Saturday, 27 March 2010

saat untuk pulang

waktu sedang mengantuk
sudah hampir tidur saat baru aku 'nina-bobo'kan
sayangnya angin berhembus kencang
meniup awan kelabu yang membawa hujan
petir yang sedang bermain bersama pun mengikuti

maka Sang Waktu kembali bangun

terkejut karena kelalaian menjalankan tugas,
ia pun berlari dan mulai kehabisan napas
mencoba melambatkan larinya,
namun gravitasi menariknya untuk terus mendekat

perlahan, waktu mulai kehabisan keseimbangan dan berjalan tak karuan
detiknya berjalan mengikuti adrenalin yang tak terkontrol

menit bergeser secepat detak yang semakin kencang

satuan jam terengah mengikuti napas yang semakin tipis

tapi sayangnya aku masih tak bisa menikmati tontonan itu
karena tepat sebelum Sang Waktu berhenti,
nadiku terhenti lebih dahulu saat mendapati aku harus berjalan menjauh darimu

:)

diksiku menguap
dan aku salahkan dirimu untuk itu

perasaanku kacau
tidak ada yang bisa kurasakan selain senang
dan aku menyalahkan diriku untuk terlalu terhanyut

masih harus menemui kenyataan untuk berpisah
tentu saja waktu yang kali ini aku salahkan

tapi saat aku menitikkan air yang tak lazim saat itu
tidak ada yang bisa kukatakan selain,
" Tuhan, terima kasih. Mulai sekarang aku akan berhenti menyalahkan."


dreamy-licious night

" Masih jauh?"

" Lumayan."

" Dimana sih?"

" Tuh, di depan."

" Daritadi bilangnya di depan."

" Emang ada di depan ko."

" Depan mana?"

" Depan sana."

" NARA!!!" aku teriak sambil memukul punggung Nara.

" Eh.. kok malah dipukul?"

" Habis rese! capek nih.."

" Ah payah! Baru juga jalan sekitar...." Nara mengangkat tangan kanannya, melihat jam tangan hitam maskulin yang melingkar disana, " 45 menit?"

" Baru? kenapa nggak naik apa, kek.. kenapa harus jalan?"

" Soalnya udaranya lagi enak. mendung tapi nggak gerah."

" Iya tapi capek." aku mulai merajuk, tak kuasa menahan pegalnya kaki yang daritadi berjalan tanpa tahu akan kemana.

" Dikit lagi. Ayo." Nara menarik tanganku perlahan, mau tak mau aku kembali berjalan.


" Nyampe nggak?"

" Apa?"

" Ke ranting sebelah sana." Nara mengacungkan tangannya, menunjuk ranting tinggi di sebuah pohon.

" Nggak." jawabku ketus.

ketus pada Nara?
Oh, tentu dengan senang hati akan kulakukan setelah melakukan tambahan 10 menit berjalan dan belum menemukan tanda-tanda akan berhenti.

" Nyampe ah." katanya keukeuh.

" Nggak." aku menjawab dengan nada lebih ketus.

Nara menoleh ke belakang, menatapku geli.
Tawanya tertahan melihat muka merajukku yang sudah mendekati tingkat akut.
dia tertawa lalu mengambil ancang-ancang untuk melompat.
belum sempat aku bicara, Nara sudah melompat tinggi dan menggapai ranting -yang ditunjuknya tadi- dan mengambil bunga yang bertengger damai di salah satu cabang ranting.

aku masih diam dan memperhatikan sambil merajuk.

mulai mengatur napas saat Nara membalikkan badan dan berjalan ke arahku.

menggigit lidah saat Nara nyengir sambil mengangkat bunga putih di tangannya.

lupa bernapas saat Nara menyodorkan bunga itu padaku.

" Biar nggak marah lagi. Maaf ya, tempatnya jauh dan aku lupa menyuruhmu memakai sneakers, " Nara mengatakannya sambil melirik flat shoes kesayanganku yang mulai kucel, " udah deket banget ko dari sini. maaf yaaaa..."

aku mengangguk pelan sambil tersenyum.

wajah Nara yang kekanakan saat meminta maaf selalu berhasil membuat semuanya baik-baik saja.

-----------------

04.13 a.m

aku tersentak seketika saat terbangun.
mimpi itu lagi.
kejadian beberapa bulan yang lalu.
yang entah mengapa masih sering kumimpikan.
Nara mengajakku ke sebuah kebun luas dengan hamparan rumput hijau yang menyejukkan.
bukan hanya itu.

sebuah tikar merah dihamparkan di bawah pohon.
di atasnya sudah tertata sebuah cool box, sebuah gitar dan sebuah kamera polaroid.
hari itu kami menghabiskan dua liter es krim vanilla dan mint, mendengarkan Nara bermain gitar sambil terus mencetak foto dari kamera.

aku menangkupkan kedua tangan di wajah.

Tuhan.
aku malu hanya terus meminta dari-Mu.
tapi kalau memang Nara adalah orang yang kau beri, ridhai semua jalanku.

sebuah perjalanan. jauh. tapi berharga

aku sedang tak ingin berterima kasih
katanya sudah terlalu sering berkumandang
artinya perlahan kabur,
mulai merendah dari seharusnya

aku tak mau bernada
bahkan bernapas saja aku masih tak berani
takut mengotori,
dan perlahan mencemari

aku tak tahu harus bicara apa
aku tak mengerti diksi apa yang harus kupakai
nampaknya kamus bahasa pun belum menemukan padanannya

tapi yang pasti,
jangan pergi .

Friday, 26 March 2010

tag note yang baru dijawab

Orang yang ditag nih note, wajib ngejawab semua soalnya! Tinggal copy semuanya, buat note baru, paste. Hapus jawaban yang udah ada, ganti sama jawaban elu. Kalo udah ngisi, tag notenya ke temen2 elu termasuk yang ngetaggin ke elu, biar rame!


QUESTION: Gimana reaksi elu kalo...


STAGE 1

1. Dapet duit 100 juta:
bayarin orang tua naik haji, sisanya ditabung

2. Kepeleset di depan orang banyak:
malu, baru kerasa sakit

3. Kejatohan kotoran burung:
diem, ngeliat ke atas, bertanya dosa apa sama burung itu

4. Dibentak sm pacar lu:
diem. kalo dibentak balik pasti malah berantem

5. Mencret di kelas:
bertanya pada yang bikin soal, "nggak ada pertanyaan lain?"

6. Diterima waktu nembak kecengan lu: (WHAT DE!?)
gatau. belum pernah nembak.

7. Ditolak kecengan lu:
pulang, buka blog, nulis sampe subuh

8. Beli mouse baru, eh pas dusnya dibuka isinya tikus idup:
tikusnya dikasi nama terus dipelihara

9. Dipaksa makan tarantula idup:
detik itu saya memutuskan untuk menjadi vegetarian

10. Tengah malem lu tiba2 bangun dan di hadapan lu ada cewe putih berbaju putih:
diem. bingung mau ngapain

STAGE 2

11. Dapet duit 100 milyar:
naik haji, amal, bikin restoran sama clothing line

12. Kepeleset di depan kecengan lu:
merah

13. Tiba2 ujan duit:
tergantung apa. kalo receh mah, naro toples yang banyak di luar, terus diem di rumah

14. Digampar kecengan lu tanpa tau sebabnya:
ngadu ke kolonel sanders

15. Lagi maen bowling g sengaja bolanya kelempar kena orang sebelah (asumsikan orang tsb wafat ^^):
ngadain tahlilan mendadak

16. Diterima waktu nembak kecengan lu, tapi abis itu dia lgsg berbuat ssuatu yg buat elu ilfil berat:
hemm..ga ngaruh ah

17. Ditolak kecengan lu, 10 detik kmudian sahabat lu dtg, nembak kecengan lu, lgsg diterima:
bengong

18. Lagi nonton video porno, ortu lu tiba2 muncul, lu mo mencet close malah pause:l
senyum watados dan bertanya, "ya? ada apa?"

19. Lagi maen bola di kampus, bolanya mental kena kepala Pak Jo... err..., kena kepala rektor kampus lu:
berdoa dia amnesia jadi lupa siapa yang nendang bolanya

20. Di belakang Ritz Carlton lu ngeliat Noordin sm Ferguson lagi bersalaman dan tertawa penuh kemenangan:
ngeluarin kamera dan merekam momen berharga, siapa tau bisa dijual

STAGE 3

21. Dapet infinite money:
bisa ya?

22. Di tempat umum lu kepeleset, ga sengaja narik rok/celana kecengan lu sampe melorot, orang2 ngeliatin smua:
berdiri, senyum, pergi

23. Tiba2 di seluruh dunia hujan Death Note:
nggak eh makasih

24. Dipegang, dipeluk, dicium kecengan lu tanpa tau sebabnya:
kecengan? tergantung kecengannya siapa

25. Iseng nendang bokong orang, taunya yang ditendang pemimpin yakuza:
dateng ke dukun buat nyantet si pemimpinnya

26. Kecengan lu ternyata alien:
belajar bahasa alien biar direstuin orang tuanya

27. Lagi enak2 ciuman sm pacar lu, tiba2 dia muntah:
berarti jangan makan dulu sebelum ciuman

28. Lu drummer, pas lagi nampil ngeband, stik lu ga sengaja ngancleng, nanclep di kepala si vokalis, wafat:
tahlilan sambil akustikan

29. Lu maen game rpg di ps3, dah maen skitar 197 jam buat dapetin smua secretnya, pas lagi battle lawan final boss, sahabat lu ga sengaja numpahin kopi panas ke ps3 lu, memcard sm ps3 lu rusak dah:
nyuruh dia main sampe stage yang tadi dirusakin

30. Ortu pacar lu maki2 lu abis2an sambil nendang2in elu, smentara pacar lu yg elu sayang bgt malah ngakak terpingkal-pingkal ngeliat elu digituin:
putus sambil nendang balik pacar

one pop-ing thought

karena batu juga berongga, sayang
masih memiliki tempat untuk merapuh
menyepuh luka
lalu membiarkannya diam mengkristal

hingga perlahan terkikis dan mulai tipis termakan waktu

lalu menuju ketiadaan yang abadi
" cause my heart never exactly belongs to you."

- nurulitatyas di sebuah catatan kecil tentang hati-

Friday, 19 March 2010

hujan, gelap, dan saya butuh penerangan

masih ada yang belum terlepas
mungkin memang tercipta bukan untuk dilepaskan

lantas apa?
disambung sudah tak mungkin

tidak pernah ada yang mutlak disini
hanya refleksi dari sebatas mimpi

aku rindu cahaya
aku rindu menatapnya dan tetap terdiam
bahkan sampai ia tenggelam

aku rindu sinar
menantinya setiap hari bagai orang bodoh
bodoh, tapi penuh asa

atau sebenarnya asa yang membuatku bodoh?

Tuesday, 16 March 2010

haaaaahhhhh

hujan
mau mendengar ceritaku?

aku sedang ingin bercerita
tapi aku bingung harus mulai darimana

kertas?
berkeberatankah jika aku mencoretmu untuk sebuah rasa?

tapi aku tak mengerti aku harus menulis apa

malam
maukah kamu mengerti?
menjadi kidung hari ini
menemani aku menangis
tidak perlu pelukan
hanya diam dan menatap saja sudah sangat membantu

biar pagi yang membawa arti

Monday, 15 March 2010

sebuah note yang akhirnya terselesaikan

Aku lelah berkata
bosan bicara
tak ada yang mendengar
tak satupun yang menyimak

saat aku menggunakan isyarat
semua malah memandangku aneh
dan berebut bertanya ada apa denganku

berisik!
aku sedang mendambakan sebuah ketenangan

aku sedang berisyarat dengan hujan
sedang tersenyum malu pada senja
melihat bayanganku terpantul di permukaan kopi,
dan melihat pantulan dirimu di belakangku

post dedicated to

aku sedang merindu
bukan mendayu
aku ingin bertemu
bukan merayu

tidakkah kau mengerti?

oh, nampaknya tidak.

karena bagimu aku hanya seonggok lelucon
tontonan penghibur di tengah penat

jangan mengerti
pikiranmu terlanjur bengkok
jangan berani untuk belajar memahami
menyimak saja kau tidak bisa

jangan pula mencoba berempati
mengartikan simpati saja kau masih salah

jadi lebih baik kamu duduk diam
tetap menonton
berhenti menilai
dan bungkam

masih tak mengerti?
ya ya ya..
ceritanya sudah tamat saja kau masih duduk diam disana

best pal? hem..

sebuah perbincangan
senja
kopi

secuil dunia maya
tengah malam
selimut

sebaris sapaan
pagi hari
telepon selular

sepenggal masa lalu
dini hari
kabut

dan ceritanya terus berlanjut :)

lagi. sebuah guratan tentang kamu

bersama sebuah kesalahan
saya belajar melupakan

bersama waktu
saya belajar melangkah

bersama sebuah kebenaran
saya diajarkan melihat

bersama kamu,
saya belajar berdamai dengan semua

Sunday, 14 March 2010

berima dengan bahasa

waktu mengajakku berjalan.
detiknya malah teraasa meninabobokanku.

masa mengajakku belajar.
bobotnya malah membuatku labil.

tidak setimbang.
jauh dari kata statis.
yang terasa malah hanya tekanan.

ah..
bicara apa aku?
nampaknya kanvas putih pun sudah bosan dengan guratan tak berarti.

sebentar..
tak berarti?
memang hanya kumpulan guratan iseng atau perspektif melihatku yang harus kuubah?

mmhh.. yaaa..

saya melempar.
memukul semua yang tergapai.
membuang semua yang terengkuh.

saya marah.
masih ingin memukul.
dan terus mencaci.
tapi tenaganya malah habis untuk menangis.
di bahumu.


mi angelo

Tuhan, aku bersyukur untuk sebuah indah yang Kau beri.
aku berterima kasih untuk satu sosok yang Kau tempatkan di sebelahku.

aku bersujud untuk sebuah emosi yang Kau cipta.
aku terharu mengetahui aku setransparan itu bagi-Mu.

mungkin juga baginya.
mungkin harusnya aku tak perlu mencari sejauh itu.
mungkin tanah ini tak harus sampai ambles, kehabisan tempat untuk kugali.

karena sebenarnya semuanya dekat.
hanya berjarak.
bukan berbatas.

malah aku yang kelewatan melewati batas.

Tuhan.
sekali lagi terima kasih.
untuk manusia yang memerankan peranannya sebagai malaikat.
untuk menyentuh hati dengan sebuah rasa.

hemm..postingan malam hari

hariku gelap.
atau memang mataku yang masih menutup?

yah..
nampaknya memang aku yang masih enggan membuka mata.

karena masih belum ada kamu saat ini.
karena hanya kamu yang ingin kulihat.

satu titik cahaya sudah cukup di antara gelap ini.
jangan terlalu banyak.
nanti jadi terlalu jelas.

satu saja, sayang.
dan itu kamu.

Saturday, 13 March 2010

tak perlu nama kan untuk menjadi arti

terima kasih sudah mau mencoba mengerti.
terima kasih sudah meluangkan waktu untuk duduk dan mendengarkan.
serta tetap diam.
terima kasih sudah merendahkan bahumu agar aku bisa bersandar dengan nyaman dan menumpahkan semuanya.

terima kasih sudah menjadi orang yang tidak memilih.
terima kasih sudah menjadi keabuan bagiku.
aku suka abu.
aku suka kesemuanmu yang terlihat kontras diantara kehitamputihan mereka.

aku juga suka saat semumu tetap begitu kabur waktu hujan mengguyur kotaku deras.
setidaknya aku tahu kamu tetap.
aku mengerti kamu mutlak.

mereka yang diselubungi kabut.

another mask finally revealed

semu.
hanya kabut yang terlihat sekarang.

jadi sebenarnya apa selama ini?

kata yang belum sempat terucap.
wajah yang selalu berubah.
mimik yang tak bisa mimikri.
lalu, topeng.

jadi selama ini kamu pakai topeng?
hebat.
kenapa tak kau bilang dari dulu?

cihh..

selalu tersenyum di depan.
lalu meludah di belakang.
argh!
pergi pergi pergi!!!!

kamu tidak tahu, sayang.
aku yang ada disana.
aku yang ada di belakang layar.

jadi diam saja.

kamu itu salah satu pemain.

hemm..jangan bilang, sahabat

aku bingung.
hanya bisa menatap dan termenung.

tahu apa kamu?
jangan bilang kamu tahu.
kamu tidak tahu apa-apa.

lantas kenapa aku marah?

karena aku merasa kamu diam untuk menutup.
jangan ditutup kalau ternyata aku masih boleh mengintip.

jadi kamu berdiri dimana?

jangan bilang kamu ada di tepian.
yang aku lihat kamu sedang diam di tengah lapang.

pergi sajalah.
aku yang mengusirmu sekarang.

Friday, 12 March 2010

8.50 PM

berhenti berpuitis..
demi Tuhan!
hentikan peranmu.

tidak perlu mengganggu.
jarak ini sudah ada pada tempatnya.
jangan lagi lewati garis.

harinya sudah habis.
pasir terakhir di jam ini sudah jatuh.

masih perlukah kuketukkan sebuah palu untuk mempertegas vonismu?

bahkan hujan pun sudah lelah jatuh.
mengais mencari keteduhan di sebuah padang tak bernama.
yang ditemukan hanya panas.
dan pasir.
yang juga tak bernama.

oasenya hilang.
atau belum tercantum di peta?
yang pasti kompasku rusak.
tak lagi menunjuk ke arah seharusnya.
yang ada aku malah tersesat.

maka dari itu aku minta kamu berhenti
medan magnetmu mengganggu kompasku.

relativitas

lagi.
sebuah yang tak nyaman sampai di tempatnya.

lagi.
sebuah tulisan tak berarti mengalir.

jangan tanya kenapa padaku.
aku saja masih menunggu jawaban angin.

sekali ini dia berhembus.
tapi yang terasa hanya dingin.
sepi.
padahal biasanya dia bersuara begitu riang.
bercerita begitu banyak.

sekarang keheningan malah makin terasa.

mungkin angin sedang letih berhembus.
mungkin juga ia kehabisan cerita.
atau mungkin ia yang bosan padaku?

gadis malang.

Wednesday, 10 March 2010

31.01.010

aku ingin menulis sesuatu yang menyentuh.
bernada puitis.
dan terasa romantis.

tapi itu bukan bidangku.

aku ingin belajar memetik gitar.
melagukan kesenangan yang sedang melanda.

tapi bukan itu bisaku.

aku malah menulis sarkatis.

makanya aku tidak mau menulis tentang kamu.
atau memang tidak bisa?

tidak ada kesarkatisan yang bisa aku tulis tentangmu.

Friday, 5 March 2010

"Kamu datang dan membuatku yakin untuk mengusirmu pergi jauh-jauh."
-nurulita rakhmaning tyas-
berhenti menulis sampah.
karena sampah yaa hanya sampah.
berhenti merayu.
jangan mendayu sekarang.
semuanya sudah layu.

pergi pergi pergi!

kurang jelaskah tinta hitam yang beralaskan kertas putih ini berkata?

P E R G I .