hari ini. kedai kopi -lagi-. senja -lagi-. mendung.
bunyi gantungan yang terbuat dari alumunium menandakan pintu kedai terbuka.
semerbak rempah tercium seiring pelayan meletakkan pesanan di meja.
" cinnamon?"
aku mengangguk. membiarkan orang yang bertanya diam.
" weird. kamu biasanya selalu pesan caramel."
" weird. kamu biasanya selalu pesan caramel."
dengan agak kaku ia menarik kursi, lalu duduk secara perlahan.
entah menunggu perintah untuk diusir ataupun tanggapan lain dariku.
dan mau tak mau ia harus kecewa. aku diam. bahkan bernapas pun seakan enggan.
kalau saja ia sedikit tahu bahwa cinnamon adalah parfum miliknya yang paling aku suka. dan pesanan ini hanyalah sebuah bentuk kerinduan pada seorang...nya.
kalau saja ia sedikit tahu bahwa cinnamon adalah parfum miliknya yang paling aku suka. dan pesanan ini hanyalah sebuah bentuk kerinduan pada seorang...nya.
keadaan yang tidak berubah selama kurang lebih seperempat jam ini nampaknya mulai membuatnya jengah.
" Re.."
" Hmmm..." aku menanggapi sekenanya.
" Semuanya sudah beres."
tak ada tanggapan berarti dariku.
" Diandra dan keluarganya mengerti, dengan segala alasan dan pembelaan bahkan dari Diandra sendiri. peranku sudah tidak ada disana."
" Nara, ini bukan hanya tentang kita.."
" Aku tahu, Re.. aku tahu. tapi biarkan semua mengalir apa adanya."
" Ini. Bukan. Apa. Adanya."
" Yaa, aku tahu, aku mengerti. tapi kumohon, biarkan yang sudah terjadi sekarang, lebih leluasa untuk mengalir."
Damn. Mataku mulai tergenang air.
" Re. Kamu pikir untuk apa aku selalu mencoba ada di setiap kamu bilang kamu ingin bertemu? Untuk apa aku berusaha sebisa mungkin menyelesaikan semua hal secepat mungkin agar aku punya banyak waktu kosong untuk menemanimu."
" Nar.."
" Sssstt.. aku belum selesai. Tharesha, bahkan saat kamu terjatuh untuk Pradit, orang yang memang aku tidak pernah sukai. Tidak sedikitpun aku senang. Tahu kenapa? Karena melihat kamu menangis lebih menyedihkan daripada melihatmu tertawa bersama orang lain. Bahwa nyata adanya selama ini aku merasa entah bagaimanapun itu, bahwa kamu milikku. Untuk seorang sahabat yang memang tidak pernah ingin aku dekati, tapi aku bisa apa?"
" Nara.."
" Denganmu, bukan sesuatu yang kurencanakan dari awal. Bukan seperti Diandra yang memang sangat baik padaku dan banyak membantu akademis maupun kerjaanku. Bukan seperti beberapa orang lain yang memang sengaja aku dekati untuk sebuah status. Kamu, orang yang bikin aku nyaman. terlalu nyaman hingga takut semua hilang. terlalu dekat hingga takut spasi yang tercipta semakin jauh."
aku mulai membuang pandangan ke arah jendela. rintik hujan mulai memenuhi bagian kaca.
aku mulai membuang pandangan ke arah jendela. rintik hujan mulai memenuhi bagian kaca.
" Kamu, orang yang memang selalu ada. kapanpun. Kamu, satu-satunya orang yang...."
aku mengalihkan pandangan kembali padanya.
" yang aku sayang."
jeda disana. panjang.
sibuk dengan pikiranku dan secara bersamaan memaksa syaraf motorikku untuk tidak menangis.
dan mungkin Nara dengan pikirannya sendiri.
" Re.. aku tunggu kamu sampai lulus, mapan dan baru saat itu aku akan menagih jawaban untuk sebuah pertanyaan."
" Apa lagi?" tanyaku lemah. tak berdaya.
" Be my future, please.. would you?"
aku terhenyak. bagaimana kalauuu...
" Bahkan saat kamu sudah bersama yang lain, aku masih akan menagih jawabannya. walaupun memang pasti kata tidak yang akan terucap."
yaa. sekali lagi. tepat menjawab sebuah pertanyaan yang belum terdengar.
" Kamu tau kan syaratnya?"
Nara mengangguk, " dua kalimat syahadat."