Monday, 21 June 2010

the truth never taste as sweet as honey bee

“ Mungkin sebenarnya ini masalah utamanya. Aku tidakpernah benar-benar mencintainya.”

Aku terdiam. Menyimak sebuah pengakuan mengejutkan dari segaris bibir tipis merah yang dimiliki gadis di hadapanku.

“ Aku bisa apa sekarang, Re?” tanyanya pelan sambil mengedikkan bahu.

" Hem.. entahlah. mungkin ini hanya sebuah ketegangan sebelum menginjak jenjang yang lebih serius."

" Mungkin. Jika kesadaran ini tidak segera datang, mungkin itu yang akan kujadikan alasan untuk hal yang kurasakan ini."

Baru saja aku akan berkata saat wajah cantik di hadapanku mulai berbicara, " Harusnya aku bahagia. Harusnya aku senang pria yang sangat kukagumi akhirnya memang menjadi milikku. harusnya.. tapi ternyata tidak." kata terakhirnya mengalun pelan, nyaris tak terdengar ditambah dengan gestur membuang pandangan ke luar jendela.

cuaca sedang bersinar sangat cerah walaupun sedikit berangin.
hari yang indah sebenarnya.
dan sangat tidak dianjurkan untuk menghabiskannya sambil duduk berdua di sebuah kedai teh, menghadapi sebuah pengakuan suram.

air mata mulai menggenangi mata coklat cerah indah miliknya.

ah.. bohong belaka saat kamu bicara tentang cinta untuknya.

" Mungkin selama ini aku hanya senang dengan semua kebaikan yang sudah dia lakukan kepadaku. Aku hanya tidak ingin kehilangan semua pengorbanan yang pernah dia buat. Hahhh.. memang pada dasarnya aku ingin dikagumi, ingin dianggap berharga, haus akan pengakuan. Dan semuanya bisa dia berikan dengan tulus padaku. Mungkin saat itu aku pikir aku jatuh cinta.. Mungkin.."

" Mungkin ada baiknya kamu menyudahi semua kebohongan ini, Diandra."

wanita di hadapanku langsung mengalihkan pandangannya lurus ke arah mataku.

" Kamu tidak tahu, Tharesha."

" Aku memang tidak tahu tentang apa yang sebenarnya kau rasakan. Tapi itu, " aku menunjuk matanya yang sedang menatapku gusar, " tidak bisa berbohong."

kami saling tatap untuk waktu yang cukup lama -setidaknya itu yang kurasakan-.
cukup lama untuk membuat genangan air mata semakin tertumpuk.
dan tepat sebelum tumpah, Diandra mengalihkan pandangannya kembali.

" Diandra, aku benci saat harus menggunakan otakku untuk menganalisis perasaan orang, tapi aku lebih benci melihatmu seperti ini."

" Nara tidak mencintaiku."

Aku tersentak mendengarnya.
Diandra kembali memandangku.

" hanya ada satu yang dia cintai. hanya ada satu yang ada di hatinya. yang membuatnya rela tidak tidur semalaman hanya untuk memastikan orang yang dicintainya baik-baik saja. hanya ada satu orang yang selalu membuat Nara berkorban. dan dia bukan saya, Tharesh."

" Di.." aku memanggilnya perlahan.

" selama ini aku mengira Nara begitu baik padaku karena dia mencintaiku. Selama ini aku pikir itu cinta. Tapi bukan. Nara hanya begitu baik pada temannya."

" Di.." suaraku melemah, ikut bergetar seiring pertahanan akan air mata yang semakin kuperkuat.

" Tapi tidak. Natra yang membuatku menyadarinya. Natra yang membuatku bercerita dari awal tentang aku dan Nara. dan kemarin malam, semua menjadi jelas. terlalu jelas di mataku yang baru bisa melihat sekarang." Diandra menggigit bibirnya yang bergetar kencang, mencoba kuat untuk meneruskan kata-katanya.

" Di.."

" Nara hanya mencintai satu orang."

aku menunduk perlahan.

" dan itu kamu, Re."

aku menggigit bibirku kencang hingga kurasakan sesuatu yang basah mengalir.
bukan, bukan air mata.
melainkan darah dari bibirku.

" Re.." Diandra memanggilku lembut sambil menaikkan daguku agar bisa lurus menatap matanya, " maafkan aku yang sudah membuat kalian jauh. aku berjanji akan memperbaiki semuanya."

sebuah senyum manis diberikan Diandra padaku tepat sebelum mengambil tas lalu pergi ke kasir dan keluar dari kedai.

matahari masih menatapku cerah.
yaa.. seharusnya hari ini terlalu sayang untuk dilewatkan dengan duduk di sebuah kedai teh.
sendirian ditemani hati yang tak tentu arah.