Monday, 28 December 2009

me, Tian as an elder

" Tidur. Sudah malam. jangan terlalu dipikirkan. semuanya akan baik-baik saja."

" Sampai kapan kamu mau begini?" suara tegas seorang wanita membuatku terkejut. aku tak suka nada ini. aku tak suka diselidiki.

" Apa?" tanyaku tak kalah dingin.

" Berpura-pura bahwa semuanya berjalan lancar. Bahwa Nara baik- baik saja, begitu pula Tharesh."

" Ra. Aku juga khawatir. tapi aku bisa apa?" tanyaku frustasi.

kelemahan yang hanya bisa kutunjukkan pada Aradea.
karena hanya dia yang mengerti.
dan dia yang jauh lebih kuat dariku.
untuk itu aku mau menunjukkan sisi ini padanya.

" Kamu bisa membantunya sibuk agar Nara dapat terhindar sejenak dari mereka."

" Nara tak akan bisa menghindar, sayang. Ini bukan di Indonesia. tak ada yang bisa membatasi mereka. jelas-jelas Nara kemari untuk bertemu mereka."

" Mereka yang ingin bertemu." Dea mengoreksiku.

" Yah.. apapun lah itu. tetap saja ini bukan keinginan Nara."

" Jangan bilang begitu. Tak ada yang tahu maksud Nara memenuhi undangan itu untuk apa. dia ada disini sekarang. kemungkinan itu masih ada, sayang.."

" Ahh.. terserah kamu. aku tidur duluan yaa... malem, Agata."

" Night, darl." kataku lemah.

" sudah.. jangan terlalu dipikirkan, okee? kamu butuh istirahat untuk rapat besok."

" Iyaa... malam.." aku pun memutuskan hubungan telepon.

hahhhh... lalu harus bagaimana?

Aku membanting punggungku ke kasur.

kenapa harus aku yang bingung?
karena aku berdiri di antara dua makhluk egois yang tak punya waktu hanya untuk mengerti dirinya sendiri.
terlalu sibuk.
sibuk untuk menutupi dirinya masing-masing.
dariku.

bodoh.. tidakkah mereka sadar bahwa aku sudah mengetahuinya jauh bahkan sebelum mereka menyadari hal itu.

tok tok tok..

Nara yang mengetuk pasti.
siapa lagi..

" Masuk.." kataku sambil merubah posisiku menjadi duduk di kasur.

Nara masuk perlahan.
mukanya kacau.
dia berjalan terhuyung lalu menghempaskan tubuhnya tepat di sampingku.

" hmmm..."

" kenapa?" tanyaku.

" entahlah. aku lelah."

" Untuk semua hal yang tak bisa kau putuskan sendiri." memang sinis. maaf, Nara. tapi aku sinis untuk semua tentang Tharesh.

" Untuk semua tentang ini." dia menunjuk kepalanya.

" pikiranmu?"

" Iyah.. untuk semua pertimbangan yang aku buat."

" Dan semua rasa takut yang enggan kau hadapi." aku sedikit berteriak.

" Tian.."

" aku tahu, aku tahu. tak ada yang bisa memaksamu. tapi setidaknya hentikan permainan ini. biarkan mereka lepas kalau memang begitu."

" Aku tak bisa." Nara terdengar frustasi, ditambah dengan gerakan mengacak-acak rambutnya -oh ya, dia memang frustasi-.

" Memang akan selalu ada hal yang tidak selesai antara kamu dengannya! lalu bagaimana?" aku pun menjerit frustasi.

" Aku tak tahu, Tian. Argh!" Nara berdiri, membalik badannya menghadapku, lalu berkata, " aku minta gin and tonic, oke?"


aku mengangguk.
membiarkannya keluar kamar.
lalu kembali merebahkan tubuhku saat pintu kamar sudah tertutup kembali.

telepon selulerku bergetar.
kulirik layarnya.
sebuah pesan.

" Nara! aku kembali sebentar lagi!" aku berteriak di pintu keluar.
kulihat Nara sedang termenung memperhatikan gelas bening gin and tonic.

ahh.. masih ada yang lebih penting.

kubuka pintu.
sedikit berlari sambil mengancingkan jas yang ikut melambai seiring dengan langkahku.

kulirik sekali lagi pesan yang tertera di layar.

she's gone.
last thing we've seen is the black toyota camry.


segera kumasukkan telepon selularku ke dalam saku.
dan menarik napas sambil menunggu lift terbuka.

16..masih lima lantai lagi.
haaahh.. dasar tikus!
benar-benar ada tindakan yang harus diambil.