duduk terdiam mendengar Nara bercerita tentangnya.
sedikit cubitan di sebuah rasa.
tapi kamu tahu apa yang kulakukan?
tersenyum kecil dan malah menyimak setiap kata yang Nara ucapkan dengan baik dan benar.
" Jadi salah aku apa, Re?" tanyanya sambil menghirup aroma teh dari cangkir yang sedang dipegangnya.
aku butuh espresso.
" Mmh... wanita itu butuh kejelasan, Nara. berhenti bermain dengan perasaannya. berhenti menguji, ujiannya sudah selesai dari beberapa waktu yang lalu dan kamu tahu itu."
bodoh.
kenapa aku malah menasihatinya?
disaat aku juga butuh nasihat untuk diriku sendiri.
" Tapi aku masih bingung."
" Pilihannya hanya ada dua.." belum pernah kulihat Nara seberantakan ini.
" dia terlalu sempurna untuk bisa mengerti aku, Re." deg. Nara memotong kata-kataku dengan sebuah pujian. untuknya.
" Tapi dia mau belajar. mengapa tak kau hargai usahanya?"
bagus.
bagus sekali, Tharesha.
sekalian saja suruh dia menikah.
" Tapi aku takut. takut melukainya. aku kan tidak sempurna, Re."
" Sama seperti dia. dia juga tidak sempurna. pikiranmu yang membuat dia sempurna."
" Kalau dia memang sesempurna itu?"
" Maka kamu harus belajar untuk menerima kesempurnaannya dengan ketidaksempurnaanmu."
" Haaaahhhh...." Nara menghela napas.
Mmmhhh...
aku menggigit lidahku.
mencoba mempertahankan ekspresi dingin yang sedang tercetak disana.
" Tharesh..akuu.."
" Mengaku saja." tanyaku -secara refleks dan sedikit kusesali- sinis.
" Re?" tanyanya dengan wajah heran.
" Ya?" aku melipat lenganku dan bersandar pada sofa merah tua yang nyaman ini.
sebuah sikap yang hanya bisa ditunjukkan klan Hanggaatmadja kata orang-orang.
ningrat-ku sedang dominan, ejek Nara.
Nara terdiam.
setidaknya itu lebih baik untuk saat ini.
bisa runtuh pertahananku jika terus-menerus mendengar Nara bercerita tentangnya.
bisa turun air mataku jika terus melihatnya berantakan seperti ini.
dan aku tak mau menunjukkan hal itu di depan Nara sekarang.
tidak hari ini.
tidak disaat Nara percaya untuk menunjukkan sisi lemahnya padaku.
senja itu dihabiskan dengan helaan napas dan usaha untuk menyembunyikan sebuah rasa.
sebuah?
oh tidak..
selalu ada banyak rasa yang bercampur saat terhidang kopi dan teh di depan aku dan Nara.
rasa yang memang bukan untuk didefinisikan.
tapi untuk di'rasa'kan kemutlakannya.
Tian datang saat malam menjelang dan berhasil mencairkan suasana.
malam itu berubah menjadi tawa.
sebuah pikiran terlupa.
sebuah rasa tertutupi.
sampai hari ini.
saat aku merebahkan badanku di tempat tidur, menyembunyikan wajahku di bawah bantal dan menelan teriakanku sendiri.
Nara sedang bertemu dengan orang yang diceritakannya.
walaupun cerita itu terjadi hampir setahun yang lalu.
tapi sekarang Nara sedang membuat jarak antara aku dan dia semakin nyata.
semakin jauh.
secara harafiah maupun bukan.
Nara sedang bersama orang yang pernah diceritakannya.
Nara sedang bersama Diandra.
sebuah kenyataan yang membangunkanku dari mimpi selama ini.
bahwa mereka yang nyata.
dan aku yang semu.