Friday, 18 December 2009

a honey twilight

"Aku lelah, Nara."
Nara terdiam. menyesap tehnya.

"Lelah untuk selalu menjadi apa yang seharusnya. lelah untuk menutup diriku yang sesunggguhnya."

"tak ada yang menyuruhmu melakukannya."

"aku tahu. dan aku semakin lelah saat menyadarinya. habis tenagaku. bahkan hanya untuk menangis pun aku sudah tak ada tenaga."

"tak ada yang memintamu." Nara meletakkan cangkir serta tatakannya di meja kayu hitam yang memisahkan kami.

"aku bosan berperan sebagai pasangan ideal. aku ingin teriak. tapi mana mungkin dia mendengar?"

"aku mendengar. bahkan saat kau berbisik."

diam. hanya ada hening yang bisa kuucapkan.

"dengar, Re. aku menyukaimu apa adanya. tanpa perlu ideal atau apapun. aku mendengarmu setiap saat. aku melihatmu bahkan disaat kau tak ingin direkam oleh lensa manapun. aku mengerti tanpa perlu ada yang kau ucapkan. aku membacamu lebih daripada membaca buku ilmiahku. dan aku mau kamu mengerti itu."

detik pun tampak enggan bergerak. semua terpaku. terhenti sejenak, kecuali kesadaranku.
tidak, tidak. nampaknya itu juga sempat menghilang.

"jangan kau jawab. aku tak bertanya. tak ada pertanyaan disini, Re. aku hanya berkata-kata."

yah..aku pun menurut.

"jangan merasa lelah, karena tak ada yang menuntutmu untuk begitu. maksudku, lihatlah sekelilingmu. tak ada yang menuntutmu kembali seperti dulu kan? seperti saat dia masih di sampingmu."

"yah..memang." dua buah kata akhirnya meluncur keluar dari bibirku.

"lalu untuk siapa kau masih harus berperan?"

"untuknya yang sudah kembali, Nara. panggil aku bodoh kalau kau mau."

"tidak."

"kenapa?"

"karena aku tak mau."

"tapi.."

"dan aku tahu kau sebenarnya takut. masih takut dia benar-benar akan kembali menghubungimu dan kau pun akan kembali menjalani peranan itu." Nara melanjutkan jawabannya yang sempat terpotong olehku, "untuk itulah kau me-recall kembali semua ingatanmu dan merasa lelah."

yah.. nampaknya harus kuralat.
Nara bukan kopi untukku.
dia adalah penenangku. jauh lebih berkhasiat dari caffeine yang dikandung kopi.

"berhentilah, Re. tak perlu jadi yang besar dan terlihat gagah. kau hanya perlu menjadi sesuatu yang kau cintai. tak perlu jadi beringin untuk menjadi kuat. angin lembut adalah kekuatan yang terkuat sebenarnya. untuk menebarkan benih dan menjaga kehidupan tetap berlangsung. riak air dari sebuah rintik pun berarti. jadilah apa yang kau cintai. dan kau akan sadar betapa kuatnya dirimu."

"Nara..." sebuah genangan mulai terbentuk di pelupuk mataku.

Nara pun tersenyum, merogoh saku jaket hitamnya lalu mengeluarkan selembar sapu tangan abu.

"hapus air itu. ingatlah.. selalu ada satu orang yang menganggap kamu adalah dunia tempatnya berputar. yang harus kamu lakukan hanyalah membuka mata dan menyadarinya."

sebuah senyum terbentuk di wajahku.

mug besar berwarna krem itu terasa lebih berarti dengan paduan lembayung senja sebagai latar.
dan Nara sebagai pusat.