Monday, 28 June 2010

summer's sunset

jadi, namanya adalah Rizki Danis Pradana.
asli Indonesia, tidak sepertiku yang memiliki ibu Itali.
pure Itali.
anak sulung dari dua bersaudara, adiknya perempuan.
senang travelling dan fotografi.
dan yang hebat adalah, dia travelling dengan uang sendiri.
hebat?
oh iya, hebat.
dia berasal dari keluarga yang berlebih menurutku -menyekolahkan anak di sekolah berasrama ternama di kota besar dan masih bisa membiayai kuliah mereka di luar negeri tidak datang dari keluarga pas-pasan-, tapi dia membiayai seluruh perjalanan hunting fotonya melalui uang yang dia dapat dari kerja sambilan.
dan yang lebih hebatnya lagi -menurutku, selain hidungnya- adalah dia mau bekerja apa saja dengan keadaan ekonomi yang sangat mendukung. dia pernah jadi sales promotion boy sebuah merk rokok ternama, menjadi chaperone dalam sebuah event dan masih banyak lagi.
banyaknya pekerjaan yang mungkin kalau aku yang diajak untuk ikut malah akan langsung membuangnya dari listku sendiri. dan semuanya dia lakoni dengan sangat telaten.

makin bertambah saja rasa kagumku padanya.
dan semua karya yang dia perlihatkan padaku, ahhh..
tidak pernah sebelumnya aku melihat karya yang begitu hidup.
maksudku, itu hanya selembar foto.
bagaimana caranya kita dapat merasakan sesuatu dari situ?
tapi saat melihat beberapa gambar yang telah dia ambil dan disimpan di kameranya, aku tahu kalau ternyata seni itu memang memiliki nyawa.

sangat berbeda denganku, aku adalah seorang gadis manja yang lahir dengan semua fasilitas nomer satu.
Anandra Raya Utami.
gadis kelahiran Jakarta, hasil peranakan Palembang - Itali.
berkulit cokelat -eksotis kata orang lain-, dengan tinggi 173cm dan hidung mancung serta mata abu membuatku terlihat bukan asli Indonesia.
rambut hitam gelombang membingkai pipi chubby-ku dengan sempurna kata ayah.
dan hal yang sama dikatakan oleh Danis.
keduanya membuatku tersipu -dalam konteks yang berbeda-.

" Ray."

" Ya?" aku menghentikan rangkuman pemikiranku akan Danis.

" ikut aku yu, sebentar." Danis bangkit dari kursinya.

" kemana?"

belum sempat aku mempersiapkan diri, Danis sudah menarik tanganku dan membawaku lari bersamanya.

belum ada sehari dan dia sudah dua kali membuatku berlari tergopoh-gopoh seperti ini, tanpa ada pemberitahuan.
tampaknya harus ada pembiasaan untuk hal-hal seperti ini.


" kita mau kemana, Dan..."

jeduk! 
aduh!


aku menabrak Danis yang berhenti tiba-tiba.
baru saja aku mau marah saat aku melihat objek yang sedang dibidik oleh kamera Danis.

Ya Tuhan, sunset yang sangat indah.
kulihat sekelilingku. asing. aku belum pernah kemari selama 3 minggu aku disini.

" Danis, ini diman.." dan Danis sudah hilang dari hadapanku.

Ya ampun, anak ini.
cepat sekali menghilangnya.


" mau duduk disini?"

kulihat Danis duduk tak jauh di depanku, menepuk pasir di sebelahnya.

aku pun menempati tempat yang tadi ditunjukkannya.
terdiam berdua memandang sunset yang sangat indah.

duduk berdua di pasir menikmati sunset.
ini... selalu jadi permintaanku yang paling dalam.
tapi mengapa sekarang bersama Danis? pria yang bahkan belum sehari aku kenal.


awal dari sesuatu.


dan firasatku jarang sekali meleset.