Sunday, 27 June 2010

please meet the summer chick

tubuh tegap yang mulai terbakar matahari entah mengapa terlihat sempurna dengan polo putih dan celana selutut yang sudah belel.
hahhh..
semuanya tampak sempurna di mataku.
hidung mancung yang selalu terlihat 'kejeduk' dengan kamera profesional miliknya terlihat menggelikan terkadang.

oh, hell..
sebenarnya aku tidak terlalu mengerti dengan fotografi dan kelengkapannya, tapi dari cara dia mengambil gambar serta kamera yang digunakan, bisa kutebak dia adalah seorang fotografer handal.

aku berjalan perlahan lalu tersenyum kecil saat mata kami bertabrakan.
selalu seperti itu sebelum dia kembali asik dengan kameranya dan mulai berjalan ke arah darimana aku datang.
namun nampaknya hari ini sedang tidak seperti biasanya.

kurasakan ada seseorang yang sedang mengikutiku.
mengerlingkan mataku sedikit ke arah kiri dan kudapati sebuah bayangan berjalan tak jauh dari milikku.
aku mendadak berhenti dan mendapati bayangan itupun berhenti.

panik. serangan yang paling sering kurasakan itu seketika menyergapku.
dan bukannya lari atau melakukan sesuatu, aku justru hanya bisa memaku dan diam.
kurasakan keteduhan mulai menyelimuti punggungku, perlahan merambat ke arah tengkuk, dan mulai menuju ke arah muka sebelah kanan.

kuberanikan diri untuk memalingkan wajah ke arah sumber keteduhan dan seketka aku melonjak ke belakang.
keseimbangan yang buruk membuatku sukses mendarat dengan posisi duduk di pasir.

" Eh..maaf maaf.. tadinya aku mau mengenalkan diri dan mengajakmu berkenalan. maaf.." dia mengulurkan tangannya saat bicara. suaranya berat, namun terkesan bersahabat. sedikit manja lebih tepatnya.

masih diam, kumicingkan mataku, belum sempurna mencerna perkataan yang terlontar.

" hei.. kamu gak papa?" dia mulai berjongkok dan memberi pandangan kuatir padaku.

Oh Tuhan, dia jauh lebih tampan dilihat dari jarak seperti ini.

" oh.. nggak papa koo.. maaf aduh aku linglung." aku tersenyum kecil dan mengutuk diri sendiri karena terlalu malas untuk pergi ke kamar mandi dan meyikat gigi sebelumnya.

" ahahaha.." tawa renyah keluar dari bibirnya yang mulai pecah terbakar matahari.

aku merengut. benci ditertawakan, apalagi dengan orang tidak dikenal. apalagi dengan orang setampan ini yang harusnya kubuat terkesan.

bukannya membantuku berdiri, si tampan ini malah mengambil tempat di sebelahku. duduk sila sambil memegang kamera dengan kedua tangannya lalu mulai membidik hal-hal yang menurutnya menarik -satu hal yang harus disyukuri, aku terjatuh dibawah pohon besar yang sangat rindang-.
tetap dengan posisi seperti itu selama kurang lebih sepuluh menit, si tampan menurunkan kameranya lalu tersenyum menatapku.

" masih sakit?" tanyanya.

" ha? sakit?" kesalahan. aku malah terlihat semakin bego.

sebuah tawa lepas terdengar, " oh aku pikir kamu tetep duduk disini selama aku mengambil beberapa gara-gara kamu sakit pas tadi jatuh."

" oh..'' aku ikut tertawa.

bodoh, bodoh, bodoh. semakn terlihat idiot aku di hadapannya.

" aku lapar. sudah pernah mencoba kerang bambu bakar?"

" dimana?" huft..untunglah aku sudah mulai bisa mengontrol emosiku.

" aku bukan orang yang bisa menjelaskan jalan." pria tampan di sebelahku ini dengan sigap berdiri lalu menarik tanganku seenaknya.

"eh.. aduh.." aku tergopoh-gopoh mengikutinya.


" enak?"

aku mengangguk kecil.
sarapan kali itu aku lewati dengan sangat nikmat.
kerang bambu bakar, nasi panas, cumi goreng tepung dan ditutup dengan es jeruk nipis.
hahh..
sebenarnya terlalu berat untuk sebuah menu sarapan di jam..
hemm..
sembilan??!!

" aku bayar dulu yaa.."

" eh eh, sebentar." aku baru saja akan menarik tangan dan mencegahnya membayar saat kusadari aku tidak membawa dompet -kesalahan kedua hari ini-.

aku berjalan perlahan keluar, menanti si tampan dengan kulit terbakarnya di depan pintu rumah makan.

" mampir ke penginapanku sebentar ya, aku mau bayar makananku tadi."

" haa? untuk apa? aku tidak minta ganti ko."

" ini bukan permintaan." kataku, lalu mengambil langkah terlebih dahulu -memaksanya mengikutiku-.

diam. atmosfer canggung akan orang baru mulai menyelimutiku.
menyadarkan bahwa aku sedang bersama orang sangat asing -bahkan namanya saja aku tidak tahu- yang belum satu jam yang lalu menabrakku lalu seketika mengajakku makan dan malah kuajak mampir ke penginapanku.

" baiklah, kita sudah sampai. tunggu sebentar." kurogoh saku untuk mengambil kunci lalu segera memasukkannya ke lubang di pintu.

" aku tunggu disini ya.." aku mengangguk.

aku tidak sebodoh itu untuk menyuruhmu masuk, orang asing.

dompet, dompet..
dimana, kamu?
hahh kuperhatikan sekitar dengan seksama.
kamar 4x4 dengan nuansa putih ini terlihat sangat berantakan.
setelah sekitar 5 menit mencari, aku akhirnya menemukan apa yang kucari.
benda hitam mungil itu diam di bawah penutup kasur yang kuletakkan di lantai.

" tadi berapa, " kalimatku terpotong.

mas, akang, abang?

"....mas?"

yang kutanya malah tersenyum lalu bangkit dari kursi teras dan berdiri di hadapanku, " mas? ah yaaa.. tidak sopan sekali aku, belum sempat mengenalkan nama."

aku diam menatap tangannya yang terjulur mengajak bersalaman.

" Danis."

Danis. hemm.. yayaya..

" Raya." aku menjabat uluran tangan itu.

kami saling tersenyum. kurasakan pipiku sedikit merona. jabatan tangannya erat dan sangat bersahabat.
dan ah.. lesung pipit itu..

aku perlahan melepas pegangan tangannya -tepat sebelum aku kehabisan napas karena pengontrolan emosi yang sangat menguras tenaga ini-, " eh, jadi tadi berapa?"

" ah tidak usah."

baru aku mau mendebat saat ia meneruskan kalimatnya, " itu permintaan maaf dariku, nona Raya."

" lalu kenapa kamu mau kuajak kemari?"

" oh, mungkin karena tadi ada seorang wanita yang terburu-buru berjalan mendahuluiku setelah selesai berbicara, lalu terdiam sepanjang jalan, yang mana membuatku bingung harus memulai percakapan darimana, dan mungkin.." Danis terdiam sebentar, " karena aku ingin mengenal nona Raya lebih dekat."

aku tersipu.
sial. aku hanya bisa berharap ia bukan pembaca gestur tubuh yang baik karena refleksku yang malah menggigit lidah dan tidak bergerak akan terlihat sangat konyol sebenarnya.


" berhenti panggil aku nona, Danis." sial! suaraku terdengar seperti orang sedang tercekik. sedikit memekik dan tertahan.

" ahahaha" tawa renyah Danis terdengar sangat enak di telinga.

ah yaaa.. ini adalah awal perkenalan yang sangat baik.