Bandara.
03. 45 a.m.
" Kita take off jam 5.15." Tian menghampiri kami di ruang tunggu. Jangan tanya bagaimana caranya aku bisa masuk sampai ke sini. pokoknya jangan.
" Okee.." Nara menjawab. aku hanya diam. kedinginan.
" Aku pergi membeli kopi dulu. caramel machiatto, Re?" tanya Tian lembut.
aku mengangguk.
" Frappucino." Nara menjawab pertanyaan yang belum sempat dilontarkan Tian.
" Baiklah. diam disini, oke? aku kembali sebentar lagi." Tian pun pergi setelah mengucapkan kata-kata itu.
jadi..hanya ada aku dan Nara sekarang.
duduk bersebelahan.
menatap langit yang mulai berubah warna.
Nara yang diam.
dan aku yang berlagak seakan tidak ada apa-apa, padahal buatku dunia sebentar lagi kiamat. hanya tinggal menunggu kepastiannya saja.
kapan?
saat Nara kembali dari Inggris.
itu pun kalau dia kembali.
kalau tidak, maka sudah dipastikan aku mati.
" Sekarang katakan padaku." Nara membuka pembicaraan.
aku mencuri pandang ke arahnya dan mendapatinya tetap memandang jendela.
" Tentang?"
Nara menggeser posisi tubuhnya, menghadap ke arahku.
menantiku untuk menghadap ke arahnya juga.
aku diam.
dan yahh... aku kalah..
aku pun menghadapkan wajahku padanya.
" Mengapa kau berbohong pada kakakmu?" Pandangannya tepat lurus ke dalam mataku.
sedikit gerakan, maka ia tahu aku berbohong.
menyerah. aku pun mengatakan yang sebenarnya.
" Aku masih tak ingin melihatnya dilukai oleh Tian."
" Ap.."
" Tian akan mencarinya jika aku beri tahu yang sebenarnya. dan kamu tahu apa yang selanjutnya akan terjadi." aku memotong kalimat Nara.
Nara diam, menatapku, dan suasana terasa sangat hening.
" Yah.. terakhir kali bertemu. bukan hal baik yang terjadi." Nara membuang muka, kembali menatap langit melalui jendela besar di hadapan kami.
" Seseorang hampir terbunuh saat itu..."
" Tapi dia pantas menerimanya." Nara melanjutkan kalimatku, " dia juga telah membunuh seseorang yang penting bagiku saat itu.."
baru aku mau bertanya, dia sudah meneruskan kalimatnya kembali.
" kamu."
aku diam. kaget. tapi tak ada yang bisa kulakukan.
tetap saja dia akan pergi sekarang. sebentar lagi.
" Aku kan masih hidup sekarang." kataku merajuk -mencoba menyembunyikan perasaanku-.
" Tapi tidak waktu itu." Nara berhenti berkata. sebuah jeda. dan aku tahu pembicaraan ini selesai.
" Yours," Tian tiba-tiba datang dan menyerahkan gelas kopi pada Nara, '' yours, little.." Tian menyerahkannya sambil tersenyum.
" Jadi... sehabis ini kamu akan pulang ke rumah Gio, dan pulang ke bandung siangnya. betul?" Tian mengecek kembali rencana sebelumnya.
selalu begitu. Tian. orang yang sangat terorganisir.
" Ya.." jawabku singkat.
" Gio...??"
" Anak dari kakak ayahku, Nara."
" Oh iyah..benar."
04.45 a.m
"hoaaammmm.. aku mengantuk." kataku pada Tian dan Nara.
" Jangan tidur. cuci muka. kamu akan menyetir habis ini." Tian memerintahku. atau memang nadanya yang selalu seperti itu?
" aku temani."
jadi disinilah kami. berdua. lagi.
setelah mencuci muka, kudapati Nara terlihat sedikit limbung di tempat dia berdiri menungguku mencuci muka.
" Nara." kupanggil namanya sedikit keras.
Nara tersentak. dan kutahu ada yang tidak beres disana.
aku berlari kecil menghampirinya.
berdiri di hadapannya dan memperhatikan wajahnya.
pucat.
" Nara. kau yakin tak apa?"
" Ya..aku baik baik saja." nadanya lemah. aku tahu terjadi sesuatu.
" Tidak. kau tidak baik-baik saja. Nara.." panggilku cepat dan sedikit keras saat kulihat matanya terpejam dan badannya limbung.
suara latar tentang sebuah pengumuman sudah tak terdengar saat aku sibuk menahan pinggang Nara yang terlihat semakin lemah dalam hal kesadaran.
" Nara. kita sudah dipanggil. sudah waktunya perrrr...." suara Tian menghilang saat menyadari posisi tubuhku yang menahan berat pinggang Nara.
Tian berlari kecil ke arah kami dan menggantikan posisiku menahan Nara.
Nara seakan tersadar lalu cepat-cepar berdiri tegak.
" Aku tak apa, Re. maaf, tapi sudah waktunya masuk pesawat."
air mataku menggenang. dan cepat-cepat kuhapus dengan gerakan mengucek mata sebelum mereka menyadarinya.
" Re..." Tian menghampiri dan memegang kepalaku.
" Oh sudahlah.. aku akan baik-baik saja, Tian.." benci aku dengan momen sentimentil yang terjadi setiap kali melepas Tian pergi.
Tian tersenyum dan mengacak-ngacak rambutku, " Hanya saja. cepat kembali kemari dan jenguk aku." kataku.
" Merajuk." Tian tertawa dan mengecup keningku.
aku tertawa kecil.
Nara berjalan mendekat. dengan gerakan cepat memelukku dan berkata lirih, " Aku pergi sebentar. baik-baik ya disini. jangan males makan."
" Ehm! Nara. just in case you forget, that's my little.." Tian kembali protektif.
aku dan Nara tertawa. Nara menghadapku, lalu mengacak-ngacak rambutku.
mereka berdua bergerak menjauh, berjalan mundur, dan melambaikan tangannya padaku -yang langsung kubalas tentu saja-.
05.20 a.m.
kulihat pesawat yang sudah mengudara dari dalam mobil.
mengambil selembar tissue. mengelap air mata yang belum sempat jatuh. lalu mulai menyalakan mesin mobil.
berharap Nara akan kembali.
tanpanya.