" Brengsek." Tangan Nara bergetar saking marahnya saat dia memegang cangkir tehnya, " Harusnya aku tahu."
" Sudahlah, Nara."
" Harusnya aku sudah bisa membacanya."
" Nara..." aku memanggil untuk menenangkannya.
" Dasar tak tahu malu."
" Nara! sudah cukup, okey?" nada membentak pun akhirnya keluar dari mulutku -sedikit kaget sebenarnya, maksudku, apalagi yang harus dibela dari dia?-.
setidaknya Nara berhenti. akhirnya Nara terdiam. napasnya terengah. matanya masih menatap sekitar dengan liar.
" Tharesh, maaf.." Tharesh? Nara tak pernah memanggilku dengan sebutan itu.
" Setidaknya sekarang aku tahu, bukan hanya aku yang brengsek." kataku dingin -yang mana sangat mengherankan-.
" Tharesh.." panggilnya sopan, resmi lebih tepatnya.
" Yaa?" aku menyahut, " Mengapa kau meminta maaf?" tanyaku perlahan, takut Nara akan meledak lagi.
" Karena aku gagal menjagamu..." sebuah kilatan cahaya yang terpantul di matamu, cukup menjadi pertanda bahwa kamu menahan emosi yang sangat parah, " dari dia." Nara melanjutkan lirih.
" Nara.. aku tak apa."
" Tak apa, katamu? Setelah 3 cangkir espresso dan bercangkir-cangkir caramel machiato serta kopi klasik selama seminggu ini kamu masih berani bilang tak apa?" ada jeritan tertahan disana. dan aku miris mendengarnya.
untuk pertama kalinya Nara gagal menyembunyikan emosinya.
" Ayolah.. setidaknya mataku tak bengkak. dan aku tak ingin bunuh diri."
" dengan cara makanmu yang seperti ini dan kopi yang masuk ke tubuhmu, itu sudah merupakan bunuh diri tersendiri."
" Yah... aku tak akan minum kopi lagi ko sekarang. kau kan bisa lihat sekali ini aku memesan teh."
dan memang benar. sekali ini aku memesan mint tea.
" Tapi tetap saja itu..." Nara terlihat gelisah, " Argh! kenapa kamu baru memberitahuku sekarang?"
" Entahlah.." aku menjawab jujur. aku pun tak mengerti mengapa baru sekarang aku memberitahunya.
" Seminggu, Re. dan aku ingin tahu mengapa sekarang?"
" Yah.. masih untung aku tidak menunggu tiga minggu lalu untuk menggenapkannya menjadi sebulan."
" Re..." Nara memanggilku pelan.
" Baiklah, Nara. aku mengaku. aku benci. aku sakit hati. aku lelah. aku ingin menangis. aku ingin teriak. tapi tenagaku habis."
" Aku menunggu.." nada suara Nara mulai tenang.
" Aku ingin mengaku aku kalah. aku ingin menampar wajahnya. aku ingin menampar wajah gadis itu. tapi aku bisa apa?" tak terasa air mata yang tertahan selama seminggu mulai mengalir.
" Aku.. aku..." kata-kataku mulai tersendat.
Nara pindah, mengambil alih tempat duduk di sampingku -kami sedang ada di cafe dimana hanya ada dua bangku panjang berhadapan yang dihalangi satu meja-, lalu memelukku.
" Menangis saja. aku mendengarkan. aku akan diam. aku menemanimu. tapi jangan merasa kalah. aku ada disini." Nara berbisik di telingaku.
" Aku....aku terkejut karena jauh di sudut sana, aku sudah tahu hal ini akan terjadi." tangisku pecah.
" Ssssttt.. jangan bicara. tampar aku kalau kau mau. tapi sudah habis itu. lepaskan dia. biarkan dia sadar sendiri bahwa tak akan ada yang lebih baik darimu."
kata-kata terakhir dari Nara yang kudengar sebelum tangisku benar-benar pecah.
dan terdengar suara adzan di kejauhan.
* sebuah catatan kecil pengingat masa lalu hari itu.
File. Save. Pomeriggio.