" Lumayan."
" Dimana sih?"
" Tuh, di depan."
" Daritadi bilangnya di depan."
" Emang ada di depan ko."
" Depan mana?"
" Depan sana."
" NARA!!!" aku teriak sambil memukul punggung Nara.
" Eh.. kok malah dipukul?"
" Habis rese! capek nih.."
" Ah payah! Baru juga jalan sekitar...." Nara mengangkat tangan kanannya, melihat jam tangan hitam maskulin yang melingkar disana, " 45 menit?"
" Baru? kenapa nggak naik apa, kek.. kenapa harus jalan?"
" Soalnya udaranya lagi enak. mendung tapi nggak gerah."
" Iya tapi capek." aku mulai merajuk, tak kuasa menahan pegalnya kaki yang daritadi berjalan tanpa tahu akan kemana.
" Dikit lagi. Ayo." Nara menarik tanganku perlahan, mau tak mau aku kembali berjalan.
" Nyampe nggak?"
" Apa?"
" Ke ranting sebelah sana." Nara mengacungkan tangannya, menunjuk ranting tinggi di sebuah pohon.
" Nggak." jawabku ketus.
ketus pada Nara?
Oh, tentu dengan senang hati akan kulakukan setelah melakukan tambahan 10 menit berjalan dan belum menemukan tanda-tanda akan berhenti.
" Nyampe ah." katanya keukeuh.
" Nggak." aku menjawab dengan nada lebih ketus.
Nara menoleh ke belakang, menatapku geli.
Tawanya tertahan melihat muka merajukku yang sudah mendekati tingkat akut.
dia tertawa lalu mengambil ancang-ancang untuk melompat.
belum sempat aku bicara, Nara sudah melompat tinggi dan menggapai ranting -yang ditunjuknya tadi- dan mengambil bunga yang bertengger damai di salah satu cabang ranting.
aku masih diam dan memperhatikan sambil merajuk.
mulai mengatur napas saat Nara membalikkan badan dan berjalan ke arahku.
menggigit lidah saat Nara nyengir sambil mengangkat bunga putih di tangannya.
lupa bernapas saat Nara menyodorkan bunga itu padaku.
" Biar nggak marah lagi. Maaf ya, tempatnya jauh dan aku lupa menyuruhmu memakai sneakers, " Nara mengatakannya sambil melirik flat shoes kesayanganku yang mulai kucel, " udah deket banget ko dari sini. maaf yaaaa..."
aku mengangguk pelan sambil tersenyum.
wajah Nara yang kekanakan saat meminta maaf selalu berhasil membuat semuanya baik-baik saja.
-----------------
04.13 a.m
aku tersentak seketika saat terbangun.
mimpi itu lagi.
kejadian beberapa bulan yang lalu.
yang entah mengapa masih sering kumimpikan.
Nara mengajakku ke sebuah kebun luas dengan hamparan rumput hijau yang menyejukkan.
bukan hanya itu.
sebuah tikar merah dihamparkan di bawah pohon.
di atasnya sudah tertata sebuah cool box, sebuah gitar dan sebuah kamera polaroid.
hari itu kami menghabiskan dua liter es krim vanilla dan mint, mendengarkan Nara bermain gitar sambil terus mencetak foto dari kamera.
aku menangkupkan kedua tangan di wajah.
Tuhan.
aku malu hanya terus meminta dari-Mu.
tapi kalau memang Nara adalah orang yang kau beri, ridhai semua jalanku.