada yang memintamu." Nara meletakkan cangkir serta tatakannya di meja kayu hitam yang memisahkan kami.
"aku bosan berperan sebagai pasangan ideal. aku ingin teriak. tapi mana mungkin dia mendengar?"
"aku mendengar. bahkan saat kau berbisik."
diam. hanya ada hening yang bisa kuucapkan.
"dengar, Re. aku menyukaimu apa adanya. tanpa perlu ideal atau apapun. aku mendengarmu setiap saat. aku melihatmu bahkan disaat kau tak ingin direkam oleh lensa manapun. aku mengerti tanpa perlu ada yang kau ucapkan. aku membacamu lebih daripada membaca buku ilmiahku. dan aku mau kamu mengerti itu."
detik pun tampak enggan bergerak. semua terpaku. terhenti sejenak, kecuali kesadaranku.
tidak, tidak. nampaknya itu juga sempat menghilang.
"jangan kau jawab. aku tak bertanya. tak ada pertanyaan disini, Re. aku hanya berkata-kata."
yah..aku pun menurut.
"jangan merasa lelah, karena tak ada yang menuntutmu untuk begitu. maksudku, lihatlah sekelilingmu. tak ada yang menuntutmu kembali seperti dulu kan? seperti saat dia masih di sampingmu."
"yah..memang." dua buah kata akhirnya meluncur keluar dari bibirku.
"lalu untuk siapa kau masih harus berperan?"
"untuknya yang sudah kembali, Nara. panggil aku bodoh kalau kau mau."
"tidak."
"kenapa?"
"karena aku tak mau."
"tapi.."
"dan aku tahu kau sebenarnya takut. masih takut dia benar-benar akan kembali menghubungimu dan kau pun akan kembali menjalani peranan itu." Nara melanjutkan jawabannya yang sempat terpotong olehku, "untuk itulah kau me-recall kembali semua ingatanmu dan merasa lelah."
yah.. nampaknya harus kuralat.
Nara bukan kopi untukku.
dia adalah penenangku. jauh lebih berkhasiat dari caffeine yang dikandung kopi.
"berhentilah, Re. tak perlu jadi yang besar dan terlihat gagah. kau hanya perlu menjadi sesuatu yang kau cintai. tak perlu jadi beringin untuk menjadi kuat. angin lembut adalah kekuatan yang terkuat sebenarnya. untuk menebarkan benih dan menjaga kehidupan tetap berlangsung. riak air dari sebuah rintik pun berarti. jadilah apa yang kau cintai. dan kau akan sadar betapa kuatnya dirimu."
"Nara..." sebuah genangan mulai terbentuk di pelupuk mataku.
Nara pun tersenyum, merogoh saku jaket hitamnya lalu mengeluarkan selembar sapu tangan abu.
"hapus air itu. ingatlah.. selalu ada satu orang yang menganggap kamu adalah dunia tempatnya berputar. yang harus kamu lakukan hanyalah membuka mata dan menyadarinya."
sebuah senyum terbentuk di wajahku.
mug besar berwarna krem itu terasa lebih berarti dengan paduan lembayung senja sebagai latar.
dan Nara sebagai pusat.
Nara terdiam. menyesap tehnya.
"Lelah untuk selalu menjadi apa yang seharusnya. lelah untuk menutup diriku yang sesunggguhnya."
"tak ada yang menyuruhmu melakukannya."
"aku tahu. dan aku semakin lelah saat menyadarinya. habis tenagaku. bahkan hanya untuk menangis pun aku sudah tak ada tenaga."
"tak ada yang memintamu." Nara meletakkan cangkir serta tatakannya di meja kayu hitam yang memisahkan kami.
"aku bosan berperan sebagai pasangan ideal. aku ingin teriak. tapi mana mungkin dia mendengar?"
"aku mendengar. bahkan saat kau berbisik."
diam. hanya ada hening yang bisa kuucapkan.
"dengar, Re. aku menyukaimu apa adanya. tanpa perlu ideal atau apapun. aku mendengarmu setiap saat. aku melihatmu bahkan disaat kau tak ingin direkam oleh lensa manapun. aku mengerti tanpa perlu ada yang kau ucapkan. aku membacamu lebih daripada membaca buku ilmiahku. dan aku mau kamu mengerti itu."
detik pun tampak enggan bergerak. semua terpaku. terhenti sejenak, kecuali kesadaranku.
tidak, tidak. nampaknya itu juga sempat menghilang.
"jangan kau jawab. aku tak bertanya. tak ada pertanyaan disini, Re. aku hanya berkata-kata."
yah..aku pun menurut.
"jangan merasa lelah, karena tak ada yang menuntutmu untuk begitu. maksudku, lihatlah sekelilingmu. tak ada yang menuntutmu kembali seperti dulu kan? seperti saat dia masih di sampingmu."
"yah..memang." dua buah kata akhirnya meluncur keluar dari bibirku.
"lalu untuk siapa kau masih harus berperan?"
"untuknya yang sudah kembali, Nara. panggil aku bodoh kalau kau mau."
"tidak."
"kenapa?"
"karena aku tak mau."
"tapi.."
"dan aku tahu kau sebenarnya takut. masih takut dia benar-benar akan kembali menghubungimu dan kau pun akan kembali menjalani peranan itu." Nara melanjutkan jawabannya yang sempat terpotong olehku, "untuk itulah kau me-recall kembali semua ingatanmu dan merasa lelah."
yah.. nampaknya harus kuralat.
Nara bukan kopi untukku.
dia adalah penenangku. jauh lebih berkhasiat dari caffeine yang dikandung kopi.
"berhentilah, Re. tak perlu jadi yang besar dan terlihat gagah. kau hanya perlu menjadi sesuatu yang kau cintai. tak perlu jadi beringin untuk menjadi kuat. angin lembut adalah kekuatan yang terkuat sebenarnya. untuk menebarkan benih dan menjaga kehidupan tetap berlangsung. riak air dari sebuah rintik pun berarti. jadilah apa yang kau cintai. dan kau akan sadar betapa kuatnya dirimu."
"Nara..." sebuah genangan mulai terbentuk di pelupuk mataku.
Nara pun tersenyum, merogoh saku jaket hitamnya lalu mengeluarkan selembar sapu tangan abu.
"hapus air itu. ingatlah.. selalu ada satu orang yang menganggap kamu adalah dunia tempatnya berputar. yang harus kamu lakukan hanyalah membuka mata dan menyadarinya."
sebuah senyum terbentuk di wajahku.
mug besar berwarna krem itu terasa lebih berarti dengan paduan lembayung senja sebagai latar.
dan Nara sebagai pusat.
Thursday, 17 December 2009
going to be a creamy chilly break down
Claranda Ayu Nastriti.
suatu saat memang nama ini akan tertulis juga.
jadi mengapa harus ditunda?
jadi..
"Claranda Ayu Nastriti.
gadis keturunan Jawa asli dan sedikit Cina.
cantik.
putih. walaupun tidak seputih aku.
pintar. satu peringkat di bawahku selama 12 tahun menuntut ilmu di tempat yang sama.
kaya.
sekilas sempurna.
dan dia teman yang sangat baik.
sebelum aku tahu ambisinya.
sebelum aku tahu bahwa musuh yang paling berbahaya adalah sahabat terdekatmu.
sebuah persahabatan pernah kau tawarkan.
dan aku menyambutnya sebagai hadiah yang indah.
sebelum akhirnya kutahu bahwa hadiahmu beracun.
dan basi.
hanya sebuah fatamorgana di padang pasir dalam impian.
dan mungkin selama ini aku hanya hidup dalam impian."
okeii.. aku harus berhenti sekarang juga. stop!
baiklah..
mari kita lanjutkan tulisan tentangmu.
"terlahir dari keluarga terpandang membuatmu memiliki tingkah laku yang terpuji.
dengan tercela sebagai resesif."
ahh..
aku tak bisa.
maaf, sahabat.
tapi tampaknya sudah menjadi sebuah kesulitan yang memiliki tingkat tinggi untuk mengingat hal baik tentangmu.
untuk menulis dirimu secara umum pun aku sudah tak sanggup.
maaf..
tapi pengalamanku mengajarkan untuk berhenti menatap masa lalu.
jadi aku akan berhenti menatapmu.
bagaimana??"
setelah menyesap kopi yang sudah dingin, aku pun berhenti menulis.
maaf, sahabat. tapi hal paling krusial sudah terjadi. sebuah nama kepercayaan sudah tercoreng. maka ini yang memang akan terjadi."
kugerakkan mouse laptoku.
file. save as. pomeriggo.
suatu saat memang nama ini akan tertulis juga.
jadi mengapa harus ditunda?
jadi..
"Claranda Ayu Nastriti.
gadis keturunan Jawa asli dan sedikit Cina.
cantik.
putih. walaupun tidak seputih aku.
pintar. satu peringkat di bawahku selama 12 tahun menuntut ilmu di tempat yang sama.
kaya.
sekilas sempurna.
dan dia teman yang sangat baik.
sebelum aku tahu ambisinya.
sebelum aku tahu bahwa musuh yang paling berbahaya adalah sahabat terdekatmu.
sebuah persahabatan pernah kau tawarkan.
dan aku menyambutnya sebagai hadiah yang indah.
sebelum akhirnya kutahu bahwa hadiahmu beracun.
dan basi.
hanya sebuah fatamorgana di padang pasir dalam impian.
dan mungkin selama ini aku hanya hidup dalam impian."
okeii.. aku harus berhenti sekarang juga. stop!
baiklah..
mari kita lanjutkan tulisan tentangmu.
"terlahir dari keluarga terpandang membuatmu memiliki tingkah laku yang terpuji.
dengan tercela sebagai resesif."
ahh..
aku tak bisa.
maaf, sahabat.
tapi tampaknya sudah menjadi sebuah kesulitan yang memiliki tingkat tinggi untuk mengingat hal baik tentangmu.
untuk menulis dirimu secara umum pun aku sudah tak sanggup.
maaf..
tapi pengalamanku mengajarkan untuk berhenti menatap masa lalu.
jadi aku akan berhenti menatapmu.
bagaimana??"
setelah menyesap kopi yang sudah dingin, aku pun berhenti menulis.
maaf, sahabat. tapi hal paling krusial sudah terjadi. sebuah nama kepercayaan sudah tercoreng. maka ini yang memang akan terjadi."
kugerakkan mouse laptoku.
file. save as. pomeriggo.
Friday, 11 December 2009
random ramdom
oke.. here are some random thoughts after a few things happened :
1) kenapa saat memasuki masa dewasa makin terasa bahwa topeng sosial itu banyak sekali digunakan oleh orang-orang yang jelas-jelas udah fake duluan?
jadi gimana cara percaya dia?
2) sahabat adalah calon musuh yang paling berbahaya.
3) tanpa melakukan apa-apa pun beberapa orang sudah menganggap dirinya hebat dan memandang rendah orang lain. singkatnya, "nothing."
4) kenapa cerita yang jelas-jelas pribadi dan bukan untuk jadi konsumsi publik malah dipajang di fb? jelas-jelas mengundang massa.
5) saat berkumpul dengan teman-teman SMP, yang terjadi adalah...
merasa masih muda. oh well, saya ngerti perasaan ibu-ibu yang reunian sekarang.
6) mengapa saat ada yang salah, malah menghindar? mau sampai kapan?
7) orang yang selama ini jadi panutan kamu juga manusia, ko. ada saatnya mereka jadi orang yang salah di mata kamu. tapi itu yang mengingatkan kamu bahwa dia juga manusia.
8) orang tua adalah selebriti. anak adalah paparazi.
9) hidup orang paling sempurna sekalipun, jauh dari sempurna.
10) sushi itu enak .
11) kopi itu membuat ketagihan.
12) teh itu nikmat.
13) semua yang terlalu itu tidak baik.
14) masak itu asyik.
1) kenapa saat memasuki masa dewasa makin terasa bahwa topeng sosial itu banyak sekali digunakan oleh orang-orang yang jelas-jelas udah fake duluan?
jadi gimana cara percaya dia?
2) sahabat adalah calon musuh yang paling berbahaya.
3) tanpa melakukan apa-apa pun beberapa orang sudah menganggap dirinya hebat dan memandang rendah orang lain. singkatnya, "nothing."
4) kenapa cerita yang jelas-jelas pribadi dan bukan untuk jadi konsumsi publik malah dipajang di fb? jelas-jelas mengundang massa.
5) saat berkumpul dengan teman-teman SMP, yang terjadi adalah...
merasa masih muda. oh well, saya ngerti perasaan ibu-ibu yang reunian sekarang.
6) mengapa saat ada yang salah, malah menghindar? mau sampai kapan?
7) orang yang selama ini jadi panutan kamu juga manusia, ko. ada saatnya mereka jadi orang yang salah di mata kamu. tapi itu yang mengingatkan kamu bahwa dia juga manusia.
8) orang tua adalah selebriti. anak adalah paparazi.
9) hidup orang paling sempurna sekalipun, jauh dari sempurna.
10) sushi itu enak .
11) kopi itu membuat ketagihan.
12) teh itu nikmat.
13) semua yang terlalu itu tidak baik.
14) masak itu asyik.
Thursday, 10 December 2009
caranya....??
gimana saya bisa berdiri saat orang-orang menjatuhkan saya?
bagaimana caranya bertahan saat pegangan saya tiba-tiba menghilang?
dimana harus berpijak saat pijakan saya ditelan bumi??
mengambang..
terdiam..
menghitung detik sebelum akhirnya jatuh.
bagaimana caranya bertahan saat pegangan saya tiba-tiba menghilang?
dimana harus berpijak saat pijakan saya ditelan bumi??
mengambang..
terdiam..
menghitung detik sebelum akhirnya jatuh.
creamy midninght
hujan mereda.
angin berhembus menggetarkan daun jendela.
segelas kopi di tangan.
kulirik jam di dinding, 03.41..
baiklah, waktu yang tepat untuk menulis.
termangu di depan laptop putihku, hanya angin yang bersuara.
aku tak tahu mau menulis apa.
"mulailah dari sesuatu yang tak asing bagimu.."
Terngiang suara Ditto, kakak sepupuku yang memang seorang penulis handal.
sesuatu yang tak asing?
mm.. berarti sesuatu yang memang sudah kukenal.
tapi apa?
mmmhh..
mari mulai dari... Nara.
Narandra Aleansya Anugrah Putra.
pria sulung dari 2 bersaudara yang keduanya laki-laki.
tinggi 181 cm, membuatnya terlihat menjulang jika kami berjalan berdampingan.
mata coklat keabuan cerah yang selalu penuh selidik adalah satu hal yang paling kusuka selain hidungnya yang memang agak bengkok namun mancung itu.
pernah aku melihat matanya.
dan sempat menyadari ada yang tak asing disana.
ada pedih yang disimpannya.
ada sendu yang tersirat disana.
samar, namun ada.
kulit kaukasian yang didapatkan dari ibunya yang memang Belgia dan rambut hitam legam dari bapanya yang adalah 100% Jawa membuat terlihat pucat, namun sempurna.
menjadi atlet nasional Baseball membantu mengubah tubuh kurus keringnya menjadi cukup atletis mengingat bahunya yang memang sudah bidang dari semenjak SMP.
renang adalah favoritnya.
berbeda denganku.
teh adalah minuman wajibnya.
sangat bertolak belakang denganku.
membaca segala sesuatu yang berbau ilmiah adalah kebutuhannya.
disaat aku membaca segala sesuatu tentang peri.
tapi kami suka lari.
apalagi saat hujan.
yah.. tinggal tambah lagu dan sedikit koreografi, maka hobi ini akan menghasilkan uang dari Bollywood.
tapi itu yang kami lakukan -tanpa lagu mendayu dan koreografi tentu-.
mungkin itu yang membuatku mengenalnya.
berlari.
saat sebuah pelarian yang harusnya pait berubah menjadi manis.
yah mungkin tidak semua yang terlihat manis itu adalah dosa.
kembali pada Nara..
pria yang terpaut dua tahun lebih tua dariku ini sekarang sedang menempuh studi teknik minyak di sebuah institut di kota Bandung.
kotaku.
kota kami.
apa yang begitu spesial?
tidak ada.
tidak ada yang terlalu spesial padanya.
tapi itu yang membuatnya sempurna.
terlihat indah dalam balutan ketidaksempurnaannya.
tidak ada yang spesial padanya.
tapi dia membuat sekelilingnya berarti.
bahkan sekeping debu pun dapat membuat dia bercerita.
bahwa debu itu ada dengan artinya sendiri.
dengan perjuangannya untuk tetap menjadi debu.
entahlahh..
tak pernah ada yang spesial padanya.
tapi itu yang aku suka.
sebuah tarikan napas.
aku terdiam.
menyukai kesunyian yang terbentuk saat aku menulis tentangmu.
sunyi..
bahasa yang selalu kita gunakan untuk berkomunikasi.
dalam hening kita tertawa.
dan aku menyukainya...
angin berhembus menggetarkan daun jendela.
segelas kopi di tangan.
kulirik jam di dinding, 03.41..
baiklah, waktu yang tepat untuk menulis.
termangu di depan laptop putihku, hanya angin yang bersuara.
aku tak tahu mau menulis apa.
"mulailah dari sesuatu yang tak asing bagimu.."
Terngiang suara Ditto, kakak sepupuku yang memang seorang penulis handal.
sesuatu yang tak asing?
mm.. berarti sesuatu yang memang sudah kukenal.
tapi apa?
mmmhh..
mari mulai dari... Nara.
Narandra Aleansya Anugrah Putra.
pria sulung dari 2 bersaudara yang keduanya laki-laki.
tinggi 181 cm, membuatnya terlihat menjulang jika kami berjalan berdampingan.
mata coklat keabuan cerah yang selalu penuh selidik adalah satu hal yang paling kusuka selain hidungnya yang memang agak bengkok namun mancung itu.
pernah aku melihat matanya.
dan sempat menyadari ada yang tak asing disana.
ada pedih yang disimpannya.
ada sendu yang tersirat disana.
samar, namun ada.
kulit kaukasian yang didapatkan dari ibunya yang memang Belgia dan rambut hitam legam dari bapanya yang adalah 100% Jawa membuat terlihat pucat, namun sempurna.
menjadi atlet nasional Baseball membantu mengubah tubuh kurus keringnya menjadi cukup atletis mengingat bahunya yang memang sudah bidang dari semenjak SMP.
renang adalah favoritnya.
berbeda denganku.
teh adalah minuman wajibnya.
sangat bertolak belakang denganku.
membaca segala sesuatu yang berbau ilmiah adalah kebutuhannya.
disaat aku membaca segala sesuatu tentang peri.
tapi kami suka lari.
apalagi saat hujan.
yah.. tinggal tambah lagu dan sedikit koreografi, maka hobi ini akan menghasilkan uang dari Bollywood.
tapi itu yang kami lakukan -tanpa lagu mendayu dan koreografi tentu-.
mungkin itu yang membuatku mengenalnya.
berlari.
saat sebuah pelarian yang harusnya pait berubah menjadi manis.
yah mungkin tidak semua yang terlihat manis itu adalah dosa.
kembali pada Nara..
pria yang terpaut dua tahun lebih tua dariku ini sekarang sedang menempuh studi teknik minyak di sebuah institut di kota Bandung.
kotaku.
kota kami.
apa yang begitu spesial?
tidak ada.
tidak ada yang terlalu spesial padanya.
tapi itu yang membuatnya sempurna.
terlihat indah dalam balutan ketidaksempurnaannya.
tidak ada yang spesial padanya.
tapi dia membuat sekelilingnya berarti.
bahkan sekeping debu pun dapat membuat dia bercerita.
bahwa debu itu ada dengan artinya sendiri.
dengan perjuangannya untuk tetap menjadi debu.
entahlahh..
tak pernah ada yang spesial padanya.
tapi itu yang aku suka.
sebuah tarikan napas.
aku terdiam.
menyukai kesunyian yang terbentuk saat aku menulis tentangmu.
sunyi..
bahasa yang selalu kita gunakan untuk berkomunikasi.
dalam hening kita tertawa.
dan aku menyukainya...
Tuesday, 8 December 2009
what a chilly day
" Sampai kapan kamu mau begini?"
"Begini bagaimana?"
" Yaa begini.. tidak mau mengambil, tapi enggan melepas."
" Apa maksudmu?"
" Aku kan sahabatmu." sahabat. Kata itu terasa sangat lampau untukku.
" Entahlah.. aku merasa nyaman."
"Ayolah..jujur padaku, kamu suka dia kan?"
Jujur. sebuah kata yang terasa terlalu lampau untuk diucapkan kembali olehmu. apalagi dilakukan olehku.
"Hmmm.." aku pura-pura berpikir, mengulur waktu karena sebenarnya aku memang tak pernah memikirkan perihal ini, "entahlah.. aku tak peduli."
"Hahhh... kamu ini." kamu melirik jam yang ada di tanganmu. kulit hijau -ular tebakanku, pantas untukmu- dengan aksen emas di jarumnya.
" Ya ampun. aku sudah telat janjian 15 menit dengan.."
" Pradit." potongku. masih terasa perih, namun aku masih bisa menyembunyikan.
tidak di depanmu, sahabat. tidak sekarang.
" Ah.. yah.. dengannya. kau sudah tau dia sudah kembali dari.." kalimatnya terpotong saat melihatku mengambil cangkir teh -ya, hari ini aku memilih twinnings mint tea sebagai teman untuk bersama seorang sahabat lama- , menyandarkan punggungku pada sofa coklat empuk ini dan mengangguk.
Nara bilang darah biruku sedang dominan jika aku berpose seperti ini.
dan memang bakat alami untuk membuat semua orang terdiam saat mereka diingatkan dengan posisiku.
turunan keluarga, ejek Nara..
ahh... lagi-lagi Nara.
"Pergilah." kataku. bukan. bukan kata atau saran. tapi perintah.
yah, dengan kata "I order you to.." di depannya, maka aku akan menjadi peran pengganti Anne Hathaway di Princess Diaries 3.
dan disinilah kamu.
menatapku dengan pandangan..mm.. bersalah?? tidak, tidak. itu akan menjadi hal pertama yang aku coret dari daftar ekspresimu. takut mungkin.
yayaya..aku memilih kata takut untuk ekspresimu.
ah.. sudah biasa. mungkin hal-hal seperti itu kadang memang menimbulkan efek-efek tertentu pada orang-orang tertentu pula.
yah.. lanjut dengan apa yang akan kau lakukan setelah menatapku dengan ekspresi itu.
kamu pun mengambil tasmu -hendak mengeluarkan dompet nampaknya- saat aku melambaikan tanganku memanggil pelayan dan memberi kartu kredit sebelum pelayan itu sempat mengambilkan tagihan.
kamu terdiam. lagi.
haha.. kadang aku suka menjadi superrior.
aku menatapmu. dingin.
kamu pun sadar sudah waktunya bagimu untuk pergi.
" Baiklah..aku pergi.."
"sebelumnya.." kamu terdiam lagi saat aku mengucapkan kata itu, "jangan selalu percaya apa kata orang. terlebih lagi mengenaiku."
diam. mengangguk. menyampirkan tasmu. lalu kau beranjak pergi meninggalkan cafe.
sebuah rasa kembali muncul ke permukaan.
masih ada perih untukmu.
masih ada sebuah penyesalan untuk apa yang terjadi.
mengapa harus kamu?
masih ada pertanyaan itu.
yah.. lagipula mengapa kau tiba-tiba datang menawariku kembali akan sebuah ikatan lama yang sudah terasa asing untuk masa sekarang?
maksudku.. kamu hanya datang untuk menanyakan perihal pria lain di hidupku yang dengan enaknya kau bilang aku gantungkan?
o ow.. ada hal-hal yang tidak kau mengerti, sahabat.
banyak hal seperti itu.
ada hal-hal yang memang ingin kusimpan sendiri.
bukan untuk dibagikan kepada orang lain.
menjadi konsumsi publik. apalagi olehmu.
cihh..
pelayan yang tadi kuberi kartu kredit kembali datang ke mejaku untuk mengembalikan kartu dan membawa tagihannya serta kertas kecil untuk kutandatangani. membuyarkan lamunanku.
baguslah. kalau tidak aku akan semakin menjadi dan menghabiskan tenaga untuk mencacimu.
drrttt..
telepon selularku bergetar.
pesan?
dari siapa?
kubuka dan kubaca pesan itu.
sebuah senyum kecil mengembang dan aku pun langsung mengalihkan pandanganku ke jendela cafe tempat Nara berada dan nyengir saat mendapatiku menatapnya.
Yaa.. lagi-lagi Nara.
segera kurapikan dompetku, mengambil tas, menyelipkan selembar Rp 10.000,00 di dompet tagihan, tersenyum kepada para pramuniaga cafe -sedikit menyesal tadi mambahasakan mereka pelayan-, lalu membuka pintu cafe setelah sebelumnya membaca ulang pesan dari Nara.
"Sebentar lagi hujan. pulang yuk.. lagipula nampaknya temanmu sudah benar-benar pergi. aku sedang kedinginan dibelai angin di luar, princessa."
"Begini bagaimana?"
" Yaa begini.. tidak mau mengambil, tapi enggan melepas."
" Apa maksudmu?"
" Aku kan sahabatmu." sahabat. Kata itu terasa sangat lampau untukku.
" Entahlah.. aku merasa nyaman."
"Ayolah..jujur padaku, kamu suka dia kan?"
Jujur. sebuah kata yang terasa terlalu lampau untuk diucapkan kembali olehmu. apalagi dilakukan olehku.
"Hmmm.." aku pura-pura berpikir, mengulur waktu karena sebenarnya aku memang tak pernah memikirkan perihal ini, "entahlah.. aku tak peduli."
"Hahhh... kamu ini." kamu melirik jam yang ada di tanganmu. kulit hijau -ular tebakanku, pantas untukmu- dengan aksen emas di jarumnya.
" Ya ampun. aku sudah telat janjian 15 menit dengan.."
" Pradit." potongku. masih terasa perih, namun aku masih bisa menyembunyikan.
tidak di depanmu, sahabat. tidak sekarang.
" Ah.. yah.. dengannya. kau sudah tau dia sudah kembali dari.." kalimatnya terpotong saat melihatku mengambil cangkir teh -ya, hari ini aku memilih twinnings mint tea sebagai teman untuk bersama seorang sahabat lama- , menyandarkan punggungku pada sofa coklat empuk ini dan mengangguk.
Nara bilang darah biruku sedang dominan jika aku berpose seperti ini.
dan memang bakat alami untuk membuat semua orang terdiam saat mereka diingatkan dengan posisiku.
turunan keluarga, ejek Nara..
ahh... lagi-lagi Nara.
"Pergilah." kataku. bukan. bukan kata atau saran. tapi perintah.
yah, dengan kata "I order you to.." di depannya, maka aku akan menjadi peran pengganti Anne Hathaway di Princess Diaries 3.
dan disinilah kamu.
menatapku dengan pandangan..mm.. bersalah?? tidak, tidak. itu akan menjadi hal pertama yang aku coret dari daftar ekspresimu. takut mungkin.
yayaya..aku memilih kata takut untuk ekspresimu.
ah.. sudah biasa. mungkin hal-hal seperti itu kadang memang menimbulkan efek-efek tertentu pada orang-orang tertentu pula.
yah.. lanjut dengan apa yang akan kau lakukan setelah menatapku dengan ekspresi itu.
kamu pun mengambil tasmu -hendak mengeluarkan dompet nampaknya- saat aku melambaikan tanganku memanggil pelayan dan memberi kartu kredit sebelum pelayan itu sempat mengambilkan tagihan.
kamu terdiam. lagi.
haha.. kadang aku suka menjadi superrior.
aku menatapmu. dingin.
kamu pun sadar sudah waktunya bagimu untuk pergi.
" Baiklah..aku pergi.."
"sebelumnya.." kamu terdiam lagi saat aku mengucapkan kata itu, "jangan selalu percaya apa kata orang. terlebih lagi mengenaiku."
diam. mengangguk. menyampirkan tasmu. lalu kau beranjak pergi meninggalkan cafe.
sebuah rasa kembali muncul ke permukaan.
masih ada perih untukmu.
masih ada sebuah penyesalan untuk apa yang terjadi.
mengapa harus kamu?
masih ada pertanyaan itu.
yah.. lagipula mengapa kau tiba-tiba datang menawariku kembali akan sebuah ikatan lama yang sudah terasa asing untuk masa sekarang?
maksudku.. kamu hanya datang untuk menanyakan perihal pria lain di hidupku yang dengan enaknya kau bilang aku gantungkan?
o ow.. ada hal-hal yang tidak kau mengerti, sahabat.
banyak hal seperti itu.
ada hal-hal yang memang ingin kusimpan sendiri.
bukan untuk dibagikan kepada orang lain.
menjadi konsumsi publik. apalagi olehmu.
cihh..
pelayan yang tadi kuberi kartu kredit kembali datang ke mejaku untuk mengembalikan kartu dan membawa tagihannya serta kertas kecil untuk kutandatangani. membuyarkan lamunanku.
baguslah. kalau tidak aku akan semakin menjadi dan menghabiskan tenaga untuk mencacimu.
drrttt..
telepon selularku bergetar.
pesan?
dari siapa?
kubuka dan kubaca pesan itu.
sebuah senyum kecil mengembang dan aku pun langsung mengalihkan pandanganku ke jendela cafe tempat Nara berada dan nyengir saat mendapatiku menatapnya.
Yaa.. lagi-lagi Nara.
segera kurapikan dompetku, mengambil tas, menyelipkan selembar Rp 10.000,00 di dompet tagihan, tersenyum kepada para pramuniaga cafe -sedikit menyesal tadi mambahasakan mereka pelayan-, lalu membuka pintu cafe setelah sebelumnya membaca ulang pesan dari Nara.
"Sebentar lagi hujan. pulang yuk.. lagipula nampaknya temanmu sudah benar-benar pergi. aku sedang kedinginan dibelai angin di luar, princessa."
Saturday, 5 December 2009
a yummy evening
lamunanku buyar saat terdengar suara pintu kedai terbuka.
mmhh.. lagi-lagi.
"Sudah lama?" sapa pria yang baru masuk tadi. Nara.
"belum."
"Oh, ayolah.. selama apa waktu yang dibutuhkan untuk mendapati sebuah cheesecake mencair dan kopi yang masih penuh tapi sama sekali tidak mengeluarkan asap?"
"mm.." baru kusadari kebodohanku.
Nara adalah seorang yang sangat memperhatikan detail.
"Jadi?"
"Jadi..." ulangku akan pertanyaannya.
"Jadi sudah berapa lama?"
"Well..cukup lama untuk membuat semuanya kadaluarsa."
sebuah senyum terukir di wajahmu.
Tuhan.. mengapa rasa sedih harus seindah ini?
"Sudah ada perkembangan?" tanyanya sambil menghempaskan diri ke sofa hitam yang nyaman.
tak perlu ada pertanyaan basa-basi lagi dariku. aku tau apa maksudnya.
yang ingin aku tanyakan adalah sepenting itukah bagimu untuk tahu perkembanganku.
" Perkembangan darinya? mungkin ada. tapi aku tak tahu."
"Aku tak peduli dia, princenssa. yang aku tanya kau."
"Aku?? masih hidup. dan masih berharap untuk mendapatkan berkah hilang ingatan pada beberapa kejadian."
"Jangan. kalau kamu selalu mendapatkan anugrah itu saat ada kejadian yang membuatmu kecewa, bagaimana caramu untuk belajar?"
aku terdiam. mangambil kopi, menyeruputnya untuk yang pertama kali setelah sekitar 1 jam dipesan.
"Belajar bahwa hidup itu memang butuh kecewa. untuk menyadari bahwa Tuhan itu ada. butuh tangisan. agar kamu menghargai setiap tawa yang kau lantunkan. butuh luka. agar kamu bersyukur saat semuanya sehat."
"dan aku masih butuh sebuah cahaya untuk menerangi langit yang mulai malam. gelap. dingin."
"Cahaya itu selalu ada. mungkin kamu hanya kurang sigap untuk menyadarinya."
semua pun seketika terlihat masuk akal.
mungkin hanya aku yang selama ini merasa begitu terluka hingga menepis semua kebesaran-Nya.
dan memang hanya butuh kamu, Nara. untuk membuat semua terlihat lebih mudah.
"Mau mengutarakan alasannya?" tanyaku mendadak. dapat kulihat Nara terkejut mendengar pertanyaanku.
"Alasan untuk?"
"Untuk selalu ada di sini setiap hari. minum kopi disaat aku tau kamu adalah pecinta teh. dan selalu kemari dengan puluhan kata bijak."
"Haha.." tawa renyahmu mengalun.
Ah.. aku terhanyut kembali. haruskah?
" Untuk satu alasan."
"Dan apa alasan itu?"
" Karena aku sekarang suka kopi."
"ahahahahah.." tawaku kontan membahana, "Kamu, Nara.. pecinta kesehatan yang kadang berlebih ini suka kopi?? mana mungkin... hahaaa."
setelah letih tertawa, aku mengulang pertanyaan yang belum terjawab -dengan serius-.
"Alasan apa, Nara."
"Mmhh... " sebuah tarikan nafas sebelum kamu melanjutkan jawabanmu, "untuk melihatmu tersenyum."
sebuah kata lugas dengan nada tegas.
dan nadaku menghilang seketika.
membiarkan hujan yang tiba-tiba turun untuk menyamarkan degup jantungku.
mensyukuri padamnya lampu yang menyembunyikan mukaku yang memerah.
dan tersenyum pada sore yang menjelang malam untuk sebuah waktu yang diberikan.
mmhh.. lagi-lagi.
"Sudah lama?" sapa pria yang baru masuk tadi. Nara.
"belum."
"Oh, ayolah.. selama apa waktu yang dibutuhkan untuk mendapati sebuah cheesecake mencair dan kopi yang masih penuh tapi sama sekali tidak mengeluarkan asap?"
"mm.." baru kusadari kebodohanku.
Nara adalah seorang yang sangat memperhatikan detail.
"Jadi?"
"Jadi..." ulangku akan pertanyaannya.
"Jadi sudah berapa lama?"
"Well..cukup lama untuk membuat semuanya kadaluarsa."
sebuah senyum terukir di wajahmu.
Tuhan.. mengapa rasa sedih harus seindah ini?
"Sudah ada perkembangan?" tanyanya sambil menghempaskan diri ke sofa hitam yang nyaman.
tak perlu ada pertanyaan basa-basi lagi dariku. aku tau apa maksudnya.
yang ingin aku tanyakan adalah sepenting itukah bagimu untuk tahu perkembanganku.
" Perkembangan darinya? mungkin ada. tapi aku tak tahu."
"Aku tak peduli dia, princenssa. yang aku tanya kau."
"Aku?? masih hidup. dan masih berharap untuk mendapatkan berkah hilang ingatan pada beberapa kejadian."
"Jangan. kalau kamu selalu mendapatkan anugrah itu saat ada kejadian yang membuatmu kecewa, bagaimana caramu untuk belajar?"
aku terdiam. mangambil kopi, menyeruputnya untuk yang pertama kali setelah sekitar 1 jam dipesan.
"Belajar bahwa hidup itu memang butuh kecewa. untuk menyadari bahwa Tuhan itu ada. butuh tangisan. agar kamu menghargai setiap tawa yang kau lantunkan. butuh luka. agar kamu bersyukur saat semuanya sehat."
"dan aku masih butuh sebuah cahaya untuk menerangi langit yang mulai malam. gelap. dingin."
"Cahaya itu selalu ada. mungkin kamu hanya kurang sigap untuk menyadarinya."
semua pun seketika terlihat masuk akal.
mungkin hanya aku yang selama ini merasa begitu terluka hingga menepis semua kebesaran-Nya.
dan memang hanya butuh kamu, Nara. untuk membuat semua terlihat lebih mudah.
"Mau mengutarakan alasannya?" tanyaku mendadak. dapat kulihat Nara terkejut mendengar pertanyaanku.
"Alasan untuk?"
"Untuk selalu ada di sini setiap hari. minum kopi disaat aku tau kamu adalah pecinta teh. dan selalu kemari dengan puluhan kata bijak."
"Haha.." tawa renyahmu mengalun.
Ah.. aku terhanyut kembali. haruskah?
" Untuk satu alasan."
"Dan apa alasan itu?"
" Karena aku sekarang suka kopi."
"ahahahahah.." tawaku kontan membahana, "Kamu, Nara.. pecinta kesehatan yang kadang berlebih ini suka kopi?? mana mungkin... hahaaa."
setelah letih tertawa, aku mengulang pertanyaan yang belum terjawab -dengan serius-.
"Alasan apa, Nara."
"Mmhh... " sebuah tarikan nafas sebelum kamu melanjutkan jawabanmu, "untuk melihatmu tersenyum."
sebuah kata lugas dengan nada tegas.
dan nadaku menghilang seketika.
membiarkan hujan yang tiba-tiba turun untuk menyamarkan degup jantungku.
mensyukuri padamnya lampu yang menyembunyikan mukaku yang memerah.
dan tersenyum pada sore yang menjelang malam untuk sebuah waktu yang diberikan.
Friday, 4 December 2009
one vanilla evening
Tak semua tangisku harus kau tahu, sayang.
Tak semua bulir air mata harus kau usap.
Tak pula semua luka yang ada di hati harus kau obati.
Karena tak sedikit luka ini memiliki kau sebagai penyebabnya.
Tapi itulah yang membuat aku hidup.
Merasa utuh dan dapat merasa.
Bahwa sakit adalah nyata. Air mata adalah luapan. Dan hati adalah hidup. Bahwa kamu dan aku hanyalah manusia yang sempurna dengan ketidaksempurnaannya.
Jangan bermain ritma.
Aku tak bisa.
Jangan mengubah alur.
Semuanya hanya akan menjadi kabur.
Mengapa tak kau beri sebuah senyuman agar beban ini terasa lebih ringan?
Mengapa pula tak kau beri sebuah tawa agar luka ini berhenti menganga.
Hidupku berarti karena hati, yang kadang kata-katanya tak terdengar karena mimpi membuai. Tentangmu. Tentangku. Tentang kita.
Bukan aku yang meminta. Tapi alam bawah sadarku yang bicara.
Menginginkanmu bukan berarti mendapatkanmu, sayang.
Melihatmu bahagia pun tak selalu membuahkan tawa untukku.
Yang kutahu hanya aku bahagia karenamu. Tak peduli bahagiamu oleh siapa.
Akan sakit bila kucari tahu. Untuk itulah misteri diciptakan. Memang ada yang lebih baik tidak terungkap. Kata yang tak terucap adalah realita yang harus dikecap. Olehku.
Sekarang aku terduduk sendirian di kedai ini. Hot Caramel Machiatto yang isinya tinggal setengah menebarkan harumnya yang membawa ingatanku kembali ke saat kita menghabiskan waktu bersama.
“ Konyol.”
“ Konyol? Kenapa selalu itu yang terucap setiap kau mengomentariku?”
“ Karena kamu memang konyol.” Sebuah senyuman dan gerakan mengacak rambutku yang sangat kubenci –tak tahukah kau, aku sengaja merapikan rambut dan memastikannya rapi setiap akan bertemu denganmu.
Dua hal yang sederhana. Lalu duniaku jungkir-balik. Selalu ada untukku. Dan pertahananku runtuh. Komitmen ini tercoreng. Olehku tanpa perlu kau tahu. Kalimat dan mimik konyol yang membuatku tertawa, bahkan di saat aku sedang jatuh sejatuh-jatuhnya. Dan hati ini berucap. Lirih. Sangat lirihnya hingga tak terdengar oleh raga.
Diamku menjadi hening saat melihatmu tertawa. Bersamanya kau terdiam dalam heningku. Jangan salahkan dirimu. Aku pun tak mau menyalahkan dirinya. Ini salahku. Yang membiarkan kata hatiku tersesat di ruang hampa yang kuciptakan sendiri.
saat langit terlihat selembut cheesecake yang sedang kupotong pun hatiku mulai mengeras. untuk tak membiarkanmu masuk. untuk melepasmu pergi.
Tak semua bulir air mata harus kau usap.
Tak pula semua luka yang ada di hati harus kau obati.
Karena tak sedikit luka ini memiliki kau sebagai penyebabnya.
Tapi itulah yang membuat aku hidup.
Merasa utuh dan dapat merasa.
Bahwa sakit adalah nyata. Air mata adalah luapan. Dan hati adalah hidup. Bahwa kamu dan aku hanyalah manusia yang sempurna dengan ketidaksempurnaannya.
Jangan bermain ritma.
Aku tak bisa.
Jangan mengubah alur.
Semuanya hanya akan menjadi kabur.
Mengapa tak kau beri sebuah senyuman agar beban ini terasa lebih ringan?
Mengapa pula tak kau beri sebuah tawa agar luka ini berhenti menganga.
Hidupku berarti karena hati, yang kadang kata-katanya tak terdengar karena mimpi membuai. Tentangmu. Tentangku. Tentang kita.
Bukan aku yang meminta. Tapi alam bawah sadarku yang bicara.
Menginginkanmu bukan berarti mendapatkanmu, sayang.
Melihatmu bahagia pun tak selalu membuahkan tawa untukku.
Yang kutahu hanya aku bahagia karenamu. Tak peduli bahagiamu oleh siapa.
Akan sakit bila kucari tahu. Untuk itulah misteri diciptakan. Memang ada yang lebih baik tidak terungkap. Kata yang tak terucap adalah realita yang harus dikecap. Olehku.
Sekarang aku terduduk sendirian di kedai ini. Hot Caramel Machiatto yang isinya tinggal setengah menebarkan harumnya yang membawa ingatanku kembali ke saat kita menghabiskan waktu bersama.
“ Konyol.”
“ Konyol? Kenapa selalu itu yang terucap setiap kau mengomentariku?”
“ Karena kamu memang konyol.” Sebuah senyuman dan gerakan mengacak rambutku yang sangat kubenci –tak tahukah kau, aku sengaja merapikan rambut dan memastikannya rapi setiap akan bertemu denganmu.
Dua hal yang sederhana. Lalu duniaku jungkir-balik. Selalu ada untukku. Dan pertahananku runtuh. Komitmen ini tercoreng. Olehku tanpa perlu kau tahu. Kalimat dan mimik konyol yang membuatku tertawa, bahkan di saat aku sedang jatuh sejatuh-jatuhnya. Dan hati ini berucap. Lirih. Sangat lirihnya hingga tak terdengar oleh raga.
Diamku menjadi hening saat melihatmu tertawa. Bersamanya kau terdiam dalam heningku. Jangan salahkan dirimu. Aku pun tak mau menyalahkan dirinya. Ini salahku. Yang membiarkan kata hatiku tersesat di ruang hampa yang kuciptakan sendiri.
saat langit terlihat selembut cheesecake yang sedang kupotong pun hatiku mulai mengeras. untuk tak membiarkanmu masuk. untuk melepasmu pergi.
Thursday, 3 December 2009
could it be any harder
You left me with goodbye and open arms
A cut so deep I don't deserve
You were always invincible in my eyes
the only thing against us now is time
[Chorus:]
Could it be any harder to say goodbye and without you,
Could it be any harder to watch you go, to face what's true
If I only had one more day
I lie down and blind myself with laughter
A quick fix of hope is what I'm needing
And now i wish that i could turn back the hours
But i know i just don't have the power
[Chorus]
I'd jump at the chance
We'd drink and we'd dance
And I'd listen close to your every word,
As if its your last, I know its your last,
Cause today, oh, you're gone
[Chorus]
Like sand on my feet
The smell of sweet perfume
You stick to me forever,baby
and I wish you didn't go,
I wish you didn't go
I wish you didn't go away
To touch you again,
With life in your hands
It couldn't be any harder
A cut so deep I don't deserve
You were always invincible in my eyes
the only thing against us now is time
[Chorus:]
Could it be any harder to say goodbye and without you,
Could it be any harder to watch you go, to face what's true
If I only had one more day
I lie down and blind myself with laughter
A quick fix of hope is what I'm needing
And now i wish that i could turn back the hours
But i know i just don't have the power
[Chorus]
I'd jump at the chance
We'd drink and we'd dance
And I'd listen close to your every word,
As if its your last, I know its your last,
Cause today, oh, you're gone
[Chorus]
Like sand on my feet
The smell of sweet perfume
You stick to me forever,baby
and I wish you didn't go,
I wish you didn't go
I wish you didn't go away
To touch you again,
With life in your hands
It couldn't be any harder
by The Calling
dan itu yang jadi recent playlist saya sekarang
dan itu yang jadi recent playlist saya sekarang
my afternoon is still caramelo
mata coklat keabuan yang cerah menatapku.
sempurna dalam balutan bingkai persegi kacamatanya.
dan terkemas sempurna dengan kaus lengan panjang berwarna hitam serta jeans belel yang kau gunakan.
kamu. lagi-lagi kamu menatapku dengan pandangan penuh selidik.
dan lagi-lagi kedai ini.
" Jadi?" kamu membuka percakapan.
" Jadi apa?" tanyaku defensif.
" Sudah bertemu dengannya?"
terkejut dengan kalimat yang baru dilontarkan olehmu, pertahananku pun runtuh. aku tahu sudah tak ada gunanya lagi berpura-pura di hadapanmu.
"Sudah.." jawabku lirih.
" Ohh.." hanya itu responmu.
sunyi lagi.
dan aku kembali terhanyut.
"See you in my dream, I hope this night will last for long."
satu kalimat dan duniaku jungkir balik.
tangisku pecah dan aku pun menyerah. mengakui kelemahanku pada malam.
"Stop crying, princessa. would you?" suaramu membawaku kembali ke kehidupan nyata.
"I'm not crying."
" Oh yes you are." sebuah pernyataan tegas darimu.
sebuah jeda.
" kenapa?" Oh tidak, jangan nada itu.
jangan gunakan nada memohon.
" Aku jatuh." aku mengambil napas sejenak dan mencuri pandang untuk melihat reaksimu.
muka dinginmu yang kudapat. pertanda kau siap mendengarkan.
" Aku jatuh. untuk kedua kalinya. sakit. dan sakit luar biasa saat tahu aku bodoh.." kau masih diam.
aku melanjutkan, "Hmm..aku masih belum bisa belajar. aku lelah harus selalu terenyuh saat melihatnya kembali. aku..." kurasakan pipiku basah.
kamu berjalan menuju sofa tempatku duduk. tersenyum, menyodorkan sapu tangan, lalu meraihku dalam pelukanmu.
tangisku pecah.
"aku letih, Nara."
"aku tahu." Nara pun memelukku semakin erat.
sempurna dalam balutan bingkai persegi kacamatanya.
dan terkemas sempurna dengan kaus lengan panjang berwarna hitam serta jeans belel yang kau gunakan.
kamu. lagi-lagi kamu menatapku dengan pandangan penuh selidik.
dan lagi-lagi kedai ini.
" Jadi?" kamu membuka percakapan.
" Jadi apa?" tanyaku defensif.
" Sudah bertemu dengannya?"
terkejut dengan kalimat yang baru dilontarkan olehmu, pertahananku pun runtuh. aku tahu sudah tak ada gunanya lagi berpura-pura di hadapanmu.
"Sudah.." jawabku lirih.
" Ohh.." hanya itu responmu.
sunyi lagi.
dan aku kembali terhanyut.
"See you in my dream, I hope this night will last for long."
satu kalimat dan duniaku jungkir balik.
tangisku pecah dan aku pun menyerah. mengakui kelemahanku pada malam.
"Stop crying, princessa. would you?" suaramu membawaku kembali ke kehidupan nyata.
"I'm not crying."
" Oh yes you are." sebuah pernyataan tegas darimu.
sebuah jeda.
" kenapa?" Oh tidak, jangan nada itu.
jangan gunakan nada memohon.
" Aku jatuh." aku mengambil napas sejenak dan mencuri pandang untuk melihat reaksimu.
muka dinginmu yang kudapat. pertanda kau siap mendengarkan.
" Aku jatuh. untuk kedua kalinya. sakit. dan sakit luar biasa saat tahu aku bodoh.." kau masih diam.
aku melanjutkan, "Hmm..aku masih belum bisa belajar. aku lelah harus selalu terenyuh saat melihatnya kembali. aku..." kurasakan pipiku basah.
kamu berjalan menuju sofa tempatku duduk. tersenyum, menyodorkan sapu tangan, lalu meraihku dalam pelukanmu.
tangisku pecah.
"aku letih, Nara."
"aku tahu." Nara pun memelukku semakin erat.