Friday, 25 December 2009

a one shot espresso night

" One single shot espresso."
dan kedua lelaki itu seketika terdiam.
sekali ini aku tak bisa membaca ekspresi Nara.
tapi aku sangat mengenal ekspresi Tian.
bertanya.
berlagak cuek dan tak peduli pun, aku menutup menu dan menyerahkannya pada pramusaji.

Nara tak akan berani memarahiku kali ini.
tidak jika ada yang lebih berwenang untuk itu.
tidak jika ada Tian.

" Jadi...lusa?" tanyaku pada mereka berdua.
" Lusa." ulang Tian. Nara hanya mengangguk.

diam.

" kamu.."
" Aku sudah besar, Nara. lagipula selama ini juga aku sendirian di rumah. tenang saja.."
" What's so matter,Nara?" Tian angkat bicara.
" Ha?" tanya Nara dingin. tapi aku bisa melihat rahangnya Nara mengeras.
" Ayolah.. kamu akan ke Inggris. bertemu dengannya." okey, Tian. cukup sampai disitu.
" mengapa kamu malah terlihat gelisah?" satu pertanyaan. dan Nara langsung membuang muka.

aku pun mengalihkan pandangan pada cangkir espresso yang sudah terhidang di meja.
masih terasa sulit ternyata untukku.
tapi mengapa?
ahh..

" Entahlah.. hanya berat saja harus meninggalkan adikmu sendiri di Indonesia. maksudku, selama ini, aku yang mendapat tugas menjaganya saat kau tak ada. sekarang, kita malah akan pergi meninggalkannya."

tugas. ya, tugas.
aku terus mengingatkan diriku bahwa ini hanya tugas Nara.
yang diberikan oleh kakakku, Tian.

" Nara, dia adikku." Tian mengubah nada bicara. tegas.
" Bagian dari Hanggaatmadja." lanjut Tian.
" Aku tahu. tapi tetap saja dia sendirian disini."
ahh... dua lelaki akan memulai perkelahian jika tak segera kuhentikan.

" Sudahlah. Hanya sebentar, kan? aku pun akan disibukkan oleh tugas-tugas akhir semester. tenang saja, okey?"

" Ya..benar juga." Nara mulai meregangkan rahangnya.
Tian pun duduk bersandar dan mengambil minumannya.

ahh.. untunglah..

" Jadi.. kenapa tiba-tiba adikku memesan espresso?" Tian langsung mengalihkan pembicaraan padaku.

" karenaaaa... dingin."
yah.. baiklah. jawaban terbodoh abad ini. Tharesha... tak bisakah kau membuat alasan yang sedikit lebih masuk akal. seperti........ "aku senang dengan cangkir kecilnya?" ya.. baiklah. itu lebih bodoh.

" Kamu. hanya. memesan. espresso. saat. ada. sesuatu. yang. sangat. tidak. beres." penekanan di semua kata. Perintah tegas untuk menjawab dengan jujur.

" dia kembali." aku terkejut. Tian terkesiap. Nara yang menjawab.

" Dia? How dare .."

" sudah, Tian. dia tidak menghubungiku. aku tahu dari..." potongku.

" siapa?" Tian membalas memotong kalimatku.

" Kirey."

" Oh.." Tian lalu diam.

" mau makan?" Nara bertanya, mencoba mencairkan suasana.

" Tidak." jawabanku spontanku langsung mendapat plototan dari dua lelaki tampan. Nara dan Tian.

Tian melambaikan tangan, memanggil pramusaji.

"Smoked chicken and cheese sandwich, " Tian memulai pesanan.
" Smoked beef sandwich." Nara mengucapkan pesanannya.
" dan lasagna." Tian menutup pesanan kami.
lasagna. pasti untukku.

" Cemberut aja." Tian mulai menggodaku.
" Aku kenyang." jawabku manja.
" Kalo kamu ga makan, aku ga pergi." Nara membalas dengan dingin.
" mengancam?" tantangku.
" Tidak. membuat keputusan secara sepihak."
" Dasar dingin." kata Tian, lalu tertawa lepas. Tak berapa lama Nara mengikutinya.
dan aku merengut sendiri. menyadari mereka menggodaku.

pesanan kami datang.
dan tahu apa yang terjadi?
tidak ada yang menyentuh makanan.
mereka berdua memandangiku yang sedang memandangi makanan pesanan Tian untukku.

" bahkan lasagna pun kamu tak mau." Tian mengangkat sebelah alisnya pertanda heran.
" baiklah. aku tak jadi pergi. maaf, Tian. tapi tampaknya kau akan duduk di pesawat sendiri."
" HA?" Tian mengalihkan pandangan dariku pada Nara.
" HA??" aku berteriak. ups..maaf para pengunjung yang lain, sudah membuat kalian kaget.
" Ada apa?" tanyanya. dingin. kurang ajar.
" Masih bertanya ada apa??" suara Tian meninggi.

aku langsung mengambil garpu dan mulai menyuap lasagna ke dalam mulutku.

Tian yang terkejut melihat pergerakanku mulai tersenyum ke arah Nara -yang membalas tatapan Tian dengan anggukan kecil, somehow, mereka tampak seperti pasangan sesama jenis-.

" akhirnya ada juga asupan untuk tubuhmu hari ini."
" Apa?" Nara terlihat terkejut.
wow untuk ekspresinya yang didominasi dengan tatapan dingin.

" Rere ga makan dari pagi, Nar. gatau kenapa."
" dan sekarang sudah malam." Nara memberikan pandangan intimidasi padaku.
aku hanya mengangguk kecil.

" Ahh..kamuu.." Nara mengacak-ngacak rambutku. hal yang paling kusuka walaupun itu berarti merusak rambut yang sudah kutata rapi setiap akan bertemu denganmu.

" yang penting aku uda makan, kan??"
" hahaa..dasar bocah." Nara tertawa. matanya hilang sesaat. sebuah gambaran wajah yang sempurna untukku.

malam itu pun kami berbincang sebelum aku melepas kepergian mereka lusa.
yang entah akan berlangsung selama tiga minggu.
atau mungkin selamanya pada salah satu pihak.