Tuesday, 8 December 2009

what a chilly day

" Sampai kapan kamu mau begini?"

"Begini bagaimana?"

" Yaa begini.. tidak mau mengambil, tapi enggan melepas."

" Apa maksudmu?"

" Aku kan sahabatmu." sahabat. Kata itu terasa sangat lampau untukku.

" Entahlah.. aku merasa nyaman."

"Ayolah..jujur padaku, kamu suka dia kan?"

Jujur. sebuah kata yang terasa terlalu lampau untuk diucapkan kembali olehmu. apalagi dilakukan olehku.

"Hmmm.." aku pura-pura berpikir, mengulur waktu karena sebenarnya aku memang tak pernah memikirkan perihal ini, "entahlah.. aku tak peduli."

"Hahhh... kamu ini." kamu melirik jam yang ada di tanganmu. kulit hijau -ular tebakanku, pantas untukmu- dengan aksen emas di jarumnya.

" Ya ampun. aku sudah telat janjian 15 menit dengan.."

" Pradit." potongku. masih terasa perih, namun aku masih bisa menyembunyikan.
tidak di depanmu, sahabat. tidak sekarang.

" Ah.. yah.. dengannya. kau sudah tau dia sudah kembali dari.." kalimatnya terpotong saat melihatku mengambil cangkir teh -ya, hari ini aku memilih twinnings mint tea sebagai teman untuk bersama seorang sahabat lama- , menyandarkan punggungku pada sofa coklat empuk ini dan mengangguk.

Nara bilang darah biruku sedang dominan jika aku berpose seperti ini.
dan memang bakat alami untuk membuat semua orang terdiam saat mereka diingatkan dengan posisiku.
turunan keluarga, ejek Nara..
ahh... lagi-lagi Nara.

"Pergilah." kataku. bukan. bukan kata atau saran. tapi perintah.
yah, dengan kata "I order you to.." di depannya, maka aku akan menjadi peran pengganti Anne Hathaway di Princess Diaries 3.

dan disinilah kamu.
menatapku dengan pandangan..mm.. bersalah?? tidak, tidak. itu akan menjadi hal pertama yang aku coret dari daftar ekspresimu. takut mungkin.
yayaya..aku memilih kata takut untuk ekspresimu.
ah.. sudah biasa. mungkin hal-hal seperti itu kadang memang menimbulkan efek-efek tertentu pada orang-orang tertentu pula.

yah.. lanjut dengan apa yang akan kau lakukan setelah menatapku dengan ekspresi itu.
kamu pun mengambil tasmu -hendak mengeluarkan dompet nampaknya- saat aku melambaikan tanganku memanggil pelayan dan memberi kartu kredit sebelum pelayan itu sempat mengambilkan tagihan.

kamu terdiam. lagi.
haha.. kadang aku suka menjadi superrior.
aku menatapmu. dingin.
kamu pun sadar sudah waktunya bagimu untuk pergi.

" Baiklah..aku pergi.."

"sebelumnya.." kamu terdiam lagi saat aku mengucapkan kata itu, "jangan selalu percaya apa kata orang. terlebih lagi mengenaiku."

diam. mengangguk. menyampirkan tasmu. lalu kau beranjak pergi meninggalkan cafe.

sebuah rasa kembali muncul ke permukaan.
masih ada perih untukmu.
masih ada sebuah penyesalan untuk apa yang terjadi.
mengapa harus kamu?
masih ada pertanyaan itu.

yah.. lagipula mengapa kau tiba-tiba datang menawariku kembali akan sebuah ikatan lama yang sudah terasa asing untuk masa sekarang?
maksudku.. kamu hanya datang untuk menanyakan perihal pria lain di hidupku yang dengan enaknya kau bilang aku gantungkan?
o ow.. ada hal-hal yang tidak kau mengerti, sahabat.
banyak hal seperti itu.
ada hal-hal yang memang ingin kusimpan sendiri.
bukan untuk dibagikan kepada orang lain.
menjadi konsumsi publik. apalagi olehmu.
cihh..

pelayan yang tadi kuberi kartu kredit kembali datang ke mejaku untuk mengembalikan kartu dan membawa tagihannya serta kertas kecil untuk kutandatangani. membuyarkan lamunanku.
baguslah. kalau tidak aku akan semakin menjadi dan menghabiskan tenaga untuk mencacimu.

drrttt..
telepon selularku bergetar.

pesan?
dari siapa?

kubuka dan kubaca pesan itu.
sebuah senyum kecil mengembang dan aku pun langsung mengalihkan pandanganku ke jendela cafe tempat Nara berada dan nyengir saat mendapatiku menatapnya.
Yaa.. lagi-lagi Nara.

segera kurapikan dompetku, mengambil tas, menyelipkan selembar Rp 10.000,00 di dompet tagihan, tersenyum kepada para pramuniaga cafe -sedikit menyesal tadi mambahasakan mereka pelayan-, lalu membuka pintu cafe setelah sebelumnya membaca ulang pesan dari Nara.

"Sebentar lagi hujan. pulang yuk.. lagipula nampaknya temanmu sudah benar-benar pergi. aku sedang kedinginan dibelai angin di luar, princessa."