terdengar sebuah ketukan di pintu.
aku menarik selimutku lebih dekat ke kepala.
dingin.
dan masih mengantuk karena tadi malam tidak bisa tidur sampai adzan shubuh berkumandang.
tedengar sebuah ketukan lagi.
oh oh bukan. tiga ketukan.
aku membalik posisiku menghadap pintu, dengan selimut masih di batas leher.
dalam hitungan detik, ketukan manis itu berubah menjadi gedoran.
panik, aku langsung lompat dari kasur dan membuka pintu.
" selamat pagi." cengiran Danis menyambutku di depan pintu.
aku nyengir tepat sebelum menyadari bagaimana penampilanku.
kaos oblong yang kebesaran -dalam konteks sangat-sangat kebesaran-, celana pendek hitam yang saking belelnya sudah mulai berubah abu, dan rambut yang super duper acak-acakan.
oh, jangan tanya.
mukaku sangat kacau saat aku bangun tidur.
mata sipit, bibir manyun dan muka yang terlihat berminyak.
dengan penampilan itu, aku menyambut Danis di depan pintu.
hell!
" ayo cuci muka lalu sikat gigi. aku tunggu disini."
" mau kemana?" tanyaku parau, masih berusaha mengumpulkan nyawa.
" snorkeling?"
" haaa?"
" sudah cepat sana." Danis memutar badanku menghadap kamar.
aku berjalan pelan, masih mencerna apa yang dikatakan olehnya.
" oh!" tiba-tiba ia berseru, membuatku memalingkan wajah menghadapnya, " hemm.. pakai sun block yaaa.."
aku mengangguk kecil lalu kembali berjalan menuju kamar mandi.
" sudah?"
aku tersenyum kecil sambil mengangguk.
kami pun berjalan perlahan menyusuri jalan kecil ke arah luar penginapan, bukan ke arah pantai yang biasa.
" ahahaha.." tiba-tiba Danis tertawa. kontan aku menoleh.
" tidak, tidak. kamuu.. lucu yaa.. kalo bangun tidur ga bisa langsung ngomong ya, Ray?"
aku nyengir.
" tuh kan, malah nyengir." Danis memelankan jalannya hingga sejajar denganku, lalu mengack-acak rambutku.
deg!
hahh..
sudah sebulan aku disini.
dan hebatnya, Danis juga tetap disini untuk waktu yang lama.
jumlahnya, sudah lebih kurang 2 minggu kami bertemu setiap hari.
dan setiap harinya, tetap saja aku salah tingkah dibuatnya.
" sudah sampai."
" ha? apa?" lamunanku langsung buyar dan itu membuatku sangat terkejut saat menyadari kami ada di pinggir kapal nelayan.
" mau ngapain?
" snorkeling, Raya.. snorkeling."
ohhh.. ternyata tadi dia mengajakku snorkeling. aku hanya mendengar kelingnya saja saat dia bicara di penginapan.
" kamu bisa berenang, kan?" tanyanya menggoda.
" bisa!" tidak terima aku dilecehkan begitu saja.
" baiklah.. hemm sebentar."
Danis pergi beberapa langkah ke samping kanan dan berbincang sebentar dengan beberapa nelayan disana sementara aku diam berdiri memangdang hamparan laut di hadapanku.
indah sekali.
ah entahlah, tampaknya seumur hidup waktu yang kuhabiskan untuk mengelilingi pantai-pantai di Indonesia tidak akan pernah cukup untuk membuatku berhenti terpukau.
" yuk, Ray."
aku mengangguk. ah Raya, kenapa kamu sangat nurut dengan orang satu ini?
kharismanya.
jawabku sendiri akan pertanyaan yang sebenarnya kuajukan sendiri.
ya, satu hal yang akan langsung ditangkap orang dari Danis adalah kharisma.
kharismanya begitu kuat.
terasa sangat nyata.
sesiang itu aku dan Danis habiskan mengambang di atas air.
baru sekali ini aku snorkeling, alhasil Danis kelimpungan menjagaku.
" Raya!" suatu kali Danis berteriak sambil menarik tanganku.
refleks aku teriak, membuat selang udara kemasukan air dan berujung padaku yang hilang keseimbangan.
untung saja Danis dengan sigap menyelam dan menahanku dari bawah, tepat sebelum kakiku menginjak dasar.
sebenarnya bagian laut yang kami lihat ini hanya sekitar 1,5 meter dalamnya, jadi dalam sekejap saat Danis menggiringku ke arah belakang dari tempat tadi, aku bisa langsung berdiri.
" ada apa?" tanyaku masih kaget.
" tadi ada bulu babi, Raya. Aduh kamu, sudah kuberitahu berapa kali. nampaknya bulu babi memiliki magnet yang sangat reaktif terhadapmu ya?" nada suaranya tinggi. dia khawatir?
" Ah ya.. maaf maaf.. aku terlalu senang melihat pemandangan di bawahku." aku nyengir, mencoba mencairkan suasana.
" mulai sekarang, ikuti aku saja ya.. atau kamu berenang di sebelahku."
aku mengangguk kecil.
Danis membalikkan badannya, bersiap untuk memakai perlengkapannya lagi.
" aku kan khawatir." katanya lirih -dan lagi-lagi tidak menatapku-.
" maaf?" kataku perlahan.
bukannya menjawab, ia malah mulai berenang meninggalkan aku.
hahh dasar.. rutukku sebelum akhirnya mengambil posisi untuk menyusulnya.
Danis, Danis.
si kharismatik khawatiran yang berlagak cuek.