mengatur napas, lalu mulai berjalan perlahan.
20 detik lagi seharusnya...
mulai menarik napas panjang.
15 detik..
memperpanjang tarikan napas
10 detik..
perlahan-lahan memejamkan mata dan mengatur detak jantung yang mulai berdetak diluar batas normal
pelan-pelan? yaaa, biar terlihat agak natural.
3 detik..
diam mematung di tempat, menghitung mundur
2.....,1...
tidak ada.
hemm..
mari hitung mundur lagi..
3,2.........................
masih belum ada.
saaatuuuuu?
benar-benar tidak ada.
aku mematung selama beberapa menit.
dan baru sekali ini terasa sangat berat untuk sekedar berdiri.
akhirya aku menyerah.
duduk di tempat dia biasa berdiri.
diam memandang langit yang beralaskan laut dengan ditemani lantunan ombak.
entah sudah berapa lama aku diam disini saat kusadari ada bunyi-bunyian dari pasir.
oh bukan, bunyi itu disebabkan oleh orang yang sedang berlari di pasir.
dug.
seseorang baru saja membanting tubuhnya tepat di sebelahku.
Danis.
aku memandangnya heran saat melihatnya dengan santai, tanpa terlihat merasa kesakitan, mengeluarkan kamera dan mulai memotret.
napasnya mengalun pelan, mengindikasikan ketenangan yang luar biasa setelah berlari dengan kecepatan penuh di atas pasir lalu berakhir dengan bantingan tubuh di sebelahku.
sekitar 10 menit kami terdiam.
hemmm..
sebenarnya aku yang terdiam menatap pria di sebelahku yang sedang sangat serius membidik pemandangan.
tak lama kemudian dia menoleh ke arahku, menelengkan sedikit kepalanya, lalu mengangkat pantat dan berdiri.
" makan?"
aku mengangguk.
berdiri lalu berjalan mengikuti Danis yangsudah terlebih dahulu jalan mendahuluiku.
" maaf aku terlambat."
ha?
Danis bicara padaku?
aku menoleh ke belakang.
tidak ada orang.
aku sedikit jinjit untuk melihat ke depan Danis.
kosong.
jadi..
dia bicara padaku.
tanpa menolehkan wajahnya.
dan sekarang dia diam.
tidak mengulang perkataannya sama sekali.
errrrr...
jawab jangan?
udah telat banget kayanya mau jawab juga.
tapi da pengen jawab.
ahhh..
sudahlah diam saja.
jadi..
yah..
seperjalanan menuju warung makan -yang selalu membuatku merasa berdosa karena aku sama sekali tidak bisa menahan hasrat makan- kami habiskan dalam diam.
" kenapa diam saja?" Danis bertanya sesaat setelah kami duduk dan memesan makanan.
" ha? oh... hemm.." bego. malah dead air.
" ahahahaha... bisa tidak sih tidak kikuk?"
kontan aku langsung menundukkan kepala saat Danis berkata begitu.
malu.
10 detik..
perlahan-lahan memejamkan mata dan mengatur detak jantung yang mulai berdetak diluar batas normal
pelan-pelan? yaaa, biar terlihat agak natural.
3 detik..
diam mematung di tempat, menghitung mundur
2.....,1...
tidak ada.
hemm..
mari hitung mundur lagi..
3,2.........................
masih belum ada.
saaatuuuuu?
benar-benar tidak ada.
aku mematung selama beberapa menit.
dan baru sekali ini terasa sangat berat untuk sekedar berdiri.
akhirya aku menyerah.
duduk di tempat dia biasa berdiri.
diam memandang langit yang beralaskan laut dengan ditemani lantunan ombak.
entah sudah berapa lama aku diam disini saat kusadari ada bunyi-bunyian dari pasir.
oh bukan, bunyi itu disebabkan oleh orang yang sedang berlari di pasir.
dug.
seseorang baru saja membanting tubuhnya tepat di sebelahku.
Danis.
aku memandangnya heran saat melihatnya dengan santai, tanpa terlihat merasa kesakitan, mengeluarkan kamera dan mulai memotret.
napasnya mengalun pelan, mengindikasikan ketenangan yang luar biasa setelah berlari dengan kecepatan penuh di atas pasir lalu berakhir dengan bantingan tubuh di sebelahku.
sekitar 10 menit kami terdiam.
hemmm..
sebenarnya aku yang terdiam menatap pria di sebelahku yang sedang sangat serius membidik pemandangan.
tak lama kemudian dia menoleh ke arahku, menelengkan sedikit kepalanya, lalu mengangkat pantat dan berdiri.
" makan?"
aku mengangguk.
berdiri lalu berjalan mengikuti Danis yangsudah terlebih dahulu jalan mendahuluiku.
" maaf aku terlambat."
ha?
Danis bicara padaku?
aku menoleh ke belakang.
tidak ada orang.
aku sedikit jinjit untuk melihat ke depan Danis.
kosong.
jadi..
dia bicara padaku.
tanpa menolehkan wajahnya.
dan sekarang dia diam.
tidak mengulang perkataannya sama sekali.
errrrr...
jawab jangan?
udah telat banget kayanya mau jawab juga.
tapi da pengen jawab.
ahhh..
sudahlah diam saja.
jadi..
yah..
seperjalanan menuju warung makan -yang selalu membuatku merasa berdosa karena aku sama sekali tidak bisa menahan hasrat makan- kami habiskan dalam diam.
" kenapa diam saja?" Danis bertanya sesaat setelah kami duduk dan memesan makanan.
" ha? oh... hemm.." bego. malah dead air.
" ahahahaha... bisa tidak sih tidak kikuk?"
kontan aku langsung menundukkan kepala saat Danis berkata begitu.
malu.