Wednesday, 7 July 2010

a morning lady called...errrr...

sudah beberapa hari ini kameraku penuh dengan gambarnya.
kuperhatikan satu-satu dan sampai saat ini belum kutemukan kecacatan berarti pada fotoku.
gerakannya sangat alami -yah, mungkin juga karena dia memang tidak sadar sedang difoto-.
rambutnya yang diikat asal sering berkibar menemani kain balinya yang sudah lebih dulu terombang-ambing angin.

cantik.
dan itu merupakan kecantikan alami yang sekarang sulit ditemui.
apalagi setiap ia memberi senyum saat ia lewat di depanku.
hahh..
untung saja ada kamera kesayanganku yang dapat dengan segera meredam wajah merahku.

yah.. itu kerjaanku beberapa hari ini.
sampai suatu ketika, aku memutuskan untuk mengajaknya berkenalan.
tidak enak hati jika aku terus-menerus menjadi stalker-nya.

-----------------------------------------------

jadi sepagian ini aku bingung memilih pakaian yang akan kukenakan.

kaos belel?
hemm tentu saja tidak.


celana panjang?
terlihat terlalu resmi.


sudah hampir setengah jam aku seperti orang aneh yang terus-menerus mengganti pakaian.
sampai kulihat jam tangan abu-abuku.

ah sial! sebentar lagi ia akan melewati tempat biasa.


aku segera mengenakan pakaian yang bisa kuraih secepatnya lalu mengambil peralatan foto dan keluar dari motel.
sedikit berlari lalu mulai memelankan kecepatan saat sudah dekat dengan lokasi, mengatur napas sejenak.
akan tampak sangat aneh saat kamu memotret pemandangan alam dengan keadaan terengah-engah, apalagi di saat akan mengajak seorang wanita yang selalu menjadi objek fotomu -tanpa ia ketahui- berkenalan.

mematut diriku sendiri sambil mengeluarkan kamera dari tas selempang kecil, ternyata tidak terlihat terlalu buruk.
polo shirt putih dan celana belel.
oh hell.. padahal masih ada celana yang lebih pantas dari ini.


aku masih akan merutuk panjang jika tidak kulihat wanita itu sedang berjalan di kejauhan.
ah ya..
waktunya untuk mengambil beberapa foto kamuflase.

aku terus mengambil foto sambil menyadari sebenarnya mataku tidak tertuju pada fokus kamera, melainkan terus menerus juling ke samping kanan, memerhatikannya.
baiklah, hentikan atau kamu akan terlihat sangat konyol saat ia mendapatimu sedang melihatnya sambil terus memotret. 
bukan first impression yang baik.

jadi aku memutuskan menurunkan kameraku, tepat saat ia ada di hadapanku.
tersenyum lalu dan terus berjalan.
aku membalas senyumnya lalu terpaku.
diam.

tanya siapa namanya, bodoh!


tapi tubuhku masih saja diam disaat otak sudah berontak untuk berlari dan mengajaknya berkenalan.
beberapa detik yang terasa sangat lama itu akhirnya berhenti.
kusadari wanita tadi sudah berjalan cukup jauh.
tak ayal lagi langsung kuambil beberapa langkah besar yang mulai berubah menjadi langkah cepat.
mengikutinya dari belakang sambil terus mengumpulkan keberanian.

doakan saja aku berhasil.