" hei, kecil. nih.." Natra menyodorkan sebotol air mineral lalu mengambil tempat di sebelahku.
aku mengusap mata yang masih nanar sebelum mengambil botol berembun dari tangannya.
" Tian mana?"
" sedang menelepon disana."
aku diam. menunduk menatapi botol yang belum juga dibuka, lalu mulai merobek segel penutupnya perlahan.
" Haaaahhhh.."
" Ada apa?" tanyaku perlahan.
" Tidak. hanya saja.. ahh entahlah.."
" Diandra?" pertanyaan retoris dariku. dan diam adalah jawaban paling tegas dari Natra.
" masih ingat, Re? aku seperti sedang me-recall semuanya."
ingat?
jangan bercanda, Nat. aku hampir seperti ini beberapa tahun yang lalu.
-------------------------------------
" Thareshaaaaa!!"
baru saja aku berbalik untuk menghadapi orang yang memanggilku dengan suara sangat keras saat sebuah pelukan keras dilayangkan padaku.
Natra.
sejujurnya aku ingin melonjak kegirangan walaupun mendengar sayup-sayup alarm dari otak.
yah..
tapi aku terlalu senang dan dengan bodohnya malah tidak kuhiraukan alarm itu.
sampai..
" ada apa, Natra? Aduh sakit, susah napas ini."
sesak napas di waktu yang sangat tidak tepat.
" Eh, maaf maaf." Natra segera melepas pelukannya.
sigh.
" ada apa?" aku mengulang pertanyaan yang tadi.
" siap mendengar kabar baik?"
" Ya." err.. tidak sebenarnya. yah hatiku bicara tidak.
" aku..." pipinya merona. Natra tampaknya sangat senang.
padahal aku sedang sangat datar.
bukan pertanda baik.
" aku resmi sebagai pacar Diandra!" Natra melompat.
sama seperti harapanku.
melompat keluar secepat kilat dari hidup.
senyumku pun melompat pergi sesaat sebelum menyadari aku tak boleh terlihat sedih.
aku tersenyum kembali.
bukan tipikal senyum tulus.
---------------------------
ah ya.. aku masih ingat, Natra. dengan sangat jelas.
kami terdiam di lapangan tenis dengan terik matahari yang menyengat kulit sampai Tian datang.
" Makan?"
aku berdiri perlahan dengan sedikit limbung.
Natra?
matanya yang nanar sekarang.