Saturday, 19 December 2009

one cinnamon night

sebuah kedai es krim kuno itu kudapati lengang di malam ini.
mempermudahku untuk menemukan Nara. malam ini ia mengenakan polo shirt abu dan celana jins hitam, duduk menghadap pintu tempat aku masuk.

Rapi. darimana dia?

" Hai.." sapaku.
" Selamat malam." balasnya sambil tersenyum. gerakan tangannya mempersilakanku duduk, aku pun mengambil tempat di depannya -sedikit heran mengapa dia memilih tempat duduk untuk empat orang-.
" Sudah pesan?" tanyaku.
" Belum. Pesan sekarang?" anggukan kecil dariku -sebuah tanda persetujuan- dan ia melambaikan tangan tanda meminta daftar menu.

" Sudah tahu mau pesan apa?" tanyanya dengan nada -mengherankan mendengarnya menggunakan nada ini- sedikit resmi.
" Mm.." kubalik lembaran menu dua kali sebelum akhirnya memesan, " Mint cookies."
" Single atau double?" tanya Fany, pramusaji kedai -ia menggunakan badge nama-.
" Single." jawabku.
" Saya mau mint tea. Itu dulu untuk saat ini." Fany langsung mencatat pesanan kami, lalu pergi ke -mmm...mungkin- dapur.

Jeda yang tidak terlalu lama -mengingat suasana kedai yang sepi dan pesanan kami yang sedikit- tercipta sebelum pesanan kami datang, diisi dengan diam.

"Mint cookies single dan mint tea." Fany meletakkan pesanan kami di meja. setelah kami mengucapkan terimakasih, ia pun beranjak pergi.

" Jadi.... teh, heh?" aku membuka percakapan.
" Mm..?" Nara menaikkan sebelah alisnya, tanda bertanya.
Ahh.. aku suka ekspresinya -walaupun setelah kupikir-pikir kembali, dari semua ekspresi yang pernah Nara tunjukkan, tidak ada ekspresi yang tidak kusukai-.

" Kamu mengajakku kesini hanya untuk membeli secangkir teh? maksudku... ini kedai es krim, Naraaa..."
" Ya. tapi kamu suka kan?'' ekspresinya dingin. bukan Nara yang biasanya.
'' Iya. Tapi tetap saja aneh, Narandra..."
sebuah senyum kecil mulai terbentuk saat dia mengucapkan alasannya, " Karena bukan aku yang mau makan es krim."
" Lalu siap.." tawa Nara pecah dan seketika suaraku hilang saat mendengar sebuah sapaan yang sangat kukenal.
" Hai, darl!" tepat sebelum aku menoleh, sebuah sosok tegap sudah berdiri di sampingku, lalu memelukku.
aku terkesiap.
sosok itu melepaskan pelukannya lalu menyentuh hidungku sejenak sebelum duduk di antara aku dan Nara.

"Tian.." kataku lirih.
orang yang kupanggil Tian itu menoleh.
"CUPU! JELEK BANGET SI KESINI GA BILANG-BILANG!" aku pun teriak -meledak, lebih tepatnya-, sambil melemparkan kotak tissue ke arahnya.
" Eh eh.." katanya panik.
" YANG MEGANG KUNCI RUMAH SIAPA EMANGNYA? RESE!!!" aku diam sejenak untuk mengatur kembali napasku yang terengah-engah.
" Eh.. ampun-ampun. buset dah galak bener yang udah ga ditengokin lima bulan." tawanya. dan tawa Nara. baru kusadari ada Nara -ralat, korban selanjutnya-.
" INI LAGI IKUT-IKUTAN KETAWA. UDAH TADI PASANG MUKA SOK-SOK JUTEK!!!" kacamatanya tak luput dari lemparan sendok es krimku.
" Waduh, maaf maaf, Re." katanya panik sambil mengambil tissue dari kotaknya -yang masih ada di tangan Tian- untuk membersihkan kacamatanya.

tak akan ada kata princessa hari ini. Nara tak akan berani. atau belum? entahlah..

" Tharesha Agashi." sebut Tian sambil menggeleng-gelengkan kepala dan mengelap air mata tawa menggunakan penggung tangannya.
" Prasetian Agata Aji." balasku diiringi gerakan melipat tangan di depan dada.
" Hanggaatmadja." sambung Nara sambil masih tertawa kecil.

dan itulah awal pembicaraan hangat kami malam ini. percakapan yang aku rindukan. yang kunikmati setiap detiknya.
malam ini pun menaungi kami yang terhanyut.