terdiam memandang foto-foto di sebuah album yang terdapat pada salah satu jejaring sosial di internet.
terdiam tapi menahan sedikit kedutan di jantung.
aku sedang memandang foto Nara dan Diandra.
bilang aku bodoh.
karena mungkin begitu.
panggil aku penguntit.
karena memang itu kenyataannya.
hahhhhhh...
Naraaaaa...
berhenti ada di pikiranku.
berhenti bermain dengan perasaanku.
aku yang bodoh.
dan aku sendiri yang sakit.
sial!
kurang bodoh apalagi aku?
bukannya melakukan kegiatan lain.
malah melihat foto mereka.
aku masih menelusuri foto untuk mencari -siapa tahu ada- upload terbaru dari Inggris.
nihil.
tidak ada.
mmhh..
jadi sebenarnya apa yang mereka lakukan?
Argh!
Tharesh, you have to stop this thing.
being a stalker?
for God's sake.
what's on your mind?
tapi tetap saja aku menelusuri foto-foto itu.
dasar remaja labil!
rutukku dalam hati.
drrrttt...drrrttt...
telepon selularku bergetar.
" Ya?" jawabku enggan.
" Hai, little.."
" Hai, biggy.."
" Lagi dimana kamu?"
" Rumah."
" Loh..bukannya kamu mau main sama yang lain?"
" Ga jadi.. Rena ga bisa. Hanny sama Kirey juga cuma bisa sampe jam makan siang. ada janji dengan pacar masing-masing." aku menggerutu.
memang sedikit kesal saat tidak bisa bertemu dengan teman-temanku yang sudah sangat kurindukan itu.
sudah 3 bulan lebih kami tak bertemu.
mmh..
sebenarnya dulu kami selalu kemana-mana berlima.
sampai...
ahhh..
sudahlah yah..lupakan saja bagian itu.
aku memaksa diriku kembali ke masa ini tepat saat Tian berujar, " Nara dua hari lagi akan sampai Bandung. kamu bisa jemput dia di bandara?"
" HA??" oh tidak..nadaku terlalu antusias.
dan sialnya, mengingat Tian adalah orang yang sangat pintar membaca orang, kupastikan dia tahu aku terlalu senang -melebihi kapasitas yang seharusnya-.
" Ahaha.." terdengar tawa renyahnya, " Iya.. memang mendadak. ada pekerjaan yang harus dia selesaikan di Bandung. makanya aku minta kamu jemput dia. supir kantor sedang tidak bisa."
" Jam berapa? aku ada kuliah siang."
" Pagi si sebenarnya..sekitar jam sembilan, bisa?"
" Bisa."
" Baiklah.. take care, mi little"
" Okee.. kamu juga yah.. cepet pulang!"
" Mhh.. adikku mulai merajuk. susah juga yah.. haha. aku pulang bulan depan, ya?"
" hmm.. iyaa.." mau tak mau aku harus menerima kenyataannya. Tian sibuk. masih untung bulan depan ia akan pulang.
Tian memutus hubungan telepon.
aku terdiam sesaat sebelum sebuah senyum yang lebar mengembang.
kuhadapkan wajahku ke laptop, menutup window foto-foto, lalu mulai memutar lagu.
mood-ku sudah kembali.
siapa peduli apa yang mereka lakukan disana?
Nara akan pulang sebentar lagi.
aku akan bertemu Nara dua hari lagi.
membayangkannya saja sudah membuat senyumku menjadi terlalu lebar.