Monday, 21 June 2010

Tian, the elder and the house

haaahhh..

kugerakkan badanku disertai bunyi-bunyian dari punggungku.

hemm.. harus lebih sering meluangkan waktu untuk berolahraga tampaknya mulai sekarang.
atau aku akan meninggal dalam usia sangat dini, tepat seperti yang Tharesh katakan.


Tharesh..
tiba-tiba aku teringat.
ada dimana dia sekarang?
tadi tiba-tiba saja dia membatalkan janji untuk bermain tenis bersamaku dan Natra lalu pergi tergesa-gesa.

" Sial!"
aku terkejut mendengar umpatan Natra yang begitu keras.

" Ada apa? kau mengejutkanku."

Natra masih diam sambil terus memandangi telepon selularnya.

" Tharesh dimana?"

" Kenapa?"

" Diandra baru mengirimkan pesan padaku. Ia bilang baru saja pulang dari menemui Tharesh."

aku diam.
Diandra menemui Tharesh?
tepat sehari setelah pertunangannya dan Nara.
hemm.. bukan pertanda baik.

" ....dan mengembalikannya."

" apa, Nat? maaf aku tidak mendengar semuanya."

" Lupakan. bukan itu yang penting sekarang. Tharesh dimana, Tian? Aku takut sesuatu terjadi padanya."

" Tenang. Tharesh selalu punya rumah untuk kembali."

" Tapi.., " belum selesai Natra bicara, ia sudah merubah arah pembicaraan dan memanggil seseorang, " THARESHA!"

kontan aku membalikkan wajahku.
tersenyum pada wajah yang sebenarnya sangat kukhawatirkan.

lalu mengusap kepalanya lembut saat mendapatinya mendarat di pelukanku dan menangis keras.