Thursday, 10 December 2009

creamy midninght

hujan mereda.
angin berhembus menggetarkan daun jendela.
segelas kopi di tangan.
kulirik jam di dinding, 03.41..

baiklah, waktu yang tepat untuk menulis.

termangu di depan laptop putihku, hanya angin yang bersuara.
aku tak tahu mau menulis apa.

"mulailah dari sesuatu yang tak asing bagimu.."
Terngiang suara Ditto, kakak sepupuku yang memang seorang penulis handal.

sesuatu yang tak asing?
mm.. berarti sesuatu yang memang sudah kukenal.
tapi apa?
mmmhh..
mari mulai dari... Nara.


Narandra Aleansya Anugrah Putra.
pria sulung dari 2 bersaudara yang keduanya laki-laki.
tinggi 181 cm, membuatnya terlihat menjulang jika kami berjalan berdampingan.
mata coklat keabuan cerah yang selalu penuh selidik adalah satu hal yang paling kusuka selain hidungnya yang memang agak bengkok namun mancung itu.
pernah aku melihat matanya.
dan sempat menyadari ada yang tak asing disana.
ada pedih yang disimpannya.
ada sendu yang tersirat disana.
samar, namun ada.

kulit kaukasian yang didapatkan dari ibunya yang memang Belgia dan rambut hitam legam dari bapanya yang adalah 100% Jawa membuat terlihat pucat, namun sempurna.
menjadi atlet nasional Baseball membantu mengubah tubuh kurus keringnya menjadi cukup atletis mengingat bahunya yang memang sudah bidang dari semenjak SMP.

renang adalah favoritnya.
berbeda denganku.
teh adalah minuman wajibnya.
sangat bertolak belakang denganku.
membaca segala sesuatu yang berbau ilmiah adalah kebutuhannya.
disaat aku membaca segala sesuatu tentang peri.

tapi kami suka lari.
apalagi saat hujan.
yah.. tinggal tambah lagu dan sedikit koreografi, maka hobi ini akan menghasilkan uang dari Bollywood.
tapi itu yang kami lakukan -tanpa lagu mendayu dan koreografi tentu-.

mungkin itu yang membuatku mengenalnya.
berlari.
saat sebuah pelarian yang harusnya pait berubah menjadi manis.

yah mungkin tidak semua yang terlihat manis itu adalah dosa.

kembali pada Nara..
pria yang terpaut dua tahun lebih tua dariku ini sekarang sedang menempuh studi teknik minyak di sebuah institut di kota Bandung.
kotaku.
kota kami.

apa yang begitu spesial?
tidak ada.
tidak ada yang terlalu spesial padanya.
tapi itu yang membuatnya sempurna.
terlihat indah dalam balutan ketidaksempurnaannya.

tidak ada yang spesial padanya.
tapi dia membuat sekelilingnya berarti.
bahkan sekeping debu pun dapat membuat dia bercerita.
bahwa debu itu ada dengan artinya sendiri.
dengan perjuangannya untuk tetap menjadi debu.

entahlahh..
tak pernah ada yang spesial padanya.
tapi itu yang aku suka.


sebuah tarikan napas.
aku terdiam.
menyukai kesunyian yang terbentuk saat aku menulis tentangmu.
sunyi..
bahasa yang selalu kita gunakan untuk berkomunikasi.
dalam hening kita tertawa.

dan aku menyukainya...