Tak semua tangisku harus kau tahu, sayang.
Tak semua bulir air mata harus kau usap.
Tak pula semua luka yang ada di hati harus kau obati.
Karena tak sedikit luka ini memiliki kau sebagai penyebabnya.
Tapi itulah yang membuat aku hidup.
Merasa utuh dan dapat merasa.
Bahwa sakit adalah nyata. Air mata adalah luapan. Dan hati adalah hidup. Bahwa kamu dan aku hanyalah manusia yang sempurna dengan ketidaksempurnaannya.
Jangan bermain ritma.
Aku tak bisa.
Jangan mengubah alur.
Semuanya hanya akan menjadi kabur.
Mengapa tak kau beri sebuah senyuman agar beban ini terasa lebih ringan?
Mengapa pula tak kau beri sebuah tawa agar luka ini berhenti menganga.
Hidupku berarti karena hati, yang kadang kata-katanya tak terdengar karena mimpi membuai. Tentangmu. Tentangku. Tentang kita.
Bukan aku yang meminta. Tapi alam bawah sadarku yang bicara.
Menginginkanmu bukan berarti mendapatkanmu, sayang.
Melihatmu bahagia pun tak selalu membuahkan tawa untukku.
Yang kutahu hanya aku bahagia karenamu. Tak peduli bahagiamu oleh siapa.
Akan sakit bila kucari tahu. Untuk itulah misteri diciptakan. Memang ada yang lebih baik tidak terungkap. Kata yang tak terucap adalah realita yang harus dikecap. Olehku.
Sekarang aku terduduk sendirian di kedai ini. Hot Caramel Machiatto yang isinya tinggal setengah menebarkan harumnya yang membawa ingatanku kembali ke saat kita menghabiskan waktu bersama.
“ Konyol.”
“ Konyol? Kenapa selalu itu yang terucap setiap kau mengomentariku?”
“ Karena kamu memang konyol.” Sebuah senyuman dan gerakan mengacak rambutku yang sangat kubenci –tak tahukah kau, aku sengaja merapikan rambut dan memastikannya rapi setiap akan bertemu denganmu.
Dua hal yang sederhana. Lalu duniaku jungkir-balik. Selalu ada untukku. Dan pertahananku runtuh. Komitmen ini tercoreng. Olehku tanpa perlu kau tahu. Kalimat dan mimik konyol yang membuatku tertawa, bahkan di saat aku sedang jatuh sejatuh-jatuhnya. Dan hati ini berucap. Lirih. Sangat lirihnya hingga tak terdengar oleh raga.
Diamku menjadi hening saat melihatmu tertawa. Bersamanya kau terdiam dalam heningku. Jangan salahkan dirimu. Aku pun tak mau menyalahkan dirinya. Ini salahku. Yang membiarkan kata hatiku tersesat di ruang hampa yang kuciptakan sendiri.
saat langit terlihat selembut cheesecake yang sedang kupotong pun hatiku mulai mengeras. untuk tak membiarkanmu masuk. untuk melepasmu pergi.