Sunday, 1 August 2010

once in a summer down

sudah pukul 3.
bukannya menguap, mataku malah terbuka semakin lebar.
tidak masalah kalau sekarang bukan pukul tiga dini hari dan besok aku harus bersiap ke bandara pukul 10.
bandara.
hahhhh..
benci saat tau liburanku sudah berakhir.
tiga minggu sudah aku diam disini.
menghabiskan setiap hari bersama....

tok tok
dua ketukan di pintu dan refleks aku duduk di kasur.

siapa yang mengetuk pintu?

terdengar tiga ketukan lagi di pintu.
oke, mulai mengerikan.
dua ketukan kemudian menyusul.

freak.
siapa yang ngetok pintu orang jam segini?

" Ray.." suaranya..

aku langsung berlari ke depan pintu dan membuka gerendelnya perlahan.

" Selamat dini hari, nona."

Danis. dan rapi sekali dia hari ini.


converse hitam belel dengan sedikit sobekan, celana jeans panjang biru dongker dan polo shirt putih.
tampan.
dan berkharisma seperti biasanya.

" kalau aku lagi tidur gimana?"

" tapi kan kamu nggak lagi tidur sekarang." cengiran khas Danis membuatku akhirnya ikut tersenyum.

" Well.. selamat dini hari, tuan Danis."

" Boleh duduk disini?"
aku mengangguk saat Danis menunjuk kursi yang ada di teras penginapan.

kami terdiam cukup lama.
hanya suara gemerisik daun tertiup angin yang sesekali menemani, seakan ingin memecah keheningan yang sedang terasa sangat memekik.

" Kamu.. besok pulang?"

" hari ini." aku mencoba menjawab dengan nada biasa. berhasil kulakukan, walaupun keringat dingin sedikit muncul.

" ke... Jakarta?" tanyanya perlahan.

tarikan napasnya terdengar senang saat aku mengangguk.

" Kamis aku kembali ke Itali."

Danis terlihat menegakkan tubuhnya tiba-tiba.
lalu dengan sengaja berpura menarik napas santai.

" hemm.. 2 hari lagi ya berarti."

aku mengangguk kecil.
perlahan.
hemm.. maksudku, sangat perlahan.

"berangkat jam berapa, Ray?"

" Kapan?"

" hari ini."

" hem.. jam 10 check out."

terdengar tarikan napas kuat darinya. dan dariku.

tiba-tiba Danis menarik dirinya duduk tepat di sebelahku.
menarik kepalaku ke arah bahunya, lalu membiarkannya diam disana.

baiklah. aku menurut, jadi sekarang aku bersandar di bahunya.
dan aku siap mati bila Danis tetap diam.


" ah.. aku jadi deg-degan." Danis berkata pelan.

ah malam, biarkan sejenak aku seperti ini.
biarkan kata yang belum terucap tetap tersesat di ruang hampa jika memang sekarang adalah dunia tanpa waktu.