iyaaa...
jadi saya Gio.
sepupunya Tharesh sama Tian.
dan lagi-lagi entah bagaimana ceritanya, saya kembali terjebak dengan drama melankolis romantis namun sedikit miris dan anehnya saya masih mencoba untuk apatis.
oh..
ada satu yang beda.
kali ini pemain utamanya adalah Diandra.
" ada apa, Di?"
" ada apa?"
"ha?" Nara terlihat sangat bingung.
" ada apa, Nara?"
" Di.. kamu yang.."
" ada apa dengan kamu dan Tharesh?" Diandra memotong kalimat Nara.
Nara terlihat sangat terkesiap disaat aku mencoba dengan susah payah untuk tidak tersedak dengan americano-ku.
" aku? Tharesh?" Oh, hell.. sekarang Nara malah berpura-pura bego.
ah ya.. aku lupa.. Nara emang kadang bego beneran.
" kamu. dan. Tharesha. ada. apa. di. antara. kalian?" satu penekanan di setiap kata. padahal tanpa perlu begitu, Nara sudah cukup tertekan.
Diandra benar-benar marah. atau sedih?
aku tidak pernah lihai membaca perasaan wanita.
" ada Tharesha yang lemah. dibalik semua senyumnya, dia terkadang tertidur dengan tangisan. dan tidak semua orang yang tahu. atau mungkin memang tidak semua orang tahu."
" lanjutkan, Nara. aku ingin dengar semuanya." Diandra mulai menurunkan intonasi nadanya. suaranya terdengar tercekat, diiringi kesulitan menelan air liur.
" Di, aku rasa tidak ada gunanya kalau kamu meneruskan ini." aku akhirnya angkat bicara.
" Tidak, Gio. aku ingin kamu ada disini, menjadi saksi atas pengakuan Nara."
aku terkesiap. baiklah. jadi aku harus menjadi saksi dari sebuah awal peperangan atau perdamaian.
oh, Nara.. aku harap kamu bijak kali ini.
untuk kasus ini, bahkan menjual nama Hanggaatmadja sekalipun tidak akan berguna.
Diandra membuang napasnya perlahan, lalu kembali menghadapkan wajahnya pada Nara.
" please?"
Nara mengambil napas panjang dan berat, lalu perlahan melanjutkan.
" ada Tharesha yang sebenarnya sangat kesepian. selalu bisa berakting baik untuk menutupi semuanya. tidak semua orang peduli."
" tapi kamu peduli." Diandra berkata lirih sambil berusaha keras tetap memandang wajah Nara.
wanita kuat, pikirku.
" iya.. aku peduli."
" kamu sayang Tharesh?"
" maaf?"
" Nara. kamu mendengarnya. aku tidak perlu mengulang dua kali agar bisa mendengar jawabanmu."
" Tharesh adalah orang yang selama ini dititipkan Tian agar dijaga olehku. aku bertanggung jawab atas dirinya."
" itu bukan beban yang harus kamu pikul, Nara. itu keinginanmu." Diandra mengeluarkan sebuah pernyataan. ya. pernyataan. bukan pertanyaan.
" pada akhirnya itu menjadi keinginanku."
" jadi kamu sayang Tharesh?"
" untuk apapun ekspetasimu tentang kata sayang itu. jawabanku adalah ya."
kulihat bibir bawah Diandra bergetar. dia berusaha keras menahan tangis yang benar-benar sudah ada di ujung mata.
" kenapa?"
Nara terdiam memandang Diandra.
" kenapa baru sekarang kamu bilang?"
" karena kamu tidak pernah memberi waktu untuk aku bicara. kamu selalu sibuk dengan segala kejutanmu."
Diandra mengambil tas lalu menyangdangkannya di bahu, memegang pegangan sofa, mencari pegangan untuk membantunya berdiri, lalu beranjak pergi setelah mengatakan beberapa kata.
" aku akan bicara pada mama. ada pertunangan yang harus dibatalkan disini."
Nara terdiam, namun kusadari rahangnya mengeras.
dan tangannya bergetar saat memegang cangkir kopi.
" hey.." Nara memanggil Diandra dengan nada datar. dingin.
aneh.. anak ini masih bisa bersikap sedingin ini sekarang.
sepatu Diandra berhenti menimbulkan bunyi. ia terdiam tanpa membalikkan badannya.
" kamu. ada apa dengan Natra?"