Thursday, 24 December 2009

once in a whippy rain

sambil terengah-engah dan basah kuyup, aku membuka pintu kedai.
mendapati Nara adalah satu-satunya pengunjung yang ada di kedai itu.
matanya langsung menuju ke arah pintu saat terdengar bell pintu kedai berbunyi.
bukannya menanti di meja, ia malah mendekatiku, dan menyodorkan sweaternya.

"Ganti bajumu dengan sweater ini. baru kau boleh duduk."
aku diam, mengatur napas, lalu mengambil sweater tersebut dan lari ke kamar mandi.

ahh.. terima kasih hujan. membantuku menyamarkan basahnya mata yang tak bisa menghentikan air mengalir dengan membanjur seluruh tubuhku. membantu dalam mendinginkan kepala pula.

mengganti baju dengan sweater hitam kesukaan Nara adalah hal yang sangat menyenangkan.
karena parfumnya selalu berhasil membuatku tenang.
seselesainya aku berganti baju dan membasuh muka, aku kembali ke dalam kedai dan duduk di seberang Nara. sudah tersedia hot caramel machiatto di meja. dan satu chamomile tea.

" Pakai ini. aku benci melihatmu menangis."
okeee... jadi dia tahu.
lagi-lagi dia tau.
dalam diam aku mengambil saputangan darinya dan mengelap mukaku.

" Kamu terlambat."
" Aku tahu. Maaf." kataku.
" Dan kamu datang sambil menangis."
aku menunduk.
" Dia menghubungimu lagi kan?"
aku mengambil cangkir dan menghirup aromanya. membuatku sedikit lebih tenang.
" Iya." jawabku setelah menyesap kopi.
" Kapan kau akan bertemu?"
" Bertemu? Dia hanya bertanya kabarku."
" Tidak mengajak bertemu?"
" Tidak."

lalu diam.
akhir-akhir ini terlalu banyak jeda diam yang tercipta.
walaupun aku menikmati, tapi tetap ada yang janggal.

" Sekarang giliranku bertanya."
Nara menyandarkan punggungnya lalu mengangguk perlahan.
yang mengagetkan bukan gaya klan-nya yang mendadak dia tunjukkan.
tetapi ekspresinya. tegang. dan ada ketakutan yang terlihat nyata dicoba disembunyikan oleh matanya.

" Ada apa, Nara?"
dan ekspresi itu semakin jelas terlihat.
Nara terdiam. mengambil cangkir tehnya dan -kulihat dengan sangat jelas- tangannya gemetar.
Nara ketakutan. dan letih.

aku diam dan menunggu Nara berkata.
"Hmm..." sebuah tarikan napas, kulihat setitik air mata di pelupuknya, " Aku harus pergi.."
" Apaa??" tanyaku tak mengerti. suaranya terlalu lirih.
" Aku mau pamit. Harus ada yang diselesaikan di Inggris. mungkin sekitar 3 minggu. aku tak tahu siapa yang akan menjagamu."

sekalilagi duniaku jungkir balik.
terlalu lama bersama Nara membuatku melupakan kehadiran orang yang sangat dipuja.
oleh Nara. bukan olehku.

" Kamu akan berangkat bersama Tian." sebuah pernyataan keluar dari mulutku.
dia mengangguk.
" lalu mengapa kamu terlihat sedih? ayolah...aku kangen Inggris. harusnya kamu senang pergi ke sana."
" Harusnya.. kalau saja kamu juga ikut."
terkejut. terdiam. dan hanya bisa menatapnya.

" Nara. Inggris. kamu ke Inggris untuk menemuinya. mengapa aku yang harus ikut?"
" Agar aku tahu kamu baik-baik saja." aku ingin tertawa untuk membuatnya tenang. tapi yang keluar malah tawa yang terdengar menggetirkan.
" Aku baik-baik saja. tenanglah. aku masih punya banyak teman."
Mata Nara sendu. entah untuk apa.
aku pun sakit. mengapa harus terasa?
mengapa harus Nara??

" sudah menyiapkan semuanya??"
" sudah disiapkan." Nara memberi penekanan pada kata di-.
dan sadarlah aku apa maksudnya.

Nara bangkit. meletakkan selembar uang merah di meja. menyodorkan tangannya ke arahku.
" Ayo, kuantar kamu pulang. Aku pikir tadi kamu diantar oleh Tian. dasar bocah anak itu."
" Haha.." sebuah tawa yang sebenarnya akhirnya terdengar dari bibirku, " Dia sibuk bertemu dengan klien. lagipula aku sudah besar."
" Tetap saja kamu kehujanan." Nara meraih tanganku, menarikku agar bangkit dari kursi.

menarik tudung sweater agar kepalaku tertutupi, kami berlari menembus hujan dengan tangan Nara yang menggenggam erat tanganku.

sekali lagi hujan menyembunyikan ekspresiku. setidaknya wajah yang memerah ini tidak terlihat olehnya sekarang.
terima kasih hujan.