" Tian." seseorang mencoba menenangkanku, namun langsung kutepis tangannya.
Aku langsung mengambil telepon selularku, me-redial sebuah nomer, dan langsung berbicara saat sambungan terjawab di seberang, " Cari dia. lakukan apa saja yang mungkin kau lakukan. ambil Tharesh."
kumatikan sambungan teleponku.
mengecap dry gin and tonic lalu menghadap lelaki yang tadi menenangkanku.
Gio.
kakak sepupu aku dan Tharesh.
" Tian. calm down. Tharesh sudah besar. ia bisa melakukan semuanya sendirian."
" Tidak. tidak dengan adanya jarak antara Nara dan dirinya."
" Lalu mengapa kau malah membawa Nara kemari?"
satu pertanyaan.
telak.
dan itu membuatku tambah kesal.
aku benci dipojokkan.
" Argh!!!!!"
" Tian." sebuah nada dari Gio. nada perintah. dan akupun terdiam lalu duduk serta menenangkan diri.
" Percaya padaku, oke? Tharesh tahu apa yang dia lakukan. Tharesh hanya butuh sedikit waktu untuk membuatnya terjatuh. tunggulah waktu itu. jangan banyak melakukan tindakan. diam. sekarang waktunya untuk membereskan Nara."
" Nara?" tanyaku dengan nada meninggi.
"Aku tahu kau yang membawanya kemari. sebuah kamuflase yang kau buat saat bilang padaku bahwa itu perintah dari orang tuanya."
" Kamu..datang jauh-jauh kemari hanya untuk bertanya itu?"
" Karena kita peduli pada orang yang sama. Tharesha."
ahh..
aku terdiam.
lupa bahwa menjadi anak bungsu dari orang tua yang bungsu menjadikannya seorang yang spesial.
seluruh anggota keluarga menjaganya.
" Nara yang mau datang kesini."
" Yeah.. let me know why."
kenapa?
entahlah.
aku pun sampai sekarang tak tahu alasan Nara mau kuajak kemari.
" Inggris? bertemu dengannya lagi?" Nara mengernyitkan keningnya.
aku mengangguk.
" Baiklah. kapan?"
aku terkejut. tapi segera kutata ekspresiku.
" Saat aku kembali kesana."
" Oke." dan ia pun berlalu, membawa kopi milik Tharesh.
tinggal aku yang termangu.
menatap punggung Nara -hell, aku terdengar seperti seorang gay- dan bertanya mengapa Nara menyetujuinya tanpa sedikitpun perlawanan.
" Tian. I ask you.." Gio kembali menanyakan hal itu.
" I don't know." jawabku sambil menghela napas. tanda menyerah. tak sedikitpun dapat kutemukan clue disana.
" Bagaimana kalau Nara masih belum tahu apa yang akan dia lakukan?"
" Akan dia lakukan? dia harus melakukannya, Gio."
" Tian. berhenti mengontrol orang-orang di sekitarmu. berhenti menjadi sutradara. sekali ini saja. "
aku mulai terdiam.
hanya Gio yang berani memarahiku.
" Ini tentang Tharesh. berhenti untuk menguji mereka. berhenti selalu berpikir bahwa Tharesh adalah anak kecil."
" Tapi.."
" dia bagian dari Hanggaatmadja. masih ada yang harus kuperjelas?" diam. Gio mengambil dompet, dan membayar tagihan.
pembicaraan usai.
aku hanya bisa mengambil napas, mengambil jaket, lalu mengeluarkan kunci mobil dari saku kemeja.
sesampainya di apartemen.
kudapati Nara masih berkutat di depan laptop.
" Sedang apa?" tanyaku.
" Ha?" mata Nara merah. mabuk? atau mengantuk?
" Belum tidur?"
" belum." Nara mengucek matanya.
" Aku sedang mengirim e-mail untuk Tharesh."
" Tharesh." sial! ada nada heran yang tersirat jelas di suaraku.
" Iya.. dia sedang tak baik nampaknya. aku baru saja berbincang dengannya saat mendadak ia off dan tak ada kabar sampai sekarang."
aku menutup pintu kamar.
membuka kancing kemeja, menghempaskan badan, dan menghembuskan napas keras-keras.
kuambil telepon selularku, men-dial nomor yang sudah kuhafal baik.
terdengar nada sambung.
tapi tak ada yang menjawab.
pada percobaan keempat kali, terdengar sebuah suara menjawab.
parau.
" Kamu darimana? Tharesh! demi Tuhan aku khawatir."
" Tian. aku baik-baik saja. hanya sedikit lelah."
" kamu darimana, Tharesh? mengapa suaramu begitu?" aku benci keadaan ini. saat Tharesh kembali tertutup padaku. dan saat aku tak ada disana untuk meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja.
" baru selesai bertemu dengan Pradit."
" But.."
" I'm fine. tadi emang sempet cekcok. tapi semuanya sudah terkendali."
mau tak mau aku tersenyum kecil.
semuanya sudah terkendali..
Gio benar.
Tharesha memang bagian dari Hanggaatmadja.
" Baiklah. tidur sana."
" Kamu. belum tidur jam segini. darimana?"
" ada urusan sedikit. aku mau tidur koo.."
" salam untuk Nara dan yang lainnya, oke? kudengar Gio sudah tiba disana."
" Iya.. tidur ya, bocah. night, my little.."
" Night, Biggy."
pembicaraan selesai.
setidaknya hari ini aku bisa bernapas lega.
Tharesh baik-baik saja.
satu urusan selesai.
tapi tidak untukmu, tikus gelandangan!
cihh..
kita lihat sampai sejauh mana kau kuat bertahan.