Sunday, 28 February 2010

vanilla rainy night

tetesan hujannya berhenti.

" Hujan. sakit nanti kamu." suaranya mengalun pelan dan tenang.
tapi penuh unsur perintah.

bahuku dirangkulnya, lalu diajak ke tempat yang tidak kena hujan.
aku masih menunduk selama proses itu.

" Kamu ngapain disini?"

" Kamu ngapain kesini?" ujarku sedikit terganggu.
bahkan Tian pun tak akan mengganggu momen-momen seperti tadi.

" Khawatir." jawabnya singkat.
tapi cukup untuk membuatku menengadahkan kepala dan menatapnya yang sudah lebih dulu menatapku.

jangan menatapku seperti itu.
kurasakan pipiku memerah, langsung kualihkan pandanganku ke jendela.

" Aku gapapa ko, Nar."

" Bukan itu yang aku lihat." dingin sekali orang ini.

" Tian menitipkanku padamu bukan merupakan sebuah tugas wajib yang harus selalu kau penuhi." Entah mengapa hari ini -saat ini lebih tepatnya- aku ketus kepada Nara.

mungkin karena dia mengusik saat aku sedang bersama hujan.
padahal aku sedang bercerita tentangnya pada hujan.
mungkin karena aku malu, takut ketahuan aku sedang bercerita tentangnya pada hujan.

" Iya. Tapi bagiku kamu bukan tugas."

" Lalu apa? Amanat?"

Nara menggeleng sambil tersenyum, " Bukan. Kamu Tharesha. Orang yang paling ingin kujaga saat ini."
Nara mengacak-acak rambutku saat mengatakannya.
sedikit menunduk untuk membuat matanya sejajar dengan mataku.

kurasakan pipiku memerah seketika.
panas.
aku langsung membuang muka dan membalikkan badan.
" Aku ganti baju dulu. Kalau mau minum, pesen aja ke Bibi ya, Nar."

sudah tak kuhiraukan reaksi Nara.
aku langsung meninggalkannya ke dalam kamar.
lalu menguncinya rapat.

mengatur napasku yang mulai berantakan.
menenangkan detak jantungku yang mulai berlari kemana-mana.
memukul pipiku sendiri untuk memanggil kembali kesadaran yang dengan jumawanya menghilang.

aduh..
kenapa aku?
ayolah, Tharesh.
tidak pada tempatnya kamu merasa hal seperti ini padanya.
tidakpada sahabat kakakmu sendiri.
tidak saat..
ahh...

tak kuhiraukan lagi semua pikiran itu saat kurasakan pijatan air hangat mengalir di bahuku.

:::::::::::

" sudah merasa baikan, Re?" Nara duduk di ruang keluarga dengan dua mug yang mengeluarkan asap di meja hadapannya.

aku mengangguk pelan lalu mengambil tempat di sofa sebelah Nara.
melirik isi mug dengan perlahan agar tidak terlalu terlihat Nara.

" Itu teh.. tidak baik terus-terusan minum kopi."

" Aku ingin espresso."

" Tidak sekarang. besok aku jemput kamu jam tiga, kita ke pomeriggio. Oke?"

kalau sudah begini aku hanya bisa terdiam dan mengangguk.
Nara selalu berhasil memaksaku dengan caranya sendiri.
dan aku, si anak bungsu keras kepala ini herannya selalu menurut saat Nara yang bicara.

" tadi kamu cerita apa sama hujan?"

" Hah?" aku sedikit terkejut dan hampir tersedak mendengar pertanyaan Nara.

" Tian pernah bilang, kalo kamu lagi diem di bawah hujan, membiarkan tiap senti darimu teraliri air hujan, kamu sedang cerita padanya. Jadi, tadi kamu cerita apa?"

masih membeku dalam posisi memegang mug yang berisikan teh, aku memutar otakku cepat -mencoba berpikir-.

ayolah..
kemukakan satu alasan..
satu cerita yang pernah kamu alami..
yang konyol juga tidak apa-apa..
apa pun asal jangan bilang bahwa kamu bercerita tentangnya..

" tentang.. ahh..entahlah.."

" atau kamu yang sedang mendengar hujan bercerita?"

aku mengangguk dengan sangat perlahan -yang dimaksud disini adalah dengan sangaaaaaaaatttt perlahan- sambil masih memegang mug.

" Cerita apa dia? Bilang kalau aku akan datang?" tanyanya serius.

" Haa?" aku terkejut mendengarnya berkata begitu.

kupikir Nara akan tertawa. ternyata tidak.
ia benar-benar serius.
satu hal yang baru kusadari, Nara tidak pernah menganggap remeh aku.
bahkan kebiasaan anehku ini tidak ia gunakan untuk menggodaku.

" Kenapa kamu bisa bertanya begitu?"

" Karena setiap kita bertemu, selalu ada hujan yang menemani."

aku terdiam kembali.
termenung mendengar kata-katanya.

memang benar apa yang dikatakannya.
kami bertemu saat hujan.
perbincangan kami bermula saat hujan menjadi penyebabnya.
selalu hujan.
dan kebanyakan saat senja.

" Tharesh. Aku tahu aku bukan seorang Prasetian. Aku memang bukan kakakmu. Tapi setidaknya biarkan aku membantumu saat Tian sedang tidak di dekat sini. Mau cerita ada apa?"

aku menunduk pasrah.
tahu kemana arah pembicaraan ini akan berlanjut.

sebuah pesan singkat tadi sore :
" manja! masa gitu aja ga bisa! ahh..aku cape denger semua cerita kamu!"

sesuatu yang selalu mengikuti atau bahkan membuka topik ini terjadi.
air mataku mulai menggenang.

Nara mengelapnya tepat sebelum jatuh.
melenyapkan lukaku sebelum terjadi.

malam itu adalah malam pertama Nara melihatku runtuh.
biasanya aku tidak pernah membiarkannya terjad.
harga diriku terlalu besar untuk dipertaruhkan atas perihal semacam itu.
tapi di depan Nara, aku tak keberatan
atau tak peduli?

---------------------------------

selamat malam, Tharesh.
bagaimana bandung?
aku sedang transit.
besok sampai.
kita ketemu di pomeriggio yaa..
jam 4an, oke?

09.48 p.m.

sender : Narandra Aleansya