aku membuka mataku dengan paksa dan langsung menjawab telepon yang masuk ke telepon selularku.
sebuah kesalahan.
" Re..bisa kita bertemu?'
Pradit.
entah anak ini sudah putus urat malunya atau memang tidak pernah punya.
" Aku sibuk."
" Kalau begitu aku datang ke rumah kamu, ya.."
argh!
masih berani dia memaksa.
aku duduk dan mengacak-acak rambutku sendiri.
" Jam berapa, dimana?"
" Aku jemput saja.."
" Aku yang akan menemuimu. Jam berapa, dimana?" aku mengulang pertanyaanku dengan penekanan di setiap kata dan berharap kali ini dia mengerti maksudku.
" Oh, baiklah. Jam tujuh di tempat biasa."
tempat biasa?
lelucon macam apa ini?
dia masih menyebut tempat itu 'tempat biasa' seakan aku dan dia masih....
ahhhh...
" Baik. Sampai bertemu di sana kalau begitu." aku langsung memutuskan sambungan setelah menunggu beberapa saat dan masih belum mendapat respon.
Pradit pasti sedikit terkejut dengan nada resmi yang kuperdengarkan tadi.
aku berjalan menuju kamar mandi dan segera menyalakan shower untuk mendapatkan air hangat.
mau apa lagi dia?
tidak cukupkah semua waktu yang dulu pernah kuberikan dulu?
bahkan saat ini dia masih berani juga menyita waktu yang jelas-jelas sudah bukan miliknya.
aku berdiri dan terdiam di bawah pancuran air.
membiarkan pijatan air membuatku sedikit lebih tenang.
masih belum terlalu siap untuk bertemu kembali sebenarnya.
tapi bukan itu kesan yang ingin aku tampilkan padanya.
lalu aku harus bagaimana?
ahhh..
sial!
kenapa dia harus menghubungiku disaat Nara maupun Tian tidak ada?
Nara lagi...
kenyataan bahwa Nara masih menjadi orang pertama yang aku sebut dalam hal-hal krusial membuat aku semakin ingin jatuh.
segera kumatikan shower, mengambil handuk dan keluar kamar mandi.
kubuka lemari pakaianku.
terdiam melihat isinya.
banyak.
tapi untuk saat ini aku ga tau harus pake baju apa untuk menimbulkan kesan kuat dan sedikit angkuh.
-----
" kamu mah udah angkuh da kesannya ga usah diapa-apain juga."
komentar Nara saat mendengar aku bercerita kekagumanku pada saat melihat film dimana seorang wanita angkuh menjadi peran utamanya.
-----
drrttt...drrttt...
Praditya Anggada.
" Kamu yakin ga mau dijemput, Re?"
" Ga." jawabku ketus. lama-lama orang ini mengganggu juga. ayolah, jangan bersikap sok manis setelah semua cacian yang pernah terlontar padaku.
" mm.. baiklah. aku sedang di jalan. aku tunggu kamu yah.."
kulihat jam, jarum pendek menunjukkan tempat di antara angka 5 dan 6 sedangkan jarum panjang ada di angka 5.
aku mengernyitkan dahi.
dalam rangka apa jam segini dia sudah dalam perjalanan?
bukankah dulu telat merupakan hal yang selalu dilakukannya?
setidaknya dulu jika mendapati aku belum datang dia marah-marah.
" oke. jam tujuh aku usahakan sudah disana."
terdengar sambungan diputus. lagi-lagi olehku.
dua ketukan terdengar di pintu.
segera kubuka dan kudapati Bik Inah sedang memegang telepon nirkabel.
" De, ada telepon dari Mas Tian."
" Oh iya, makasih, Bi.." aku mengambil telepon itu dan segera menutup pintu saat Bik Inah sudah membalikkan badan dan berjalan kembali menuju dapur.
" Ya?"
" Aku hubungi handphone-mu tapi tadi sibuk."
" Iya, tadi aku lagi nerima telepon."
" Kamu besok ga usah jemput Nara ya, Re."
" Ga usah? kenapa?" ahh.. Tian kan sangat peka dengan perubahan nada bicara. dan sialnya tadi aku malah memekik.
" Supir kantor yang baru bisa jemput dia ternyata. kalau pun emang kalian mau ketemu, janjian pas dia udah nyampe aja ya.." aku menekan telepon ke telingaku karena suara Tian terdengar pelan, tertelan dengan keributan di belakangnya.
" Kamu lagi dimana si?"
" Di jalan. baru pulang dari rumah Ara. tadi habis nganter Nara ke bandara, aku mampir dulu ke sana. kenapa?"
" Ga. ribut banget habis. eh.. tutup teleponnya. hubungi aku lagi saat kamu sudah tiba di apartemen." aku memang sensitif dengan orang menelpon atau menerima telepon saat sedang menyetir.
" Ahaha.. iya iya, kecil. maaf yaa.. aku hubungi lagi, oke? itupun kalau aku tidak terlalu cape."
" Oke. careful there, biggy."
" kamu juga, kecil."
sambungan terputus.
telepon jarak jauh dari kakak semata wayangku yang membuat mood-ku jungkir-balik.
padahal aku sudah menyiapkan baju yang akan kukenakan saat menjemput Nara.
hahhhhh...
aku hanya bisa menarik napas.
kulirik jam tangan kulit yang sedang kukenakan.
17.56.
aku segera mengganti bajuku.
mengambil jaket hitam kesayanganku lalu mematut diri di cermin.
celana pipa hitam, kemeja abu-abu dengan aksen merah dan jaket hitam.
tak lupa oxford shoes abu-abu kesayanganku.
baiklah.
aku siap.
tersenyum pada bayangan diriku snediri di cermin, aku mengambil tas, kunci mobil, dan membuka pintu.
bersiap menyelesaikan apa pun itu yang baru akan dimulai.