haaahhh..
kugerakkan badanku disertai bunyi-bunyian dari punggungku.
hemm.. harus lebih sering meluangkan waktu untuk berolahraga tampaknya mulai sekarang.
atau aku akan meninggal dalam usia sangat dini, tepat seperti yang Tharesh katakan.
Tharesh..
tiba-tiba aku teringat.
ada dimana dia sekarang?
tadi tiba-tiba saja dia membatalkan janji untuk bermain tenis bersamaku dan Natra lalu pergi tergesa-gesa.
" Sial!"
aku terkejut mendengar umpatan Natra yang begitu keras.
" Ada apa? kau mengejutkanku."
Natra masih diam sambil terus memandangi telepon selularnya.
" Tharesh dimana?"
" Kenapa?"
" Diandra baru mengirimkan pesan padaku. Ia bilang baru saja pulang dari menemui Tharesh."
aku diam.
Diandra menemui Tharesh?
tepat sehari setelah pertunangannya dan Nara.
hemm.. bukan pertanda baik.
" ....dan mengembalikannya."
" apa, Nat? maaf aku tidak mendengar semuanya."
" Lupakan. bukan itu yang penting sekarang. Tharesh dimana, Tian? Aku takut sesuatu terjadi padanya."
" Tenang. Tharesh selalu punya rumah untuk kembali."
" Tapi.., " belum selesai Natra bicara, ia sudah merubah arah pembicaraan dan memanggil seseorang, " THARESHA!"
kontan aku membalikkan wajahku.
tersenyum pada wajah yang sebenarnya sangat kukhawatirkan.
lalu mengusap kepalanya lembut saat mendapatinya mendarat di pelukanku dan menangis keras.