Sunday, 27 December 2009

introduce me : Tian

pesawat.
setelah 10 jam terbang.

" Nar.." panggilku.

" hmm.." Nara menjawab seadanya.

" Lu..." aku mulai ragu untuk melanjutkan kata-kataku.

" Apa?" tanyanya tak sabar. aku tahu dia sebenernya mengantuk.

" Lu suka sama ade gue?"

" Hah?!!" Nara terperanjat. sebuah jawaban mutlak bagiku. namun kujaga ekspresiku tetap dingin.

"Iya.. gue tanya. Lu suka sama Tharesh?"

" Suka? ya iyalah..makanya gue juga mau ngejagain dia selama lu pergi."

" That's not what I see, boy."

" So.. tell me what you see, then."

" Untuk apa? aku akan tahu jawabannya sesampainya kita disana nanti."

Nara langsung membuang muka dan memandang ke luar jendela, pura-pura tertarik dengan pemandangan yang ada di luar sana.
padahal aku tahu pandangannya kosong.
tapi aku bisa apa?
itu hidupnya.

" Kalo emang suka gapapa ko.. aku rela kalo Tharesh akhirnya sama kamu. daripada sama si tikus itu. gelandangan!" lalu aku menarik selimut dan mencoba tidur -walaupun masih sore, tapi aku merasa letih-.

Nara diam. sempat kulirik dan terlihat mukanya bersemu.
haha.. dasar bocah.
aku pun pergi tidur.

pesawat.
20 menit sebelum landing.

" Baiklah. kita sampai sebentar lagi. ahh... banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan sesampainya disana."

" aku juga."

spontan aku menoleh pada Nara dan tersenyum kecut, " jadi untukmu ini adalah pekerjaan?"

" Bukan. tapi tetap saja harus diselesaikan."

" Aku masih tak mengerti."

Nara salah tingkah.
maaf, Nara. tapi tampaknya kali ini aku memang mengintimidasimu.

" Tak perlu kau mengerti. satu-satunya yang harus kau lakukan adalah duduk, diam, dan menonton." tawaku pecah mendengar jawaban Nara.

" sampai kapan?"

" sampai kapan? apanya?" wajah tololnya memandangiku.

ohh.. okee.. mungkin hanya aku yang tahu bahwa dibalik semua sikap dinginnya, Nara adalah orang yang tolol dan konyol.

" sampai kapan kaya gini? yang perlu dilakukan hanya memilih. begitu saja kau tak bisa."

" Justru karena harus memilih yang membuatku sulit memutuskan."

tedengar pengumuman untuk memakai sabuk pengaman.

" apa pun itu. jangan kecewakan dirimu sendiri, okee? Tharesh juga sedang berjuang di Indonesia." kataku sambil mengenakan sabuk pengaman.

" Apa maksud..."

belum selesai Nara bicara, aku sudah menjawab, " Aku tahu kemarin ia bertemu dengan si tikus gelandangan itu."

muka Nara bertanya, baru membuka mulut, dan kembali mengatupkan bibirnya saat mendengar aku melanjutkan bicara, " Jangan tanya bagaimana caranya Nara. selalu ada keuntungan yang walaupun aku benci untuk melakukannya, saat menjadi Hanggaatmadja."

" Aku tak melakukan apa-apa. Hanya menugaskan beberapa orang untuk mengawasi."

dapat kulihat ekspresi Nara berubah tenang saat mendengar kalimat terakhirku.


Bandara.
sesaat setelah mengambil koper.

" Tian!" seseorang berteriak memanggilku. kubalikkan tubuhnya, dan kulihat seorang gadis mendekat.

" Hai.. mana...." suaranya terhenti saat melihat satu sosok berjalan mendekat ke sebelahku.

" Hai.." sapa Nara pada gadis itu.

" Nara!" gadis itu sedikit berteriak dan langsung memeluk Nara yang dibalas dengan canggung oleh Nara.

" Mobilnya?" aku bertanya pada gadis itu.

" Oh.. iyah.. ayo ikuti aku." gadis itu lalu berjalan mendahului kami.

di tengah jalan, ia berhenti dan berbalik, " Tak apa kan jika kita mampir ke tempatku dulu? Ayah dan Ibu sudah tak sabar untuk bertemu denganmu."

sebuah anggukan dan senyum dariku.
hanya sebuah anggukan dari Nara.

sesampainya di tempat parkir, gadis itu menghampiri sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam dan membuka bagasinya.

" Akhirnyaaa.... sampai." gadis itu tersenyum pada Nara yang duduk di bangku penumpang, lalu membuka pintu. gerakan yang kemudian aku dan Nara ikuti.

sebelumya aku belum pernah ke tempat ini.
selama ini aku dan gadis itu selalu bertemu di cafe, restaurant, atau di apartemenku.
apartemen itu besar. bersih. dengan penataan ruang memakai gaya klasik.

" Nak Tian. apa kabar?" seorang wanita paruh baya yang masih terlihat segar berjalan ke arahku dan mencium kedua pipiku.

" Baik, tante. Tante sendiri gimana?"

" How do I look??"

" Hmm.. same as 25 years old?" kataku menggodanya. dan ia tertawa.

" Nara!!!"

oh baiklah.. kenapa orang-orang harus selalu histeris setiap melihat Nara?
tidak. aku tak iri.
hanya sajaaaaa....
well, mungkin aku sedikit iri.

" Tante.." sapa Nara sopan.

" Gimana kabar mama? papa? kamu ko kurusan?" dan berbondong pertanyaan menghinggapi Nara.

aku hanya mengedikkan bahu ke arahnya, berjalan ke mini bar.. dan meneguk secangkir teh yang sudah tersedia.

membiarkan Nara menjawab semua pertanyaannya sendiri.


tempatku.
5 jam kemudian.

Nara menghempaskan tubuhnya di kamar Tharesh.
kamar yang seharusnya ditempati Tharesh bila ia ada disini.

" Aku ke kamarku dulu. kalau kamu lapar, ada makanan di kulkas. ada beberapa hal yang harus kucek segera."

Nara duduk tegak mendengar kata terakhirku.

" aku pergi hanya sebentar. sebelum larut aku sudah akan kembali."

" baiklah.." akhirnya ia menjawab juga.

" kirim e-mail ke Tharesh. beritahu dia kita sudah sampai."

hanya anggukan yang menjadi bukti nyata bahwa Nara masih merespon.

setelah ganti baju, aku keluar kamar dan mendapati Nara sedang di depan laptop.
mengirim e-mail pada Tharesh mungkin.

" Aku pergi dulu."

" hati-hati." hanya itu jawabannya.

mukanya sangat serius menghadap layar laptop.
aku tak berani mengganggunya.
sekarang dia perlu waktu untuk berpikir.
satu kesalahan kecil adalah hal terakhir yang dibutuhkan saat ini.

kututup pintu apartemen.
merapatkan jaket dan berjalan menuju lift.

saatnya menyelesaikan beberapa hal.