Thursday, 3 December 2009

my afternoon is still caramelo

mata coklat keabuan yang cerah menatapku.
sempurna dalam balutan bingkai persegi kacamatanya.
dan terkemas sempurna dengan kaus lengan panjang berwarna hitam serta jeans belel yang kau gunakan.
kamu. lagi-lagi kamu menatapku dengan pandangan penuh selidik.
dan lagi-lagi kedai ini.

" Jadi?" kamu membuka percakapan.
" Jadi apa?" tanyaku defensif.
" Sudah bertemu dengannya?"
terkejut dengan kalimat yang baru dilontarkan olehmu, pertahananku pun runtuh. aku tahu sudah tak ada gunanya lagi berpura-pura di hadapanmu.

"Sudah.." jawabku lirih.
" Ohh.." hanya itu responmu.
sunyi lagi.
dan aku kembali terhanyut.

"See you in my dream, I hope this night will last for long."
satu kalimat dan duniaku jungkir balik.

tangisku pecah dan aku pun menyerah. mengakui kelemahanku pada malam.

"Stop crying, princessa. would you?" suaramu membawaku kembali ke kehidupan nyata.
"I'm not crying."
" Oh yes you are." sebuah pernyataan tegas darimu.

sebuah jeda.

" kenapa?" Oh tidak, jangan nada itu.
jangan gunakan nada memohon.

" Aku jatuh." aku mengambil napas sejenak dan mencuri pandang untuk melihat reaksimu.
muka dinginmu yang kudapat. pertanda kau siap mendengarkan.

" Aku jatuh. untuk kedua kalinya. sakit. dan sakit luar biasa saat tahu aku bodoh.." kau masih diam.
aku melanjutkan, "Hmm..aku masih belum bisa belajar. aku lelah harus selalu terenyuh saat melihatnya kembali. aku..." kurasakan pipiku basah.

kamu berjalan menuju sofa tempatku duduk. tersenyum, menyodorkan sapu tangan, lalu meraihku dalam pelukanmu.
tangisku pecah.

"aku letih, Nara."
"aku tahu." Nara pun memelukku semakin erat.