" Kami sudah sampai.
maaf baru mengabari sekarang.
Tian sudah pergi lagi.
ada beberapa urusan yang harus diselesaikan katanya."
baiklah.
jadi mereka sudah tiba disana.
segera kuketik e-mail balasan untuknya.
" Ok.
hati-hati disana.
cepat pulang.
aku benci ditinggal sendirian."
sebentar.
terdengar terlalu berharap.
lagipula..
ahh.. Nara kan ke Inggris bukan untuk bisnis.
cepat-cepat kuhapus beberapa kata.
kubaca ulang balasanku,
" Ok.
hati-hati disana."
send.
baiklah.
jadi Nara sudah ada disana.
sudah sampai.
dan kubayangkan Nara sudah bertemu dengannya.
tak usah dibayangkan.
hal itu sudah pasti terjadi.
memangnya untuk lagi apa Nara kesana.
ayolah..
aku tak apa.
harusnya aku tak apa.
lalu mengapa aku malah jadi aneh begini?
haaaahhhh..
kuhela napasku sendiri dan termangu di depan laptop putihku.
membayangkan apa jadinya bila Nara pulang.
ahhhhhhh...
makin gila saja aku.
terlalu banyak kemungkinan.
akan banyak tindakan yang harus diambil.
dan menimbulkan berbagai reaksi yang berbeda.
dan semakin kupikirkan, semakin sedikit kemungkinan baik akan terjadi.
terlalu kecil celahnya untukku.
dan akan menjadi sangat sulit untuk masuk melalui celah itu.
melihatnya pun sulit.
satu-satunya hal yang tak ingin kubayangkan.
lalu harus bagaimana?
selama ini aku bertahan karenanya.
atau untuknya?
yah..
pokoknya dengannya.
haruskah sebuah rasa dilepas lagi?
untuk sebuah nama yang sampai sekarang masih ingin kubiarkan hilang di antara ribuan ingatanku.
walaupun jika dilihat, nama itu tetap memiliki satu ruang besar disana.
walaupun tak sebesar di hati Nara.
baiklah..
Tharesh..
lupakan saja, okey?
susun kembali semuanya mulai dari sekarang.
sebelum semuanya terlambat.
biarkan dia berjuang disana.
serahkan semuanya pada waktu.
alirkan rasamu pada hujan.
biarkan dia membawanya sampai saatnya harus kembali padamu.
entah dengan Nara.
atau mungkin memang hujan kali ini hanya untukku sendiri.
kulangkahkan kakiku ke dapur.
mengambil biji kopi dan memasukkannya ke dalam mesin espresso.
suara mesin terdengar mendengung.
aku mengambil kursi kecil dan duduk sambil menikmati pemandangan jendela yang basah terkena cipratan hujan.
memang jendelanya yang buram, atau mataku yang mulai basah?